
"Aduh, yang pengantin baru, romantis bener"
Alea mendelik ke arah Diwa yang baru saja bicara. Entah terbang atau punya pintu doraemon atau mungkin Diwa sebenarnya adalah jelmaan iblis, laki-laki itu tiba-tiba sudah berada di rumah ini. Ingin sekali Alea menempeleng kepala Diwa agar tak menggodanya sekarang. Tapi urung dilakukan ketika genggaman tangan Arsen mengerat bersamaan dengan dirinya yang ikut ditarik ke ruang tengah.
Begitu sampai ke ruang tengah, puluhan pasang mata kini tertuju ke arahnya. Beberapa Alea kenal dan pernah melihatnya, namun beberapa sisanya terasa asing bagi Alea. Mungkin itu adalah sanak saudara Arsen yang tak sempat datang di acara pernikahan.
Alea tersenyum dan menyalami tangan Amel yang berdiri di depannya "Assalamualaikum bun, sehat bunda?" tanya Alea ramah.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah sehat" jawab Amel sambil tersenyum. Pandangan wanita itu kini tertuju pada Arsen "Noh mas, begini caranya. Ketemu orang tua dan saudara itu bukan hanya salim, tapi tanya keadaannya juga"
Hanya sebuah senyuman tipis yang Alea lihat dari reaksi Arsen sekarang. Suaminya ini memang benar-benar sangat dingin dan amat tak ramah. Arsen mencium tangan bunda sambil melirik segerombolan para muda-mudi yang berkumpul di sisi tengah ruang ini.
"Ada Wira mas. Kumpul sana gih, Alea biar ikut sama bunda" ucap bunda.
"Nanti ya bun. Mas naik dulu ke atas, taruh tas baju" jawab Arsen.
Alea hanya diam sambil menatap punggung Arsen yang bergerak menjauh. Beberapa sepupunya menyapa laki-laki itu dengan ramah, Arsen menjawabnya dengan lambaian tangan tak kalah ramahnya. Namun, dalam pandangan awam seperti Alea pun, tampak sangat jelas jika sikap Arsen dan Wira nampak canggung satu sama lain, menunjukan dengan jelas jika hubungan keduanya memang nampak tak baik-baik saja.
"Wira, sini. Kenalan sama Alea, dia istrinya Arsen"
Pandangan Alea yang sebelumnya menatap ke arah Arsen kini beralih ke sosok pria tinggi semampai dengan wajah orientalnya yang berjalan mendekat. Wajah tampan dan kulit bersihnya cukup untuk membuat jiwa-jiwa mendamba pria ganteng milik Gita meronta-ronta jika melihatnya. Senyuman dengan lesung pipi di kedua sisi membuat Alea ikut tersenyum tanpa sadar. Meski sebenarnya lebih tampan Arsen, Wira memiliki pesona yang berbeda.
"Wira. Maaf ya, gue nggak datang di pernikahan kalian"
Dan lebih santai juga gaul ketimbang mas Arsen.
"Alea. Nggak apa-apa mas. Semoga kerjaannya lancar ya mas" balas Alea.
"Amiin. Sebentar lagi bakal terus menetap di indo, jadi kita bisa sering ketemu"
Alea tersenyum ramah. Ketimbang Arsen, sifat Wira juga sepertinya jauh lebih santai dari pada sepupunya itu. Alea bahkan merasa bisa lebih cepat dekat dengan Wira karena cara bicara laki-laki itu yang tanpa beban. Lumayan ada satu lagi anggota keluarga suaminya yang bisa diajak untuk mengobrol selain dengan Diwa.
__ADS_1
***
Selesai makan malam yang diisi pembahasan mengenai acara besok, Alea memutuskan untuk kembali ke kamar setelah bunda Amel memaksanya untuk pergi beristirahat. Sebenarnya sejak selesai menunaikan sholat isya tadi, Alea juga ingin sekali merebahkan tubuhnya di atas kasur, hanya saja Alea menahannya sebisa mungkin karena Arsen pasti ada di dalam kamar.
Kebodohan hakiki Alea adalah karena dirinya lupa jika mereka pasti akan berada di dalam satu kamar yang sama. Nggak mungkin kan Alea minta kamar lain padahal semua anggota keluarga suaminya ada di sini?.
Berdiri di depan pintu kamar, Alea akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu itu tiga kali, lalu masuk saat terdengar suara Arsen dari dalam. Pandangan mereka langsung bertemu begitu Alea membalikan badannya setelah menutup pintu kamar.
Tak seperti dirinya yang sudah amat gugup, suaminya itu terkesan santai sambil bersandar di kepala ranjang. Tangannya memegang i-pad yang sepertinya tengah memutar sebuah film Jepang. Mungkin Arsen adalah salah satu wibu dari puluhan wibu yang Alea kenal.
"Kalau mau masuk kamar nggak usah ketuk pintu lagi Al. Nanti bunda curiga" ucap Arsen tanpa mengalihkan pandanganya dari i-pad.
