
"Kamu bilang apa barusan mas? Siapa yang mau kamu bawa pulang ke rumah?"
"Alea"
"Siapa?"
"Alea bun. Nanti mas ceritakan semuanya, cuman mas mau minta tolong. Bunda maupun ayah, berpura-pura jika tak ada perceraian diantara kami"
"Kamu gila mas!!"
Arsen menjauhkan sedikit ponsel dari telinga lalu mendekatkannya kembali. Bukan bunda yang berteriak barusan, melainkan ayah yang juga berada disekitar bunda. Arsen sudah tahu jika respon ini yang akan ditunjukan oleh kedua orang tuanya.
Benar. Orang waras mana yang membawa mantan istrinya kembali ke rumah setelah bercerai?.
Arsen tahu ia sudah amat tampak seperti orang tak waras. Bagi Alea mungkin mereka masih suami istri, tapi bagi semua orang terdekat mereka sudah bercerai, dan tak sepatutnya mengajak wanita untuk tinggal bersama tanpa ada ikatan apapun.
Dengan sebuah helaan napas, Arsen kembali bicara. Mencoba untuk meyakinkan kedua orang tuanya, karena ia tak bisa kehilangan Alea sekali lagi. Akan ada pernikahan, Arsen yakin. Sebelum kewarasannya hilang, Arsen yakin dirinya sudah menikahi Alea disaat itu terjadi.
"Kamu nggak ngelakuin aneh-aneh dengan culik dia dari suaminya kan mas?" geram Amel. Wajar jika mengkhawatirkan hal itu karena selama 5 tahun ini putranya layaknya berubah seperti orang lain.
Helaan napas keluar dari Arsen "Alea kecelakaan, koma, terus yang dia ingat hanya sampai ditemukannya kertas undangan. Alea butuh aku bun. Aku akan bawa dia ke rumah bunda, sementara kita tinggal di rumah bunda sampai aku menikahi Alea lagi"
Tak perlu menunggu ketersetujuan dari orang tuanya, Arsen langsung mematikan panggilan dan masuk ke dalam mobil dimana Alea sudah duduk manis di kursi penumpang. Arsen yakin, bunda maupun ayah akan melakukan semua yang Arsen minta meski tanpa penjelasan terlebih dahulu.
Hari ini Alea diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Setelah membujuk Gita susah payah untuk membiarkan Alea ikut bersamanya, akhirnya Gita setuju karena takut kondisi Alea akan memburuk jika langsung dihadapkan dengan kenyataan yang ada.
Semuanya harus perlahan dan Gita harap Arsen melakukan hal itu. Membuat Alea pulih seperti semula meski Gita tak terlalu yakin bos dari suaminya ini akan melakukan hal itu.
Mendapati tatapan bingung Alea, Arsen mengusap puncak kepala Alea sambil menunjukkan senyuman menenangkan "Lama ya? Maaf, habis telfon bunda dan ayah buat nyambut kedatangan kita. Sampai kondisi kamu benar-benar pulih, nggak apa-apakan tinggal di rumah bunda?, biar kalau mas kerja, kamu masih punya bunda di rumah"
Mendapat anggukan kepala dari Alea, Arsen mulai melajukan mobil yang mereka kendarai menuju rumah. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Jika saja dulu Arsen tak menyakiti Alea, waktu kebersamaan mereka seperti ini pasti akan sangat menyenangkan.
"Sebelum kecelakaan, aku sama bunda nggak lagi berantem kan ya mas?"
Arsen menoleh sejenak ke arah Alea sebelum akhirnya kembali fokus menatap lurus ke depan "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Soalnya 1 minggu setelah aku bangun dari koma sampai tadi pagi, bunda nggak pernah datang jenguk aku"
__ADS_1
Menutupi kebohongan dengan kebohongan itu memang tak akan ada habisnya. Perceraian mereka adalah karena tidak adanya kejujuran, dan Arsen kini malah melakukan hal yang sama lagi.
"Ayah sakit dek. Baru sembuh kemarin" ingatkan Arsen untuk tidak lupa mengatakan hal ini juga pada kedua orang tuanya.
Alea mengangguk "Aku ngantuk mas, boleh tidur kan?"
Sebuah senyuman Arsen tunjukan kepada Alea. Lebih baik menyetir sendiri daripada mendapat pertanyaan yang harus membuat dirinya kembali berbohong.
Perjalanan menuju rumah kali ini terbilang tak semacet biasanya. Hanya butuh waktu sekitar 3 jam karena memang jarak yang lumayan jauh. Arsen terdiam sambil menatap wajah Alea yang masih tertidur pulas. Mereka belum sampai di rumah bu, Arsen memutuskan untuk singgah di kafe yang dulu amat di suka Alea untuk mengerjakan tugas. Kata Alea rasa matcha di sini sangat enak.
