
Dibalik perasaan bahagia Arsen yang akan kembali menjadikan Alea miliknya dengan ikatan yang sah, tak ada yang tahu jika ada Gita yang mati-matian meyakinkan sosok Azri yang terus menerus mengiriminya pesan mengenai Alea.
Azri selalu berkata jika ia pernah bertemu dengan Alea di kafe beberapa minggu lalu dengan sosok laki-laki lain, bukan Saga yang sudah Azri kenali wajahnya. Mau tak mau Gita kembali berbohong jika Azri mungkin salah lihat dan meyakinkan jika Alea tinggal bersama Saga di Praha sekarang. Benar. Sekali saja kita berbohong maka akan ada banyak kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Layaknya lingkaran setan yang tak pernah ada ujungnya jika tak diputus sejak awal.
Tapi, Gita tak mampu. Melihat bagaimana Alea tersenyum dan tampak bahagia meski kenyataan perceraian mereka sudah diketahui dan ingatan hari perceraian itu juga sudah kembali, Alea masih mencoba menerima Arsen dengan segala hal buruknya. Sejak awal Gita tahu jika sahabatnya itu benar-benar mencintai Arsen, tak ada rasa benci namun juga tak ada keinginan untuk hidup bersama lagi.
Namun, malam dimana Alea sadar dari koma dengan menyebut nama Arsen dan mencari sosok laki-laki itu, bahkan sampai menangis ketakutan karena Arsen tak ada disisinya saat pertama kali bangun, Gita masih mengingatnya dengan jelas. Dan Gita sadar rasa itu masih ada di hati sahabatnya.
"Kita nggak salah ambil keputusan kan mas?" Gita memeluk erat lengan suaminya yang melingkar di perutnya.
"Pernikahan mereka tinggal 2 hari lagi Git. Kamu hanya punya waktu 2 hari lagi jika ingin jujur semuanya " jawab Kenzo. Meski jika Gita membeberkan semuanya pada Alea sekarang, maka itu berarti akan ada Arsen yang kembali patah hati dan kembali mati.
"Mas Arsen sahabat kamu bukannya mas?"
"Betul. Mungkin kalau aku belum nikah, aku pasti akan dukung dia sebagai sahabat. Tapi sekarang, aku sudah nikah. Aku sudah jadi suami dan bahkan sebentar lagi akan jadi ayah, aku jelas lebih memilih kamu dan anak kita diatas segalanya"
Gita berbalik, menatap ke arah suaminya yang berdiri tepat dibelakangnya "Gimana kondisi mas Arsen waktu itu?"
Kenzo tampak berpikir. Arsen sekarang memang sangat berbeda dengan Arsen yang ia lihat setelah bercerai. "Zombi abad ke 50 mungkin?"
"Hah?"
"Zombi abad ke 50. Kalau zombi abad ke 23 kan mayat hidup terus penampilannya nggak karuan. Kalau abad ke 50, karena dunia sudah semakin maju mungkin pakaian zombinya jauh lebih rapih meski masih tetap mayat hidup"
Seharusnya Gita tertawa mendengar perumpamaan Kenzo sekarang. Tapi nyatanya, wajah Gita malah tambah serius sarat akan kekesalan. "Kamu bisa serius dikit nggak mas?!"
Kata orang, ibu hamil itu hormonnya tidak pasti. Dan Kenzo baru melupakan informasi penting itu. "Dia benar-benar nggak baik Git. Kamu liat sendiri kan? Dia gila kerja, bahkan kadang nginep di kantor atau kadang di hotel atau kadang pulang kerja nekat nempuh jarak jauh buat sampai rumah tante Amel. Dimanapun, asalkan nggak balik ke rumah sendiri. Dan sekarang, dia sudah nampak lebih normal, soalnya—"
"Mas Azri pernah liat Alea" potong Gita. Tubuh Kenzo membeku seketika. Mereka melupakan keberadaan laki-laki itu.
__ADS_1
"Dia lihat Alea dan dia tanya kenapa Alea bersama orang lain. Sama CEO perusahaan kamu" lanjut Gita.
"Kamu jawab apa?"
