Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 14 : Si Merah Datang


__ADS_3

Alea menatap kosong mangkuk bakso di depannya. Makanan mereka semua sudah habis tapi ajaibnya baik Keke dan Gita tak ada satu pun yang mengangkat pantatnya dari kursi kantin. Mungkin sudah hampir ratusan kali telinga Alea mendengar nama yang sama yang terbang ke sana kemari. Setiap kali berpapasan dengan mahasiswi maka Arsen pasti terselip diantara pembicaraan mereka.


Jangan jauh-jauh, contohnya saja Gita yang masih ter Arsen Arsen hingga berniat membuat tokoh cerita fiksi baru dengan nama Arsenio Yudhistira. Jika itu terjadi, maka Alea tak akan pernah membacanya sama sekali.


Berbeda dengan Gita, Keke masih tetap menyukai Diwa namun berharap jika kelak suaminya setidaknya mempunya wajah dan kesuksesan seperti mas Arsen. Ah.. Terserahlah, silahkan saja menciptakan sosok Arsen di dalam bayangan mereka.


"Sumpah, gue bosen lo pada bahas itu bapak-bapak tua" keluh Alea. Umur berbeda hampir 8 tahun jauhnya, maka tak salah jika Alea menyebut Arsen bapak-bapak.


"Itu mah bukan bapak-bapak Al. Pria dewasa tapi" jawab Gita diiringi dengan cekikikan. Cerita Gita yang kebanyakan tokoh laki-lakinya seorang CEO, jelas mas Arsen amat masuk ke dalam kategori gadis ini.


"Umur 28, kita 19. Ya jelas bapak-bapak lah" Alea menyeruput es jeruk di depannya.


"Kok lo tahu dia umur 28. Kaya udah kenal aja"


Bagaikan tersambar petir. Alea tersedak seketika mendengar ucapan Keke. Mari otak, bekerjasamalah untuk mencari alasan yang masuk akal. "I.. Itu. Pengusaha sukses kan? Banyak profilenya di mbah google" jawab Alea sekenanya.


Untung saja, Keke dan Gita menganggukkan kepalanya percaya dengan ucapannya barusan.


"Gue penasaran. Kira-kira istrinya siapa ya? Hoki seumur hidup udah kepake itu"


Hoki? Makan ati iya.


"Bener. Mana gue denger katanya rajin sholat dan ngaji. Duh, suami idaman banget" tambah Keke.


Sholeh? iya. Sholekas, sholeh kaya kulkas. Iya banget.


"Patah hati sejurusan teknik informatika ini namanya"


Nggak ya. Gue nggak.


Daripada pembicaraan makin nggak jelas. Alea menepuk lengan keduanya untuk mengingatkan jam kelas mereka selanjutnya. Keduanya ada kelas, sedangkan dirinya mungkin akan ke perpus guna mengulang materi kemarin. Jangan sampai nanti malam dirinya di omelin mas Arsen karena tak paham-paham dengan apa yang di jelaskan.


"Ya Allah. Udah jam segini Ke. Buru-buru" Gita dengan kehebohannya buru-buru berdiri dan menarik Keke menuju kelas. Meninggalkan Alea yang rasanya sangat lega karena bisa mengistirahatkan telinganya sebentar. Jangan sampai seharian ini, dia mendengar nama suaminya.


Namun seakan memang kesialan selalu menimpanya jika ada Arsen. Saat berdiri Alea merasa ada yang basah di area belakang. Dan benar saja, begitu berdiri Alea bisa melihat bercak merah berada di kursi. Tak perlu ditanya itu apa, Alea menutupi roknya dengan tas dan langsung berlari menuju kamar mandi.


Ajaibnya baik Gita dan Keke tak ada satupun yang mengangkat panggilan. Mengirimkan pesanan di group untuk membelikan pembalut pun tak ada satupun yang bisa. Dosen yang mengajar mereka memang terkenal begitu menyeramkan bagi siapa saja yang ketahuan bermain hp di dalam kesal.


Dengan sebercik harapan yang tersisa. Alea mencari kontak mas Arsen di dalam ponselnya. Berharap jika suaminya itu mengangkat telfonnya dan membantu Alea keluar dari kamar mandi. Jangan sampai dirinya mendekam di kamar mandi hingga sore nanti.

__ADS_1


"Assalamualaikum, kenapa Al?"


