
Beberapa hari yang lalu, Arsen hanya sibuk meyakinkan para orang terdekatnya untuk menyembunyikan semua ini sementara demi kesehatan Alea. Sibuk meyakinkan Gita yang menolak mentah-mentah rencana Arsen, sibuk meyakinkan Keke dan Kenzo jika Alea akan baik-baik saja bersamaan nya dan sibuk meyakinkan orang tuanya agar kembali menerima Alea dengan hangat seperti dulu seolah-olah tak ada perceraian yang pernah terjadi.
Namun, Arsen lupa jika akan ada banyak orang diluar sana yang harus Arsen yakinkan. Mungkin ada yang menerima dan setuju untuk menjadi komplotannya, namun ada juga yang bahkan Arsen sudah tahu akan ada penolakan yang terjadi sebelum menjelaskan semuanya. Salah satunya adalah Azri.
Laki-laki yang sebenarnya tak pernah ia temui langsung itu seolah membunyikan lonceng bahaya bagi Arsen. Jika Azri bertemu dengan Alea, maka akan ada kemungkinan laki-laki itu menyebut nama Saga. Arsen tahu Azri saat mengunjungi rumah baru Kenzo dan Gita. Foto Azri yang berdiri di samping Alea membuat Arsen menaruh curiga dengan laki-laki itu.
"Nanti saya ganti" Arsen mengambil gelas berisi kopi dari meja terdekat dengannya saat Alea tampak mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Arsen hanya ingin lebih lama lagi dengan Alea, maka jangan sampai keberadaan seseorang membuat semuanya makin kacau.
Dari berjalan ke arah Alea, Arsen langsung ubah haluan dengan bergerak cepat ke arah Azri. Menabrak bahu laki-laki itu dan dengan sengaja menumpahkan gelas kopi yang ada ditangannya.
Dan bruk. Semuanya berjalan begitu lancar saat Azri berjalan berlawanan arah dengan meja dimana Alea berada menuju kamar mandi setelah permintaan maaf diucapkan oleh Arsen.
Ia tahu, semuanya semakin membuatnya terlihat picik.
"Kamu nggak apa-apa mas?"
Namun seolah semuanya memang tak dipermudah oleh takdir yang ada, suara panggilan Alea terhadapnya membuat langkah Azri terhenti. Laki-laki itu membalikan badan dan menatap mereka, lebih tepatnya ke arah Alea dengan raut wajah terkejut. Arsen tahu, semuanya sudah selesai sekarang.
***
Bukan tipe orang yang biasanya akan langsung emosi dengan hal-hal kecil. Tapi hari ini entah kenapa Azri mati-matian menahan amarahnya agar umpatan itu tak keluar saat seseorang tiba-tiba menabraknya dan membuat kaos berwarna putih yang ia kenakan kini terkena noda kopi.
"Maaf, tidak sengaja"
Azri hanya mengangguk. Berjalan menuju kamar mandi terdekat, langkahnya terhenti saat suara yang selalu ia rindukan masuk ke dalam indra pendengarannya. Itu suara Alea.
Dan benar saja, saat tubuhnya berbalik, Azri melihat Alea bersama sosok laki-laki yang menabraknya tadi.
__ADS_1
Dari undangan yang ia terima dua bulan lalu, Alea menikah dengan laki-laki bernama Saga. Azri pernah melihat sekilas wajah Saga saat berkunjung ke rumah baru Gita. Dan laki-laki yang bersama Alea saat ini tampak berbeda dengan apa yang ia lihat di foto kala itu.
"Alea?" sapa Azri saat sudah mendekati meja Alea.
"Mas Azri?"
"Ini?" tanya Azri sambil melirik ke arah dimana laki-laki itu duduk.
"Mas Arsen" sebuah senyuman canggung diukir oleh Alea "Suami aku mas"
Arsen? Bukan Saga?
"Arsen" sebuah uluran tangan mengarah ke padanya "Maaf untuk yang tadi"
"Azri" meski merasa ada yang janggal, Azri menyambut uluran tangan itu. "Mas mau ke toilet dulu. Nanti kita ngobrol lagi ya Al"
Sebuah anggukkan dari Alea membuat Azri kembali berjalan ke arah kamar mandi. Sesekali ia melirik ke arah mereka. Azri merasa pernah melihat Arsen sebelumnya. Bukan dari undangan digital yang ia dapat dulu dari Alea, namun ia melihatnya ditempat lain.
***
Mengobrol lagi dengan Azri? Tidak ada. Arsen jelas tak akan membiarkan Alea mengobrol lagi dengan laki-laki itu. Tatapan berserta dahi berkerut Azri tadi membuat Arsen merasa sedikit khawatir. Lonceng tanda bahaya itu sudah berbunyi sejak tadi, maka Arsen harus menghindari semuanya sekarang.
Jika mengenal Alea, maka ada kemungkinan jika Azri mendapat undangan pernikahan Alea dan Saga. Dan ada kemungkinan juga mengenal Gita dan sudah pernah sekilas melihat wajah Saga.
"Makanannya?"
"Bungkus aja ya dek. Kita makan di rumah. Kamu butuh istirahat"
Tak menunggu jawaban dari Alea, Arsen langsung bangkit ke meja kasir saat nomor pesanannya dipanggil. Jantungnya sudah berdetak tak karuan sejak tadi. Maka dari itu mereka lebih baik angkat kaki dari kafe ini sebelum Azri kembali. Kebohongan memang selalu beriringan dengan perasaan dihantui yang membuat perasaan tak tenang.
__ADS_1
Begitu mobil mereka bergerak menjauhi kafe, Arsen baru merasa lega karena bisa bernapas normal seperti biasanya. Satu yang harus ia lakukan kedepannya adalah, memastikan jika mereka tak akan pernah lagi bertemu dengan Azri. Dari cara laki-laki itu memandang Alea, Arsen tahu Azri adalah salah satu orang yang tak bisa ia ajak bergabung ke dalam rencanannya. Azri jelas akan menolaknya dan membuat semuanya menjadi kacau.
"Mas"
"Hmm"
"Kamu nggak suka sama mas Azri ya?"
Arsen menoleh sebentar, lalu tersenyum sambil meraih satu tangan Alea untuk ia genggam. Diciumnya dalam punggung tangan itu sebelum akhirnya ia letakan di atas paha.
"Tidak ada suami yang suka melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain dek"
"Itu juga berlaku buat istri mas, tapi hebatnya aku sabar banget ngadepin kamu yang masih suka sama mbak Dira"
Sejak awal Arsen tahu jika sindiran itu akan selalu ia terima. Hukuman dari perbuatannya 5 tahun yang lalu. Arsen tak keberatan, asal tangan mungil Alea akan selalu berada digenggaman nya.
"Maaf untuk itu. Jadi gimana?" tanya Arsen.
"Apanya yang gimana?"
"Mau kita ulang semuanya dari awal lagi Al?"
"Ogah. Aku capek makan hati ngeliat kamu masih suka sama mbak Dira"
Arsen melirik ke arah Alea lalu tertawa "Pengecualian untuk itu"
Kalian pasti tahu. Karena egonya Arsen hanya ingin menikahi kembali Alea. Setidaknya dengan pernikahan ia akan memiliki ikatan dengan Alea. Ia bisa menjaga Alea dengan baik dan mereka akan memiliki waktu bersama.
"Akad lagi? Pesta lagi?"
__ADS_1
Arsen menganggukkan kepalanya.
"Kenapa mas? Apa kita pernah bercerai sebelum aku kecelakaan, mas?"