Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
bab 45 : Tamparan Kakek


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah sakit, tak ada yang bicara. Alea terdiam sambil mencengkram erat sabuk pengamannya karena diluar hujan turun sangat lebat. Masih pagi, namun hujan yang turun seolah meminta para manusia yang mencari uang dari Senin-Jumat agar tetap merebahkan diri di kasur di hari Sabtu ini. Sedangkan Arsen tampak diam karena tak tahu bagaimana dia akan membuka obrolan. Istrinya selalu menolak saat Arsen ingin meluruskan semuanya. Meluruskan menurut Arsen jelas berbeda dengan Alea.


Bagi Alea tak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya sudah jelas. Tak perlu mengatakan apapun karena Alea sadar sejak awal memang posisinya hanya sekedar pengganti. Sampai sekarang Marinka juga seolah benar-benar tertelan oleh bumi, keberadaan wanita itu belum juga ditemukan.


Sebenarnya apa alasan Marinka hingga kabur dihari pernikahannya sendiri?


Jika Marinka tahu kalau hati Arsen masih dimiliki oleh mbak Dira, tidak mungkin hal itu yang menjadi alasan kepergian Marinka. Menjadi istri orang kaya adalah cita-cita Marinka sejak dulu, dan itu berarti ada alasan kuat kenapa sepupunya itu tiba-tiba menghilang. Entahlah, mungkin Alea perlu meminta tolong kepada Gita untuk mencari tahu semuanya.


Alea semakin mengeratkan genggamannya pada sabuk pengaman saat mobil lain tiba-tiba menyelip dadakan di sisi kiri. Hari itu tak turun hujan, namun saat posisi mobil terbalik hujan turun sangat deras disertai petir yang menggelegar.


Alea melirik ke arah Arsen "Kamu kangen banget sama mbak Dira sampai naik mobil sekencang ini mas? Hujan. Pelan-pelan" Ya. Pelan-pelan, karena Alea takut dengan hujan. Jangankan berkendara, jalan dibawah rintikan hujan pun Alea merasa ketakutan. Syukur saja semalam saat dirinya menyetir, semuanya baik-baik saja, meski Alea harus membuka sedikit kaca mobilnya agar udara dari luar masuk ke dalam paru-paru.


Disisi lain, Arsen menghela napasnya. Sindiran itu kembali ia dengar. Mengikuti permintaan sang istri, Arsen mengambil laju kiri kemudian memperlambat laju mobilnya "Bisa kamu tutup kacanya? Air hujannya masuk ke dalam"


"Cuman sedikit. Aku nggak bisa napas kalau ditutup rapat. Biasanya kamu juga nggak masalah"


Sepenuhnya Arsen menoleh ke arah Alea sejenak sebelum kembali fokus pada jalanan di depan sana. Entah dulu dirinya yang tak sadar atau tidak terlalu fokus dengan istrinya, Arsen merasa baru kali ini Alea membuka jendela saat hujan turun begitu deras. Tak ingin menambah masalah, Arsen memilih untuk diam hingga mobil mereka sampai di rumah sakit dimana tante Jihan di rawat.


Tam ada lagi Alea yang menunggu dirinya untuk digandeng. Wanita itu langsung melenggang masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan menuju kamar inap tante Jihan. Arsen hanya mengekor dibelakangnya sambali terus bertanya pada dirinya berulang kali apa yang diinginkan oleh hatinya sekarang. Semalam, Arsen begitu yakin jika Alea yang ia butuhkan, tapi entah kenapa kini keraguan itu kembali datang.


Mempercepat langkahnya, Arsen mengambil tangan Alea dan menggenggamnya dengan erat. Tak melepaskan tangan mungil itu sama sekali meski sang empu berulang kali mencoba untuk melepaskannya.


"Tolong, bantu mas kali ini. Mas janji, semalam adalah kesalahan paling fatal yang mas lakukan, besok tidak akan ada lagi" ucap Arsen pelan.


Alea hanya menghela napasnya, lalu membiarkan tangannya digenggam mas Arsen hingga keduanya sampai di depan ruang inap tante Jihan. Bersamaan dengan kedatangannya, Dira dan mas Wira juga tampak datang dari arah yang berbeda. Alea pikir, genggaman ditangannya akan mengendur, namun kenyataannya malah terasa semakin kencang seolah diremas oleh mas Arsen.


Bagaimana Alea mengartikan arti genggaman ini sekarang?


Apakah janji suaminya tadi bisa ia pegang?

__ADS_1


Atau eratnya genggaman ini hanya karena rasa cemburu membuncah di dada suaminya karena melihat mas Wira dan mbak Dira juga bergandengan tangan?.


"Alea?" Dira nampak tak percaya akan kehadirannya dengan Arsen di sini. Memang sampai sekarang pun, mbak Dira tak tahu jika dirinya adalah istri sah dari laki-laki yang hatinya sudah begitu remuk oleh sosoknya.


"Gimana kabarnya mbak?" tak seperti drama di sinetron dimana istri sah akan menjambak pelakor jika bertemu secara langsung, Alea malah menarik senyumnya. Lagi pula dirinya punya masalah hanya dengan mas Arsen bukan dengan mbak Dira.


"Baik, kamu gimana?"


"Baik juga secara fisik" Alea melirik suaminya sekilas "Kalau secara batin masih abu-abu" genggaman Arsen mengerat saat sindiran itu kembali terlontar.


"Ayo masuk"


Alea menurut saja saat Arsen menariknya masuk ke ruang inap tante Jihan, seolah menunjukkan jika laki-laki itu enggan untuk lama-lama berhadapan dengan Dira.


