Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
S2 : Kembalinya Ingatan


__ADS_3

ini double up ya, bisa dibaca bab sebelumnya dulu


Kalian tahu bagaimana rasanya ingatan demi ingatan kembali dengan terus menerus? Dalam mimpi Alea melihat dirinya dan Saga yang tengah berdiri ditepi jalan menuju desa tempat nenek Saga tinggal. Kedua tangan Saga memegang bahu Alea sambil mensejajarkan wajah mereka berdua. Senyuman tulus namun juga menyedihkan tampak di wajah Saga sekarang.


"Kalau kamu mau mundur, kita bisa batalkan semua Al" ucap Saga lirih. Ada sedikit nada enggan untuk mengatakan hal itu. Dia sudah kalah sejak awal, 5 tahun berlalu tak membuatnya benar-benar mendapatkan hati Alea seutuhnya. Masih ada sebuah ruang di sana yang amat sulit untuk ia buka. Ruangan yang dikunci rapat dan hanya sosok itu yang bisa membukanya.


"Ga"


"Dengar Al. Kalau kita sudah bertemu dengan nenek, aku nggak akan benar-benar rela buat ngelepasin kamu. Kita benar-benar akan nikah. Sekalipun kamu nanti mohon-mohon untuk dilepasin sama aku. Aku nggak akan ngelepasin kamu"


"Kamu itu ngomong apa sih Ga? Udah mendung. Nenek kamu pasti khawatir karena kita belum sampai juga"


"Al. Jawab aku, kamu mau mundur?"


"Mundur apa yang kamu maksud? Batalin pernikahan kita? Buat apa?"


"Buat hati kamu" jawab Saga cepat. Menghela napasnya kesal, Saga memunggungi Alea.


"Hati yang mana yang kamu maksud? Aku bersedia nikah itu berarti aku sayang sama kamu Ga. Udah mendung dan hampir malam. Ayok"


"Sayang? Gimana kalau cinta?" Saga membalikan badannya, menatap lurus ke arah Alea yang tiba-tiba menatap ke arah lain, menghindari tatapannya sekarang.


"Ayok. Udah mulai gerimis ini"


"Aku nggak mau nyakitin kamu kaya dia nyakitin kamu Al" Saga menahan tangan Alea yang hendak membuka pintu mobil.


"Betul. Memang belum sampai tahap cinta mati sama kamu Ga. Tapi aku sayang sama kamu, setelah menikah itu menjadi tugas kamu buat aku jatuh cinta sama kamu. Lebih besar dari rasa yang aku punya buat dia. Jadi, ayok ketemu nenek kamu, karena aku juga pengin jadi orang yang nggak bisa kamu lepasin atau relakan jatuh ke tangan pria lain"


Menarik tangan Alea, Saga memeluk wanitanya itu erat. Tangis bahagia turun bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar seolah memberikan info kepada manusia jika hujan besar akan turun sebentar lagi. Dan tanpa diketahui, jika guntur itu juga seolah sebagai tanda kabut tebal akan datang bersamaan dengan hujan dan membuat jarak pandang menjadi pendek.


"Dek"


"Al"


"Alea?"


Tubuh Alea seolah tertarik saat panggilan halus itu masuk ke dalam indra pendengarannya. Kecelakaan itu baru saja terlintas kembali dikepalainya, namun perlahan tapi pasti kesadarannya mulai kembali. Bau alkohol serta obat masuk kedalam indra penciumannya lalu berganti dengan bau parfum khas yang begitu membuatnya tenang seketika. Bau parfum mas Arsen yang kini tampak berdiri sambil memasang wajah khawatirnya.

__ADS_1


Semuanya sudah kembali, kepingan ingatan akan sosok Saga dan semua kenangan mereka kembali dengan bertubi-tubi. Entah apa yang harus ia lakukan terhadap Arsen, laki-laki itu sempat berniat memberi alasan kenapa mereka bercerai, namun Alea yang menolaknya sendiri. Kenyataan apa lagi yang akan kembali ke ingatannya kelak, hal yang menyenangkan atau malah menyedihkan. Alea rasanya belum sanggup untuk menerima kenyataan buruk dari kepingan ingatannya yang hilang.


"Mas" panggil Alea lirih.


"Kamu nggak apa-apa kan?"


"Aku mau pulang"


"Boleh pulang setelah infusnya habis"


Alea memejamkan matanya, ingatan akan Saga membuat air matanya keluar tanpa izin sama sekali. Sosok sahabat yang selalu berada disisinya, bahkan mencurahkan semua kasih sayang kepadanya harus berakhir tragis seperti itu. Alea ingin menemui Saga segera, ingin melihat bagaimana kondisi laki-laki itu sekarang.


"Saga. Aku ingin lihat Saga mas"


Usapan tangan Arsen di pipinya berhenti seketika. Alea tahu ucapannya barusan jelas menyakiti Arsen, hanya saja Alea merasa bersalah pada Saga jika menghilang tiba-tiba seperti ini. Apalagi, jika Saga mengetahui bahwa dirinya dan Arsen akan menikah.


"Dek"


"Aku mau lihat Saga mas. Antar aku ke Saga, aku mohon mas"


Ada sebuah helaan napas yang Alea dengar dari Arsen, mata laki-laki itu juga memerah menahan tangis. Genggaman pada tangannya mengerat bersamaan dengan suara lirih yang membuat dunia Alea terasa di jungkir balikkan seketika.


