
Ini jumlah katanya lebih banyak dari sebelumnya loh, jadi jangan lupa tinggalkan LIKE dan KOMENTARNYA ya teman-teman ❤️
°°°
Seperti rencana awal, acara pernikahan ulang akan dilaksanakan hari Minggu nanti. Berbeda dengan tebakan awal dimana Alea ingin mengadakan pesta yang mewah, calon istrinya itu malah berencana untuk mengadakan yang sebaliknya.
Outdoor, sederhana, dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja. Setidaknya akad mereka pertama kali yang tak dihadiri oleh satupun sahabat Alea kecuali Diwa kini semuanya akan muncul di tempat yang sama.
Meski hal itu jelas tak bisa sepenuhnya dikabulkan mengingat Arsen juga harus mengundang beberapa kolega bisnisnya. Belum lagi teman-teman ayah dan bunda yang juga akan diundang dalam acara kali ini.
Keputusan finalnya adalah akad akan dilakukan privasi yang hanya dihadiri oleh kerabat dekat seperti keinginan Alea. Dan pesta akan diselenggarakan di hotel sesuai keinginan keluarga Arsen.
Ditanya khawatir atau tidak? Jelas Arsen sedikit khawatir jika ada yang mengenali Alea sebagai calon istri Saga. Namun, jika semuanya terus disembunyikan maka hubungan mereka akan terus tak menemukan titik terang. Maka dari itu, semuanya akan dilakukan sesuai dengan rencana awal.
"Dek. Mas turun dulu sebentar ya. Orang dari percetakan datang"
Setelah mendapat anggukkan Alea, Arsen melirik sebentar ke arah Gita yang masih enggan untuk menatap ke arahnya semenjak dia dan Kenzo datang ke rumah mereka. Meski ekspresi Gita terkesan sangat tak bersahabat namun tak ada penolakan langsung dari wanita itu saat Arsen meminta izin untuk menikahi Alea kembali. Gita hanya mendengarkan lalu langsung pergi begitu saja setelah Arsen selesai bicara. Tak ada jawaban dan tak ada juga penolakan.
"Anggap aja hormon ibu hamil. Gue kadang dicuekin, kadang juga didandani kaya perempuan di rumah" ucap Kenzo sambil merangkul Arsen keluar dari kamar.
Keke yang mendengar curhatan tak langsung dari Kenzo tertawa geli. Ngidam Gita memang kadang diluar nalar. Gita bahkan pernah cerita dia seharian hanya pakai pakaian dalam di rumah dengan perut yang diberi gambar tokoh-tokoh kartun. Syukur Kenzo langsung meliburkan semua pekerja di rumah saat Gita mengutarakan keinginannya itu.
"Gue lama-lama kasihan sama mas Kenzo Git. Buset dah, ganteng dan maco begitu didandani jadi cewek. Jangan sampai lo ngidam nyuruh suami lo pakai daster di rumah"
"Pernah. Gue suruh pake lingerie juga pernah" jawab Gita enteng.
Bukan hanya Keke saja yang tertawa, Alea juga ikut tertawa mendengarnya. Perihal Gita dan Keke yang sekongkol dengan Arsen untuk menyembunyikan perceraian mereka sudah mereka bahas beberapa hari yang lalu. Dan Alea menerima alasannya tanpa marah sama sekali. Sepertinya bangun dari koma membuat sifat pemaafnya meningkat berkali-kali lipat.
"Kalau gue hamil nanti, gue juga bakal begitu kali ya sama mas Arsen. Kayanya bisa lebih parah dari yang Gita lakuin" ucap Alea. Membayangkan bagaimana perutnya membesar dan ada nyawa didalamnya hasil usahanya dengan mas Arsen, membuat Alea tersipu malu. Ia anak tunggal, begitupun dengan mas Arsen, maka dari itu Alea ingin memiliki anak lebih dari satu.
"Yah. Gue mupeng doang udah. Kapan jodoh gue nongol" Keke merebahkan tubuhnya di sofa. Nasib percintaan dirinya dengan kedua sahabatnya ini benar-benar berbeda. Masalah dirinya yang dulu suka sama Diwa, percayalah itu hanya cinta monyet. Karena nyatanya perasaan itu hilang tak bersisa sama sekali.
__ADS_1
"Lo beneran mau nikah lagi sama mas Arsen Al?"
Suasana yang sebelumnya penuh canda tawa berubah seketika saat Gita mengajukan pertanyaan itu dengan ekspresi wajah yang sedikit sulit untuk Alea jelaskan. Dulu, Gita begitu memuja mas Arsen, tapi kini melihatnya saja sepertinya enggan untuk dilakukan.
Alea masih belum mengingat apapun. Bahkan perceraian dirinya dan mas Arsen pun sampai saat ini belum kembali ke ingatannya. Alea hanya mengikuti kata hatinya sekarang. Ia menyukai Arsen, ia cinta dengan Arsen, dan rasanya dirinya tak mampu untuk kehilangan Arsen lagi.
Lagi.
Ya lagi. Alea merasa dirinya pernah kehilangan Arsen dalam kurun waktu yang lama. Kalah telak dengan mbak Dira. Maka dari itu, saat kesempatan untuk memiliki hati mas Arsen datang, Alea tak ingin menyia-nyiakannya sama sekali.
"Gue yakin Git. Gue cinta sama mas Arsen. Gue pengin hidup selamanya sama dia" jawab Gita pasti.
