Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 29 : Rencana Berhasil


__ADS_3

Mungkin salah satu cara untuk membuat Alea tetap berada di sisinya adalah menakut-nakuti wanita itu dengan menyuruh bi Ina kesurupan di rumah. Entah, tak ada cara lain yang Arsen temukan selain cara itu. Yang ia inginkan sekarang adalah agar Alea tetap berada di dalam pengawasannya agar tak mencari tahu lebih dalam mengenai Dira. Masih ada 1 minggu lagi istrinya itu liburan semesteran, maka dari itu Arsen akan memastikan Alea akan ikut kemanapun dirinya pergi dalam 1 minggu ke depan. Kurang lebih, seperti itulah rencana yang akan Arsen lakukan kedepannya.


Setelah membaca pesan dari bi Ami yang Arsen minta untuk pulang ke rumah bi Ina malam ini, Arsen memasukan ponselnya ke dalam tas kemudian keluar dari mobil. Demi membuat Alea agar begitu bergantung padanya, Arsen menyuruh semua pegawai di rumah ini agar kembali ke rumah masing-masing hingga lusa, hanya tinggal dirinya saja di rumah ini, otomatis istrinya itu akan begitu bergantung padanya.


Benar saja, begitu membuka pintu rumah, Alea yang tengah mondar-mandir di ruang tamu langsung berlari ke arahnya. Kasihan sebenarnya saat melihat wajah cantik itu kini tampak sedikit pucat, hanya saja semua ini demi kebaikan bersama.


"Kok lama banget sih mas, pulangnya!!" omel Alea, tangannya langsung memegangi ujung jas yang Arsen kenakan.


"Ada banyak hal yang harus diurus tadi. Mas bawa makanan, kamu siapin di piring ya. Mas mau mandi dulu" berpura-pura tak tahu apa yang terjadi di rumah, Arsen dengan lembut melepaskan tangan istrinya dari jas yang ia kenakan, lalu berniat untuk naik ke atas. Namun baru juga satu kakinya menapaki anak tangga pertama, langkah Arsen berhenti saat jas bagian belakangnya di cengkram erat oleh Alea.


"Kenapa? Saya mau mandi Al. Gerah"


"Ikut"


Mungkin ini yang disebut bumerang untuk diri sendiri. Mata Arsen membulat tak percaya mendengar ucapan Alea barusan. Ikut? Ikut kemana? Ikut mandi maksudnya? Bareng?.


Arsen menelan salivanya sendiri. "I..ikut kemana?" gugup. Jelas, hanya orang yang tak normal saja yang tidak gugup dalam kondisi seperti ini.


"Kemana aja! Pokoknya aku mau ikut mas! Nggak mau sendirian!" jawab Alea cepat hanya dengan satu tarikan napas.


"Saya mau mandi Al. Kamu mau ikut mandi juga? Sama saya? Bareng?"


Sebisa Mungkin Arsen menahan senyumnya saat melihat Alea menggelengkan kepalanya tegas dengan mata membulat sempurna. Kalimat rancu Alea barusan, nyatanya bukan hanya membuat Arsen saja yang gugup dan bingung. Melainkan Alea juga merasakan hal yang sama.


"Aku tunggu mas di depan kamar mandi. Jangan lama-lama" jawab Alea.

__ADS_1


Membiarkan Alea mencengkram erat bagian belakang jas miliknya, Arsen kembali berjalan menuju kamar dengan Alea yang mengekor di belakang. Daripada dirinya jatuh di tangga karena jas yang ia kenakan ditarik oleh istrinya, Arsen melepaskan jas, lalu mengambil tangan Alea dan menggandengnya ke atas.


Arsen sedikit terkejut saat merasakan suhu badan Alea sedikit panas. Setakut itukah istrinya sama hantu hingga membuatnya demam?.


"Ada apa sebenarnya?" begitu masuk ke dalam kamar, Arsen mendudukkan Alsa di sofa. Bukannya dilepaskan, genggaman tangan istrinya kini malah semakin erat. Mata bulat yang akhir-akhir ini tampak indah, kini menatapnya lekat dengan sarat akan ketidak inginan untuk ditinggal.


"Mas mandi di bawah aja ya mas. Jangan disini" pinta Alea.


Sesaat Arsen merasa bersalah. Tak pernah terbayangkan olehnya jika Alea ternyata setakut itu dengan sosok hantu.


"Saya ambil baju dulu ya. Nanti saya mandi dibawah"


"Ikut"


"Bi Ina kerasukan tadi mas"


Arsen yang tengah menggantung jas miliknya, menoleh ke arah Alea yang duduk di atas laci berisi jam. Lihat? Kalau itu kaca pecah gimana?.


"Kerasukan dimana?" Arsen menyelipkan tangannya di ketiak Alea, lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di salah satu kursi yang ada di ruang ganti. Tidak ada reaksi apapun yang Alea tunjukkan, tapi Arsen yakin istrinya itu tampak kaget karena tubuhnya yang membeku seketika saat diangkat.


"Di.. dikamar kamu. Kata kamu rumah ini sering di ngajiin, kok masih ada setannya mas?"


Berpura-pura terkejut, Arsen membulatkan matanya "Di kamar saya? Masa sih. Selama saya tidur di sana nggak ada apa-apa tuh" Arsen kembali pada lemari pakaiannya. Mengambil kaos putih dan celana bahan.


"Lah, itu buktinya bi Ina kerasukan"

__ADS_1


Arsen tersenyum saat Alea dengan sigap langsung berdiri dan kembali mengekor dirinya yang masuk ke ruang kerja. Jika seperti ini terus, untuk sementara Arsen bisa membuat Alea tak mencari tahu apalagi membahas tentang Alea.


"Selama kamu tidur di kamar saya, kamu sholat dan ngaji nggak didalamnya?" tanya Arsen sambil mengambil tangan Alea dan bersisian menuruni anak tangga. Arsen takut, langkah lebarnya membuat Alea terburu-buru dan jatuh ke bawah.


"Sholat iya, kadang-kadang sih. Tapi kalau ngaji nggak"


"Ya makannya, setan seneng di sana. Kali aja dia malah bobo di samping kamu nanti malam" canda Arsen. Satu pukulan maut mendapat tepat di dadanya, Arsen bahkan harus pegangan pembatas tangga agar tidak jatuh ke bawah.


"Asstaghfirullah dek. Kalau jatuh gimana? Bukan mas doang, kamu juga bisa ikut ketarik jatuh"


"Lagian nyebelin banget sih jadi orang!!" ucap Alea sewot.


Arsen tertawa melihat ekspresi istrinya. "Iya, iya, maaf. Tapi Al. Bisa aja dulu-dulu ada setan yang meluk kamu pas tidur kan?" Arsen langsung berlari menuju area dapur yang membuat Alea memekik keras.


"Mas Arsen!!!!"


Ah, menggoda anak kecil memang sangat menyenangkan.


***


**Semoga aja bisa double up hari ini ya. Masih semoga loh ini 🤭


Cuss tinggalkan komentar untuk bab ini. yang unyu-unyu dulu setelah kemarin Arsen pengin ditimpukin sama readers 😂


Oh ya barangkali ada yang mau berbaik hati kasih ulasan dan bintang untuk cerita ini ya ❤️🥰🥰**

__ADS_1


__ADS_2