Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 38 : Chat Penuh Kesabaran


__ADS_3

"Jadi, gimana kabar kamu dek?"


Alea tersenyum ke arah mas Azir. Azir atau yang memiliki nama Azriel Mahendra adalah salah satu orang yang membuat Alea bisa mengenal Keke dan Gita. Mungkin jika diingat-ingat Azriel juga sosok laki-laki pertama yang Alea kenal. Mereka bertemu saat berada di pemakaman, dari dari banyaknya orang yang ada di sana, hanya mas Azriel dan mbak Marinka yang bersedia menemani Alea di pemakaman hingga sore menjelang.


Pertemuan mereka terakhir kali adalah ketika mas Azriel pindah ke Jakarta karena kerjaan. Siapa yang menyangka jika mereka akan dipertemukan kembali lagi. Bertemu dengan sosok pria uang dulu sempat bersinggah di hati adalah sesuatu hal yang lucu bagi Alea. Karena dengan pertemuan ini Alea malah dibuat kembali mengingat masa-masa cinta monyetnya dulu. Andai saja mas Arsen tak berhasil singgah di hatinya sekarang, Alea mungkin akan berkelana mencari keberadaan mas Azri.


"Baik. Mas gimana?" Alea menoleh ke arah mbak Indri—istri mas Rendra dengan bayi mungil yang ada di gendongannya. Duduk di antara Rendra dan Keke.


"Baik juga. Ngga nyangka bakal ketemu kamu lagi"


"Sama"


"Ehemm" suara deheman Gita terdengar. Gadis yang punya prinsip 'cowok ganteng yang jomblo bin tajir adalah milik gue' mengulurkan tangannya ke arah mas Azri.


Rendi dan mbak Indri geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil sedangkan Keke melayangkan satu pukulan di punggung Gita.


"Mas nggak tanya kabar aku gimana? Atau tanya kenapa aku bisa makin cantik?" tak peduli dengan rasa sakit karena pukulan Keke, Gita mengajukan pertanyaan itu sambil mengeringkan satu matanya. Keke dan Alea menyebutnya sebagai gejala awal struk.


Mengenal baik sifat Gita, Azri tersenyum lalu menjabat tangan Gita yang terulur. Pekikan girang jelas langsung terdengar dari wanita yang sepertinya ingin ikut lomba siapa yang paling nyaring dengan ikan lumba-lumba.


"Buset dah. Itu ultrasoniknya keluar. Pecah gendang telinga gue" sewot Alea sambil mengusap telinganya kiri.


"Idih iri" Gita beralih ke mas Azri "Jadi, gimana mas? Mau tanya gimana kabar aku, atau tanya kesiapan aku? Kesiapan jadi istri mas maksudnya"


"Ngimpi terusssss" timpal mas Rendi yang langsung mendapat satu cubitan kecil di pinggang dari mbak Indri.


Azri tertawa, tingkah Gita memang kadang ada-ada saja. "Mas tanya yang pertama aja. Gimana kabar kamu Git?"


"Uhuyyy. Baik mas. Pertanyaan kedua nggak ditanyain?"


"Mau mas tanyain. Tapi kayanya mas nanyanya ke Alea aja" Azir beralih ke arah Alea "Jadi, gimana Al jawaban ya?"


Alea yang tengah tertawa mengerutkan dahinya bingung "Ya? Gimana? Jawaban untuk apa?"


"Wis gagal mas. Aja ngarep" bersama dengan Gita, Keke menepuk pundak Azir bersamaan. Awalanya mengajak Alea ke rumah juga karena Keke ingin mempertemukan Azir dengan Alea kembali. Tapi nyatanya, yang cowok masih jomblo, tapi wanitanya sudah punya sang pawang. Sah secara agama dan negera lagi.


"Kamu habis nangis Al? Kok matanya sembab?"


Cengiran kikuk langsung Alea tunjukan pada Mas Azir, pandangannya langsung tertuju ke arah Gita dan Keke, berharap jika keduanya paham dengan sinyal yang diberikan agar tetap tutup mulut. Masalahnya bukan hanya mas Azir saja yang nampak penasaran karena melihat wajah sembab miliknya. Mas Ridwan bahkan langsung memutar tubuh Alea paksa untuk menghadap ke arah laki-laki itu. Mbak Indri menyentuh wajah Alea dengan tatapan yang tak kalah penasaran juga.


