Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 55 : Anyelir Merah


__ADS_3

Arsen terbangun saat suara dering telfon mengganggunya. Mungkin baru sekitar 45 menit ia tidur karena ia baru tidur pukul 05.15 dan kini jam baru menunjukkan pukul 06.00. Semalaman Arsen tak bisa tidur. Bukan, lebih tepatnya ia memilih untuk tak tidur dan memaksa matanya untuk tetap terbuka. Mengamati wajah lelah Alea yang tertidur dalam dekapannya. Arsen takut, jika ia tertidur maka saat bangun ia tak melihat keberadaan Alea lagi, seperti sebuah mimpi indah yang menghampiri meski Alea nyata berada di dalam pelukannya. Ia ingin menikmati wajah cantik sang istri.


"Kenapa?" tanya Arsen begitu menggeser tombol warna hijau.


Suara Kenzo terdengar menyahut dari sebrang telfon "Gue udah nemuin dan ngamanin Marinka. Mau gue bawa ke mana dia"


"Oke. Bawa dia ke kantor. Gue bakal ke sana 30 menit lagi"


"Lama bener. Mau ngapain lo?"


Arsen memutar bola matanya malas. Tak menjawab pertanyaan sahabatnya. Arsen mematikan sambungan sepihak dan meletakan ponselnya di nakas. Lalu, kembali menarik Alea mendekat dan mendekapnya erat. Ingin rasanya Arsen tak pergi kemanapun dan tetap berada di sisi Alea seharian ini. Mendekap Alea dan memastikan jika wanita ini tak akan pergi kemanapun. Arsen tak bisa membayangkan se-kacau apa dunianya jika Alea juga pergi dari hidupnya. Itu akan menjadi mimpi mengerikan yang Arsen punya.


"Maaf ya dek, atas semua kesalahan mas sama kamu"


"Mas baru sadar, mas sayang sama kamu. Mas cinta sama kamu" Arsen mencium dalam kening istrinya. Meminta maaf sungguh-sungguh dan akan berusaha memperbaiki semuanya. Sebanyak apapun ia akan ditolak oleh Alea kedepannya, Arsen akan tetap berusaha mepertahankan Alea menjadi miliknya selamanya. Tak akan ada perceraian. Arsen yakin itu.


Mengusap pelan pipi Alea dan kembali mendaratkan ciuman di dahi istrinya. Arsen memutuskan untuk turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Jika penderitaan ini ingin ia akhiri, maka Arsen harus bergerak segera. Mengakhiri semuanya dari akar sehingga tak akan lagi tumbuh masalah baru. Masalah Dira, percayalah dengan bodohnya Arsen baru sadar bukan rasa cinta yang ia miliki pada wanita itu lagi. Namun rasa kecewa yang anehnya malah dianggap sebagai perasaan cinta.


Disisi lain, Alea sebenarnya sudah bangun sejak tadi, sejak sang suami masih terlelap dengan dering ponsel yang berbunyi. Alea mendengar semuanya. Bahkan ia juga mendengar sayup-sayup kalimat yang Kenzo katakan diseberang telfon sana. Marinka akan datang, lebih tepatnya dibawa paksa ke kantor Arsen. Saat mendengar suara pintu kamar mandi yang kembali di buka. Alea memejamkan matanya. Apa yang terjadi semalam, apa yang mas Arsen katakan semalam, semuanya masih belum bisa Alea terima. Dari banyaknya orang yang ada di keluarga itu, Alea tak menyangka jika kakek yang melakukan semuanya. Entah perjanjian apa yang ayah dan kakek buat waktu itu, yang jelas kakek yang menyembunyikan semua hal ini tidak bisa dibenarkan sama sekali. Tidak ada satupun media yang tahu, dua nyawa menghilang namun seolah tak terjadi apapun, Alea dibuat merinding sendiri dengan kekuasaan yang keluarga Yudhistira miliki.


Alea menahan diri untuk tidak bergerak saat dahinya dicium dalam. Pipinya terasa dingin tatkala telapak tangan Arsen mengusap pipinya pelan. Sebaik mungkin Alea tak membuat pergerakan sedikitpun, meski dengan matanya yang tertutup Alea tahu mas Arsen tengah memandanginya dalam.


"Mas ke kantor dulu ya dek. Semua masalah ini biar mas yang urus. Kita bicara lagi nanti malam. Dan mas akan peluk kamu lagi sampai pagi"


Tangan Alea yang berada di balik selimut mengepal erat saat mas Arsen mencium bibirnya. Tak ada pergerakan, hanya menempel sebentar sebelum akhirnya ranjang berasa bergerak karena mas Arsen yang beranjak turun, setelahnya ada suara pintu yang dibuka lalu ditutup dengan amat pelan.


Alea membuka matanya pelan. Kamar ini kembali sepi dan dingin seperti semula. Meski jejak-jejak mas Arsen di dahi dan bibirnya masih begitu terasa. Ya Tuhan, Alea tak tahu harus bagaimana. Disaat sepertinya ada rasa rindu dan benci yang Alea rasakan, bercampur jadi satu dengan takaran yang seimbang hingga Alea tak mampu untuk menentukan rasa apa yang lebih dominan.

__ADS_1


Tatapan Alea kini kembali tertuju ke foto kedua orang tuanya. Senyuman paksa yang seolah kemarin Alea lihat, kini tak lagi sama. Kembali ke semula, tersenyum begitu indah hingga kedua mata orang tuanya ikut tertarik membentuk senyuman. Seakan tengah mengatakan jika semua keputusan ada ditangan dirinya. Renungkan dan pilih jalan apa yang paling baik yang bisa diambil.


