
Arsen pikir semuanya masih bisa diperbaiki. Alea masih akan memberikan kesempatan baginya untuk memperbaiki diri. Alea masih tetap disampingnya dikala dirinya berusaha untuk melupakan sosok Dira. Namun tebakannya salah. Salah total karena Alea memilih untuk pergi darinya.
Penyesalan memang selalu datang diakhir. Kepergian Alea, nyatanya membuat rumah dua lantai ini yang biasanya ramai dengan tingkah absurd istrinya kini nampak sepi. Tak ada lagi yang tertawa di dapur dengan bi Ina. Tak ada lagi yang mengeluh karena tugas kuliah yang susah. Dan tak ada lagi juga sosok wanita yang seringkali mengetuk pintu ruangan kerjanya hanya karena takut tidur sendiri. Rumah ini kembali sepi seperti sebelumnya dan kini malah semakin sepi.
Dulu mungkin Arsen masih merasa ada peninggalan kenangan berasa Dira di rumah ini saat masa-masa pembangunan. Namun, Arsen tak menyangka kedatangan Alea mampu untuk mengganti kenangan itu dengan aktifitas wanita itu di rumah ini. Dan Arsen baru menyadari sekarang saat rumah ini terasa begitu hampa.
"Mas Arsen pulang sendiri?. Mbak Alea?"
"Dia akan pulang nanti bi. Katanya ada urusan" untuk sekarang itu yang ingin Arsen percaya. Alea hanya pergi sebentar karena ada urusan, dan akan tetap kembali ke rumah ini karena hanya rumah mereka tempat Alea bisa kembali. Sebuah harapan yang memiliki dua kemungkinan. Benar terjadi atau hanya sebuah harapan semu saja.
Mengambil tab miliknya, Arsen kembali menuruni anak tangga. Keberadaan Marinka masih belum diketahui dan Arsen harap wanita itu tak bertemu dengan istrinya. Banyak hal yang masih perlu ia pastikan sebelum menceritakan semua pada Alea.
"Mas Arsen, mau kerja? Udah sembuh? Nanti mbak Alea marah loh mas. Semalam dia khawatir banget sama mas Arsen yang demam" ucap bi Ina saat melihat majikannya kembali menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.
Arsen menganggukkan kepalanya. Ia sadar betul jika semalam Alea bolak-balik mengecek keadaannya. Istrinya itu bahkan sempat tertidur dengan kepala di ranjang sambil duduk lantai. Arsen melihatnya tapi sialnya dirinya malah membalas kebaikan itu dengan rasa sakit yang kembali ia torehkan pada luka Alea. Membentak Wira untuk bertanggung jawab pada Dira, jelas sudah menunjukkan kekecewaan yang ada, dan menunjukkan pula jika dirinya ingin tetap melindungi Dira. Melindungi Dira namun menyakiti istrinya sendiri.
"Saya ada urusan bi. Nanti kalau Alea pulang, tolong telfon saya langsung ya bi. Dan tahan istri saya agar tidak pergi"
Melihat raut wajah khawatir dan penasaran milik bi Ina, Arsen kembali tersenyum sambil menepuk pundak bi Ina dua kali. Merawatnya sejak kecil, sudah jelas hal ini juga mengganggu pikiran bi Ina. Siapa yang mau rumah tangga dari anak yang dirawatnya menjadi berantakan? Jelas tak ada yang mau.
"Nggak usah khawatir ya bi. Ada masalah sedikit. Mungkin, Tuhan lagi ngehukum Arsen sekarang karena menyianyiakan istri."
Saat melihat bi Ina menganggukkan kepala. Arsen langsung berjalan keluar dari rumah. Ia harus menemui Kenzo untuk tahu sejauh mana progres pencarian Marinka.
Satu hal yang Arsen tahu. Marinka itu licik. Wanita itu bisa memutar balik fakta untuk kepentingannya sendiri.
Hanya butuh waktu kurang lebih 40 menit, Arsen sudah sampai di ruang kerjanya sambil menatap Kenzo yang berdiri di depannya. Mejelaskan masalah pekerjaan terlebih dahulu hingga akhirnya menjelaskan mengenai keberadaan Marinka.
"Dia ada Indonesia bos. Ada yang melihat dia di kafe Elizabeth."
