
Lemparan jas yang digunakan ke sembarang tempat hingga tak sengaja menyenggol vas bunga yang terbuat dari kaca hingga pecah berserakan di lantai, Arsen mengumpati dirinya habis-habisan. Jika dirinya ternyata selemah ini seharusnya ia tak setuju saja dulu saat bunda memintanya untuk menikahi Alea. Rasa sakit dan amarah yang membludak bercampur menjadi satu hingga Arsen membuang apa saja yang berada di atas meja.
Suara pecahan barang yang jatuh, mengundang Kenzo yang masih ada di kantor untuk masuk ke dalam ruangan. Entah apa yang terjadi pada bosnya itu, yang jelas Kenzo yakin semuanya pasti berhubungan dengan Alea. Jika seperti ini maka bukan mode sekretaris yang dibutuhkan Arsen, melainkan mode Sahabat yang bisa mengomeli sahabatnya sendiri.
"Lo tuh kerasukan apa sih Ar? Barang dibuang semua" Kenzo memunguti barang-barang yang tergeletak dilantai dan masih bisa diselamatkan. Jangan sampai laptop dengan harga puluhan juta itu terkena imbas dua kali karena kemarahan sang empunya.
"Diam lo!!"
Kenzo mendelik seketika mendapat bentakan seperti itu dari Arsen. Dengan tenaga yang ada, Kenzo menyeret Arsen agar duduk di sofa meski semuanya jelas tak ada gunannya.
"Lo bisa diem nggak sih?!!!" pekik Arsen lagi. Kali ini dirampasnya laptop di tangan Kenzo kemudian dibanting ke lantai hingga terlepas menjadi dua bagian.
"Gue tahu lo kaya. Tapi nggak barang-barang mahal begini dibantingin!!" pekik Kenzo tak kalah kerasnya. Bekerja sudah lumayan lama dengan Arsen, Kenzo tahu cara menghadapi Arsen yang tengah marah adalah dengan balik membentak.
"Dia pengin mati di depan gue. ALEA PENGIN MATI DI DEPAN GUE!!"
"Dan setelah lo denger dan liat itu. Lo malah balik ke kantor?!! GILA LO NINGGALIN ISTRI LO SENDIRIAN YANG LAGI KACAU!!!"
"DIA MAU MATI KARENA GUE NONGOL DIDEPAN DIA. LO DENGER NGGAK SIH? DIA PENGIN MATI DI DEPAN GUE. ITU BELATI HAMPIR AJA NGILANGIN NYAWA WANITA YANG GUE SAYANGI"
"Baru sadar lo ternyata setelah apa yang sudah terjadi?"
Arsen menjambak rambutnya frustasi. Bayangan Alea yang menodongkan belati dilehernya sendiri kembali berputar diingatan Arsen. Cukup untuk membuat kemarahan dan kebencian terhadap dirinya sendiri meningkat drastis. Bagaimana jika Arsen tak cepat merebut belati itu? Haruskah ia kehilangan wanita yang ia cintai untuk kedua kalinya?.
"Gue harus gimana Ken? Gue harus gimana?" satu bulir air mata kembali meluncur dari sudut matanya. Otaknya terasa buntu seketika. Arsen seakan tersesat dan tak bisa menemukan jalan sama sekali. Sehancur itu dirinya saat melihat Alea berniat untuk mengakhiri hidupnya di depan matanya sendiri.