Menoleh ke arah nakas guna menemukan ponselnya, Alea terdiam beberapa detik saat sebuket bunga anyelir merah berada di sana. Bunga pertama yang ia dapatkan dari mas Arsen selama pernikahan mereka. Bunya Anyelir merah yang memiliki arti guna menunjukkan atau mengekspresikan perasaan dan kerinduan yang sangat kuat. Bunga yang sering kali Alea bawa saat datang ke makam kedua orang tuanya.


Sama seperti dirinya yang merindukan orang tua, mas Arsen juga seolah ingin menunjukkan jika dia merindukannya. Merindukan dirinya yang nyatanya tak sama dengan apa yang Alea rasakan.


Suara deru mobil yang terdengar dari arah bawah, menandakan jika mas Arsen benar-benar sudah pergi dari rumah ini. Turun dari ranjang, Alea berjalan menuju balkon, menatap mobil mas Arsen yang mulai keluar dari garasi. Lambaian tangan suami dengan senyuman merekahnya hanya dibalas dengan ekspresi datar Alea yang malah berjalan masuk ke dalam meninggalkan Arsen yang akhirnya menyerah dan melajukan mobilnya menjauhi rumah.


Masuk ke kamar mandi, Alea perlu membersihkan dirinya agar lebih segar. Kurang lebih 1 jam kemudian Alea baru keluar dari kamar mandi bersamaan dengan pintu yang diketuk dari luar. Begitu pintu di buka, Alea menemukan bi Ina berdiri dengan raut wajah merasa bersalah. Ah, asisten rumah tangannya ini pasti merasa bersalah karena memberitahu Arsen jika Alea berada di rumah ini.


"Saya mau minta maaf mbak. Mas Arsen keliatan kacau banget soalnya. Jadi saya nggak tega, makannya saya ngasih tahu kalau mbak ada di sini"


Alea hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuruni anak tangga. Selain mandi, ia juga butuh makanan karena kemarin seharian ia tak makan apapun.


"Mbak, bibi minta maaf ya. Mbak nggak marah kan? Mas Arsen me—"


"Baik bu"


Begitu bi Ina akhirnya menyerah dan kembali ke kamarnya, Alea berjalan menuju dapur. Jika ada bi Ina, maka pasti ada makanan yang bisa ia makan. Saat membuka pintu kulkas untuk mengintip ada jus atau tidak didalam sana, suara deru mobil terdengar dari arah luar. Bi Ina yang baru saja turun dengan sebuket bunga ditangannya berjalan menuju pintu depan. Apa ada yang tertinggal sampai mas Arsen balik lagi?


"Mbak, ada mbak Gita dan mbak Keke"


Alea tak bergeming sama sekali dari posisinya, matanya mulai berkaca-kaca saat melihat dua sosok sahabatnya yang berjalan mendekat ke arahnya. Gita sudah mewek sedangkan Keke mencubit pinggang Gita berulang kali agar gadis itu menahan tangisnya. Mungkin mereka sudah membuat kesepakatan untuk tidak menangis di depan Alea.


"Gue nangis karena gue kangen sama Alea. Gue hampir lapor polisi karena lo tiba-tiba hilang tanpa kabar"


Menghalau air matanya dengan menatap langit-langit rumah sebentar, Alea tersenyum lalu berdiri dan mendekap kedua temannya bersamaan. Alea lupa, jika ia masih punya satu rumah yang bisa ia kunjungi kapan saja, Keke dan Gita adalah rumah itu.

__ADS_1


"Sehat?" tanya Keke begitu pelukan mereka melerai.


"Hiks hiks. Lo.. Lo sehat kan Al?" Gita dengan seguk kannya mencoba untuk ikut bertanya. Alea dan Keke tertawa bersamaan.


"Sehat. Kalian sehat juga kan? Atau lo Git, pasti hampir mati berdiri karena kangen kan sama gue"


Alea tahu, arti senyuman bi Ina sebelum wanita itu berjalan ke pantry untuk menyiapkan minuman. Alea selalu kembali menjadi jati dirinya yang ceria jika sudah berada di depan kedua sahabatnya.


"Mending mati berdiri, gue hampir mati kayang tau nggak!"


Alea tertawa mendengarnya. Bi Ina yang tadi membuatkan minuman, meletakanya di atas meja. Tak lupa tiga piring berisi nasi goreng juga diletakan di sana.


"Pasti mbak semuanya belum sarapan kan ya?. Ayo makan dulu. Tapi maaf cuman nasi goreng doang" ujar bi Ina yang disambut dengan gelengan dan ucapan terimakasih dari Gita dan Keke.


"Makasih ya bi. Gita laper" Gita yang pertama kali menyentuh sendok dan menyantapnya dengan lahap, diikuti dengan Keke yang juga menikmati makanannya.


"Makan ya Al. Lo keliatan kurus" Keke—si paling perhatian menyelipkan sendok di tangan Alea yang tengah mengecek ponsel.


Ada satu pesan dari mas Arsen yang masuk, yang ajaibnya alih-alih membuat Alea marah, ia malah bersyukur.


Mas Arsen :


Aku yang minta Gita dan Keke untuk datang. Aku rasa kamu butuh teman untuk mengobrol. nanti malam aku pulang ke rumah nemuin kamu lagi ya Dek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semoga ini cerita sebelum puasa udah tamat. lagi ngumpulin semangat biar grecep updatenya 😂

__ADS_1


__ADS_2