Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
bab 44 : Sindir


__ADS_3

Lantunan lagu anak-anak yang mengalun merdu dari bibir gadis kecil berusia 5 tahun itu meramaikan kondisi mobil yang tengah melaju di jalan tol. Malam sudah menyapa cukup larut namun tak kunjung juga membuat gadis itu merasa mengantuk. Ia asik bernyanyi diiringi oleh musik yang terdengar dari radio. Di kursi depan ada ayah yang asik ikut bernyanyi sambil mengemudi sedangkan di sampingnya ada bunda yang tersenyum lebar dengan ponsel yang ada ditangan, merekam konser dadakan dari putri satu-satunya yang mereka miliki.


Suara tawa menggema setelah lantunan musik di radio kini berganti dengan suara penyiar. Alea yang masih berusia 5 tahun itu tertawa geli saat bunda menciumnya gemas sambil mengatakan kalimat-kalimat penuh kebanggaan karena dirinya baru saja memenangkan juara 1 olimpiade matematika tingkat provinsi. Bukan hanya bunda, ayah juga melakukan hal yang sama. Meminta Alea untuk sedikit mencondongkan badannya ke depan agar bisa dipeluk dengan satu tangan oleh ayah.


Tawa yang menggelegar itu seketika berubah menjadi jeritan hebat tatkala terasa hantaman yang cukup kuat dari arah belakang. Mendorong mobil mereka kencang hingga menabrak sisi pembatas tol dan berakhir dengan terguling dua kali. Pelukan bunda ditubuhnya semakin erat.


"Maaf"


Alea terbangun seketika. Napasnya tersengal-sengal saat mimpi itu kembali datang disaat tubuhnya terasa begitu lelah. Ia merindukan kedua orang tuanya. Ia merindukan ayah dan bunda. Ia merindukan pelukan mereka yang pasti akan terbuka dengan lebar saat Alea pulang dengan kondisi yang kacau. Tapi, semuanya hanyalah angan. Mereka sudah pergi, hanya gadis berusia 5 tahun yang selamat dalam tabrakan malam itu.


Berniat untuk turun dari ranjang. Alea terkejut saat tubuhnya tiba-tiba direngkuh dari arah belakang hingga membuatnya kembali berbaring di ranjang. Tak usah ditanya siapa pelakunya, jelas hanya Arsen seorang yang entah sejak kapan sudah ikut pindah berbaring di ruang kerja miliknya. Semalam, Arsen tidur di kamar dan dirinya tidur di ruang kerja.


"Maaf"


Tak mengatakan apapun, Alea membalikan badannya dan meletakan tangan di dahi Arsen. Panasnya sudah menurun, tak perlu dibawa ke rumah sakit, Suaminya hanya perlu istirahat tambahan untuk membuat kondisinya kembali pulih. Siang nanti mereka harus mengunjungi tante Jihan di rumah sakit.


Alea menyingkirkan tangan mas Arsen yang masih melingkar di pinggangnya. Tidak. Dirinya tak ingin kalah lagi hanya dengan kelembutan yang laki-laki itu berikan. "Lepas. Aku mau turun. Aku mau masak. Kamu juga harus makan sebelum minum obat"


Tak mengabulkan permintaan Alea, Arsen semakin erat memeluk tubuh istrinya itu. Panggilan Alea bahkan sudah berubah dari 'mas' menjadi 'kamu', Arsen sadar kesalahannya pasti benar-benar fatal kali ini dan akan sulit untuk dimaafkan.


Tentu saja. Wanita mana yang akan biasa saja jika suaminya masih menyimpan rasa dengan wanita lain? Bahkan selama mereka menikah, sentuhan fisik mereka hanya sekedar pelukan dan pegangan tangan, paling gencar kemarin, itupun Arsen malah melakukan kesalahan yang pasti sangat menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Aku minta maaf dengan ucapanku kemarin."


"Simpan aja permintaan maaf kamu. Aku nggak butuh sekarang. Jangan lupa, istri kamu baru berusia 20 tahun, masih kekanakan. Dan aku nunjukin itu sekarang"


Arsen memejamkan matanya saat Alea benar-benar lepas dari pelukannya. Turun dari ranjang, lalu berjalan menuju ke pintu. Suara pintu yang tak kunjung terdengar membuat Arsen membuka matanya perlahan. Alea berdiri di sana sambil menatapnya dengan mata sembab dan sedikit bengkak. Suara tangis semalam yang ia dengar dari ruang kerja bukanlah sebuah halusinasi saja.


