
"Kampret emang"
Entah sudah berapa kali umpatan keluar dari bibi Gita yang terus saja mondar mandir seperti rel kereta api diruang tengah. Alea menceritakan semuanya, mulai dari kisah Dira dan mas Arsen hingga kasus kecelakaan yang melibatkannya saat kecil. Keke yang duduk di samping Alea terus berusaha menenangkan Alea yang kembali meneteskan air mata meski tak menangis hebat saat bersama Arsen kemarin, sedangkan Gita nampak seperti orang yang kebakaran jenggot. Emosinya terlihat begitu meluap-luap hingga bentuk rambutnya sudah berantakan karena sering diacak-acak saking kesalnya.
"Gue dukung lo cerai"
Mata Keke melotot seketika. Meski ia juga setuju saja jika Alea ingin mengajukan gugatan cerai, hanya saja Keke tak mengatakannya. Barang kali Alea memiliki keputusan sendiri yang Keke harapkan bukan terbawa karena ucapan orang lain.
Keke menggenggam tangan Alea lembut "Semua keputusan ada ditangan kamu Al. Jangan terbawa ucapan orang lain. Apapun keputusan kamu kelak, ingat, aku dan Gita akan selalu ada buat kamu"
Alea tak tahu, Alea tak tahu jawaban apa dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Semalam ia bertekad untuk berpisah, namun pagi ini kembali mengambang.
"Kalau gue jadi lo, gue cerai. Lo juga belum punya anak. Jadi nggak terlalu berat buah pisah" usul Gita lagi.
Tak bisa menyalahkan Gita atas usulnya. Mungkin jika Alea berada di posisi Gita, dia juga akan mengusulkan hal yang sama. Jika tetap berusaha bertahan dan kembali tinggal serumah dengan keluarga besar Yudhistira, mungkin akan membuat dirinya terlihat munafik, bagaimana mungkin seseorang bisa bertahan tinggal serumah dengan keluarga yang membunuh kedua orang tuannya? Itu jelas tak masuk akal.
"Lagi pula, ini bukan cuman satu kesalahan Al. Gila, suami lo masih demen sama mantan pacarannya padahal udah punya istri. Dan sekarang—apa? Pengin gue ancurin itu keluarga kalau jadi lo"
"Tahu nggak Git. Lo kaya iblis yang lagi ngomporin biar rumah tangga orang pecah." Keke melempar bantahlah sofa yang langsung ditangkap oleh Gita dengan gerutuan panjang.
"Emang lo nggak kasihan sama Alea. Gue aja yang cuman denger ceritainnya sakit hati Git. Masa lo nggak marah juga"
"Marah juga. Tapi bukan berarti lo ngomporin begitu"
Alea masih diam saja saat Keke dan Gita yang sebelumnya ribut menoleh ke arahnya bersamaan. Dari tatapan itu, Alea tahu pertanyaan apa yang tengah dipikirkan kedua nya,dan jawaban dari pertanyaan itu tetap sama, Alea tidak tahu harus bagaimana kedepannya.
__ADS_1
"Gue nggak tahu harus gimana Ke. Gue nggak tahu. Gue nggak bisa percaya begitu saja sama mbak Marinka, tapi gue lebih nggak bisa percaya lagi sama mas Arsen. Gue harus gimana?" tatapan Alea yang tak berdaya kini menatap kedua temannya berganti.
"Sebenarnya—" Keke mengeluarkan ponsel dari dalam tas "Diwa ngirimin gue data semalam. Katanya gue baru boleh cek email dari dia kalau ketemu sama lo"
Diwa. Kacaunya keadaan yang terjadi membuat nama Diwa juga sempat ia lupakan. Sahabat yang biasanya selalu Alea recokin dengan meminta bantuan dalam hal mencari apapun, yang kini juga tak ingin Alea dekati kembali karena berhubungan dengan Yudhistira.
Alea tertegun saat rekaman suara dari hp Keke mulai berputar. Semua kalimat yang ia dengar seolah menohok hatinya perlahan. Alea terlalu kecil waktu itu untuk.mengetahui semuanya. Dan beberapa orang dewasa yang ia temui waktu itu malah menyembunyikan semuanya.
"Orang terakhir yang ditemui adalah adiknya. Dan setelah itu, kondisi keduanya kritis"
Tubuh Alea menegang seketika saat nama om Gery disebut di sana. Menjadi orang yang ditemui terakhir. Jadi, apa yang dilakukan oleh om nya sebenarnya?
"Permisi mbak"
Bi Ina yang menampakan dirinya dari balik tembok dapur, membuat Alea menoleh ke arah wanita itu.
"I..itu" Bi Ina yang tampak ragu menciptakan kerutan bingung di dahi Alea.
"Itu kenapa?"