Alea bernapas lega saat mendengar suara mas Arsen dari sebrang telefon. Kira-kira kalau di suruh beli pembalut mau nggak ya?. Bakal malu nggak ya?.


"Al?"


"Eh, iya mas. Waalaikumsalam" jawab Alea akhirnya. Meminta tolong sama Diwa jelas tak mungkin. Maka lebih baik dan lebih halal kalau minta tolong kepada suaminya sendiri.


"Kenapa?"


"I..itu mas" kenapa mengucapkan kata pembalut di saat-saat seperti ini terasa amat susah?. Tapi tunggu, mungkin hal itu bisa Alea manfaatkan sekarang. Biarkan mas Arsen panik dulu, baru Alea ucapkan. Jadi nggak malu-malu amat.


"Kenapa?"


"I..itu mas. Anu..." jawab Alea masih berusaha untuk berakting terbata-bata.


"Anu apa? Kalau nggak jelas. Mas matiin telfonnya"


Seketika Alea dibuat panik mendengarnya. Sepertinya mukai detik ini Alea tidak boleh lupa jika suaminya itu pintu 7 kulkas dan nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. "Mau minta tolong mas"


"Kenapa? Kamu nggak apa-apa kan?"


Cukup lama Alea menunggu jawaban Arsen. Please. Jangan sampai dirinya mengulangi kalimat barusan lagi.


"Oke. Posisi kamu dimana?"


Alea menghela napasnya. Telinga suaminya masih berfungsi dengan baik. "Di kamar mandi dekat kantin fakultas teknik"


"Oke"


Setelah ucapan tadi, panggilan telfon langsung di putus dari mas Arsen. Biarkan saja, Alea hanya perlu percaya jika suaminya itu akan datang membawakan pembalut.


Awalanya Alea santai sambil bermain game di ponselnya. Namun 5 menit, 10 menit sudah berlalu, mas Arsen belum juga terlihat batang hidungnya. Sejak kapan supermarket kampus pindah ke Mars?.


Dan ada umpatan yang nyaris keluar saat ponselnya berdering dengan nama 'suami kulkas' di layar.


Buset. Ni orang beli pembalut ke Mars beneran!!.


***

__ADS_1


Dari pada bingung dengan deretan banyaknya merek pembalut yang ada di rak. Arsen lebih memilih untuk menelfon istri kecilnya itu. Jangan sampai dirinya salah membeli dan bisa membuat keadaan di rumah nanti menjadi error seketika.


"Assalamualaikum, pembalutnya yang mana Al? Banyak banget ini"


Ada helaan napas kesal yang Arsen dengar dari sebrang telfon.


"Ini kalau nggak di kamar mandi, udah takbir aku mas. Yang mana aja mas. Cewek kalau udah mepet begini mah merek apa aja juga di pake. Terserah yang mana aja! Ambil aja yang paling deket"


"Yang paling deket tulisannya nggak ada sayapnya"


"Ya jangan mas. Ambilnya yang ada sayapnya"


"Ukuran 250mm?".


"Kekecilan. Ambil yang 350mm"


"Oke. Mas ambil yang bungkusnya warna pink ya" tangan Arsen yang hendak mengambil barang yang sudah disepakati, terhenti seketika saat suara Alea kembali terdengar.


"Jangan yang warna pink. Aku biasanya yang warna keunguan"


Mas aja deh Al yang takbir. Allahu akbar. Bilangnya terserah namun tak bisa sesuka hati mengambil.


"Oke. Dengerin mas. Bungkus kemasannya warna ungu, ukurannya 350mm, yang ada sayapnya. Betul?"


"Iya betul. Cepetan ya mas. Aku udah nggak betah"


"Iya. Assalamualaikum"


Mematikan panggilan. Arsen langsung berjalan ke meja kasir, tanpa memperdulikan para mahasiswi yang kini tengah menatap aneh ke arahnya. Biarkan saja, yang penting istrinya itu bisa keluar dari kamar mandi secepatnya.


Selesai membayar Arsen langsung menuju kamar mandi dimana Alea berada. Berpapasan dengan Saga yang melihatnya., Arsen juga tak peduli dan terus melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


"Al" panggil Arsen lirih tepat di depan toilet wanita.


Alea keluar dan langsung mengambil paper bag dari tangan Arsen. Keduanya tanpa ada yang tahu jika Saga tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


mohon maaf kalau ada typo. karena nggak di edit lagi

__ADS_1


__ADS_2