Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 40 : Maafin Aku Mas


__ADS_3

"Aku tahu, kamu pasti nggak makan bekel dari ku"


Arsen terdiam sambil menatap Dira yang kini dengan santainya tengah duduk di sofa sambil membuka satu persatu kotak makan di meja. Tak jauh darinya ada Kenzo yang juga diam sambil menunduk dalam. Laki-laki itu gagal untuk menahan Dira agar tak sampai masuk ke dalam ruang kerja Arsen. Anggukkan kepala Arsen, membuat Kenzo mengangguk lalu berjalan keluar.


"Aku ingat kamu suka kwetiaw goreng mas. Jadi aku bikin tadi, ya meski enaknya makan kwetiaw goreng malam-malam, tapi aku bisanya ngasih sekarang. Rumah kamu bukan lagi area yang bisa bebas aku masukin"


Arsen tak menjawab, masih berdiri dibelakang meja kerjanya sambil menatap lurus ke arah Dira. Ada tatapan kebencian namun juga ada tatapan yang merindukan masa-masa ini seperti dulu.


Dulu, saat menjadi pengawas pembangunan rumah, Dira sering kali membawa kwetiaw goreng, dan akan dimakan bersama dengan dirinya dan Diwa. Bisa dibilang, kwetiaw menjadi rasa cinta.


"Apa alasan kamu balik lagi ke Indo?" pertanyaan itu akhirnya terlontar juga, pertanyaan yang sejak di Bali ingin sekali Arsen tanyakan hanya saja takut jika jawaban yang ia dengar malah akan membuat semuanya semakin menjadi berantakan.


Ada sebuah senyuman yang Arsen lihat dari Dira sekarang. Sebuah senyuman yang dulu menjadi begitu candu baginya, senyuman yang dulu membuatnya begitu egois karena tak rela jika senyuman manis itu juga diperlihatkan ke orang lain. Senyuman yang dulu mampu untuk membuat hari-hari Arsen yang berantakan menjadi berwarna kembali. Bahkan saat membangun rumah itu, Arsen berdoa jika satu-satunya wanita yang masuk pertama kali yang bukan dari anggota keluarga adalah Dira. Dira dengan status sebagai istri sahnya.


Setan seolah benar-benar tengah mengambil alih pikiran Arsen sekarang, bahkan gambar tentang Alea tak sedikitpun muncul di pikirannya sekarang. Fokusnya hanya pada Dira yang masih tersenyum.


Cinta dalam pada seseorang yang bukan mahram itu memang semengerikan ini.


"Makan dulu yuk mas. Aku cuman punya waktu 30 menit, harus balik lagi ke kantor"


"Aku nggak punya kata yang tepat buat nunjukin ke semua orang bagaimana karakter kamu"


Sebuah senyuman, kini berubah menjadi sebuah tawa getir. Rambut yang panjang dan sedikit menutupi muka, Dira selipkan ke belakang telinga lalu memberanikan diri untuk menatap ke arah Arsen. Laki-laki yang hatinya ia hancurkan berkeping-keping beberapa bulan yang lalu. Laki-laki yang ia berikan bom ditangan kanan hingga meledak dan menghancurkan kepercayaannya pada sosok Wira. Laki-laki yang ia buat hubungan dengan sepupunya sendiri hancur hingga saling membenci satu sama lain.


"Bren**k Atau mungkin Ja**ng?"


Tangan Arsen mengepal mendengar ucapan Dira barusan. Wanita yang dulu sangat menjaga kalimat yang keluar dari mulutnya kini berubah menjadi sangat bebas. Hingga kalimat yang tak pantas itu keluar begitu mulus dari bibirnya.


"Dulu, kamu pasti marah kalau aku ngomong begini di depan kamu ya mas. Kata kamu, hati-hati kalau bicara dan..."

__ADS_1


"Apa niat kamu sebenarnya Dir?" potong Arsen cepat. Akal sehatnya sudah kembali mengingatkannya pada sosok Alea. Dan tak seharusnya dia asik memikirkan masa lalu dan berbincang dengan Dira. Sebagai seorang yang sudah memiliki status sebagai pasangan sah dari wanita lain, tak seharusnya Arsen melakukan hal ini sekarang.