"Kamu tahu, sekalipun usiaku sudah berada di atas 25 tahun, aku juga nggak sanggup buat nerima ini mas" ujarnya kemudian benar-benar hilang dari balik pintu.


Arsen mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. Rasa pening di kepalanya semakin terasa berdenyut nyeri. Arsen melukai Alea, Arsen melukai istrinya dan Arsen baru sadar setelah melakukan hal sefatal itu.


***


"Mbak Alea mau masak lagi? Saya kira mau makan yang ada di kulkas mbak"


Menuangkan air panas ke gelas alumunium, Alea tak lupa menambahkan teh dan gula di dalamnya. Untuk membuat mas Arsen bisa jalan ke rumah sakit siang nanti, pria itu perlu makan agar energinya kembali. Sebenarnya bukan hanya untuk mengunjungi tanya Jihan saja, namun berubah pikiran, sampai di sana Alea juga akan memaksa laki-laki itu untuk memeriksakan kondisi tubuh. Alea harus yakin suaminya sehat dan baik-baik saja sebelum kata menakutkan itu terlontar dari mulutnya.


"Mas Arsen demam semalam bi, jadi aku buatkan bubur."


Mata bi Ina nampak berbinar mendengarnya. Dia kira rumah tangga Arsen dan Alea akan hancur setelah apa yang terjadi, tapi sepertinya nyonya Amel dan Tuan Bagas bisa bernapas lega karena menantunya ini masih begitu perhatian dengan anak mereka "Sini, saya aja yang buatkan mbak. Mbak Alea istirahat aja ya"


Menolak saat bi Ina hendak mengambil sodet dari tangannya, Alea menggeleng pelan "Bi Ina habis dari rumah sakit?" tanya Alea mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya mbak"


"Gimana tante Jihan?"


"Sudah lebih baik mbak. Cuman kayanya masih syok banget jadi disuruh untuk dirawat 1 hari lagi"


"Syukur kalau sudah lebih baik bi. Nanti siang saya mau ke sana. Sekarang bibi istirahat saja dulu ya, nanti siangan baru ngerjain kerjaan bibi"


Alea menoleh saat terdengar langkah yang mendekat. Arsen berjalan mendekat ke arah mereka kemudian memilih untuk duduk di meja makan. Dari baju yang dikenakan, sepertinya laki-laki itu sudah mandi sebelum turun. Ada sedikit kelegaan karena wajah mas Arsen yang semalam terlihat begitu pucat kini agak sedikit berwarna.


"Ya udah mbak. Bibi izin ke kamar dulu ya mbak. Permisi mas"


Begitu bi Ina pergi, Alea menuangkan bubur ke dalam mangkuk kemudian membawanya ke depan Arsen. Meletakkannya di meja dengan secangkir teh hangat lalu memilih untuk duduk di hadapan suaminya itu.


"Makan, kamu butuh tenaga buat ngebohongin aku lagi ke depannya"


Arsen menurut saja saat sindiran dari Alea kembali terdengar. Tak perlu marah karena ini adalah konsekuensi yang memang pantas ia dapatkan. Semalaman Arsen memikirkan rencana kedepannya, dan selama ia memikirkannya hanya ada nama Alea yang terus muncul dan berjalan melangkah ke depan bersamanya. Sudah saatnya ia melupakan Dira dan kembali pada istri sahnya.


"Habiskan dan minum obat. Rencananya nanti siang baru jenguk tante Jihan. Cuman kayanya ngeliat kamu sekarang yang udah kelihatan lebih baik dari semalam dan wajah kamu juga udah nggak terlalu pucat. Jadi habis makan kita langsung ke rumah sakit. Aku yakin kamu nggak bakal sampai pingsan apalagi hujan-hujanan cuman karena sakit hati kamu kalau ketemu Dira di sana. "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Udah mas Arsen, kicep aja kicep. Terima aja sindirannya


__ADS_2