
Suara pintu yang dibuka membuat Alea yang tengah duduk di balkon kamar menoleh ke sumber suara. Sebuah senyuman tipis ia tunjukkan pada Arsen yang baru saja dengan wajah yang membuat senyuman Alea menghilang seketika. Bukan hanya sudut bibir saja yang mengeluarkan darah segar, melainkan pelipis laki-laki juga tampak memar kemerahan.
Saat Alea ingin berdiri dan mendekati Arsen, tangannya dicekal Gita yang juga duduk di dekatnya.
"Ada mas Azri dibawah, dan mereka baru aja adu tonjok" jawab Gita. Wanita itu berdiri lalu mempersilahkan Arsen yang kini sudah berada di balkon agar duduk di kursi yang tadi Gita duduki.
"Gue kebawah dulu ya Al. Kalian perlu bicara, dan pintu kamarnya aku biarin terbuka ya. Kamu bisa teriak kalau ada apa-apa" ucap Gita lalu berlalu meninggalkan mereka di balkon kamar.
Alea buru-buru berdiri dan mengambil kotak obat di nakas sebelum akhirnya kembali ke balkon kamar. Menatap sendu ke arah Arsen yang kini tengah berdiri berhadapan dengannya.
"Ayo duduk. Luka kamu har—" tubuh Alea menegang saat sebuah Arsen memeluk tubuhnya dari belakang. Air mata mulai menyapa pundaknya bersamaan dengan suara isakan pilu yang Alea dengar. Arsen pasti kesakitan setelah dihajar habis-habisan oleh mas Azri tadi.
"Sakit banget mas? Sini diobatin dulu"Alea mencoba untuk berbalik badan, namun tenaganya kalah karena mas Arsen semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas"
"Maaf dek"
Saat pelukan Arsen sedikit melonggar, Alea melepaskannya dan mengajak Arsen untuk duduk di kursi.
"Kalau kamu minta maaf karena nggak bahas kalau aku hampir nikah sama Saga, aku nggak marah mas, karena saat kamu jujur kalau kita bercerai dan berniat ngasih tahu alasannya, aku yang menolak. Bukan kamu yang menundannya dengan niatan bohongin aku lagi"
Alea mengambil salep dan mulai mengoleskannya di bibir Arsen. Terkadang Alea mengusap jejak air mata laki-laki itu. Sejujurnya apa yang dilakukan mas Azri barusan pasti memiliki alasan yang kuat, dan Alea sudah mengatakan sendiri jika dirinya yang menolak penjelasan saat mas Arsen berniat untuk memberitahu hal lain saat laki-laki itu jujur akan perceraian kita.
"Mas, lihat aku" Alea mengangkat sedikit dagu Arsen agar wajah mereka sejajar. "Sekalipun kecelakaan itu nggak terjadi, aku juga cuman akan buat Saga sakit hati seumur hidup. Tapi" kali ini Alea yang meneteskan air matanya. Rasanya terlalu kejam dirinya sekarang padahal Saga telah meninggal dunia dengan membawa luka yang sama. "Tapi, kematian Saga tetap buat hati aku sakit. Kejadiaannya sama saat aku kecelakaan dulu. Mobil terbalik ditengah hujan deras. Karena itu, aku pilih untuk tinggal di rumah Gita sementara waktu, aku butuh waktu sendiri"
Tangan Arsen mengepal kuat. Otaknya mengatakan agar dirinya tak mengatakan hal yang sebenarnya akan kecelakaan orang tua Alea, hanya saja hatinya mengatakan yang lainnya. Dari duduk di samping Alea, Arsen kini berubah posisi menjadi berlutut di depan wanitanya.
"Maaf dek, maafin mas dan keluarga mas. Mas benar-benar minta maaf. Maafin kakek, maafin Wira dan maafin ayah, Al"
__ADS_1
Dahi Alea berkerut dalam, tangis Arsen semakin pecah saat mengucapkan satu persatu anggota keluarga dengan diiringi kata maaf. Seolah semua anggota keluarga Yudhistira membuat kesalahan yang fatal akan dirinya.
"Mas"
"Kecelakaan itu."
"Mas?" Alea mengusap punggung Arsen yang kini bergetar diikuti isak tangis laki-laki itu. Baru kali ini, ia melihat Arsen menangis sekencang ini disertai dengan tubuh yang bergetar hebat, suara tangisnya terdengar begitu memilukan sampai Alea dibuat khawatir sendiri dengan kondisi Arsen sekarang.
"Mas?"
"Maaf dek. Maafin mas dek"
"Mas? Kamu kenapa? Sakit banget lukanya? Sini duduk dulu, biar aku lihat"
"Maaf dek"
"Mas?!" Alea berusaha untuk menuntun Arsen kembali duduk, namun sia-sia karena laki-laki itu tetap berlutut dengan kepala yang menunduk diatas paha Alea. Alea bahkan bisa merasakan air mata mas Arsen menyentuh kulit lututnya.
