
*Mau info dulu kalau hari ini aku akan double up. jadi jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian di bab ini ya
...----------------...
Alea bertanya-tanya kira-kira kejutan apa lagi yang akan ia lihat ketika kejutan yang amat dahsyat baginya kini berhadapan tepat di depannya. Adakah yang lebih menyakitkan dari hal ini? Apa lagi? Keluarkan semuanya selagi Alea masih siap untuk menampungnya.
Keluar dari taxi, Alea berjalan gontai melewati pagar rumah. Pikirannya yang kacau bahkan mampu untuk menyembunyikan rasa takutnya jika masuk ke dalam rumah sendirian. Gambaran tentang bi Ina yang kerasukan semuanya menghilang dan digantikan dengan foto undangan itu. Foto undangan suaminya dan mbak Dira.
Bertemu dengan bi Ina di ruang tengah, Alea meminta wanita yang sudah bekerja dengan keluarga ini semenjak Arsen masih dalam kandungan agar duduk di sofa. Alea mungkin bisa menemukan penjelasan yang nyata dari wanita itu sekarang.
"Mbak Al, nggak apa-apa kan?" hanya dengan melihat raut wajah Alea yang terlihat begitu sedih, bi Ina bisa menebak sesuatu mungkin sudah terjadi di kantor tadi. buktinya sang majikan pulang sendiri tanpa didampingi oleh Arsen.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tanyakan ke Bibi, tapi aku harap bibi jawab yang jujur"
meski ikut gugup karena kabar mengenai Alea yang mencari tahu tentang Dira juga sudah sampai ditelingannya, Bi Ina menganggukkan kepalanya ragu. Ia takut salah bicara yang akan berakibat fatal dengan kehidupan pernikahan orang lain.
Alea mengambil ponselnya dari dalam tas. Tangannya sudah bergetar hebat tat kala jemari-jemari lentiknya mulai menyentuh layar dari benda berbentuk persegi panjang itu. Dan saat gambar undangan pernikahan yang ia dapat dari karyawan tadi, hatinya terasa teriris seketika. Nama mas Arsen dan mbak Dira bersanding disana. "Ini"
Raut wajah kaget langsung tergambar dengan jelas di wajah bi Ina sekarang. Ketakutannya selama ini jika Alea mengetahui masa lalu Arsen terjadi juga. Tak langsung menjawab, bi Ina malah berlari masuk keruang tengah guna memanggil Amel, ibu mertua Alea.
"Al"
Alea bergeser menjauh satu langkah saat Amel menyentuh pundaknya. Suasana di ruangan ini sudah terasa begitu aneh, Alea merasa menjadi orang bodoh yang bisa dibodohi oleh semua orang.
__ADS_1
Mengambil kembali ponsel dari tangan Amel, Alea berjalan masuk menuju kamar. Orang yang paling bisa memberikan penjelasan akan semua ini adalah Arsen. Ya. Hanya suaminya itu yang bisa ia desak untuk berkata jujur.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, Alea menoleh sebentar ke arah bunda yang sejak tadi mengekornya naik ke lantai dua. Dengan pandangan yang buram karena air mata, Alea berusaha sebaik mungkin agar suaranya tak terdengar bergetar.
"Jangan katakan apapun sama mas Arsen ya bun. Biar dia pulang seperti jam biasanya. Alea ingin mas Arsen denger apa yang terjadi hari ini dari mulut Alea sendiri" Alea mengatakannya dengan tatapan yang tak tertuju ke arah bunda. Alea takut melemah jika melihat tatapan memelas bunda. Setelah mengatakan hal itu, Alea langsung masuk ke dalam kamar.
Begitu menutup pintu, Alea melempar ponselnya ke ranjang. Air matanya luluh begitu dirinya menghempaskan badan di sana. Rasa sakit luar biasa ia rasakan sekarang. Sadar, dirinya telah jatuh cinta pada Arsen, begitu dalam hingga sebuah kebohongan langsung menggoreskan luka yang amat menyakitkan.
Tangis tak bisa lagi Alea bendung. Membenamkan wajahnya di bantal, Alea menangis sesenggukkan mengeluarkan semua beban di hati.
Selama ini semua orang pasti menganggapnya bodoh, ayah, bunda, mas Arsen, keluarga laki-laki itu bahkan hingga Diwa. Alea merasa kembali tak memiliki apapun di dunia ini. Seharusnya kedua orang tuannya membawanya juga ke atas sana, agar Alea tak bisa merasakan begitu kejamnya dunia ini dan orang-orang yang ada disekitarnya.
__ADS_1