Alea hanya menjawabnya dengan deheman. Jika menjawabnya dengan kata-kata, Alea takut suaranya akan terdengar bergetar saking gugupnya. Detak jantungnya bahkan sudah secepat pesawat tempur sekarang.
"Selama di sini, kita akan satu kamar. Kamu nggak keberatan kan?"
Keberatan. Serius sangat keberatan. Bisa-bisa jantungnya meledak "Nggak" jawab Alea lirih.
"Aku juga nggak keberatan" ucap Arsen. Kali ini kepalanya mendongak menatap Alea.
Alea nyaris terpaku di depan pintu. Arsen yang malam ini mengenakan kaos dengan celana pendek selutut itu lengkap dengan kacamata yang bertengger di hidung, terlihat makin tampan, benar-benar menambah kadar ketampanan laki-laki itu. Bisa pingsan kedua sahabatnya itu jika tahu Alea menikahi sosok pria setampan Arsen.
"Jangan berdiri aja di situ. Mandi terus tidur"
Mandi terus tidur? Tidur dimana kalau situ udah nangkring di atas kasur. Ingin sekali Alea mengatakan hal itu sekarang. Tapi nyatanya hanya anggukan kepala yang muncul sebagai jawaban.
Mengambil handuk dan ponsel, Alea segera berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar mandi saat Arsen kembali bicara. Kepalanya menoleh ke arah Arsen yang bicara masih dalam posisi tak menoleh ke arahnya.
"Aku nggak bawa sabun kamu dari rumah. Cuman ada sabun aku. Kamu bisa pakai itu, dan kalau butuh sikat gigi, ada sikat gigi baru di lemari atas gantungan handuk"
"Iya" jawab Alea lalu segara masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Sungguh, malam ini Alea sepertinya tak akan bisa tidur sama sekali. Gugup dan kesal bersamaan karena hanya dirinya saja yang terlihat salah tingkah di sini.
__ADS_1
Sebenarnya hanya butuh waktu 30 menit bagi Alea untuk berendam dan membersihkan tubuhnya. Namun sudah 1 jam berlalu, Alea masih enggan untuk keluar dari kamar mandi. Banyak hal yang ia pikirkan sekarang, bagaimana jika malam ini karena terbawa suasana, Arsen tiba-tiba meminta hak nya sebagai seorang suami?, Alea masih belum siap memberikan kesuciannya untuk seorang laki-laki. Tapi kata Keke yang sangat amat paham dengan agama, seorang istri akan dilaknat oleh malaikat hingga pagi jika menolak melayani suaminya di ranjang. Kepala Alea rasanya benar-benar hampir meledak sekarang.
Di satu sisi belum siap menjadi milik Arsen sepenuhnya, namun di sisi lain takut dilaknat oleh malaikat hingga pagi menjelang.
Memutuskan untuk tak keluar dari kamar mandi, Alea meraih ponselnya di nakas saat panggilan video group masuk ke dalam ponselnya. Suara menggelegar Gita terdengar begitu Alea menggeser tombol hijau.
"Yak! Lo dari hutan ya? Kenapa pesan gue nggak di read-read!!"
"Assalamualaikum Gita" koreksi Keke.
Alea tersenyum bersalah. Sejak di jemput oleh Kenzo, Alea memang tak membuka ponselnya sama sekali. Selain menghindar, setelah sampai rumah mertuanya, dirinya tak punya waktu untuk membuka ponsel. Banyak sekali anggota keluarga besar suaminya ini. "Sorry. Di tas hp nya"
"Dimana lo?" tanya Gita.
Alea menunjukan bathtub yang kini sudah tak berisi air sama sekali "Kamar mandi"
"Buset jam segini. Berasa kaya pengantin baru lo yang mau belah duren" jawab Gita.
"Astagfirullah itu mulut Gita" tambah Keke.
Alea yang mendengar ucapan Gita nyaris tersedak dengan air liurnya sendiri. Ucapan Gita itu memang tak ada filternya sama sekali.
Suara derap langkah yang mendekat dari arah luar, membuat Alea terdiam seketika. Telinganya ia pasang baik-baik guna mendengar ke arah mana derap langkah itu. Begitu Alea yakin jika arahnya adalah kamar mandi, buru-buru Alea mematikan sambungan telfon di ponselnya. Jangan sampai dirinya ketahuan tengah menghindari Arsen sekarang.
Bisa Jatuh harga dirinya di depan suaminya itu.
Pelan-pelan mencabut kunci dari pintu, Alea langsung pura-pura tidur saat terdengar ketukan dari luar. Alea yakin sebentar lagi suaminya akan menerobos masuk jika dirinya tak kunjung membuka pintu.
Sudah hampir 1 jam di kamar mandi, Arsen masih belum tidur juga, maka dirinya yang akan pura-pura ketiduran agar selamat malam ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
tingkah lo ada-ada aja sih