Kalimat Arsen sontak membuat tangan Alea yang tengah mengusap punggung laki-laki itu berhenti seketika. Tubuhnya mematung seketika dengan otak yang masih berusaha mencerna kalian Arsen barusan.
"Kamu bilang apa mas barusan?" Alea ingin sekali melewati bagian ini dalam skenario hidup yang sudah ditentukan untuknya. Tak ingin mendengar apa yang Arsen katakan atau kalau bisa memutar waktu sejenak lalu melompat ke masa depan. Hidup bahagia dengan Arsen tanpa ada pengakuan akan kenyataan yang sukses membuat tubuhnya membeku.
"Kakek yang nabrak mobil kalian dulu saat kamu berumur 5 tahun"
Dunia Alea terasa dijungkir balikan seketika. Alasan perceraian mereka yang awalnya Alea yakini karena masalah Dira kini berubah sepenuhnya. Benar, dirinya tak mungkin memutuskan untuk bercerai hanya karena hati suaminya yang dimiliki oleh wanita lain. Mas Arsen hanya menyukai mbak Dira, tak ada perselingkuhan ditambah lagi dengan mas Wira yang juga menikah dengan mbak Dira. Rasanya tak mungkin jika mereka bercerai karena itu. Alea pasti memaafkan untuk hal itu.
"Mas, kamu bercanda kan?"
"Aku menyakiti kamu dengan masih menyukai Dira dan bahkan masih belain Dira saat dia hamil dengan Wira diluar nikah, ditambah lagi dengan kenyataan jika kakek yang menabrak mobil kalian dulu, buat aku nggak bisa mempertahan kan kamu dan pernikahan kita. Itu alasan kita bercerai dulu Al"
__ADS_1
Alea terdiam, tak ada jawaban yang ia berikan dari perkataan Arsen barusan. Ia tak mengingat apapun sekarang, tak ada ingatan lama yang datang menghampirinya seperti terakhir kali saat Arsen jujur dengan perceraian atau saat dirinya bertemu dengan mas Azri kemarin.
Lalu saat Arsen tiba-tiba merogoh kantong celana dan mengeluarkan sebuah ponsel dan menyodorkan ke arahnya, Alea takut untuk mengambil ponsel itu. Ia tidak tahu ponsel siapa yang tengah Arsen berikan kepadanya sekarang, tapi Alea yakin semua jawaban atas ucapan Arsen barusan jelas berada di sana.
"Ini ponsel kamu Al"
Pandangan dari ponsel kini tertuju ke arah Arsen. Ponsel yang ia miliki sekarang memang ponsel keluaran baru yang dibelikan Arsen saat ia keluar dari rumah sakit kemarin, alasannya karena ponsel Alea sudah rusak dan Arsen membuangnya. Tak ada kecurigaan sedikit pun jika Arsen menyimpannya untuk menutupi semua rahasia yang ada.
"Mas"
"Ponsel kamu layarnya rusak Al, aku benerin ponsel kamu lagi dan—"
"Kenapa nggak kamu kasih aku setelah diperbaiki mas?" potong Alea cepat.
Ketukan jari Arsen dilayar ponsel hingga layar ponsel itu menyala, menjawab semua pertanyaan Alea. Wallpaper pada ponsel itu adalah gambar Alea dan Saga yang duduk bersebalahan di taman.
"Mas"
"Aku nggak berani untuk mengubahnya dan aku juga nggak berani buat ngembaliin ke kamu langsung. Karena—"
Saat Arsen hendak menggulir ponsel miliknya, Alea langsung meraih ponsel itu dari tangan Arsen dan membuka galeri. Semuanya berisi foto dirinya yang berada di Praha, ada juga foto kebersamaannya dengan Saga dan —
"Meski hanya ada 1 foto aku di ponsel kamu. Mas yakin perasaan kamu masih sama Al. Karena foto mas yang masih kamu simpan, ego mas buat nyimpan ponsel ini semakin besar, alasan lainnya karena ini—"
Alea tak mengelak saat Arsen menggulir ponsel miliknya, membuka aplikasi email dan email atas nama Marinka yang Arsen buka.
"Ini?"
"Maaf dek. Semua keputusan ada di kamu sekarang. Kalau kamu ingin mengakhiri semuanya, asal itu baik buat kamu, mas nggak masalah. Tapi satu yang harus kamu tahu Al. Mas Sayang sama kamu, mas cinta sama kamu. Mas ingin kita hidup bersama dan mulai semuanya dari awal lagi. Mas—"
__ADS_1
"Kepala aku pusing mas. Aku nggak bisa ingat apapun. Aku mau tidur. Kamu lebih baik pulang dulu ya mas. Kita bicara besok" Alea beranjak bangun dari kursi. Semua informasi baru ini tak semuanya bisa ia cerna dengan baik. Semuanya terlalu mendadak, dan Alea tak bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan yang ada. Antara tetap dilanjutkan pernikahan nanti atau diakhiri sekarang juga.