Bunda Amel langsung mendekap Alea begitu melihat orang yang masuk adalah putra dan menantunya. Saat mendengar kabar dari bi Ina jika pagi ini mbak Alea membuatkan bubur untuk Arsen karena pria itu demam, Amel bisa sedikit bernapas lega. Setidaknya apa yang ia takutkan pada rumah tangga putranya tak terjadi, atau.... Belum terjadi. Semoga tak akan pernah terjadi.


"Kamu sehat nak? Makin tirus pipi kamu. Bunda minta maaf ya" ucap Amel tulus sambil mengusap pipi menantunya.


Berjalan menuju bangkar dimana tante Jihan tengah duduk sambil menatap sayu ke arahnya, Alea mengambil posisi berdiri di samping tante Jihan. Dilihat dari reaksi wanita itu yang langsung menggenggam tangannya, Alea yakin cerita ini juga sudah sampai di telinga tante Jihan. Ditambah lagi Dira yang hamil karena Wira membuat kondisinya memburuk dan jatuh pingsan.


"Tante minta maaf ya Al"


"Harusnya Alea yang minta maaf karena baru jenguk tante hari ini. Kemarin mas Arsen demam Soalnya, gimana kabar tante? Udah baikan?" tahu arti kata maaf itu merujuk kemana, Alea berusaha untuk pura-pura tak tahu dan mengalihkan pembicaraan. Sudah dibilang kan? Dia datang untuk menjenguk tante Jihan, bukan untuk mendapat permintaan maaf dari semua Orang di ruangan ini yang telah membohonginya.


Jihan menganggukkan kepalanya, ditariknya Alea kembali lalu dipeluknya dengan erat.


Disisi lain Arsen melihat genggaman tangan Wira pada Dira semakin mengerat. Mungkin memang hal benar jika dirinya melepaskan Dira sekarang. Apa yang bisa ia lakukan ketika dua hati itu sudah saling terikat satu sama lain? Arsen hanya perlu menjaga Alea. Tanggung jawabnya dan semoga tak ada lagi hal yang membuat semuanya semakin kacau. Semoga Marinka juga segera ditemukan keberadaannya.


Suasana terasa lebih mencair saat kakek datang dan bergabung dengan mereka. Entah hanya perasaan Alea saja atau tidak, tawa canda dan obrolan hangat di ruangan ini terkesan hanya hal yang dibuat-buat saja, seolah menutupi segala hal pelik yang terjadi di depan kakek.

__ADS_1


Alea yang kini duduk disamping Arsen pun memilih untuk diam dan sesekali tersenyum saat kakek melihat ke arahnya, atau menjawab dengan nada ceria seperti biasa saat ada yang melemparkan pertanyaan kepadanya. Canda tawa itu terus berlangsung sebelum akhirnya Dira yang duduk disamping kakek angkat bicara mengenai kehamilannya.


Dilihat dari bagaimana kedekatan Dira dengan Kakek, Alea tahu wanita itu selalu diterima di keluarga ini. Mungkin, Memang semua orang di keluarga Ini sangat baik, kecuali suaminya yang kini duduk dengan gawai yang ada ditangan. Seolah tak ingin mendengar apa yang Dira katakan. Meski Alea tahu satu tangan Arsen yang bebas, mengepal dengan sangat erat.


"Aku dan mas Wira berniat untuk menikah kek. Kakek ngizinin kami kan?"


Bolehkah Alea tertawa sekarang?. Jari mas Arsen yang tengah bergulir di layar gawai berhenti seketika mendengar ucapan Dira, dan hal itu masuk ke dalam pengamatan Alea.


Tak langsung menjawab, kakek melirik ke arah Arsen terlebih dahulu. Meski tak keberatan juga, namun rasanya tak baik jika dirinya harus meng–iya kan ucapan Dira tanpa melihat reaksi satu cucunya yang lain.


Mungkin bukan hanya tawa namun Alea perlu bertepuk tangan dan meloncat-loncat layaknya orang gila. Untuk apa kakek harus melirik ke arah suaminya dan seolah meminta persetujuan? Sebenarnya apa posisi Alea di keluarga ini? Hanya sebagai pelunas hutang pamannya?.


"Dira hamil kek. Dan itu anak Wira. Aku akan bertanggung jawab" kali ini Wira yang bicara.


Suasana yang sudah tegang karena ucapan Dira kini semakin tegang. Bunda Amel dan ayah Bagas bahkan terlihat begitu terkejut mendengarnya, sedangkan tante Jihan memejamkan matanya dengan tangan yang mengepal.


"Kamu bilang apa mas? Ha..hamil? Kalian melakukannya sebelum menikah?" geram kakek. Bagas langsung menahan sang ayah ketika tongkat laki-laki itu hendak melayang ke arah Wira.


Namun dari tongkat, berganti dengan satu tamparan dari kakek hingga membuat Alea yang duduk tak jauh dari Wira terkejut bukan main saat laki-laki itu terhuyung ke arahnya.


"Maaf kek. Wira tahu salah, karena itu Wira akan tanggung jawab"


Alea buru-buru berdiri dan memegang lengan tangan kiri kakek saat pria itu hendak kembali melayangkan tamparannya. Bahkan Alea ikut berjongkok saat kakek terduduk saking lemas mendengar kebenaran yang terjadi. Alea mengusap pelan punggung kakek dan......


"Memang kamu harus tanggu jawab karena sudah bikin dia hamil, brengsek!!"


Membeku seketika tubuh Alea mendengar ucapan mas Arsen barusan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Mari tahan kesabaran kalian dulu ya. karena nggak mungkin nggak ada scene kakek nggak tahu kan?


__ADS_2