Sungguh, jangan sampai identitas Alea yang sudah menikah juga diketahui oleh tiga orang ini. Gita dan Keke saja masih belum kelar masalahnya.


Menyentuh tangan mbak Indri yang masih menangkup wajahnya, Alea tersenyum lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa mbak"


"Kenapa? Cerita aja Al"


Ah, mas Azir itu memang benar-benar berbeda. Alea ingat dulu mas Azir pernah marah-marah pada mantan pacar Alea karena membuat dirinya menangis. Dan setelah itu, mas Azir memintanya untuk selalu menceritakan semua hal yang menyakitkan pada laki-laki itu. Sepertinya Alea masih belum bisa mengabulkan permintaan itu.


"Nggak apa-apa mas. Nanti aja, kapan-kapan. Boleh kan?"


Kehebohan Gita meraja lela saat melihat Azir kembali mengusap puncak kepala Alea sambil menganggukkan kepalanya.


"Mas, aku mau juga di elus dong" tanpa rasa malu sama sekali, Gita mendekatkan kepalanya ke arah tangan mas Azir. Sambil tertawa, mas Azir mengelus puncak kepala Gita yang membuat wanita itu kembali heboh.


Kehadiran mas Azir di rumah ini sebenarnya karena ingin menjemput mas Ridwan untuk pergi ke bandara bersama-sama. Maka dari itu, 15 menit kemudian keduanya berpamitan dan mobil mulai meninggalkan area rumah Keke. Alea harap semoga perjalanan keduanya baik-baik saja.


***

__ADS_1


"Masuk"


Dibalik meja kerjanya, Arsen yang tengah mengetikan deretan bahasa pemograman langsung berhenti tatkala menemukan Kenzo yang berjalan masuk ke dalam ruangan miliknya.


"Tolong minta team web 1 buat kumpul di ruang rapat 30 menit dari sekarang ya Ken. Ada yang ingin saya bahas dengan mereka"


"Baik pak" Kenzo meletakan satu map coklat di atas meja Arsen. Map yang berisi informasi mengenai Dira yang nyatanya memang di mutasi ke perusahaan di Jakarta sebagai seorang GM. Dunia rumah tangga atasannya ini semakin menjadi rumit saja. Satu yang bisa Kenzo ambil dari kisah ini. Jangan pernah berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain.


Mengambil map dari Kenzo, Arsen membaca isinya dan berakhir dengan helaan napas lelahnya. Semuanya terasa begitu rumit, dan Arsen mulai merasa kehilangan sosok Alea yang biasanya selalu bermanja-manja ria dengannya. Entah sesepi apa malam ini akan ia lewati. "Dia di mutasi ke sini ternyata"


"Iya pak. Mulai kemarin" jawab Kenzo seadanya. Sedikit kasihan memang melihat ekspresi bosnya ini sekarang. Selama bekerja dengan Arsen, baru kali ini dirinya melihat Arsen tampak kacau secara mental. Kenzo bahkan tak sampai hati untuk memberikan laporan mengenai Marinka yang sampai sekarang masih belum diketahui dimana dia tinggal. Belanda bukanlah sebuah negara yang kecil.


"Menurut kamu, saya harus bagaimana Ken?" kepala Arsen mendongak menatap ke arah sekretarisnya yang kini tengah balik menatapnya sambil menghela napas lelah. Selain menjadi sekretaris, Kenzo sebenarnya adalah teman satu kampus Arsen saat kuliah dulu. Hubungan mereka bisa dibilang cukup dekat bahkan mungkin menjadi satu-satunya teman Arsen yang mengetahui lika-liku kehidupan asmaranya selama ini.


Mulai dari awal dimana Arsen menyukai sosok Dira, Dira yang ternyata pacar Wira, pernikahan gagal, bahkan hingga alasan kenapa Marinka memilih untuk kabur dan membuat Alea menjadi penggantinya. Kenzo tahu semua hal itu.


