Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
S2 : Pipi Merah


__ADS_3

Suara tawa kini menggema dari ruang tengah. Diwa memang selalu bisa mencairkan suasana, sifatnya yang ceria mampu membuat semua orang tertawa hanya dengan kalimat yang keluar dari bibirnya. Meski tak ada yang tahu jika sebuah masalah hati juga tengah menimpa sepupunya yang kemarin tiba-tiba menanyakan posisi kosong di kantor.


Kedua kaki Arsen tergerak masuk ke dalam rumah saat tawa renyah Alea terdengar. Arsen merindukan tawa itu, merindukan sebuah tawa yang membuat kedua mata indah itu tertarik membentuk bulan sabit. Rindu dengan kebiasaan Alea yang akan bertepuk tangan jika tertawa. Dan semua hal yang ada pada Alea benar-benar membuat Arsen merindukan sosok wanitanya itu.


Arsen berdiri didekat vas bunga sambil sesekali tersenyum. Bukan senyum karena lelucon Diwa, melainkan ikut tersenyum saat Alea tertawa. Tawanya benar-benar membuat Arsen merasa candu.


Jika kalian ingin bertanya apa yang membuat Arsen begitu yakin dan nekat untuk mengajak Alea kembali ke rumah, adalah karena Arsen masih mengingat kalimat Alea dulu.


"Aku bisa maafin untuk masalah di rumah tangga kita mas"


Meski seharusnya lanjutan dari kalimat itu juga bisa menahan Arsen melakukan hal gila seperti ini. Benar kata Diwa, 5 tahun dirinya tampak seperti orang lain dan ditahun ini adalah puncak dari kegilaannya selama ini.


"Tapi aku belum bisa maafin tentang kecelakaan itu mas. Bukan belum, tapi mungkin nggak akan pernah”


Arsen tersenyum saat Alea melambaikan tangannya memintanya untuk mendekat. Seperti inilah yang Arsen sesali tak pernah ia lakukan dulu. Duduk bersama istri dan keluarganya sambil membicarakan semua hal yang membuat suasananya semakin menyenangkan.


"Kamu tahu mas, Diwa katanya pengin jadi pengangguran aja. Kalau nggak punya duit minta freelance sama kamu" Alea tertawa sambil melingkarkan tangannya di lengan Arsen.


Bisakah ia berharap waktu berhenti sampai sini saja? Karena Arsen begitu menikmati tawa renyah dari wanita yang disayanginya ini.


"Nggak ada freelance. Mau kerja? Ya datang ke kantor" sembur Arsen. Bekerja di kantor akan membuat Diwa lebih cepat melupakan wanita itu.


***

__ADS_1


Sejatinya Alea sadar jika semua sikap Arsen terhadapnya benar-benar berubah. Mulai dari sikapnya yang hangat, senyuman menawan yang selalu ditunjukkan kepadanya dan segala hal yang benar-benar berbanding terbalik sebelum dirinya koma. Entah apa yang terjadi sebenarnya, Alea tak bisa mengingat kejadian yang terjadi 5 tahun belakangan. Yang ia ingat adalah pertengkaran mereka terakhir kali.


"Ngapain berdiri di pintu mas?" dari kamar mandi, Alea berjalan menuju meja rias dan duduk di sana. Sesekali melirik heran ke arah Arsen yang kini malah masih berdiri sambil bersandar di pintu. Tangannya terlipat di depan dada dengan tatapan lekat yang tertuju ke arahnya. Baru kali ini Alea mendapat tatapan seperti itu, malu namun juga bahagia disaat bersamaan. Semua orang dikeluarga suaminya memang selalu menatapnya dengan tatapan penuh sayang, dan Alea paling suka tatapan Arsen padanya sekarang.


"Aku ada di sini mas. Kamu kayanya beneran takut aku hilang ya mas" canda Alea. Semua pertengkaran mereka malam itu seakan hilang. Meski masih ada sedikit rasa sakit hati, tapi setidaknya sikap Arsen sekarang menunjukkan jika suaminya itu tengah berusaha memperbaiki semuanya. Dan Alea menerima itu dengan senang hati.


