
Entah sudah berapa kali dering telfon di ponselnya terus berbunyi. Bukan tak mendengar, namun Alea memilih untuk pura-pura tak mendengarkannya dan membiarkan ponselnya terus saja berdering.
Gita yang berada dikamar yang sama, mendengus sebal karena merasa berisik. Berisik oleh suara kran kamar mandi, dan juga berisik karena dering ponsel Alea yang terus saja berbunyi, sedangkan yang punya malah asik membaca novel sambil sesekali cekakak-cekikik tak jelas.
"Al berisik banget sumpah. Dijawab apa" omel Gita.
Bertubi-tubi pesan dari Arsen dan bunda Amel kini masuk kedalam ponsel Alea.
Arsen :
Dek, mas jemput kamu ya.
Mas hancur dek.
Mas nggak sanggup kalau di rumah sendiri.
Mas butuh kamu.
Mas butuh kamu buat nenangin kepala mas yang berisik ini.
Mas jemput ya dek.
Mas ada di depan rumah Keke.
Dek, jawab mas dek.
Angkat telfon mas dek.
Mas bisa gila kalau terus seperti ini.
Bunda Amel (Mertua baik):
Nak. Arsen sama kamu tidak?
Bunda minta maaf, tapi bunda bener-bener berharap Arsen ada sama kamu.
Nak tante Jihan masuk rumah sakit.
Tadi Arsen habis mukulin Wira nak.
__ADS_1
Al, tolong telfon Arsen. Dia nggak ngangkat telfon bunda.
Bunda khawatir Al.
Tolong jawab telfon bunda.
Hatinya belum terlalu siap untuk menerima semua hal yang akhir-akhir ini terjadi, biarkan, berikan dirinya waktu untuk menenangkan diri agar emosi dan sakit hati tak ikut adil saat dirinya mengambil keputusan nanti.
Percayalah, kata cerai bahkan sudah berada dikepalanya sekarang. Keputusan yang jelas muncul karena emosi yang ada. Alea ingin memikirkannya baik-baik terlebih dahulu.
"Buset dah. Sampai kamar mandi itu kedengaran hp bunyi mulu" Keke yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, berjalan menuju nakas guna mengintip sedikit nama siapa yang tertera di ponsel sahabatnya itu. Dan nama mas Arsen beserta mamah mertua yang tertera disana.
Keke melirik sebentar ke arah Alea yang tengah asik tertawa dengan novel yang ada ditangan gadis itu. Mengenal betul bagaimana karakter Alea jika tengah marah dengan seseorang, Keke hanya menghela napasnya. Mau diworo-woro pun Alea tak akan menggubrisnya sama sekali.
Tok tok tok.
"Kek. Mbak masuk ya?"
Suara mbak Indri yang terkesan panik dari luar berhasil menarik atensi Alea yang tengah membaca novel. Untuk sesaat Alea dan Gita saling pandangan satu sama lain saat mbak Indri masuk dan langsung berjalan menuju tirai kamar, dibukanya lebar-lebar sambil menatap panik ke arah adik iparnya itu.
Suara hujan dan guntur yang menggelegar diluar sana semakin terdengar saat jendela kamar ini dibuka lebar-lebar. Alea tahu mbak Indri adalah satu dari sedikitnya orang yang tak suka dengan hujan, namun Alea tak mengira jika hujan bisa membuat raut wajahnya terlihat begitu panik.
"Mbak perlu lapor polisi nggak Ke?" tanyanya.
"Udah hampir ½ jam ada disana. Mana basah kuyup jadinya" lanjut kak Indri.
Alea dan Gita masih setia nangkring diatas ranjang, menunggu penjelasan Keke akan apa yang terjadi dan apa yang kakak beradik itu lihat dibawah sana.
"Al"
Hanya dengan satu panggilan itu disertai raut wajah Keke yang berubah, Alea langsung menyambar ponselnya. Mengabaikan pesan yang lain, pesan dengan pengirim mas Arsen yang ia buka pertama kali. Dan sebuah umpatan muncul bersamaan dengan dirinya yang turun dari ranjang lalu segera melangkah keluar kamar.
Kenapa seorang Arsenio Yudistira yang terkenal sangat pintar itu hingga bisa memimpin perusahaan keluarga di usia muda bisa menjadi sebodoh ini hanya karena sebuah rindu?. Bagaimana bisa hanya karena dirinya yang berniat untuk menginap di rumah Keke bahkan belum juga lewat stau malam, Arsen sudah segila itu hingga rela hujan-hujanan di luar pagar? Kenapa nggak pulang aja atau jika tidak menunggu di mobil?
Sesungguhnya ada rasa kesal namun juga bahagia di setiap langkah Alea yang menuruni tangga. Kesal karena ada kemungkinan Arsen akan sakit setelah ini, namun juga senang karena suaminya itu tak bisa jauh-jauh darinya, dan itu berarti ada kemungkinan jika mas Arsen memiliki sedikit perasaan padanya.
Keluar dari rumah, sebuah petir menyambar membuat Alea sempat mundur selangkah. Ia benci hujan, Alea benci menerobos ribuan air yang turun dari langit itu, namun Alea juga benci jika dirinya tak menguatkan diri untuk berlari ke arah sang suami.