"Apapun yang terjadi kedepannya?"
Alea mengangguk yakin "Ya. Sekalipun ingatan aku kembali dan ternyata jawaban atas perceraian aku sama mas Arsen buat aku sakit hati. Aku janji nggak bakal menyesali keputusan kali ini"
"Gue bisa—" Gita menyingkirkan tangan Keke yang berusaha menahannya "Gue bisa ngasih tahu apa yang terjadi sama lo sebenarnya Al. Gue bisa ngasih tahu apa alasan kalian bercerai. Lo bisa terluka lagi Al. Kalian—"
Ucapan Gita terhenti saat Alea meraih satu tangannya sambil menggelengkan kepala "Gue bakal berusaha untuk ingat semuanya sendiri Git. Sekali pun butuh bantuan biar mas Arsen yang bantu gue. Gue ingin dengar semuanya dari mulut dia. Gue ingin mas Arsen jujur sepenuhnya sama gue. Karena kalau mas Arsen yang jujur sama gue. Gue rasa gue bisa nahan semuanya. Bukan atas bantuan lo, Keke atau mas Kenzo. Tapi atas kesadaran mas Arsen sendiri. Gue cuman butuh kejujuran dia"
"Jangan nangis. Ada kasus pertumbuhan janin nggak sempurna karena mamahnya terlalu stress" Keke turun dari sofa dan memeluk kedua sahabatnya itu.
°°°
"Coklat manis untuk wanita yang manis"
Antara geli dan jijik mendengar gombalan aneh Arsen, Alea berakhir dengan memilih tertawa garing karena tak memiliki respon apapun akan gombalan itu. Arsen tak pernah menggodanya sebelumnya, maka mendengar gombalan Arsen barusan bukannya membuat Alea tersipu malu, tapi membuat Alea tak tahu respon apa yang harus ditunjukkan.
Menerima secangkir coklat panas dari tangan Arsen, Alea menggeser duduknya memberikan tempat untum Arsen duduk.
Sudah sejak pagi mereka kembali ke rumah Jakarta, dan Alea merindukan duduk di kursi halaman belakang sambil menatap kolam ikan yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Di samping kolam masih ada tanah kosong yang bisa Alea gunakan untuk berkebun, menanam berbagai macam bunga di sana atau mungkin beberapa jenis sayuran disisi tanah yang kosong. Dulu dia tidak bisa melakukannya karena sibuk kuliah ditambah banyaknya masalah yang datang, namun setelah ini Alea benar-benar mewujudkan keinginannya. Lagi pula, setelah mereka menikah, Alea juga tak akan punya kegiatan apapun selain menjadi ibu rumah tangga.
__ADS_1
"Ngeliatian apa?" tanya Arsen
"Itu" Alea menunjuk sisi tanah kosong samping kolam ikan "Aku boleh tanam bunga di sana kan mas?"
Arsen menganggukkan kepalanya "Boleh. Asal harus istirahat kalau capai, atau kalau cuacanya terik banget"
Alea mengangguk senang. Untuk menyiapkan acara pernikahan, mereka memang kembali ke rumah di Jakarta tadi pagi dengan mengajak bi Ina ikut bersama mereka. Ayah dan bunda akan menyusul nanti sore dan akan tinggal bersama sampai acara pernikahan diselenggarakan.
"Aku pengin tanam bungan di sana. Terus nanti kalau punya anak. Aku juga mau ngajak anak kita berkebun bersama, terutama anak perempuan. Kalau anak laki-laki biar ikut sama kamu belajar ngoding" membayangkannya saja membuat Alea merasa bahagia.
"Dek"
Alea menoleh. Tatapannya seketika seolah terkunci oleh kedua mata Arsen yang menatapnya balik.
"Kemungkinan Wira dan Dira juga akan datang. Kamu nggak keberatan kan?"
Sebuah senyuman Alea tunjukan ke Arsen. Tangannya mengusap kening Arsen yang berkerut "Aku paling nggak suka lihat dahi kamu berkerut begitu. Kasihan kulit di dahi kamu ini. Gantengnya jadi berkurang"
Ah. Bercandanya sepertinya nggak mempan untuk Arsen karena laki-laki itu masih menatapnya dengan tatapan yang sama.
Alea menghela menghembuskan napasnya pelan "Aku nggak masalah mas. Dia sepupu kamu, tentu harus diundang kan?"
"Aku mau jujur sama kamu. Kamu nanya apa alasan Dira dan Wira nikahkan?"
Jantung Alea kini berdetak kencang. Ia memang ingin Arsen jujur padanya, tapi entah kenapa hatinya malah terasa sakit seolah belum siap untuk mendengar penjelasan Arsen.
"Karena Dira hamil. Dan malam itu juga aku mencium kamu, tapi aku malah—" Arsen merubah posisinya menjadi berlutut di depan Alea.
Alea mencengkram tangan Arsen erat. Ia seolah tahu kalimat apa yang akan dikatakan Arsen selanjutnya. Yang pada kenyataannya membuat hari nya seolah kembali teriris perlahan.
"Dek maaf. Dek, dek aku—"
__ADS_1
"Nyebut nama Dira padahal aku yang lagi kamu cium kan mas?" kalimat itu keluar dari mulut Alea.
Alea ingin Arsen jujur, tapi Alea juga yang tak tahan dengan rasa sakitnya. Hati dan kepalanya.