
"Al, itu Diwa mau dianggurin aja di ruang tamu? Udah dari tadi loh dia nunggu lo keluar. Jangan gitu sama gebetan gue"
Bukannya menjawab ucapan Keke, Alea malah semakin asik bermain dengan dua kucing keke yang memiliki bulu-bulu yang sangat halus itu. Alea sangat menyukai kucing sejak dulu, hanya saja Marinka yang alergi terhadap bulu kucing membuat Alea meredam keinginannya untuk mempunya satu di rumah. Setelah menikah dengan mas Arsen pun, Alea tak sempat untuk minta izin merawat kucing karena pikirannya yang begitu kacau.
"Ini kucing buat gue satu ya Ke" Alea mengangkat satu anak kucing dengan bulu berwarna putih bersih dan bola mata kebiruan.
"Terserah. Yang penting itu Diwa ditemuin napa."
Alea melengos menatap ke lain arah. "Biarin aja. Suruh pulang aja sekarang. Bilang gue nggak mau ketemu sama dia"
"Tapi dia bawa makanan kesukaan lo, loh Al" Gita menunjukkan wajahnya dari balik punggung Keke, ditangan wanita itu ada satu kresek berwarna putih dengan aroma sedap yang membuat semua orang bisa langsung menebak apa isinya. Martabak spesial milik pak Mamat.
Ah. Diwa itu memang paling jago soal sogok menyogok.
"Bawa sini martabaknya"
Mata Keke yang sebelumnya memancarkan amarah karena Alea tak mau menemui Diwa sama sekali, sedikit berbinar mendengar sahabatnya itu meminta untuk mendekatkan martabak. Jika sudah menyangkut makanan, kemarahan Alea memang akan cepat turun drastis.
"Habis makan lo mau nemuin Diwa di bawah kan?"
"Tergantung" Alea merebut martabak yang hendak disingkirkan lagi oleh Keke. Buru-buru ia membukanya dan langsung menyantap makanan yang dipotong membentuk persegi panjang ini. Saat mas Arsen telfon tadi, sebenarnya Alea ingin sekali meminta untuk dibelikan martabak pak Mamat, hanya saja gengsinya terlalu besar. Alea tak akan begitu mudah memaafkan suaminya itu, sebelum mas Arsen minta maaf sungguh-sungguh sambil berlutut di depannya.
Nggak sopan sama suami? Ah. Bodo amat, sakit hatinya jauh lebih besar dibanding hal itu.
Masalah makan siang, Alea jadi ingat 2 jam yang lalu dirinya mengumpat sambil menyalakan semua kran air di kamar mandi Keke setelah melihat postingan ig mbak Dira. Isinya, dua box bekal makan siang dengan caption yang membuat emosi Alea meningkat dua kali lipat. 'Box untuk seseorang'yang spesial. Dan ajaibnya saking kesalnya Alea mengetuk-mengetuk ponselnya yang malah tak sengaja memberikan like pada postingan mbak Dira.
Bekalnya saya yang makan bu.
Satu pesan singkat dari Kenzo yang ia terima 5 menit setelah musibah memberikan like pada akun mbak Dira. Mungkin mas Kenzo melihat dirinya memberikan like pada postingan mbak Dira.
__ADS_1
Yang jelas. Mas Kenzo jauh lebih peka daripada mas Arsen.
"Lo beneran nggak mau nemuin Diwa? Udah mau malem Al. Ya kali itu bocah nginep di sini" Keke mendengus sebal menatap sahabatnya ini. Entah ada masalah apa diantara keduanya, namun yang pasti hal ini jelas menyangkut pak Arsen karena Diwa adalah sepupu laki-laki itu. Atau jangan-jangan kedatangan Alea ke sini juga karena bertengkar dengan pak Arsen? Buktinya mata Alea sudah sembab semenjak datang tadi pagi.
"Biarin aja. Suruh pulang aja kalau nggak. Gue bete sama dia" Alea mencomot satu martabak dan mulai mengunyahnya.
"Dih. Bete sama orangnya, tapi nggak bete sama makanan yang dibawa" celetuk Gita.
"Mubadzir kalau dibuang" biarkan saja, biarkan Diwa tahu jika dirinya benar-benar marah karena telah di bohongi oleh laki-laki itu. Bisa-bisanya selama ini Diwa tak mengatakan apapun setiap kali ditanya, dan malah terus berbohong. Biar kapok.
Gita yang sebenarnya penasaran sejak tadi, memilih untuk langsung duduk bersila di depan Alea "Tunggu, lo kayanya lagi marahan juga sama pak Arsen ya. Marah sama pak Arsen dan juga marah sama Diwa. Jangan bilang Diwa jadi orang ketiga diantara kalian?"
Uhuk. Uhuk.
