Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 12 : Arsenio Yudhistira


__ADS_3

Dua kecupan di pipi barusan, jelas buat Arsen tak baik-baik saja. Tak menyangka jika Alea berani melakukan hal itu hanya untuk mendapatkan bantuan akan tugas yang belum selesai. Dengan satu tarikan napas, sebisa mungkin Arsen membuat dirinya kembali fokus.


"Alea. Ini tugas kamu gimana?" tanya Arsen sambil mengetuk pintu dalam yang menghubungkan antara kamar dan ruang kerja.


"Nggak tahu. Ngantuk" jawab Alea dari dalam.


"Nggak bisa begitu dong Al. Kerjain dulu baru tidur" bujuk Arsen. Bukan tidak mau menyiapkan dana jika Alea sampai mengulang satu mata kuliah, hanya saja Arsen ingin Alea belajar tanggung jawab dengan apa yang telah di mulainya.


"Mau aku otak-atik sampai subuh juga nggak bakal bisa mas!" jawab Alea lagi dari dalam.


"Mas bantuin"


"Boong"


"Mas bantuin beneran. Tapi nggak dengan kamu yang ngelepas tangan begitu aja"


"Nggak percaya. Dicium aja mas nggak mau bantuin"


"Bukan nggak mau bantuin Al. Mas bimbim dari belakang"


"Sama aja. Mau tidur ngantuk"


"Alea" sahut Arsen.


"Al?"


"Dek?"


"Alea?!!"


Menyerah karena tak akan ada lagi jawaban dari dalam, Arsen kembali duduk melantai di depan sofa. Alea benar-benat tidur sepertinya.


Membuka laptop milk istrinya. Arsen mulai mempelajari dulu tugas seperti apa yang diberikan. Jarinya mulai bergerak di atas keyboard mengerjakan tugas milik Alea. Jika tidak di bantu, istri kecilnya itu pasti akan ngomel sepanjang hari.


***


Pagi yang paling buruk bagi Alea adalah ketika bangun dengan tugas yang belum selesai. Selain mendapat nilai buruk, dirinya juga akan malu karena belum juga selesai mengerjakan tugas yang diberikan. Rasanya Alea ingin bolos saja di kelas pagi ini. Masih merebahkan diri di atas kasur padahal jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Alea benar-benar berniat untuk membolos kelas pagi ini, biarkan saja, dirinya baru akan datang ke kampus di kelas jam kedua.


Tak memperdulikan ketukan pintu dari luar, Alea meraih ponselnya di atas nakas saat satu pesan masuk ke ponselnya.


Mas Arsen : Turun sekarang atau saya tinggal.

__ADS_1


"Tinggal aja sono"


Beralih ke room chat group GAK. Alea mendengus sebal saat membaca pesan Gita dan Keke yang kompak minta maaf karena tak mengangkat telfon semalam. Cih, sahabat macam apa ini.


Menggeser pop up panggilan dari mas Arsen, Alea beralih ke media sosial yang ia punya. Melihat-lihat akun yang berisi produk kosmetik, barangkali ada yang bisa Alea beli dengan uang milik mas Arsen.


Satu pesan dari mas Arsen kembali masuk ke ponselnya.


Mas Arsen : Turun sekarang atau saya tinggal plus kartu kredit saya ambil.


Alea mendengus sebal mendengarnya, buru-buru masuk ke kamar mandi dan 15 menit setelah dengan pakaian yang sudah rapih lengkap dengan tas slempang, Alea mengetikan satu pesan kepada suaminya itu. Biarkan saja, hari ini Alea akan mogok bicara dengan Arsen.


Alea : Laptop aku dimana?.


Arsen : Di ruang kerja mas. Kan kamu naruh di sana.


Membuka pintu kamar, Alea langsung kembali masuk ke ruang kerja Arsen. Betapa mengenaskan dirinya yang memiliki suami pelit dan kulkas 7 pintu. Posisi laptopnya masih sama persis seperti semalam, dan itu berarti mas Arsen benar-benar tak.membantunya sama sekali.


Tapi sepertinya, dugaannya salah besar saat Alea menemukan secarik kertas yang berada di atas laptop.


Kali ini mas bantu. Besok nggak lagi. Dan nanti malam, ulang materi yang kamu ketinggalan bareng mas.


Mas baik. Bukan mas dingin.


Memasang wajah kesal seolah tak membaca pesan Arsen. Alea keluar dari ruang kerja suaminya dan berjalan menuruni tangga. Laki-laki itu sudah duduk dengan manis menyantap sarapan paginya, ekspresinya seolah-olah layaknya seuperhero di tujuh langit sekaligus. Pagi ini mas Arsen tak menggunakan pakaian formal seperti biasanya. Stelan jas nya kini berubah menjadi kemeja kotak-kotak dengan rompi berwarna senada. Stelan santai namun tak mengurangi sedikitpun wibawa laki-laki itu.


