
Begitu Alea masuk ke kamar mandi, Arsen kembali menonton film yang di putar. Seharusnya keberadaan Alea tak akan membuatnya gugup, degupan jantungnya kini bahkan masih berdetak normal hingga membuat Arsen masih bisa merasa tenang meski harus satu kamar dengan istri kecilnya itu. Mengganti i-pad dengan laptop, Arsen kembali mengerjakan pekerjaannya, deretan koding kini menyapanya seolah memintanya untuk kembali fokus.
Dari atas ranjang, Arsen pindah ke meja sofa sambil memboyong laptopnya juga. Cukup lama dirinya bekerja dengan musik latar suara Alea yang bernyanyi di dalam kamar mandi. Dari sofa Arsen berjalan menuju balkon dan melihat halaman rumah yang kini di sulap menjadi tempat pesta. Suara senandung nyanyian Alea dan aroma sabun yang tercium menarik Arsen ke kenyataan jika dirinya memang tak bisa lagi fokus setelah Alea masuk kamar mandi tadi. Yang tadi ia katakan hanyalah sebuah alibi semata untuk diri sendiri.
Suara ketukan pintu kamar membuat Arsen menarik napasnya salam dan menghembuskannya perlahan. Wajah gugup miliknya jelas tak boleh dilihat oleh siapapun di rumah ini. Begitu membuka pintu, Arsen menemukan bunda berdiri dengan 3 kado yang ada di tangannya.
"Yang ini kado dari tante Meta, yang ini dari om Dirga dan ini dari Wira. Yang dari tante Meta, kata Diwa khusus untuk Alea mas, tapi katanya kamu juga bakal suka"
Jika Diwa yang mengatakan hal demikian, pasti ada yang tak beres dengan isinya. Arsen mengambil kotak hadiah dari tangan bunda.
"Alea udah tidur mas?" tanya bunda.
Melihat bundanya yang mencoba melirik ke dalam kamar, Arsen membuka pintu kamar lebar-lebar hingga menunjukan kondisi kasurnya yang kosong. "Lagi mandi bun"
Amel tersenyum malu. Dia mencolek lengan putranya kemudian langsung berlalu menuruni anak tangga. Arsen yang di colek dan yang jelas paham apa maksud dari colekan barusan hanya memutar bola matanya. Keinginan bunda dan ayahnya akhir-akhir ini adalah memiliki cucu dari Arsen anak satu-satunya mereka.
Meletakan dua kotak kado di atas nakas, Arsen membawa satu kotak hadiah dari tante Meta ke atas ranjang. Diwa—sepupunya itu selalu memberi hadiah aneh setiap kali ada yang berulang tahun. Contohnya seperti memberikan kado berisi kecoa mainan super besar yang bisa bergerak ke Gea. Jelas saja Gea—sepupu perempuan satu-satunya yang mereka miliki langsung ngambek dan membuat seisi rumah geger.
Membuka tutup kotak kado, Arsen langsung menutupnya kembali begitu melihat isinya. Diwa benar-benar mengajak ribut dengannya.
Berusaha untuk menghempaskan bayangan isi dari kotak itu, Arsen kembali melanjutkan serial Jepang yang tengah ia tonton tadi. Besok dirinya akan membuat perhitungan dengan adik sepupunya itu.
Sudah sampai serial terakhir yang ia putar, belum juga ada tanda-tanda Alea akan keluar dari kamar mandi. Mau bagaimanapun malam ini mereka harus berdiskusi untuk letak tidur, jika Alea meminta untuk tidur di kasur, maka Arsen akan mengalah dan tidur di sofa. Jika istrinya itu tak keberatan jika dirinya untuk ikut tidur di kasur, mereka hanya perlu meletakan bantal guling di tengah.
Merasa aneh karena sudah hampir 2 jam Alea berada di kamar mandi namun belum juga keluar. Arsen meletakan i-padnya dan turun dari ranjang. Lagi pula sejak Alea masuk ke kamar, Arsen juga sudah tidak bisa lagi fokus dengan apa yang ia tonton. Jika istrinya itu terlalu lama mandi dan besok sakit, bisa-bisa dirinya di ceramahi oleh para orang tua di rumah ini.
__ADS_1
Berjalan ke arah kamar mandi, Arsen jelas bisa mendengar suara Alea. Bukan bernyanyi, melainkan seperti tengah mengobrol dengan orang lain. Namun, tiba-tiba suara itu tak terdengar saat Arsen tiba di depan kamar mandi.
"Al?" Arsen mengetuk pintu tiga kali. "Al? Jangan kelamaan di kamar mandi. Masuk angin"
Tak ada jawaban, Arsen mencoba untuk kembali mengetuk pintu kamar mandi "Al, masih mandi? Jawab, atau aku buka dari luar"
Arsen kembali mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada suara apapun dari dalam. Jangan sampai istrinya itu tidur di kamar mandi hanya karena satu kamar dengan dirinya.
