
"Aku capek mas. Aku ngantuk. Aku mau tidur. Kamu keluar aja, jangan ganggu aku" ucap Alea, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur sambil memunggungi mas Arsen yang masih berdiri ditempatnya.
Biasanya jika dirinya marah seperti ini, mas Arsen akan memeluknya dari belakang tanpa aba-aba sama sekali, membuat Alea tenang dan akhirnya tertidur di dalam pelukan suaminya.
Namun, suara langkah yang malah terdengar semakin menjauh diakhiri dengan suara pintu yang ditutup membuat tangis Alea semakin pecah. Dia bahkan pergi di saat seperti ini.
Tangis Alea kembali pecah. Dadanya terasa begitu sakit mendengar segala penuturan mas Arsen barusan. Dari banyaknya perilaku jahat yang dulu ia dapatkan dari paman dan bibinya, rasanya tak sesakit dan sesesak sekarang. Tak ada yang tahu seberisik apa isi kepala Alea saat ini, ingatan akan interaksi mas Arsen dan mbak Dira, kebencian mas Arsen kepada mas Wira dan segala hal yang terasa mengganjal akhir-akhir ini semuanya terjawab sudah. Bukan hanya mantan kekasih, namun mantan tunangan dimana seharusnya yang berada di kamar ini adalah mbak Dira, bukan dirinya.
Sejatinya Alea juga merasa kasihan kepada mas Arsen yang ditikung sepupunya sendiri. Namun, tak seharusnya laki-laki itu menjadikannya berada di posisi yang begitu menyakitkan. Lagi dan lagi tak ada orang yang sepenuhnya mengharapkan dirinya dengan tulus.
Tangis Alea semakin pecah tatkala merasakan sebuah tangan menyusup dibawah lengannya dan berakhir di perut. Tebakannya salah, mas Arsen tak pergi dan kini tubuh Alea terasa ditarik ke belakang hingga punggungnya bersentuhan dengan dada bidang suaminya.
"Maafin mas dek" bisiknya pelan di telinga Alea.
Dada Alea terasa seperti dihujam ribuan batu yang begitu menyesakkan. Tubuhnya dipaksa untuk berbalik dan berakhir dengan menghadap mas Arsen. Dipeluk erat hingga Alea yakin air matanya akan membuat bagian depan baju mas Arsen basah. Tak ada yang Alea jawab, hanya sebuah tangisan hebat sambil menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan suami.
"Maaf karena mas nggak jujur sejak awal. Maka dari itu, tanyakan semua hal yang mengganggu pikiran kamu dek. Mas akan menjawab dengan jujur sekarang"
Alea merasakan ada kecupan dalam di keningnya sekarang. Tidak. Dirinya jelas tak boleh goyah hanya karena perilaku lembut mas Arsen sekarang. Tak boleh lagi menjadi pihak yang begitu bodoh karena mudah untuk di bohongi.
__ADS_1
"Nangis dulu saja dek. Keluarkan semua kekesalan kamu. Tapi jangan kemana-mana. Nangis di dekapan mas saja"
Sungguh, ada sumpah serapah yang ingin sekali Alea lontarkan pada suaminya sekarang. Namun semuanya tertahan karena isakan dan air mata yang terus meluncur seirama dengan dekapan mas Arsen yang semakin erat pada tubuhnya. Bahkan bibir mas Arsen masih menyentuh dahinya hingga membuat Alea memejamkan matanya. Terlalu lelah karena menangis, dirinya hanya ingin tidur saja sekarang. Tak Ada sisa tenaga lagi yang bisa ia gunakan untuk menerima kenyataan-kenyataan pahit setelahnya.
"A.. Aku ngantuk mas" ucap Alea di sela isakan tangisnya.
