
Ada alasan kenapa Alea memilih untuk duduk di bangku yang ada di depan kamar inap tante Jihan setelah kembali dari kamar mandi. Di dalam sana tengah ada pembicaraan serius mengenai rencana Wira dan Dira setelah kakek mengomeli habis-habisan keduanya. Alea yang kini merasa seperti ada tembok penghalang meski dirinya adalah salah satu menantu di keluarga itu memilih untuk tak ikut pembicaraan. Duduk di depan kamar tante Jihan sambil memainkan gawai miliknya.
Ucapan penuh emosi Arsen tadi membulatkan tekad Alea untuk mengakhiri semuanya. Apa yang ia harapkan dari seseorang yang hatinya bahkan bukan untuk dirinya? Alea sudah lelah, sudah lelah dengan semua hal yang terjadi.
Lagi pula jika mempertahankan juga akan menjadi hal konyol kedepannya. Dira akan menikah dengan mas Wira, dikala pernikahan keduanya bahagia, pernikahan dirinya malah akan terlihat mengenaskan. Ada yang pernah bilang pada Alea, bahwa rasa cinta tak akan pernah hilang jika intensitas pertemuan semakin sering. Mbak Dira akan menjadi menantu di keluarga ini dan itu berarti kemungkinan pertemuan mas Arsen dan mbak Dira akan semakin sering.
Lebih baik menyerah daripada merelakan kewarasannya.
Dari sosial media, beralih ke group wa GAK, Alea mengetikan pesan di sana.
Alea:
Git. Kalau gue tinggal di kostan bareng lo harus bayar berapa setiap bulan?.
Tak butuh waktu lama, hanya selang sekitar 10 detik, Gita membalas pesannya dan di susul oleh Keke.
^^^Gita:^^^
^^^Maksudnya gimana ini?^^^
^^^Lo kan udah punya suami.^^^
^^^Ngapain tinggal sama gue?.^^^
^^^Keke:^^^
^^^Lo, masih berantem ^^^
^^^sama pak Arsen Al?^^^
Alea:
Kalau gue cerai.
Ada yang mau nampung janda yang masih perawan ini. Yatim piatu lagi.
Alea meringis membaca pesannya sendiri. Ya, mungkin dirinya akan menjadi segelintir wanita yang berstatus janda tapi masih perawan. Mereka tak pernah melakukan hubungan suami-istri selama menikah.
^^^Gita:^^^
^^^Bercanda lo nggak seru!^^^
^^^Lo punya masalah apa sih Al?^^^
^^^Keke:^^^
__ADS_1
^^^Gue nggak tahu apa masalah lo.^^^
^^^Cuman lo harus ingat,^^^
^^^Setiap masalah akan ada jalan keluarnya.^^^
Alea:
Ini kenapa gue jadi diinterograsi sih?
Jadi, bayar berapa Git?. Atau ibu sholehah mau nampung gue?.
^^^Gita:^^^
^^^Lo seriusan mau cerai?^^^
^^^Kenapa?^^^
Kenapa?
Kenapa?
Dan kenapa?
Mungkin itu adalah kata tanya yang akan sering Alea dengar kedepannya jika keputusan cerai benar-benar terjadi.
Alea:
Untuk alasannya gue belum bisa cerita.
^^^Keke:^^^
^^^Pikirkan lagi baik-baik ya Al.^^^
^^^Daripada lo nyesel nanti.^^^
^^^Perihal tempat tinggal, gue dan Gita pasti bakal nampung lo. Tapi harapan gue lo nggak akan tinggal sama kita dan pernikahan lo baik-baik aja.^^^
^^^Gita:^^^
^^^Gue juga bakal nampung lo. Gue nggak mau punya sahabat gelandangan nggak jelas di jalan.^^^
Alea tertawa membacanya, Gita dan Keke memang akan selalu ada di sisinya. Dirinya tak perlu takut untuk melangkah ke depan. Baru ingin membalas pesan Gita, satu notif email masuk ke gawainya.
