
Tak seperti permen nano-nano yang memiliki beragam rasa saat dimakan, atau opera cake yang memiliki perpaduan rasa kopi dan coklat yang sempurna atau lagi macaron yang memiliki warna pastel yang cantik hingga sayang rasanya untuk dimakan, kehidupan Alea bagaikan kopi robusta yang diracik menjadi espresso atau double espresso yang tidak dicampur oleh gula maupun madu sedikitpun. Pahit. Amat pahit.
Seperti sekarang mungkin, entah skenario apa yang sudah tertulis dalam hidupnya, Alea berdiri tegap dengan tangan mengepal erat saat sosok pria tua dari keluarga Yudhistira yang paling ia hormati sekarang ini. Berlutut di depannya seorang diri yang membuat mata Alea membulat seketika.
Bi Ina sudah mencoba memintanya untuk bangun, tapi kakek tetap tak bergeming sama sekali. Berlutut didepan Alea dengan keadaan yang sama kacaunya seperti Arsen kemarin. Rambut putihnya, baju hitamnya, dan raut wajah lelah penuh dengan penyesalan menggeraikan tangan Alea untuk memapah kakek dan membawanya untuk duduk di sofa ruang tamu.
Mau bagaimanapun, mau sebenci apa dirinya akan perlakuan mereka dulu, Alea tetap menerapkan sopan santunnya untuk tak membuat seorang pria yang jauh lebih tua darinya berlutut seperti itu.
Benang merah dari semua yang terjadi sudah mulai Alea temukan. Berbagai pertanyaan yang datang mulai terjawab satu per satu. Kakek menabrak mobil ayah dengan Kais yang ada di dalam. Kakek men-take of semua berita yang ada waktu itu, kakek membawa mereka ke rumah sakit, dan kakek membuat perjanjian di sana. Itu yang harus Alea ketahui sekarang, perjanjian sialan seperti apa yang membuat ayah dan bunda menyetujuinya. Perjanjian keparat seperti apa yang membuat hidup Alea bagaikan di neraka. Selangkah keluar dari kobaran api itu karena menikah dengan Arsen, dirinya malah merasa seperti kembali ditarik di nyala api yang jauh lebih besar dan menakutkan.
Alea tak bicara apapun. Ia hanya mencengkram erat rok yang digunakan dengan amarah yang sebisa mungkin ia tahan. Alea ingin tahu perjanjian apa itu.
"Maaf nak"
Mata Alea memejam disertai dengan air mata yang kembali lolos di sudut mata. Tangannya beralih menggenggam erat tangan Keke yang duduk di sampingnya. Maaf? Berapa kali ia harus mendengar kata Itu?. Apakah dengan kata itu waktu akan kembali berputar? Orang tuanya akan kembali hidup?.
"Maafkan kakek nak. Ini semua memang salah kakek"
Dilihat dari kakek yang datang sendirian tanpa ada sopir atau cucunya, Alea tahu bahwa kedatangannya kali ini membawa permintaan dengan tulus ikut serta di dalamnya. Alea tak tahu pasti harus bagaimana sekarang. Memaafkan? Jelas tak akan semudah membalikkan telapak tangan.
"Kakek tahu ini akan terlihat sebagai alasan belaka. Tapi kakek rasa kamu juga harus tahu alasannya. Semua yang terjadi hari ini seakan sudah diprediksi oleh ayahmu. Jadi beliau menitipkan ini untuk jaga-jaga"
Alea hanya menatap nanar amplop berwarna coklat yang diletakan kakek di atas meja. Rasa takutnya jauh lebih besar dari rasa penasaran. Alea takut apa yang ada di sana hanya akan kembali meremukkan hatinya lagi.