Disisi lain Arsen yang mendengar suara Alea, tersenyum lega. Setidaknya istri kecilnya ini masih mau berbicara dengannya dan tak memberontak seperti tadi. Mengusap puncak kepala Alea, Arsen menganggukkan kepalanya. "Iya. Tidur dek. Mas akan peluk kamu sampai kamu bangun"
Menunduk sedikit guna melihat Alea yang sudah memejamkan matanya, Arsen kembali mengeratkan pelukannya dan menepuk punggung Alea pelan. Sejujurnya melihat raut wajah penuh kemarahan Alea tadi, membuat Arsen agak sedikit takut jika Alea akan pergi darinya. Akan meninggalkannya dan kembali membuatnya terpuruk seperti dulu. Maka dari itu, saat Alea memunggunginya tadi, Arsen tak benar-benar keluar dari kamar. Ia hanya menutup pintu dan malah mendapati tangisan Alea pecah yang begitu memilukan baginya. Arsen sudah mengikrarkan akad yang langsung disaksikan oleh Allah dan malaikat, maka dari itu ia sudah berjanji untuk menjaga Alea sepenuhnya.
Suara isak tangis Alea kini digantikan dengan deru napas normal yang membuat Arsen merasa lega. Tak melepaskan Alea dari pelukannya, Arsen kembali mendaratkan satu kecupan dalam di kening istrinya ini. Memberikan ketenangan dan yang paling Arsen harapkan adalah Alea akan bermimpi indah dengan kecupannya tadi.
Suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Tanpa melepaskan Alea, Arsen menjangkau ponsel miliknya yang ada di atas nakas. Untuk sesaat tubuhnya mematung saat melihat sang pengirim pesan. Meski hanya deretan nomor yang ia lihat, namun Arsen tahu siapa pemilik nomor dengan foto profil gambar pantai yang begitu biru. Dira, itu jelas nomor Dira.
Dira:
Hai mas, aku tadi pagi ke kantor kamu, mau ngasih kamu sarapan. Aku titip ke Kenzo tadi karena kamu nggak dateng-dateng. Gimana rasanya? Enak nggak mas?.
Arsen terdiam sejenak. Tadi pagi saat bertemu dengan Kenzo, pria itu tak memberikan apapun padanya. Kenzo bahkan tak bilang jika Dira datang menemuinya di kantor. Mungkin, karena sudah bisa menebak situasinya, Kenzo pasti memutuskan untuk tak memberikan bekal itu padanya dan memilih untuk membuangnya. Sekretarisnya itu memang luar biasa.
__ADS_1
Saat jemari Arsen hendak untuk membalas, Alea yang ada di dekapannya sepertinya sedikit terasa terusik. Mengurungkan niat untuk membalas, Arsen meletakan ponselnya di nakas dan kembali memeluk istrinya itu erat. Untuk sekarang yang perlu ia urusi adalah Alea, setidaknya sampai kemarahan istrinya itu mereda. Arsen ikut memejamkan matanya.
***
Diwa mondar-mandir gugup di ruang tamu. Saat tante Amel menghubunginya dan mengatakan jika Alea tahu semuanya, Diwa langsung melesat ke rumah Alea. Dan disinilah dia sekarang. Berada di ruang tamu dengan tante Amel, om Bagas dan Bi Ina. Dari banyaknya orang di keluarga memang mereka berempat yang paling harus bertanggung jawab menjelaskan kepada Alea karena membohongi dia selama ini.
Tadi, Diwa sempat mendengar suara Alea yang meninggi. Namun setelahnya kembali sunyi dan tak ada satupun dari mas Arsen atau Alea yang keluar dari kamar. Diwa sedikit menghela napasnya karena mungkin bang Arsen mampu untuk meredakan emosi Alea.
"Kok bisa sampai ketahuan tan?" tanya Diwa pada Amel yang memasang wajah tak kalah khawatirnya.
"Tante juga nggak tahu, tiba-tiba Alea pulang sambil bawa foto undangan di ponselnya"
Diwa mengumpat dalam hati, setelah ini Alea pasti akan begitu marah kepadanya sekarang. Sejak kemarin, Diwa selalu pura-pura tak tahu tentang Dira setiap kali ditanya. Pasti sahabatnya itu merasa dibohongi oleh dirinya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*Kali aja ada yang mau kasih komentar di bab ini untuk pak sopir Kenzo? 🤭. dibuang itu makanan 😂.
Diwa siap-siap ada amukan Alea sebentar lagi.
__ADS_1