"Tenangin diri lo dulu. Dan pikirkan jalan keluar yang baik. Bicarakan pelan-pelan sama Alea. Gue tahu kalian masih salah paham satu sama lain. Dia percaya yang Marinka ucapin, dan lo nggak berniat untuk jelasin dengan alasan kondisi Alea sedang tidak baik"
Arsen menatap ke arah Kenzo, sendu"Dia nggak percaya sama gue lagi Ken. Dia bilang sudah nggak bisa percaya lagi sama gue"
"Selagi gue cari tahu keberadaan Marinka dan kedua orang tuanya. Lo harus coba buat jelasin ke istri lo. Gue janji sama lo buat nyeret Marinka dihadapan lo secepatnya. Dan..." Kenzo meletakan secarik kertas dan alat voice recorder di atas meja Arsen "Kedua orang tuanya meninggal di rumah sakit karena ada zat yang masuk ke tubuh mereka. Dan tersangka yang paling dicurigai adalah kedua orang gua Marinka. Ini kesaksian dari salah satu perawat saat itu yang ngeliat Jordy keluar dari ruang inap. Cuman..."
__ADS_1
Ucapan Kenzo kembali terhenti, dia menimang terlebih dahulu untuk mengatakannya atau tidak. Kerutan di dahi Arsen membuat Kenzo memilih untuk mengatakannya. "Orang tua Kais nutupin kasus ini dengan memberikan uang tutup mulut buat suster itu. Bahkan suster itu diminta pindah ke luar kota dengan jaminan pekerjaan dan rumah beserta propertinya"
Arsen memejamkan matanya yang mulai memanas "Atas perintah— kakek?" anggukan kepala Kenzo membuat Arsen kembali mengumpat. Semuanya memang berputar pada sang kakek.
"Sebelum kita nyeret Marinka. Akan lebih baik kalau lo coba jelasin dulu ke Alea" saran Kenzo.
"Kalau dia nolak?"
"Jelasin lagi sampai dia setidaknya mau dengerin apa yang lo ucapin. Perihal dipercaya atau nggak, itu urusan lain lagi"
Arsen terdiam untuk sesaat. Ada benarnya juga ucapan Kenzo sekarang. Mereka sudah 5 hari tak bicara, dan sekalinya bertemu malah berakhir dengan pertengkaran. Sebenarnya awalnya Arsen juga ragu untuk menjelaskan semua ini tanpa adanya bukti. Seperti Alea yang percaya dengan ucapan Marinka, nyatanya dirinya juga langsung percaya dengan ucapan bunda dan ayah. Karena itu Arsen ragu untuk menjelaskannya. Tapi sekarang, dirinya punya bukti akurat. Hanya tinggal membuat Marinka mengaku semuanya, maka hal ini akan selesai seutuhnya.
***
Alea menatap kosong ponselnya yang kini belum juga menunjukkan tanda-tanda pesan masuk. Sudah hampir 1 jam ia mengirimkan pesan pada sepupunya itu, namun belum juga ada balasan yang ia terima.
Alea tak mempunya koneksi atau kekuatan apapun hingga dirinya bisa bergerak sendiri untuk mencari tahu semuanya. Meminta tolong pada Gita dan Keke juga tak ingin ia lakukan karena dirinya menghilang tiba-tiba. Untuk sekarang, Alea belum bisa membagi masalahnya pada siapapun. Dipastikan juga tak ada yang tahu jika dirinya ada di rumah ini selain Arsen dan bi Ina.
Meringkuk di atas kasur, Alea mengingat kembali pertengkaran mereka tadi siang. Tatapan tak berdaya, kesal dan marah baru kali ini Alea lihat dari kedua mata mas Arsen. Seolah menunjukkan kehilangan dirinya akan membuat jati diri laki-laki itu menghilang. Bukan rasa menyesal yang Alea rasakan, melainkan perasaan yang membuat dirinya tertantang melakukan hal itu lagi. Bukankah akan menjadi hukuman yang paling sempurna bagi Arsen jika dirinya mati dihadapan laki-laki itu?.
Alea tersentak saat sebuah tangan tiba-tiba menyusup dibawah lengannya dan berakhir di perut. Tubuh Alea bahkan ditarik ke belakang hingga berakhir ke dalam sebuah dekapan yang hangat dan erat. Dekapan yang ia rindukan selama ini.