"Aku jawab dia salah lihat karena Alea ada di Praha sekarang. Kamu tahu mas, aku takut anak kita ikut suka bohong kaya mamahnya nanti"
Kenzo menghela napasnya. Dipeluknya sang istri sambil mengusap lembut punggung Gita "Bias mas dan Arsen yang ngurusin masalah ini Git. Untuk sementara jangan dibalas pesan Azri, setidaknya kamu nggak perlu bohong lagi"
***
Arsen duduk sambil menatap lurus pada Alea yang kini mengenakan gaun berwarna krem dengan aksen mutiara² kecil dibagian atas, sedangkan dibawahnya dihiasi oleh burkat dengan warna senada. Rambut yang sebelumnya digerai, kini tampak diikat kuda dengan mahkota kecil yang tersemat di atas kepala. Cantik, gaun panjang itu nampak begitu mempesona di tubuh calon istrinya. Arsen bahkan tak berkedip beberapa detik sebelum panggilan Alea membuatnya tersadar.
"Gimana? Cantik?"
Arsen mengangguk semangat, buru-buru ia mengabadikan momen itu kedalam kamera miliknya. Hanya dengan riasan super tipis Alea tampak cantik, Arsen yakin istrinya itu akan semakin cantik saat pesta nanti.
"Aku juga suka sama gaun ini mas. Cantik"
4 jam memang selalu berlalu begitu cepat saat kita melakukan hal yang kita sukai. Fitting gaun dan jas akhirnya selesai 10 menit yang lalu. Semua gaun yang dipilih, akan dikirimkan hari juga ke rumah mereka nanti sore.
Disinilah mereka sekarang. Duduk di restoran yang tak jauh dari butik tadi. Mereka berniat untuk makan siang terlebih dahulu sebelum datang ke kantor WO untuk menanyakan kesiapan akan rencana pernikahan mereka.
Duduk di restoran dengan Alea yang makan lahap semua makanan yang mereka pesan tadi, membuat Arsen menarik senyumanya tulus. Seperti dulu, Alea masih tak pilah pilih makanan, dan Arsen merasa kenyang hanya dengan melihat betapa lahapnya wanitanya itu makan.
"Kamu, nggak makan mas? Jangan liatin aku terus. Makan cepetan"
"Nanti, mas masih betah liatin kamu makan. Cantik dan menyenangkan"
"Aku bisa tersedak kalau diliatin terus"
__ADS_1
"Kalau sampai tersedak, itu berati kamu nya aja yang salting. Secinta itu ya sama mas, sampai salting cuman karena diliatin?"
"Sumpah kamu aneh mas. Sekarang, jangan liatin aku terus makan. Berhenti godain aku"
"Kalau mas godain, emang kamu tergoda"
Kalimat Arsen barusan sontak membuat Alea benar-benar tersedak. Batuk mendadak bahkan makanan yang tengah dikunyah keluar dan mengenai baju Arsen. Tatapan maut Alea jelas membuat Arsen panik seketika.
Sebuah senyuman yang tadi sempat terbit, lenyap seketika diganti dengan rasa panik. Buru-buru Arsen menyerahkan minum pada Alea yang langsung diterima dan ditenggak hingga habis setengahnya.
"Mas!!" geram Alea.
"Serius dek. Maaf, cuman bercanda. Lagian kamu gemesin banget kalau salah tingkah"
"Nyebelin banget sih!!"
"Nyebelin-nyebelin begini juga tetep cinta kan?"
Helaan napas kesal Alea, membuat Arsen mengacak gemas puncak kepala wanita itu.
"Maaf, maaf, serius nggak sengaja. Eh ternyata kamu kesedak beneran"
"Baju kamu kotor jadinya!!"
"Tenang. Biasa dibersihin, mas ke toilet sebentar ya. Habisin makanan kamu sayang"
Sebelum mendapat plototan Alea karena panggilan 'sayang', Arsen langsung melarikan diri ke toilet dengan senyuman yang merekah. Hidup kedepannya, sepertinya benar-benar akan sangat indah.
Bayangan kehidupan sangat indah muncul saat Arsen berjalan masuk ke toilet, namun saat keluar dari toilet bayangan itu lenyap seketika bersamaan dengan senyumnya yang juga ikut lenyap.
__ADS_1
Kursi depan Alea yang seharusnya kosong karena tempat dirinya duduk. Kini diisi oleh sosok laki-laki. Laki-laki yang bisa membuat kehidupan indah itu tak akan terealisasikan selamanya.