Alea duduk di samping Arsen. Ekspresi wajahnya juga sebisa mungkin agar terlihat seperti kesal pada suaminya ini. Meski sebenarnya, Alea tak menemukan kalimat yang pas untuk mengawali ungkapan terima kasihnya.


"Cepat makan. 10 menit saya tunggu di mobil "


Alea tak tahan untuk tidak tersenyum saat Arsen berlalu pergi keluar dari rumah. Jika ciuman pipi saja berhasil membuat suaminya itu lulu, mungkin hal yang lebih dari itu bisa membuat mas Arsen jungkir balik.


"Makasih suami ku yang ganteng" ucap Alea lirih. Sangat lirih hingga hanya bisa dirinya saja yang mendengarnya.


***


"Ciellah kelar juga itu tugas? Lo ngasih apa buat abang gue" bisik Diwa. Sejak mereka bertemu di koridor kamus tadi, Diwa terus saja mengekornya bahkan hingga sampai di dalam kelas. Tak habis-habisnya melontarkan pertanyaan yang sama meski Alea jawab dengan dengusan sebal.


"Gue mau punya ponakan baru ya?" bisik Diwa lagi.


Plak.

__ADS_1


Bukan memukul Diwa dibelakang kepala laki-laki itu, melainkan di mulut yang membuat Diwa tertawa terbahak-bahak. Saga yang juga berada di kelas ini melirik tak suka ke arah mereka. Perihal mengenai Saga, laki-laki itu masih belum menyerah dengan sesekali mengirimkan pesan ajakan untuk makan bersama Alea di luar.


"Itu mulut gue jahit lama-lama" Alea melotot tak suka ke arah Diwa.


"Terus ngapain? Tipe abang gue nggak bakal bantu kalau gratis. Jiwa bisnisnya tinggi woy"


Alea menarik Diwa agar mendekat, jangan sampai ada yang mendengar pembahasan mereka kali ini. "Bisa nggak lo diam aja dan nggak usah bahas mas Arsen. Bisa kacau kalau ada yang denger!!"


Diwa tertawa "Oke. Gue diem. Jadi, loa ngasih apa?"


Bukan lagi pukulan mau yang Alea layangkan, melainkan cubitan yang membuat Diwa langsung mengaduh minta ampun.


"Lo sendiri, ngapain dibela-belain ke rumah Keke padahal udah malem?" tanya Alea balik.


"Gue bantu dia"


"Bantu, apa ngapel sekalian?"


"Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui"


"Gila" Alea menggelengkan kepalanya. Cara pikir Diwa terkadang sangat mirip dengan mas Arsen.


"Jadi lo ngasih apa sampai abang gue mau bantu"


Plak


Satu pukulan lagi Alea layangkan, bukan dibelakang kepala, melainkan di dahi Diwa hingga membuat laki-laki itu terjengkang ke belakang. Masalahnya, bersamaan dengan berakhirnya kalimat Diwa, Alea melihat Keke dan Gita masuk ke dalam kelas sambil terburu-buru.


Kedua wanita itu kini mengambil alih duduk di hadapan Alea. Bukan Keke yang heboh, melainkan Gita yang heboh seolah mendapatkan gosip sedap di pagi hari ini.


"Saga" alih-alih menyampaikan alasan kenapa mereka heboh, Gita malah memanggil Saga hingga membuat semua orang yang ada di kelas menoleh ke arah mereka.


"Lo kenal mas Arsenio Yudhistira?"


Mas? Alea dan Diwa saling bertukar pandang. Alea tampak heran dengan sebutan 'mas', sedangkan Diwa menoleh untuk melihat reaksi Alea.


"Kenal lah, semua orang di sini juga kenal kali. Kita masuk IT juga karena patokannya kesuksesan dia" bukan Saga yang menjawab. Melainkan Bimo yang duduk di samping Saga.


Penasaran kenapa Gita membahas mengenai Saga, Alea menarik lengan sahabatnya itu. Gita tak akan curiga. Karena toh dirinya selalu semangat 45 jika membahas pria tampan dan sukses.


"Dia jadi tamu pemateri di kelas pemograman akhhh" pekik Gita girang.

__ADS_1


Mungkin semua wanita di kelas ini akan bahagia karena kedatangan mas Arsen. Namun tidak dengan Alea. Tak pernah terbayangkan jika dirinya akan menjadi pendengar di kuliah suaminya sendiri.


__ADS_2