Membuka laci meja kecil yang ada di samping pintu, Arsen mengambil satu kunci dan memasukannya ke lubang pintu. Tidak lucu jika dirinya harus kena khotbah besok pagi hanya karena Alea jatuh sakit.
Begitu pintu terbuka, Arsen menemukan Alea yang masih menggunakan bathrobe miliknya dan tertidur dengan kepala yang bersandar di closet. Dilihat dari posisi tidurnya sudah sangat jelas jika istrinya itu tengah berpura-pura tidur sekarang, terlebih layar ponsel Alea juga masih menyala.
***
Alea nyaris memekik kencang saat tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Arsen. Masalahnya adalah dirinya masih menggunakan bathrobe, Alea takut jika ada yang tersingkap dan menunjukkan kulit mulusnya. Tapi jika tak pura-pura ketiduran di kamar mandi, Arsen pasti tahu jika dirinya tengah menghindari laki-laki itu sekarang.
Degupan jantung Alea sudah tidak diragukan lagi berdetak sangat kencang. Saking kencangnya Alea sampai takut jika Arsen bisa mendengar detak jantungnya. Alea benar-benar berharap Arsen akan keluar kamar begitu menaruhnya di atas kasur.
Saat terdengar suara pintu yang tertutup, Alea membuka matanya perlahan. Sialnya, tepat saat matanya terbuka, pandangan Arsen yang tengah berdiri di samping pintu kamar mandi dengan tangan yang terlipat di depan dada menjadi hal yang Alea liat. Alea lupa jika ada kemungkinan jika suara tadi adalah suara pintu kamar mandi yang tertutup.
"Ganti baju kamu, atau mau saya yang menggantinya?"
Alea langsung duduk tegak. Demi apapun dirinya benar-benar malu sekarang. Turun dari ranjang, Alea kembali masuk ke kamar mandi, namun kali ini Arsen mengingatkannya untuk tidak lagi menghindar.
Hanya butuh waktu 10 menit, Alea kembali keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya itu tengah terduduk di sofa dengan i-pad yang ada di tangan. Alea memilih untuk duduk di tepi ranjang membelakangi suaminya itu. Tatapannya tertuju pada tiga kotak kado yang ada di atas meja rias.
__ADS_1
"Ini kado siapa mas?" Alea menoleh sedikit ke arah Arsen.
"Kado buat kamu. Dari tante Meta, om Dirga dan.... Wira" jawab Arsen. Ada sedikit rasa enggan untuk menyebutkan nama yang terakhir.
Alea mengambil kotak kado yang berada di posisi paling atas "Tante Meta... Pasti Diwa yang milih ini" dilihat dari posisi tutup kadonya yang sudah miring, ada kemungkin Arsen sudah mengintip apa isinya.
Membuka kotak kado itu, Alea sontak melemparnya saat melihat isinya. Diliriknya Arsen yang kini seolah-olah tak memperhatikannya sejak tadi, padahal Alea yakin Arsen pasti mengamatinya saat ia membukanya barusan. Satu lingerie satin super tipis berwarna merah terang tergeletak di lantai sekarang. Membayangkan jika dirinya mengenakan itu, Alea yakin dirinya seperti menggunakan kresek berwarna putih. Tak ada sedikitpun Area pribadinya yang bisa ditutupi.
Buru-buru Alea mengambil lagi lingerie itu dan kembali menyimpannya di dalam kotak. Mengambil bantal, Alea mengusir Arsen yang duduk di sofa. Dirinya terlalu takut untuk tidur di ranjang suaminya itu. Bisa jadi kan, karena di sofa sempit, malam hari Arsen akan pindah di ranjang. Maka dari itu, lebih baik dirinya yang tidur di sofa.
"Bangun gih mas. Aku ngantuk, mau tidur" usir Alea.
"Kamu mau tidur di sofa?" tanya Arsen sambil berpindah duduk di tepi ranjang.
"Iya. Takut aja kalau aku tidur di kasur, mas tiba-tiba pindah malam harinya gara-gara udah ngeliat isi kotak itu dan bayangin aku pakai baju haram itu" sindir Alea. Sudah jelas Arsen melihat isinya, tapi suaminya itu berpura-pura seolah tak tahu apa isinya.
"Baju haram halal kalau di pakai di depan suami"
Alea melongo mendengarnya. Bisa-bisanya mas Arsen bercanda seperti itu. Kesal. Alea langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh.
Disisi lain Arsen yang melihat tingkah kesal Alea diam-diam menahan senyumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
yok bisa yok, tinggalkan Like dan komentarnya ya.. biar semangat up nya nih.
__ADS_1
seneng aja baca komentar kalian. 🤭😊