Dengan payung yang menghalanginya dari hujan, Alea langsung berlari melewati gerbang dan berdiri disamping mas Arsen yang terduduk di aspal dengan bahu lemas nya. Ada yang terjadi, Alea tahu, ada alasan kenapa bahu yang biasanya terlihat gagah dan tegap itu kini tampak lemas tak berdaya, seolah menunjukan jika sesuatu hal yang baru saja terjadi mampu untuk membuatnya rapuh hanya dalam sekali hantaman.
__ADS_1
"Mas"
Alea terpaku saat melihat mas Arsen yang sebelumnya menunduk kini mendongak perlahan. Mata merah sembab tanda-tanda habis menangis itu menatap dirinya dengan tatapan rapuh. Keraguan atas tebakan jika mas Arsen datang karena rasa rindu padanya perlahan menipis menjadi sebuah tebakan yang sama sekali tak ingin Alea katakan. Terlebih sedikit pesan dari mamah yang ia baca tadi, mengatakan jika mas Arsen baru saja mendatangi rumah mas Wira.
Kabur? Lari? Minta cerai? Sungguh ingin sekali Alea lakukan sekarang. Hanya saja melihat raut wajah mas Arsen sekarang membuat dirinya juga tak berdaya untuk mengatakan kata cerai.
"Ayo, kita pulang mas. Nanti kamu sakit"
Hanya itu kalimat yang mampu keluar dari mulut Alea sekarang. Membantu Arsen untuk masuk ke dalam mobil, Alea meyakinkan diri untuk menyetir diantara derasnya hujan malam ini. Alea benci hujan dan jauh lebih tak suka saat dirinya harus menyetir ditengah hujan.
Kembali ke rumah Keke dengan kondisi mas Arsen yang seperti ini jelas bukanlah Keputusan yang baik, maka dari itu, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang dia miliki, Alea mulai menginjak gas dan mobil mulai melaju membelah ribuan air yang turun dari gumpalan awan diatas.
Syukur jalanan malam ini cenderung sepi karena waktu yang sudah menunjukkan hampir dini hari ditambah juga dengan hujan yang turun cukup deras. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit Mobil yang Alea kendarai akhirnya sampai di rumah dengan selamat tanpa ada drama tabrakan atau trauma yang tiba-tiba menerjang. Tak langsung turun, Alea memilih untuk tetap di dalam mobil sambil mengatur detak jantung yang berdetak tak normal sejak melajukan mobil ini. Ingatan-ingatan masa lalu baru bermunculan tepat saat mereka sampai di rumah.
"Mas, ay—"
Ucapan Alea berhenti tepat ketika kepalanya dipaksa untuk menoleh dan benda dingin menyentuh bibirnya. Alea mengerjapkan matanya tak percaya saat sang suami menciumnya dalam. Ini adalah sentuhan pertama yang dilakukan selain berpegangan tangan. Setiap Keraguan yang datang tadi mengenai alasan Arsen datang menemuinya karena ada alasan lain yang membuatnya menjadi tempat pelarian laki-laki itu ikut lenyap bersama dengan sentuhan yang ada, berganti dengan keyakinan awal jika mas Arsen datang memang karena merindukannya, karena menyadari jika hidup laki-laki itu sudah bergantung padanya, kebahagian laki-laki itu ada padanya. Dan mas Arsen sehancur itu jika dirinya Keluar dari orbit kehidupannya sehari-hari.
"Mas. Ki—"
Seluruh tubuh Alea merinding seketika saat mas Arsen menyesap bibirnya. Meyakinkan pada dirinya berulang kali jika yang ada dihadapannya sekarang adalah Arsen, suami sah dalan agama dan negara, perihal mengenai hati laki-laki itu yang dimiliki oleh wanita lain, itu adalah perihal yang akan Alea pikirkan nanti. Ini sudah waktunya.
"Mas—" Alea sedikit tercekat saat merasakan pipi Arsen yang menyentuh pipinya terasa sangat panas. Laki-laki ini demam. Suaminya jelas demam sekarang. Alea ingin menyudahi ciuman mereka, namun sang suami sepertinya enggan untuk melakukannya.
"Mas, kamu de—"
"Kamu seharusnya menjadi milik ku"
"Aku milik mas Arsen selamanya, tapi kita har—"
"Dira" lanjut mas Arsen lirih.
Satu kata itu mampu mengumpulkan sisa tenaga Alea yang masih ada. Dengan mata merah menahan amarah dan sakit hati yang terasa semakin menyiksa. Alea mendorong mas Arsen menjauh dan satu tamparan melayang di pipi laki-laki itu.
"Aku Alea mas! Alea! Bukan mbak Dira!!"
...----------------...
maaf ya kalau update nya suka bolong-bolong. Akhir-akhir ini sedang menata kembali hati. eyyyyyaaaaaa 😂
__ADS_1
wkwkw sebenarnya karena kemarin aku full baca novel karya author lain. dan segitu cintanya aku sama narasi yang dia buat. yang kepo judul novel yang aku baca, nanti aku kasih tahu kalau ada yang nanya di komen.
tapi catatannya : Bukan di sini, ada di Apk lain