Namun, amarah seakan masih tak rela untuk membuat dua insan manusia itu saling memeluk satu sama lain melepas kerinduan masing-masing. Amarah yang masih bersemayam di hati Alea, membuat gadis itu berusaha untuk melepaskan belitan tangan Arsen diperutnya. Melepaskan diri dari dekapan sang suami yang malah terasa semakin erat setiap kali dirinya berusaha untuk melepaskan diri.
"Tetap seperti ini Al. Aku mohon"
"Lepasin mas. Jangan temui aku sampai aku tahu semua kebenaran yang ada"
"Aku bisa menjelaskan semuanya"
"Aku nggak butuh penjelasan dari kamu" semakin Alea berusaha melepaskan diri, semakin erat pula dekapan Arsen terhadapnya. Bahkan laki-laki ini sudah mengunci kakinya hingga Alea tak bisa bergerak sama sekali. Lalu, sebuah kecupan di leher belakangnya, mampu membawa hawa dingin ke seluruh tubuh.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena membentak kamu tadi"
Air mata Alea kembali menetes. Gita dan Keke mungkin bisa pingsan melihat kedua matanya yang bengkak ini.
"Jangan pernah lakuin itu lagi di depan mas, Al. Jangan pernah, mas mohon"
Alea tak menjawab, ia hanya mendengarkan setiap kalimat mas Arsen yang kini tampak berbisik ditelinga.
"Bener kata Marinka, kalau malam Itu..."
Alea merasakan hembusan napas frustasi dari mas Arsen.
"Keluarga mas yang menabrak kalian"
Detik itu juga, tubuh Alea bergetar hebat. Tangisnya kembali pecah, lalu tubuhnya dibalik oleh Mas Arsen hingga posisinya menghadap laki-laki ini dan menangis di dada mas Arsen.
"Mas minta maaf untuk itu Al. Mas benar-benar minta maaf."
"Mas akui itu salah. Mas sudah konfirmasi semuanya. Dan yang menyetir malam itu adalah kakek"
Bukan hanya Alea saja yang menangis, Arsen juga ikut menangis. Menyebut nama kakek, seolah ada batu besar yang menghantam dadanya seketika. Mendengar tangis pilu dari Alea, kembali menggores hatinya perlahan. Seburuk itu memang perlakukan keluarganya terhadap keluarga Alea. Dan malah dengan sadar Arsen menambah kembali dosa pada Alea karena memperlakukannya buruk selama mereka menikah.
"Mas tahu ini akan terdengar seperti alibi buat kamu. Tapi percayalah Al. Kakek tak meninggalkan orang tua kamu begitu saja. Memang tak ada berita apapun tentang kejadian malam itu adalah karena kakek yang langsung mengurusi media. Langsung meng-take down pemberitaan apapun yang membuat citra Yudhistira memburuk. Tapi Kakek tak benar-benar meninggalkan kalian"
Arsen mendekap Alea semakin erat saat dirasakan cengkraman tangan istrinya terhadap kemeja bagian depan yang ia kenakan begitu erat. Mungkin jika masih memiliki tenaga, Alea pasti akan mencengkram kerah bajunya lalu menamparnya.
"Mas minta maaf dek. Mas minta maaf atas nama kakek. Kakek bertanggung jawab dengan orang tua kamu di rumah sakit. Dan saat ayah kamu sempat sadar, mereka—"
"Cu.. Cukup mas"
Suara Alea yang lirih sontak membuat ucapan Arsen terhenti. Istrinya pintar, Alea mungkin sudah bisa menebak apa lagi yang ingin ia katakan.
__ADS_1
"Aku ngantuk mas. Aku ingin tidur dipeluk kan kamu terakhir kalinya malam ini, sebelum besok aku ingin mengurus berkas perceraian kita"
Arsen tak menjawab. Dia mengeratkan pelukannya pada Alea. Hanya separuh kisah yang baru ia jelaskan. Tak ada perpisahan sebelum dirinya menceritakan semuanya. Arsen janji itu.