"Mau jalan-jalan ke taman komplek nggak dek?" tanya Arsen. Posisinya masih berdiri diambang pintu.


"Boleh. Mas masuk gih. Aku mau ganti baju, jadi pintunya ditutup"


Dari pantulan cermin, Alea tertawa saat melihat Arsen tampak gugup seketika. Benar, Alea juga merasakan hal yang sama. Meski dulu mereka pernah berada dikamar yang sama hanya untuk tidur. Namun untuk hal yang lebih dari itu, mereka belum pernah sama sekali.


Atau? Sebenarnya sudah, tapi dirinya yang lupa?.


"Mas tunggu di teras ya dek"


Mas Arsen masih menyukai mbak Dira? Tapi mbak Dira?


Alea menepuk jidatnya sendiri. Kehadiran Diwa membuatnya lupa untuk menanyakan hal yang ia dengar di halaman belakang tadi.


Mematut dirinya dicermin dan merasa penampilannya sudah sempurna. Alea bergegas keluar dari kamar. Sisa-sisa dari ingatannya sekarang, Alea merasa dirinya dan Arsen belum pernah jalan-jalan malam berdua seperti ini. Meski bukan kencan di restoran mewah dengan banyak lampu, taman komplek pun tak masalah asalkan hubungan mereka bisa lebih dekat.


"Cantik"

__ADS_1


Lagi, Alea tersipu malu saat mas Arsen yang tengah duduk di teras langsung berdiri dan mengutarakan pikirannya saat Alea berdiri di samping laki-laki itu. Masalahnya, ada bunda dan ayah juga di sini. Keduanya tersenyum yang membuat Alea semakin malu.


"Udah cantik begini, sayang banget kalau cuman diajak muterin kompleks" goda Arsen lagi.


Alea mencubit lengan Arsen agar diam. Alea yakin pipinya pasti sudah merah padam sekarang.


"Malu mas, ada bunda sama ayah" bisik Alea.


Arsen tertawa "Katanya malu bun. Ada bunda sama ayah"


Alea menghela napasnya. Setelah izin kepada bunda dan ayah. Sepanjang jalan, Alea memukul lengan Arsen kesal, yang dipukul malah asik tertawa lepas. Baru berakhir saat Arsen meraih tangan Alea dan digenggam erat sambil berjalan beriringan menuju taman kompleks.


"Mas, mau tanya, boleh?"


Arsen menoleh ke arah Alea lalu mencubit hidung mancung wanitanya itu gemas "Tanya apa?"


"Mbak Dira dan mas Wira udah nikah?"


Alea pikir mas Arsen akan menghentikan langkahnya seperti dulu saat Alea menyinggung nama mbak Dira di obrolan mereka. Tapi ternyata nya salah, mereka tetap melangkah menuju taman kompleks dengan langit yang kini memiliki dua bintang di atas sana. Tangan mas Arsen juga tak dingin, malah terasa hangat dengan jari mereka yang saling bertaut. Mungkin mas Arsen memang sudah melupakan Dira sepenuhnya.


"Sudah. Sekarang mereka tinggal di Singapore"


"Lagi dan lagi. Aku nggak ingat mas" keluh Alea. Pernikahan Gita dirinya tak ingat, pernikahan mbak Dira pun dirinya juga tak ingat. "Kenapa mereka bisa nikah mas?"

__ADS_1


Kali ini langkah mereka berhenti. Pikiran negatif itu datang. Mungkin dirinya salah menebak. Mas Arsen masih memiliki perasaan yang sama pada mbak Dira. Mungkin, hanya karena merasa kasihan dan merasa bertanggung jawab sebagai suami untuk menjaga istrinya yang baru terbangun dari koma.


Jadi, mana tebakan mana yang betul sebenarnya?


__ADS_2