Alea sukses dibuat tersedak oleh kalimat Gita barusan. Bisa-bisanya bocah gendeng ini malah berpikir sejauh itu. Lagi pula, jika Diwa yang menjadi orang ketiga, harusnya Arsen yang marah, bukan Alea. Jika Alea yang marah dan tebakan Gita benar, itu berarti ada kaum pelangi diantara mereka.
"Gila. Gue yang marah sama Diwa, bukan mas Arsen. Ya kali Diwa jadi orang ketiga. Ada kaum pelangi berarti kalau begitu" Alea menonyor kepala Gita kesal. Kadang orang yang paling pintar diantara mereka itu bisa menjadi orang yang paling bodoh di suatu waktu.
Baik Alea, Gita maupun Keke, ketiganya menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Diwa yang hari ini menggunakan celana training dengan koas hitam berdiri di ambang pintu dengan tangan yang berkacak pinggang. Layaknya bos yang tengah memarahi para bawahannya.
"Gue udah nggak bisa sabar lagi. Gue butuh bicara buat jelasin ke temen lo pada ini" ucap Diwa lagi.
Alea mengerutkan dahinya dalam. Buset dah. Napa jadi situ yang marah?. Keke dan Gita langsung melipir keluar dari kamar dan langsung menuruni anak tangga setelah teriakan Keke penuh dengan peringatan.
"Ada CCTV. jadi jangan pada aneh-aneh, apalagi adu tonjok" pekik Keke.
Alea yang melihat Diwa berjalan mendekat langsung mendengus sebal. Lihat? Ekspresi bak bos Diwa barusan kini berubah menjadi ekspresi anak kucing yang meminta belah kasih dari orang lain. Raut wajah bersalah nampak jelas di wajah yang semakin lama semakin membuat Alea kesal. Meski sepupu, namun ada kemiripan antara wajah Arsen dan Diwa.
"Lo masih marah sama gue?"
__ADS_1
Tak menjawab, Alea berpura-pura seolah tak ada sosok Diwa disampingnya. Alea malah semakin asik bermain dengan kucing Keke setelah menyingkirkan martabak pemberian Diwa. Seakan tak tertarik dengan makanan yang paling ia sukai di dunia ini.
"Martabaknya enak lo Al"
"Nggak deh, nanti hidung gue panjang karena makan pemberian orang yang suka bohong"
Diwa mengelus dadanya, berusaha mengingat ucapan om dan tantenya serta mas Arsen yang meminta dirinya untuk bersabar saat menghadapi Alea. Jangan sampai dirinya salah bicara.
"Gue nggak bermaksud bohongin lo. Toh gue juga bohong Al. Gue kan minta lo nanya ke mas Arsen sendiri. Gue nggak bohong dong"
Alea berdecih tak suka "Sama aja lo kaya mas Arsen. Emang ya, kayanya gue itu hidup di dunia ini tanpa ada yang menginginkan gue ada"
"Oke. Mungkin lo udah denger hal ini dari mas Arsen, tapi gue pengin jelasin ini lagi. Tapi lo menghadap gue dulu"
Karena penasaran Alea langsung menoleh ke arah Diwa. Bisa saja kan? Penjelasan mas Arsen kemarin juga sebuah kebohongan? Mencari alasan agar dirinya tak marah.
"Mbak Dira emang kenal mas Arsen dari gue. Dia kakak teman gue Al. Kebetulan mas Arsen ingin buat rumah, maka dari itu aku ngenalin dia ke mbak Dira. Gue nggak tahu kalau ternyata mas Arsen malah jatuh cinta sama mbak Dira. Gue bahkan juga cukup kaget pas om Bagas berniat untuk melamar mbak Dira sebelum mbak Dira dimutasi ke kantor yang ada di Singapura. Ya gue sih juga nggak masalah karena gue nggak tahu kalau mbak Dira itu ternyata pacarnya mas Wira. Baru tahu pas di hari H Al"
Alea mengepalkan tangannya erat. Jadi, mas Arsen sudah jujur semalam?. Butiran air mata yang sudah mengering sejak beberapa jam yang lalu, kini kembali mengalir deras.
"Jadi maksud lo, gue beneran jadi pengganti buat mengindari keluarga besar lo malu di depan para tamu undangan?"
"Nggak gitu Al." Diwa berniat untuk memegang tangan Alea namun langsung ditampik oleh wanita itu.
"Gue udah paham sekarang Wa. Mending lo pulang sekarang" tegas Alea dengan air mata yang kembali mengalir.
Sepertinya masalah ini tak akan selesai hanya dalam hitungan hari.
...****************...
__ADS_1
***Hai. sebelumnya saya minta maaf karena udah lama ngga update. dan malah kayanya sampai hari Minggu aku nggak bakal update juga, soalnya kerjaanku lagi numpuk di real life. Biar fokus dulu sama kerjaan aku ya teman-teman. sampai jumpa minggu depan.
nunggu review dari sebelum maghribi sampai sekarang belum lolos. nggak tahu kapan lolosnya 😭