"Kakek minta maaf atas semua hal yang kakek lakukan ke kamu. Kakek-"
"Kenapa harus aku?" potong Alea, dari amplop di atas meja, tatapannya kini beralih menatap ke arah kakek "Kenapa harus Alea kek? Kenapa harus Alea yang ditarik untuk mengenal keluarga ini?!!! Kalau aku nggak dipaksa menikah sama mas Arsen, aku nggak bakal tahu hal ini, semuanya makam terkubur rapat sesuai keinginan kakek!!!"
Keke yang duduk disebelahnya, menepuk punggung Alea pelan sambil membisikan kata-kata agar dirinya menahan sedikit emosinya. Semuanya benar-benar tak bisa ia kontrol. Semuanya kacau. Semuanya rasanya tak berarti bagi Alea. Hidupnya, deru napasnya, semuanya benar-benar tak berarti dan begitu menyesakkan.
__ADS_1
"Maafin Kakek Nak. Kakek benar-benar minta maaf"
Kali ini Alea tak bergeming sedikitpun saat kakek kembali berlutut di depannya. Air matanya sudah mengalir deras sekarang. Entah sudah keberapa kali ia menangis, karena hanya itu yang bisa Alea lakukan sekarang.
"Al. Kakek"
Suara yang begitu ia rindukan namun juga begitu ia benci akhir-akhir ini kembali terdengar. Mas Arsen berdiri diambang pintu lalu berjalan kemudian membantu kakek untuk kembali duduk di sofa.
Alea merasa mual seketika. Muak dan mual melihat dua pria yang didepannya ini.
"Apa-apaan kamu ini dek. Sebenci apapun tak seharusnya kamu biarin kakek berlutut begitu didepan kamu!!!"
Hanya sebuah senyuman tipis yang Alea tunjukan disela-sela air matanya yang kembali mengalir. Alea mendongak perlahan dan menatap kedua mata Arsen yang kini berdiri di depannya.
"Bagus kamu datang mas. Kamu bisa antar kakek pulang dan jangan kembali lagi ke sini" mengambil amplop coklat yang ada di atas meja. Alea langsung bangun dan berjalan masuk ke kamar meninggalkan Arsen dan Kakek yang termangu di ruang tamu. Tatapan penuh kebencian Alea yang kemarin Arsen lihat, kini terlihat semakin menakutkan, seolah menunjukkan jika kadar kebencian Alea selalu bertambah setiap detiknya.
Sambil menuntun kakeknya keluar dari rumah, Arsen tidak lupa menyampaikan pesan ke bi Ina jika ia akan kembali lagi nanti malam. Saat semua kondisi di rumahnya sedikit membaik. Apa yang dilakukan oleh kakek hari ini jelas bukan hanya sekedar permintaan maaf semata. Kakek adalah orang yang mengunjungi tinggi sikap sosialnya, sekali memiliki masalah sosial untuk kedua kalinya, Kakek jelas akan menyelesaikannya hingga akar. Mungkin akan ada drama dimana pengacara keluarga dikumpulkan di kantor polisi.
Mas sayang sama kamu dek.
Ucapan Arsen semalam bahkan masih berputar begitu manis dan indah di kepalanya sekarang. Baru kali ini Alea merasa di cintai oleh seseorang, baru kali ino Alea memiliki keluarga besar yang menerimanya dengan tangan terbuka, baru kali ini ia merasakan kehangatan dekapan orang lain sebelum tidur. Lalu semuanya menguap begitu saja, menghilang begitu saja dengan kebencian yang semakin menggunung.
Suara ketukan pintu dari luar diiringi suara Keke dan Gita yang memohon, tak membual Alea bangkit dari posisinya untuk membukakan pintu. Berjalan pelan menuju meja kecil yang berada di dekat ranjang, Alea mulai membuka amplop coklat itu. Tak banyak benda yang ada di sana, hanya sebuah surat serta buku rekening yang memiliki angka fantastis. Dengan tangan yang gemetar, Alea mulai membaca setiap kata yang pasti akan semakin melukainya.
Hai putri ayah. Bidadari kecil ayah. Kesayangan ayah, cinta kedua ayah setelah ayah jatuh cinta sama bunda kamu. Gimana kabarnya nak?