"Masukan oleh sahabat atau sekretaris?" tanya Kenzo balik.


"Sekretaris" pilih Arsen. Dari pada saat menjadi sahabat, Kenzo lebih menggunakan logikanya saat menjadi sekretaris. Jika Arsen pilih sahabat, percayalah hanya ada sumpah serapah yang di akhiri dengan kalimat-kalimat persis seperti orang yang bersedia mati hanya untuk menjadi budak cinta.


"Lepasin mbak Dira dan perjuangkan yang sudah halal pak"


Ah, jika hal itu begitu mudah dilakukan, Arsen sudah melakukannya sejak dulu. Sayangnya itu hanya mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dilakukan.


"Udah jam makan siang pak. Barangkali mau chat ibu Alea untuk menawarkan makanan?"


Arsen mendengus mendengar ucapan Kenzo barusan. Mode sahabat sedikit muncul di sana. Kebucinannya muncul seperti itu.


"Ini bukan bucin pak. Tapi hal normal yang ditanyakan suami ke istrinya" lanjut Kenzo seolah paham dengan apa yang ada dipikiran bosnya itu.


Arsen menghela napasnya. Hanya sebuah anggukkan kepala yang ia tunjukkan ke Kenzo sambil mencebik tak suka. "Kamu mau makan apa? Saya pesankan sekalian"


"Dia datang ke kantor lagi?"


"Hanya makanan saja yang dikirim online tadi. Boleh saya makan kan pak?"


Arsen menganggukkan kepalanya. Akhir-akhir ini Dira juga beberapa kali mengirimkan pesan kepadanya, hanya saja Arsen tak menjawabnya sama sekali dan hanya membacanya. Takut jika Alea mengetahui hal itu dan akan semakin menjauh darinya.


Begitu Kenzo keluar dari ruangan. Arsen langsung menyambar ponselnya dan satu pesan dari Dira masuk. Isinya seputar wanita itu yang mengirimkan makan siang untuk dirinya. Menghiraukan pesan itu, Arsen langsung menuju room chat dengan istrinya. Setidaknya harus ada usaha Arsen untuk memperbaiki keadaan yang ada.


Arsen:


Dek. Mau makan apa siang ini?


Cukup laman Arsen menunggu balasan istrinya itu. Tandanya online namun tak kunjung juga di balas, hingga 15 menit kemudian Alea baru membalasnya.


^^^Alea : ^^^


^^^Nggak tahu.^^^


Tak perlu menunggu lama, Arsen langsung menggerakkan jarinya diatas layar persegi.


Arsen :


Mau makan apa? Mas pesenin.


^^^Alea:^^^

__ADS_1


^^^Nggak usah.^^^


Arsen:


Mas pesenin juga buat temen kamu. Kebetulan mas juga belum makan.


^^^Alea:^^^


^^^Nggak perlu.^^^


Arsen:


Sea food mau? Nasi padang? Atau gacoan kesukaan kamu?


^^^Alea :^^^


^^^Nggak usah. Nggak laper.^^^


Arsen :


Emang kamu udah makan? Nanti magh kamu kambuh.


Arsen masih berusaha untuk menahan emosinya sebaik mungkin, jangan sampai dirinya ikut tersulut.


^^^Alea:^^^


^^^Udah makan. Nggak usah ribet kenapa!^^^


Arsen:


Sudah makan? Serius? Makan apa?.


^^^Alea :^^^


^^^Makan hati. Udah kenyang dari kemarin makan hati karena kamu.^^^


Arsen :


Ya ampun dek. Maaf ya.


Arsen:


Dek.


Arsen:


Dek.


Arsen:


Istriku yang cantik?.


Arsen menghela napasnya begitu melihat keterangan online berubah menjadi terakhir dilihat.


...****************...


Maaf ya kalau ada typo. nggak di edit lagi soalnya..

__ADS_1


feel ku lagi ilang banget buat cerita ini. wkwkw makanya kemarin tiba-tiba muncul Extra Part Salto Dunia Wine.


di cerita ini lagi serius, eh pengin nulis yang lucu. jadilah nggak up 2 hari di sini. 🙏


__ADS_2