
Entah sudah berapa banyak kata-kata sumpah serapah yang ia dengar dalam hidup ini. Kata-kata penuh dengan arti menghina yang hanya bisa Arsen telan mentah-mentah karena sadar apa yang ia dengar semuanya adalah kebenaran. Semuanya benar adanya tanpa ada sedikitpun kerusakan. Seakan dunia tengah menunjukan jika pepatah yang mengatakan apa yang kau tanam maka itu yang akan kau tuai sekali lagi adalah kebenaran.
Sudah lima tahun berlalu tapi nyatanya kalimat-kalimat itu masih sering ia dengar, seperti ;
Itu hukuman buat lo Sen.
Karma itu emang ada ya Sen.
Lo sakitin Alea segitunya dulu, sekarang lo kena batunya.
Cuman merasa ditinggal? Bahkan hukuman kaya gitu masih kurang untuk takaran orang bajingan kaya lo.
Dan segala kalimat-kalimat menyudutkan yang lain. Anehnya, dulu ia mendengarnya langsung dari orang lain. Tapi sekarang, mereka semua diam, tak ada bibir yang bergerak menyumpahinya dua tahun belakang. Tapi ajaibnya, Arsen masih merasa seolah mendengar. Seolah semua kalimat itu terpatri dalam ingatan dan sesekali terdengar untuk memenuhi isi kepalanya.
Arsen menyerah, sejak awal, sejak kepergian Alea, ia sadar jika ia sudah kalah. Kalah telak dengan wanita yang dicintai namun ia sakiti itu. Arsen memilih untuk tak menjalin hubungan dengan wanita lain bahkan setelah 5 tahun berlalu.
Arsen hidup layaknya orang mati. Tubuh dan otaknya bergerak, namun adakalanya jiwanya seolah melayang entah kemana. Pandangannya kosong hingga Kenzo berinisiatif sering membawa putrinya ke kantor hanya untuk membuat sang bos lebih bernyawa. Tapi sepertinya, meski Kenzo membawa Gempi ke kantor hari ini dan bertemu dengan Aska di kafe dekat kantor tak memberikan dampak apapun pada sang bos. Karena nyatanya mata itu terbuka lebar menatap tak percaya pada sosok wanita yang berdiri disamping Gita.
"Ken, saya nggak salah lihat kan?"
Melihat Aska yang hendak berdiri, Kenzo langsung menahannya agar laki-laki itu kembali duduk.
"Dengerin saya dulu pak."
"Itu Alea Ken" Tatapan Aska sama sekali tak terputus pada sosok wanita yang nampak mengobrol asik dengan Gita didepan pintu masuk.
__ADS_1
"Fisiknya Alea, tapi jiwanya bukan"
Kepala Aska sontak menoleh ke arah Kenzo. Apa yang sebenarnya sekretarisnya ini katakan?
Fisiknya Alea, tapi jiwanya bukan?.
"Apa maksud kamu?"
Penjelasan Kenzo seolah langsung menyumbat dua lubang telinganya sekaligus. Arsen bisa mendengarnya namun otaknya seolah berjalan dengan super lambat untuk mencerna semuanya. Malah hatinya yang kini terasa dicabik-cabik hingga tanpa sadar satu tetes air mata keluar dari sudut matanya.
"Dia sudah menikah dengan Saga Ken. Aku bahkan liat undangannya!!" pekik Aska. Gempi yang ada di sekitar mereka langsung berlari menuju mamahnya saat suara Aska mulai meninggi. Bahkan beberapa pengunjung tak terkecuali Gita dan Alea juga nampak menatap ke arah Arsen.
"Pernikahan itu nggak pernah ada" jelas Kenzo.
"Saga kecelakaan dan meninggal saat dilarikan ke rumah sakit" lanjut Kenzo.
Pembicaraan mereka berhenti saat Gita dan Alea berjalan mendekat ke arah mereka. Napas Aska terasa tercekat seketika. Paru-paru terasa mengecil hingga membuatnya kesulitan bernapas. Hingga sebuah senyuman tulus dari Alea membuat semuanya hilang seketika. Sebuah senyuman ramah seolah tak ada yang pernah terjadi sebelumnya dan senyuman ramah seolah mereka tak mengenal satu sama lain. Semuanya kembali putih tanpa ada bercak noda hitam sedikitpun.
"Hai mas" sapa Gita.
"Hai Gita" pandangan Aska tak tertuju pada Gita, melainkan pada Alea yang kini tampak sedikit risih karena mendapat tatapan demikian.
Gita berdehem kencang, mengkode suaminya agar menyadarkan Aska sekarang juga. Rencana yang sudah mereka pikirkan baik-baik 1 tahun untuk mempertemukan keduanya seharusnya tak berjalan seperti ini.
"Al, kenalin, ini mas Aska. Dan mas, kenalin ini —"
__ADS_1
"Alea" potong Aska.
Kenzo mengepalkan tangannya. Inilah alasan kenapa ia tak langsung memberitahu semuanya kepada Aska sejak dulu. Karena semuanya pasti akan berakhir seperti ini. Namun melihat sang bos yang semakin hari semakin terlihat seperti tak bernyawa setelah kehilangan Alea, membuat Kenzo tak tega juga.
"Aku sering cerita tentang kamu sama mas Kenzo. Pasti dia cerita sama mas Aska, makanya dia kenal nama kamu" bohong Gita.
Alea tampak menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya bergerak menyambut uluran tangan Aska.
"Alea" sapa Alea balik.
Dunia Aska rasanya jungkir balik detik ini juga. Semuanya masih belum jelas akan kisah apa yang terjadi pada Alea dan Saga sebenarnya. Namun jika boleh jujur meski tampak begitu brengsek, Aska bersyukur sosok Saga menghilang dari sisi Alea selamanya.
Satu tetes air mata meluncur dari sudut mata Aska. Jika memang Tuhan memberikan kesempatan untuknya satu kali lagi, Aska tak akan menyia-nyiakannya sama sekali. Aska akan membuat Alea berada di sisinya. Selamanya.
"Mas bangun, kamu katanya mau ke kantor pagi-pagi buat ketemu Kenzo dulu? Bangun. Makanya bunda paling nggak suka kalau kamu minum kaya semalam. Ngelantur nggak jelas."
Suara ocehan bunda membuat Aska membuka matanya perlahan. Ia tahu semuanya adalah mimpi, maka dari itu Aska memejamkan matanya kembali untuk melanjutkan mimpi itu. Berharap, jika ia tak akan terbangun lagi dan terus berada di dalam mimpi bersama manta istri nya.
"Bangun!!"
Suara pekik kan bunda mau tak mau membuat mata Aska terbuka. Aska tahu dunianya benar-benar hancur setelah Alea pergi. Entah sudah berapa kali ia memimpikan istrinya kembali selama lima tahun belakangan.
......°°°°°°°......
entah kesambet apa aku tiba-tiba nulis Alea dan Aska, kayanya gara-gara levelnya naik jadi 9 (level tertinggi buat aku selama nulis di NT). Gimana nih, mau dilanjut atau nggak? AYO SPAM KOLOM KOMENTAR
__ADS_1