"Aku, mau minta maaf sama kamu mas, aku ingin minta maaf secara resmi sama kamu"


Kali ini Arsen yang tertawa getir mendengarnya. Tanpa berkata apapun, dia melangkah mendekat ke arah Dira lalu menutup semua bekal makanan dan memasukannya ke dalam tas jinjing yang Dira bawa. Setelah memasukannya, Arsen berjalan menuju pintu lalu membukanya lebar-lebar.


"Lebih baik kamu pergi sekarang Dir. Sebelum aku semakin marah" tegas Arsen. Kenzo yang berada di meja sekretaris buru-buru menutup sekat yang menghubungkan antara ruangannya dengan ruangan para tim IT.


"Aku benar-benar minta maaf mas. Aku juga berharap kamu maafin mas Wira"


Arsen membeku seketika. Sebelum tawanya pecah yang membuat Kenzo langsung mendorong sang bos kembali masuk ke dalam ruangan dan segera menutup pintu. Jangankan Arsen, Kenzo sendiri bahkan tak percaya dengan apa yang tengah diminta oleh Dira barusan.


Mereka berdua menghancurkan hidup Arsen, namun dengan mudahnya Dira meminta bosnya itu memaafkan dua orang itu sekaligus.


"Aku tahu aku gila dengan minta hal ini sama kamu mas. Cuman, aku nggak pengin waktu dia lahir, dia malah liat ayah dan om nya nggak akur"


Tawa Arsen berhenti seketika. Tunggu, lahir? Siapa?. Pandangan Arsen tertuju pada tangan Dira yang mengelus perutnya sendiri. Ada tatapan sedih yang terlihat di wajah itu sekarang.


Hamil?


Anak siapa?


Anak Wira?


Diluar nikah?


***


"Jadi, lo maafin gue kan Al?" Diwa menggoyang-goyangkan lengan Alea yang masih memasang wajah jutek seakan tak percaya dengan apa yang baru ia jelasnyakan barusan.

__ADS_1


Mengenal Alea sejak masa SMA, Diwa tahu betul, sekali saja Alea marah, maka wanita ini tak akan mudah dibujuk. Marahnya mungkin bisa berhari-hari bahkan dulu pernah marah dengan dirinya hingga 1 minggu lamanya. Baru luluh ketika Diwa membawa martabak dari tempat langganan Alea.


Namun sepertinya, kesalahannya kali ini benar-benar sangat fatal. Martabak yang ia bawa, tak ampuh sama sekali untuk membuat Alea memaafkannya. Sahabatnya itu kini malah kembali memunggunginya dan menganggapnya seolah tak ada.


"Lo beneran nggak maafin gue? Gue jujur Al, gue dan mertua lo nggak bermaksud buat ngebohongin lo. Kita pikir kalau nggak ngasih tahu lo itu lebih baik daripada bikin lo kabur dari Arsen"


"Dan nyatanya. Lo pada bohongin gue, gue juga tetep kabur kan?!"


Diwa menghela napasnya. Ia menarik martabak yang hendak kembali diambil oleh Alea "Lo nggak mau maafin gue kan? Ya udah, lo nggak boleh makan ini martabak. Kan gue yang beli. Dan martabak yang udah masuk ke perut lo, muntahin sekarang. Gue nggak ikhlas kalau lo nggak maafin."


Sontak Area langsung mendelik ke arah laki-laki itu. Satu pukulan ia dapatkan tepat di jidat Diwa hingga membuat sahabatnya terjengkang ke belakang, posisi Diwa yang jongkok membuat jatuhnya terlihat begitu dramatis.


Bukannya marah, Diwa tertawa terbahak-bahak, jika sudah melayangkan pukulan maka kemarahan Alea sedikit berkurang. "Pulang yuk Al. Gue anter. Tante Amel nangis pas lo pergi"


"Asal lo tahu, gue juga nangis Wa. Rasanya sakit tahu nggak lo?. Lebih sakit lagi karena lo sebagai sahabat gue juga nyembunyiin. Gue tuh—"


Diwa mengangkat kedua tangannya "Oke. Nggak usah dibahas, nanti lo marah lagi sama gue. Baik-baik aja deh disini ya. Gue pulang"


"Terserah!!" jawab Alea ketus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*


Hai hai hai. Terima kasih yang sudah setia nunggu cerita ini. Dan maafin saya yang baru nongol


maaf kalau ada typo, karena nggak di edit lagi


satu kata buat Dira?

__ADS_1


satu kata buat Arsen?


__ADS_2