Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 53 : Aku ingin mati, Mas


__ADS_3

"Mas Arsen"


Arsen mendongak pelan saat namanya dipanggil. Bi Ina berdiri diambang pintu yang memisahkan ruang tengah dan ruang makan lengkap dengan dua tas yang dibawa oleh wanita itu.


Arsen memang menghubungi bi Ina tadi. Meminta bi Ina untuk menginap di rumah sementara untuk menemani Alea saat dirinya tak ada di rumah. Arsen terlalu takut untuk meninggalkan istrinya seorang diri.


Sama seperti dirinya, penampilan Alea juga terlihat sama kacau. Setiap guratan di wajahnya menunjukkan jika bukan hanya fisik wanita itu saja yang sangat lelah, namun jiwanya juga sama lelahnya. Mungkin lebih lelah dari apa yang Arsen rasakan sekarang.


Dibohongi, menemukan fakta jika hati suaminya masih milik orang lain dan penyebab kematian kedua orang tua, Arsen takut hal itu mampu untuk membuat Alea berpikir mengakhiri hidupnya sendiri. Arsen tak akan mampu memaafkan dirinya sendiri seumur hidup jika hal itu terjadi.


"Istri saya ada di kamar bi. Kayanya belum makan karena lemas banget sampai pingsan tadi. Dia nggak mau ngeliat wajah saya, jadi minta tolong dibujuk ya bi" pinta Arsen lemah. Matanya menatap bi Ina yang kini membuka beberapa bekal yang wanita itu bawa dari rumah dihadapannya.


"Yang butuh makan Alea bi"


"Mas Arsen juga butuh makan untuk punya energi buat ngadepin semua masalah ini. Bibi cuman bisa bantu bikin makanan"


Arsen tersenyum mendengarnya. Jika dipikir-pikir memang sudah satu hari penuh hampir tidak ada yang masuk kedalam perutnya kecuali kopi dan permen tadi pagi. Benar kata bi Ina, dirinya juga butuh tenaga untuk menghadapi semua masalah ini, untuk tetap bisa mendekap Alea seberat tadi.


"Terima kasih bi. Arsen makan nanti"


"Jangan nanti. Dimakan sekarang mas, selagi masih hangat. Ya udah, bibi ke atas ya mas. Nengok mbak Alea"


Arsen menganggukkan kepalanya. Mengambil sendok yang disediakan oleh bi Ina lalu mulai menyantap makanan yang tersedia. Hambar. Rasanya terasa hambar di lidah, tubuhnya sedang tidak baik hingga semua makanan yang masuk seakan tak memiliki rasa. Namun meski begitu, Arsen terus memaksa diri untuk tetap makan. Bagaimanpun caranya, ia harus menemukan Marinka sekarang juga. Arsen bahkan menyuruh Kenzo untuk menyeret wanita sialan itu ke hadapannya sekarang. Jika Marinka mencari tahu, maka wanita itu juga pasti menemukan fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


Suara derap langkah lemah yang menuruni anak tangga membuat Arsen menoleh seketika. Istrinya tampak menuruni anak tangga bersama bi Ina yang membantunya agar tidak jatuh. Meletakan sendok, Arsen langsung berdiri dan berjalan mendekat ke tangga. Berniat untuk membantu Alea turun namun langsung mendapat penolakan dengan tangan wanita itu yang menyuruhnya berhenti.


Begitu sampai di anak tangga terakhir. Arsen mundur beberapa langkah memberikan jalan bagi Alea dan bi Ina yang berjalan menuju sofa.


"Duduk mas. Aku ingin bicara sama kamu" buka Alea saat bi Ina sudah berpamitan kembali ke dapur. Meninggalkan sepasang suami istri yang tampak begitu kacau.


Arsen mengangguk dan duduk di sofa panjang. Alea duduk di sofa tunggal hingga jarak mereka tersekat dengan meja kayu yang berada ditengah mereka.


"Kemarin. Aku ketemu mbak Marinka mas"


Arsen memejamkan matanya. Tangannya mengepal erat dengan umpatan dalam hati saat melihat Alea menatap langit-langit seolah tengah menghalau agar air matanya tak jatuh.