"Ada kakek di depan mbak"
***
Tak memperdulikan sapaan para karyawan yang bertemu dengannya di lobi, Arsen terus berjalan cepat menuju kantornya berada. Lift yang biasanya terasa cepat bahkan kini terasa sangat lambat bagi Arsen. Ia tak sabar bertemu dengan Marinka dan memberi pelajaran pada wanita itu.
__ADS_1
Ia ingin cepat selesai, menyelesaikan semua masalah lalu kembali pada Alea dan mendekapnya erat. Sumpah demi apapun Arsen akan mempertahankan Alea sebelum istrinya mengurusi surat cerai. Cukup sudah ia menyakiti wanita yang ia cintai, setelahnya Arsen ingin memberikan kasih sayangnya yang begitu besar bahkan rela melakukan apapun asal Alea masih berada di sisinya.
Begitu pintu lift terbuka dilantai kantornya berada, Arsen langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Dibukanya pintu itu kasar hingga menunjukkan sosok Kenzo yang tengah berdiri disamping sofa dengan Bagas dan Amel yang duduk di sana. Satu yang langsung Arsen sadari, tak ada Marinka di sana.
Pandangan Arsen langsung tertuju ke arah Kenzo dengan dahi berkerut. Tanpa dijelaskan pun Arsen tahu jika ini ada yang tak beres. Kenzo membungkukkan badannya lalu berpamitan keluar dari ruangan. Pandangan Arsen kini tertuju ke arah kedua orang tuanya.
"Lupakan semuanya mas. Kami membuta perjanjian dengan kedua orang tua Alea. Semuanya saling menguntungkan. Dan Marinka, kami sudah membuatnya pergi dari Negeri ini. Jordy dan istrinya memang yang ditemui kedua orang tua Alea terakhir kali, tapi bukan berarti mereka melakukan kesalahan" Bagas yang mengawali membuka pembicaraan. Diletakkannya berkas berisi perjanjian antara kakek dan kedua orang tua Alea. Lalu pernyataan rumah sakit yang menyatakan keduanya meninggalkan setelah koma selama 3 tahun. Jelas dengan alasan-alasan medis yang masih belum bisa Arsen terima begitu saja. Jika memang mertuanya meninggalkan karena kecelakaan itu dan bukan karena ulah kedua orang tua Marinka, lalu, bagaimana nasib hubungannya dengan Alea?.
"Bun" panggil Arsen pada wanita yang kini hanya duduk dengan kepala yang menunduk dalam. Seketika cengkraman Arsen pada sofa mengerat, menopang dirinya agar tidak ambruk. "Bunda. Ini nggak bener kan? Pasti Marinka sama kedua orang tuanya yang ngelakuin ini, seperti yang bunda tebak kemarin. Ini nggak bener kan bun?"
"Ini kenyataannya Mas. Bukan hanya Alea saja yang kehidupannya kakek kamu tanggung. Tapi, panti asuhan milik keluarga Alea, juga kakek kamu menjadi donatur disana. Bahkan hingga hari ini. Menyekolahkan mereka semua, sampai sarjana, memberikan sumbangan, pakaian, makanan dan semuanya"
Tangan Arsen mengepal seketika. Jadi, maksudnya semua itu setimpal dengan menghilangnya dua nyawa?. "Jadi, menurut ayah itu bisa menebus dosa setelah dua nyawa melayang?"
"Tidak. Terus kamu mau apa? Menyeret kakek kamu ke penjara? Jika kakek kamu dipenjara waktu itu, bisa kamu bayangkan bagaimana hidup puluhan anak panti disana? Ratusan karyawan di perusahaan? Dan hidup Alea yang tak diterima sama sekali oleh paman dan bibinya?. Kita memberikan uang banyak untuk Gary pun dia tetap memperlakukan Alea dengan tidak baik."
Tebakan Arsen semuanya memang salah sejak awal. Dirinya terlalu fokus untuk menjadikan orang diluar keluarga sebagai tersangka. Tapi nyatanya keluarga dekatnya lah yang melakukannya.
"Kakek kamu sedang menemui Alea" ucap Amel yang langsung mendapat hardik dari Bagas.
"Bunda!!"
Tak perlu berpikir dalam untuk mencerna ucapan bunda. Arsen langsung membuka pintu kasar dan berjalan keluar, meninggalkan ayahnya yang terus saja berteriak memintanya untuk berhenti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
***Tinggal satu bab lagi untuk tamat ya. Dan ya, Marinka nggak ada hubungannya dengan semua ini. semuanya pusat masalah memang dari kakek.
nanti kalau ada cerita baru dan kepingan-kepingan rajin menulisku jadi satu lagi, aku baru up cerita baru ya. lagi Mager banget uy***