Tak ada niatan untuk membangunkan Alea, Arsen ingin menikmati wajah cantik mantan istrinya ini. Sumpah demi apapun Arsen akan membuat Alea berada di sisinya meski banyak hal yanga akan menghadang perjalanan ini kedepannya. Atau mungkin sekalipun lancar jaya tanpa penghalang, Arsen harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena hari dimana Alea mengingat semuanya pasti akan datang kelak.
Arsen mengusap lembut pipi Alea saat mata itu perlahan terbuka. Sebuah senyuman kembali Arsen tunjukan pada wanita ini.
"Dimana ini mas?"
"Kafe Sunny. Kamu dulu suka banget sama Match di sini. Apapun bentuknya. Minuman ataupun macaron"
"Aku haus. Pengin minum"
"Oke, ayo keluar" mengacak rambut Alea gemas. Arsen lebih dulu keluar untuk membukakan pintu bagi Alea. Yang tahu seberapa jahatnya sifatnya dulu, pasti akan tertawa atau bahkan mual melihat sikapnya pada Alea sekarang.
Duduk di kursi yang berada dekat dengan pintu masuk, Alea menatapnya dengan dahi berkerut dalam. "Kamu aneh mas, nggak seperti biasanya"
Ya. Nggak seperti biasanya yang selalu nampak dingin dan tak peduli dengan istrinya. Jangankan Alea, Arsen sendiri bahkan juga merasa aneh dengan sikapnya. Sepertinya rasa tak ingin kehilangan Alea untuk kedua kalinya memang sebesar itu. Bahkan meski Alea berada di depannya beberapa hari ini, Arsen terkadang merasa ketakutan jika Alea tiba-tiba hilang dari pandangannya.
"Aneh seperti?" Arsen ingin tahu pendapat Alea. Tahu seberapa buruk dirinya dulu di mata wanita ini.
"Dulu kamu jarang senyum. Tapi akhir-akhir ini kamu sering senyum ke aku. Hari ini udah lebih 10 kali kamu senyum kaya gitu"
"Jadi, ganteng kan kalau aku senyum?" canda Arsen demi mengurangi perasaan aneh terhadapnya.
"Ganteng sih, tapi aneh. Mana segala pakai bukain pintu mobil. Beuh, sebelum aku koma kayanya kamu nggak pernah gitu sama sekali"
"Kalau gitu" Arsen meraih dua tangan Alea yang berada di atas meja "Siapkan diri kamu mulai sekarang. Karena hal-hal kecil tapi romantis begitu bakal aku lakuin mulai sekarang. Bahkan kalau kamu minta ulang semuanya lagi dari awal, ngerayain ulang pesta pernikahan kita, aku juga nggak masalah"
Jika ada Kenzo di sini, sudah pasti sekretarisnya itu akan geleng-geleng kepala lalu melayangkan tinju di wajah Arsen saat Alea tak ada. Sekalinya brengsek memang akan selalu brengsek.
__ADS_1
"Ngadain ulang pesta nikah kita?"
Arsen mengangguk. Dalam hatinya ada ungkapan permintaan maaf yang terus diulang. Berharap Tuhan akan memaafkan semua perbuatannya.
"Kayanya aku koma bikin kamu takut banget ya mas"
"Iya. Mas takut. Jadi jangan pernah lagi jauh dari mas. Oke?"
Kali ini Alea yang menganggukkan kepalanya.
"Kamu duduk aja di sini. Mas pesan makanan dulu. Semua rasa matcha kan?"
"Iya. Makasih mas" senyuman cantik Alea membuat hati Arsen merasa menghangat seketika.
"Sama-sama" ucap Arsen lalu berlalu meninggalkan Alea sendiri.
Selagi Alea masih tak mengingat apapun, Arsen hanya ingin meninggalkan kenangan indah untuk wanita yang ia cintai. Saat ingatan Alea kembali semua keputusan akan Arsen serahkan pada Alea. Meski harapannya, Alea tak akan menjauh darinya.
"Pesan apa pak?"
Arsen mengucapkan semua pesanan yang notabennya kesukaan Alea. Meski dulu mereka datang ke sini tanpa ada kesan romantis sama sekali, Arsen masih ingat apa saja yang dulu sering Alea pesan.
"Ada yang ingin di pesan lagi pak?"
"Tidak ada" Arsen menyerahkan kartu kepada kasir. Kepalanya kini menoleh ke arah Alea, hanya untuk melempar sebuah senyuman manis. Seindah suara lonceng pintu yang berbunyi saat ada pelanggan lain yang masuk ke kafe.
"Ini kartunya pak"
"Pak"
"Pak"
"Bapak kartu anda"
Tak memperdulikan panggilan sang kasir. Arsen langsung berjalan mendekat ke arah Alea pandangannya tak sengaja menangkap sosok laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kafe. Lonceng kafe itu tak lagi terdengar indah ditelinga Arsen, melainkan terdengar sebagai tanda bahaya.
Laki-laki itu adalah Azri.
__ADS_1
...****************...
Adakah yang ingat sosok Azri? di season satu dia cuman muncul di 1 bab.