"Dia ngomong sesuatu yang mengerikan mas. Rasa sakitnya bahkan mampu buat aku lupa dengan point awal pertengkaran kita karena kamu masih menyukai mbak Dira"


"Dik"


Arsen ingin menghapus jejak air mata yang kembali mengalir di pipi Alea tanpa permisi. Menghapus dengan telapak tangannya dan ditutup dengan mendekapnya erat. Berbagi sisa tenaga yang mereka miliki agar semakin kuat untuk menghadapi semua yang ada.


"Kalimatnya buat aku takut mas. Awalnya aku nggak percaya, tapi saat melihat kamu sekarang, aku sedikit percaya mas"


"Mendengar itu, aku rasanya pengin berhenti dari dunia ini mas. Buat aku pengin nyusul bunda  dan ayah. Tapi aku takut mereka nggak nerima aku. Karena, karena anak satu-satunya yang mereka miliki malah jatuh cinta dengan salah satu anggota keluarga Yudhistira. Jatuh cinta dengan Arsenio Yudhistira. Jatuh cinta sedalam-dalamnya sama kamu mas"


Mengikuti Alea, air mata Arsen ikut menetes. Hatinya terasa sesak mendengar sederet pengakuan istrinya ini. Pengakuan yang nyatanya dibalas dengan perasaan yang sama oleh Arsen. Dia sadar Alea begitu berarti baginya. Arsen jatuh cinta pada istrinya setelah membuat wanita itu pecah berkeping-keping.

__ADS_1


Bisakah ia menyusun gelas yang sudah pecah?


Bisakah ia mendekap Alea kembali ke pelukannya?


Berbagi cerita sebelum tidur. Berbagi cerita mengenai pekerjaan dan aktifitas masing-masing. Berbagi canda tawa dengan hal-hal konyol yang terjadi dihari mereka.


Dan bisakah, setelah itu terjadi, mereka akan melupakan masalah ini sepenuhnya. Alea melupakan sedalam apa goresan pisau yang pernah Arsen berikan padanya?.


Arsen tahu, jawabannya adalah tidak.


"Senyum mereka di foto bahkan kini terlihat tak tulus lagi bagi aku mas. Aku nggak tahu harus apa"


Arsen mengusap air matanya sendiri "Maaf dik. Maaf, mas dan keluarga mas minta maaf sama kamu"


"Maaf ya mas? Untuk apa? Karena nyatanya kata maaf nggak bakal bisa menjadi obat dari luka yang ada. Aku, aku ingin kembali ke keluargaku mas. Jelas bukan di dunia, tapi di atas sana"


"Al"


"Aku lagi berpikir mas untuk tidak melakukan hal itu sebelum aku mencari tahu semuanya. Aku ingin tanya sama kamu yang sebenarnya terjadi, cuman aku merasa aku nggak bisa percaya sama kamu. Karena..." Alea menjeda kalimatnya sejenak untuk mengurangi sesak di dada. "Karena mbak Marinka ngasih tahu yang membuat orang tua aku meninggal adalah kalian." kalimat itu akhirnya terlontar bersamaan dengan tangis Alea yang pecah sejadi-jadinya.


Arsen yang melihat itu langsung mendekap Alea erat meski mendapat penolakan berulang kali. Pekikan Alea  dan teriakan-teriakan pilu itu menambah goresan luka di hati Arsen. Sebenarnya, seberapa besar luka yang telah ia torehkan pada sosok gadis rapuh ini?. Arsen tak tahu sebelum akhirnya dorongan Alea pada tubuhnya terasa begitu besar hingga dekapan Alea pada Arsen terlepas seketika.


Pupil mata Arsen melebar tatkala Alea tiba-tiba berdiri sambil menodongkan belati kecil di leher.

__ADS_1


"Kamu gila ya Al?!!" dengan cepat Arsen mengambil alih belati dari tangan Alea sambil memastikan jika istrinya akan baik-baik saja. Dan tepat saat belati itu sudah pindah tangan Alea merosot dengan tangisan menggema. Pekikan Arsen tadi membuat bi Ina langsung berlari ke ruang tengah dan memeluk tubuh Alea erat.


"Kamu ingin mati di depan mata ku dik? Kamu ingin menggores nadi kamu di depan suamimu sendiri Al?!!" tak ingin bertengkar dan hanya semakin menyakiti diri sendiri dan istrinya. Arsen memilih untuk menyambar kunci mobilnya dan keluar dari rumah. Menjelaskan dalam kondisi yang sama-sama tak baik, hal itu hanya akan menambah goresan luka dimasing-masing individu.


__ADS_2