Mata Alea membulat saat melihat username pengirim. Itu mbak Marinka. Buru-buru di buka email itu dan membaca setiap kalimat di sana dengan seksama.
__ADS_1
MarinkaAnatsya@gmail.com
Telfon mbak ke nomor ini ya Al. Sekarang. Penting. Jangan sampai dilihat sama suami kamu.
+62876....
Tak perlu berpikir ulang, Alea langsung mengetikan nomor itu ke dalam daftar kontak.
"Kenapa nggak masuk dek?"
Mendapati mas Arsen yang keluar dari kamar inap tante Jihan. Alea langsung memasukan gawainya kembali ke dalam tas. Entah darimana mbak Marinka tahu jika dirinya sudah menikah setelah menghilang tanpa ada kabar sama sekali. Alea memiliki firasat tak enak, keyakinan jika mbak Marinka kabur karena memiliki alasan penting kini semakin yakin. Dan alasan itu pasti berhubungan dengan mas Arsen.
"Udah selesai bicaranya?" tanya balik Alea dengan nada yang kembali dingin.
"Sudah, kamu kenapa nggak masuk?" Arsen duduk di samping Alea kemudian mengambil satu tangan istrinya untuk ia genggam erat. Kembali sadar, ucapannya barusan jelas menorehkan luka lagi dihati istrinya ini. Arsen butuh waktu untuk sepenuhnya melupakan Dira, dan dia berharap Alea akan memberikan kesempatan untuk dirinya, tidak meninggalkannya saat dia berusaha untuk melupakan wanita itu.
Arsen tahu dirinya terlihat begitu egois di sini. Terkesan kembali ke Alea saat sudah tak mungkin Dira bisa diraih. Arsen tak peduli, ia tetap berharap Alea akan berada di sisinya dan membantunya untuk melupakan gadis itu.
"Untuk apa tetap di dalam kalau nggak dianggap"
Arsen mengerutkan dahinya bingung "Nggak dianggap bagaimana maksudnya sih dek? Di dalam juga keluarga kamu, keluarga aku yang berarti keluarga kamu"
Alea tersenyum kecut "Itu masalahnya. Kamu aja nggak anggap aku ada, apalagi keluarga kamu"
"Jangan begitu sama keluarga mas Al. Mereka nggak salah, tapi mas yang salah"
"Baguslah kalau mas sadar" Alea berdiri lalu mulai berjalan meninggalkannya.
Hanya sebuah helaan napas yang bisa Arsen lakukan sekarang. Menyamakan langkah Alea sambil kembali mengambil tangan istrinya untuk ia gandeng "Jangan menolak aku gandeng. Banyak mata yang ngeliat kita" bisik Arsen saat Alea berusaha melepas pegangan tangan mereka.
Begitu sampai di dalam mobil, Arsen duduk dengan posisi menghadap ke arah istrinya. Demi memperbaiki suasana diantara mereka, Arsen berencana untuk mengajak Alea jalan. Tubuhnya juga sudah lebih baik dari sebelumnya, jika mengitari mall untuk menemani sang istri belanja sepertinya bukanlah masalah.
"Ayo ke—"
"Aku minta kita pisah, mas"
Ucapan Arsen terhenti seketika. Tubuhnya terasa seperti diguyur air dingin hingga membuatnya membeku. Berulang kali Arsen mengerjapkan matanya saking tak percayanya dengan apa yang ia dengar sekarang. Hal yang paling ia takuti sejak semalam kini malah menjadi kenyataan. Katakan jika ini adalah mimpi, rasanya Arsen ingin bangun dari tidur sekarang juga. Semuanya terlalu menakutkan. Membayangkan hidup tanpa Alea membuat semuanya terasa tak benar.
"Dek"
"Ayo kita pisah. Aku ingin pulang ke rumah om dan tante ku"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Eh, ada yang nongol. siapa tuh 🤭. Untuk sementara aku up diluar ya. ikuti ig @semicolondesire