Tangis Alea semakin pecah. Keke dan Gita kembali menggedor pintu setelah mendengar tangisan Alea yang begitu menyayat hati.
Kalau kamu sampai baca surat ini berarti keadaan kamu lagi nggak membaik ya nak? Kalau kamu baca surat ini pasti kamu punya masalah sama keluarga Yudhistira ya nak?
__ADS_1
Jangan nangis putri ayah. Ayah harap saat kamu baca pesan ini, ada laki-laki yang menjadi pacar kamu di samping kamu sekarang. Memeluk putri ayah erat seperti ayah peluk kamu. Karena ayah tahu kalimat dan fakta yang akan ayah ceritakan pasti berat buat kamu.
Bilang sama pacar kamu nak. Ayah bakal patahin kaki dia diakhirat nanti kalau dia nggak peluk kamu sekarang.
Alea memeluk dirinya sendiri. Tak ada pacar, tak ada suami, dan tak ada mas Arsen.
Maafin bunda sama ayah ya nak. Ayah mau cerita sesuatu sama kamu. Tapi kamu janji jangan marah sama bunda dan ayah ya. Karena ini satu-satunya yang bisa kami lakukan buat kamu.
Ayah buat perjanjian sama pak Sam Yudhistira. Saat ayah sadar, dia datang ke kamar ayah nak. Ayah tanya dimana kamu, dan dia jawab kalau kamu baik-baik aja. Kamu tinggal di rumah om Gery.
Pak Sam minta maaf sama ayah, dia berlutut sama ayah, dia bilang nggak sengaja saat nabrak mobil kita. Dia pakai kursi roda tapi memaksakan diri sampai berlutut didepan ayah.
Kamu tahu nak, apa ayah pikirin waktu itu? Bukan kemarahan pada Sam, ayah nggak punya waktu untuk mikirin hal itu. Tapi ayah langsung mikirin kamu. Kamu akan menderita kalau tinggal sama Gery tanpa ada yang mengawasi kamu.
"Ayah.." tangis Alea semakin menjadi.
Sam berkata dia bisa memberikan apapun asal ayah nggak bawa masalah ini ke hukum. Ayah tahu ayah munafik saat itu. Tapi ayah merasa ajal ayah sudah mendekat. Ayah buat kesepakatan dengan Sam.
Ayah dan bunda akan membiarkan semua yang terjadi asal dia bisa memastikan kamu baik-baik saja. Dia bisa mencukupi kehidupan kamu, dia bisa memastikan kamu bisa kuliah dan dapat kerjaan yang layak nanti. Dia bersedia untuk menjadi donatur di panti asuhan yang bunda kamu bangun. Karena kenyataannya bisnis ayah juga tidak berjalan lancar saat itu.
Ayah tahu ayah egois waktu itu, ayah tak memikirkan posisi kamu. Tapi, napas ayah sudah mulai berat nak. Tak ada gunanya jika ayah tak membuat perjanjian itu dengan Sam. Dan nyatanya bunda juga menyetujuinya.
Kami baik disini nak. Ayah bunda akan selalu mengawasi kamu dari atas. Tapi satu yang harus kamu ingat nak. Semua ini, kerja sama ini, ayah dan bunda buat dalam keadaan sadar. Bahkan kami tanda tangan di atas materai. Jadi jangan terlalu terluka ya nak. Kamu bisa kuliah di luar negeri seperti yang kamu inginkan dari dulu.
Ayah dan bunda sayang kamu.
Tubuh Alea lemas seketika. Tangisnya semakin pecah bersamaan dengan pintu yang didobrak dari luar, Keke dan Gita langsung berlari dan memeluknya erat, sedangkan Diwa dan Saga tampak berdiri didepan pintu yang rusak dengan deru napas cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Satu bab lagi. jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini. dan ini cerita baru aku ya. udah netes 2 bab.