Tubuh Alea bergetar seketika. Rasa sesak merambat perlahan menekan paru-parunya, membuat tangisan itu pecah seketika. Mengingat kondisi Saga terakhir ia lihat saat mobil terbalik di jurang, Alea tak pernah berharap jika hanya dia yang selamat. Setidaknya, seharusnya jika Tuhan mengambil nyawa Saga, nyawanya juga harus di ikut sertakan.


"Dek"


"Nggak mas. Dia masih hidup kan mas? Aku belum ngasih jawaban sama dia mas. Aku belum ngasih jawaban yang buat dia bahagia mas"


"Al"


Dari Arsen, Alea menoleh ke arah Gita dan Keke yang juga duduk disamping bangkarnya. Kedua mata mereka juga memerah dan sarat akan setuju dengan ucapan Arsen barusan.


"Dia masih hidup kan Git? Ke?"


"Al"


Dekapan Gita pada tubuhnya, membuat tangis Alea kembali pecah sejadi-jadinya. Saga, sahabat yang menemaninya selama 5 tahun di Amerika nyatanya pergi dengan membawa pertanyaan yang belum sepenuhnya Alea jawab.

__ADS_1


***


Sudah hampir 5 menit Arsen hanya diam didalam mobil dengan tangan yang mencengkram erat ku di mobil. Sejak pulang dari rumah sakit kemarin, Alea menolak untuk pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal sementara di rumah Gita.


Tak ada pertengkaran diantara mereka, Alea bahkan meminta izin kepadanya dan kedua orang tua Arsen untuk tinggal di rumah Gita sementara waktu. Dia membutuhkan waktu sendiri, dan Arsen mengizinkannya dengan syarat Alea bersedia untuk menemuinya saat Arsen datang. Alea menyetujuinya tanpa ada penolakan sama sekali.


Dan disinilah dirinya sekarang, mobilnya sudah terparkir di halaman rumah Gita namun Arsen belum kunjung juga keluar dari mobil. Ia akan mengatakan semuanya sekarang, tak akan ada yang akan ia sembunyikan lagi. Bahkan jika Alea menolak penjelasannya, Arsen akan tetap menjelaskannya. Perihal akan tetap melanjutkan pernikahan atau membatalkan semuanya, Arsen akan menyerahkannya pada Alea.


Setelah menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, Arsen keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah Gita. Namun, baru juga satu langkah masuk ke dalam rumah itu, satu bogeman melayang hingga membuatnya tersungkur ke lantai.


"Mas Azri!!" pekik Gita. Kenzo yang juga berada di sana, langsung memisahkan mereka dan menarik keduanya ke halaman rumah.


"Tonjok aja. Gue nggak akan melerai kalian, karena dia emang pantas buat dapetin hal itu" ucap Kenzo begitu sampai di halaman rumah, lalu berjalan mudur beberapa langkah. Jika keadaan sudah tak lagi kondusif, ia baru akan melerai perkelahian itu. Jika diingat-ingat, semenjak Alea dan Arsen bercerai, bosnya itu memang belum mendapat hukuman bogeman dari orang lain.


"Bangsat lo!!" satu bogeman kembali melayang ke pipi Arsen.


Arsen tahu apa hubungan Alea dan Azri, maka dia memilih diam saja dan menerima bogeman dari laki-laki yang sudah dianggap Alea sebagai kakaknya sendiri. Alea mengenal Azri sejak kecil, rumah mereka yang berdekatan membuat hubungan mereka dekat layaknya adik dan kakak, bahkan saat kedua orang tua Alea meninggal, hanya ada sosok Azri yang berada disisi Alea sepenuh hati.


"Emang bajingan lo!! Lo anggap Alea bodoh sampai bisa dibohongin dua kali?!!"


Arsen tak menjawab, ia kembali menerima tinju bertubi-tubi hingga tubuhnya terkapar di rumput. Sudut bibirnya sudah luka dan mengeluarkan darah segar.


"Lo mau nikahin dia lagi setelah apa yang keluarga lo lakuin?!!"


"Seharusnya lo yang mati Sen. Lo yang mati!! Bukan Saga!!" Azri mengeram kesal. Dadanya naik turun menahan amarah setelah menahannya sejak kemarin.


"Lo yang seharusnya mati Sen!! Seharusnya bukan lo yang masih ada di hati Alea sampai sekarang!" nyatanya Azri tak bisa lagi menahan air matanya, tubuhnya ikut tumbang dan telentang di atas rumput.


Kenzo yang melihat itu menghela napasnya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan mereka yang kini sama-sama menangis tersedu-sedu.


"Maafin gue" ucap Arsen.


"Bangsat"


"Gue bakal ngaku semua sama Alea hari ini. Semuanya, sampai alasan terbesar kenapa sampai bercerai"


Menyeka darah disudut bibirnya, Arsen merubah posisinya menjadi duduk. "Lo udah selesai gebukin gue kan? Setidaknya lo harus dapat hal yang sama satu kali karena nggak nanya apa alasan gue ke sini"

__ADS_1


Dengan sisa tenaganya, Arsen menindih Azri lalu melayangkan satu bogeman nya sebelum akhirnya berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah Gita.


Semuanya akan ia jelaskan sekarang. Sungguh, tak ada nanti-nanti seperti kemarin.


__ADS_2