__ADS_1
"Bertemu sama siapa?" tanya Arsen penasaran. Jangan sampai wanita itu bertemu dengan Alea. Rencana awal untuk menangkap Marinka dan mempertemukannya dengan wanita itu, memang Arsen rubah. Semakin dikejar maka akan semakin nekat pula wanita itu, maka dari itu Arsen hanya meminta anak buahnya untuk mengawasi Marinka. Arsen ingin menyelidiki lebih dalam lagi alasan kematian kedua mertuanya itu. Kedua orang tua Alea meninggal tidak ditempat kecelakaan, namun di rumah sakit 3 bulan setelah kecelakaan terjadi.
"Alea"
Pulpen yang ada diantara jari telunjuk dan jari tengah Arsen jatuh seketika. Jika seperti ini maka dirinya harus secepatnya bertemu dengan Alea. Namun sialnya, jangankan bertemu, di telfon saja Alea tak pernah menjawabnya.
Selain pada Alea, Arsen juga perlu meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya.
***
"Anggota keluarga Yudistira yang buat kamu jadi yatim piatu"
Oke. Sepertinya bukan hanya hatinya saja yang sakit, namun telinga Alea juga sama tak sehatnya. Kalimat aneh itu baru saja ia dengar dan Alea tak bisa mencerna dengan baik ucapan mbak Marinka barusan.
Semuanya terasa abu-abu seketika. Alea tak terlalu mengingat hal yang terjadi setelah kecelakaan itu. Alea bahkan tak bisa mendengar panggilan mamihnya yang suaranya teredam dengan derasnya hujan yang jatuh. Semuanya yang terjadi setelah mobil berguling dua kali, Alea tak mengingat apapun. Yang ia ingat dirinya tersadar di rumah sakit dengan tangisan wanita yang menangisi anaknya di bangkar dekat dirinya terbaring.
"Al"
"Al"
Tak ada ayah, tak ada bunda. Yang ada hanya mbak Marinka serta paman dan bibinya. Alea tak tahu apapun, hingga kenyataan menarik paksa dirinya agar sadar jika dirinya sebatang kara setelah melihat dua gundukan tanah dengan taburan bunga. Makam kedua orang tuanya.
"Alea!!"
Pekik kan mbak Marinka membuat kesadaran Alea kembali seketika.
"Tadi, mbak Marinka bilang apa?" tanya Alea takut. Takut jika ia sudah salah mencintai orang dari sebuah keluarga yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"Keluarga Yudistira yang menabrak mobil kamu waktu itu. Mbak kabur karena mbak tahu hal itu. Dan mbak jelas tak sudih untuk menikah dengan orang yang membuat mbak kehilangan om dan tante"
__ADS_1
Tangan Alea mengepal seketika. Ia ingin tak percaya dengan ucapan mbak Marinka. Namun, jika bukan mbak Marinka, siapa lagi yang bisa ia percaya di dunia ini?.
"Aku nggak ngerti maksud mbak gimana. Setelah ngilang dan buat aku begini, kenapa mbak tiba-tiba dateng sambil bawa info seperti ini?"
"Wira"
Alea memejamkan matanya saat nama Wira terlontar dari mulut Marinka. Ada rasa lega karena bukan orang yang ia cintai, namun ada juga amarah mengingat mas Wira adalah salah satu anggota Yudistira yang dekat dengannya selain Diwa.
"Wira yang nabarak mobil lo Al"
Mas Wira. Jika saat tabrakan itu umur Alea 5 tahun, itu berarti mas Wira berumur 13 tahun. Bukankah amat tidak masuk akal anak SMP mengendarai mobil di jalan tol?.
"Jangan bercanda mbak. Kami hanya beda 8 tahun dan itu berarti usia mas Wira saat itu 13 tahun"
Marinka menghela napasnya "Untuk anak dari keluarga kaya, umur segitu bukan lagi tertarik pada motor Al. Tapi pada mobil, karena kemanapun mereka selalu menggunakan roda empat"
Semuanya jelas tak masuk akal, tapi entah kenapa Alea mulai dibuat sedikit percaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk kenalan di sini.
ini cuplikan bab cerita Ocha ya.
iya udah Kais. mbak Ocha itu cantik. tapi juga kaya banteng 😂.
__ADS_1