Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 11 : Saran Diwa Nggak Mempan


__ADS_3

Kembali ke Jakarta padahal jam sudah menunjukan pukul 24.03 membuat Alea yakin jika memang ada yang tak beres antara keduanya. Tidak, mungkin tiga, dengan wanita bernama Dira yang juga masuk ke dalamnya. Alea tak tahu apa yang terjadi. Bertanyapun, nyalinya tak sehebat itu untuk berani bertanya setelah melihat Arsen yang tiba-tiba mengajaknya pulang hingga melupakan pakaian mereka yang masih tertinggal di rumah bunda.


Alea melirik takut ke arah Arsen. Wajahnya memang sudah tak menunjukkan ekspresi menyeramkan seperti tadi, kembali terkesan dingin dan tak ingin dilempari pertanyaan sama sekali. Apa yang terjadi tadi biarkan saja, Alea akan mencari tahu kepada Diwa saat bertemu di kampus nanti. Terutama tentang wanita bernama Dira.


"Maaf karena narik kamu paksa tadi"


Kepala Alea menoleh ke arah Arsen yang akhirnya bicara setelah 1 jam mobil mereka melaju di jalan tol menuju Jakarta. Tangan suaminya itu kini terulur mengusap puncak kepala, memberikan efek luar biasa bagi Alea yang mematung seketika.


"Masih jauh, tidur aja dulu. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai"


Efek elusan di puncak kepala membuat Alea seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Alea menganggukkan kepalanya, menurunkan sandara kursi, lalu mencoba untuk mulai memejamkan matanya. Bukan hanya elusan di kepala, namun Arsen kini juga menautkan jari tangan mereka berdua hingga membuat Alea tak bisa berkutik sama sekali.


***


Sudah 1 minggu sejak kejadian hari itu. Alea seolah lupa dengan sosok Dira yang ingin ia ketahui. Sebenarnya bukan lupa seutuhnya, hanya saja Alea pikir tidak akan ada manfaatnya juga jika ia mencari tahu apa yang terjadi dengan mas Arsen dan Wira, bertanya dengan Diwa pun, laki-laki itu terus saja mengalihkan topik pembicaraan hingga Alea malas lagi untuk membahas hal yang sama.


Kejadian malam juga tak membuat efek perubahan pada sikap mas Arsen sama sekali. Meski dingin, suaminya itu masih tetap perhatian seperti biasanya. Tak seperti suami-suami di film yang akan bersikap kasar karena mantan pacar yang masih dicintainya kembali.


Mengenai mantan pacar. Kesimpulan sendiri yang paling masuk akal adalah ada kemungkinan mbak Dira adalah mantan pacar mas Wira yang masih amat dicintai oleh laki-laki itu, dan mas Arsen menjadi pihak ketiga. Beuh, kaya drama sinetron saja memang.


Alea yang sejak tadi berkutat di depan laptopnya nyaris mengumpat saat melihat deretan kodingan dari tugas program yang diberi oleh pak Danu memiliki warna merah dimana-mana. Gara-gara acara kemarin, dirinya tak menghadiri kelas Pak Danu, dan berakhir dengan tugas bejibun yang membuat kepala Alea nyaris meledak.


Meraih ponselnya, Alea mencoba untuk menghubungi dua sahabatnya itu. Namun percayalah, di waktu-waktu mepet seperti ini dengan tugas yang menumpuk, mau puluhan kali Alea menelfon, Gita dan Keke tak aka ada yang mengangkatnya. Mereka sibuk dengan tugasnya masin-masing. Semua ini salah mas Arsen yang mengajak mengunjungi rumah bunda tiba-tiba.


Penolong terakhir Alea saat paling mepet seperti ini hanyalah Diwa. Mencari nomor kontak laki-laki itu, Alea langsung menelfon Diwa tanpa melihat jam yang kini sudah hampir menunjukkan pukul 23.00. Jika Diwa tak membantunya, maka habislah sudah riwayatnya.


"Assalamualaikum kakak ipar, Kenapa?"


Alea memutar bola matanya jengah. Setiap kali menelfon Diwa, laki-laki itu akan memanggilnya dengan sebutan kaka ipar untuk menggoda dirinya. "Waalaikumsalam. Bantuin gue Wa"


"Bantuin apa? Bantuin cari tutorial pakai lingerie?"


Mulut Alea berdecak kesal. Masalah lingerie, Ale sampai lupa belum memberi pelajaran buat Diwa karena memberikan kado haram seperti itu. Tapi untuk sekarang, demi tugasnya dibantu oleh Diwa, Alea menekan emosinya sebaik mungkin. Sabar Alea, sabar. "Kodingan gue banyak yang merah ini. Puyeng pala gue. Mana besok dikumpulin. Tolong ke rumah dong Wa. Gue traktir makan enak besok di kantin"


"Yah lo telat. Gue udah otw ke rumahnya kakaknya Keke"

__ADS_1


"Mau ngapain lo? Liat-liat jam kalau mau ke rumah orang"


"Kampret. Dia nelfon minta tolong bantuin kodingan. Daripada di kosan dia, makanya mending ketemu di rumah kakaknya. Biar nggak di grebek satpol pp"


Alea menghela napasnya pasrah "Terus nasib gue gimana ini Wa? Bisa-bisa dapat nilai D gue kalau kaya gini"


Ada helaan napas yang terdengar dari sebrang telfon "Eh Tukijah. Nanya suami lo lah. Jangan lupa abang gue CEO Perusahaan IT, ya kali nggak bisa ngoding"


"Malas. Paling ujung-ujung ngomel-ngomel doang" sebelum menelfon Diwa, sejujurnya Alea juga sempat berpikir untuk meminta bantuan mas Arsen. Hanya saja mengingat jika laki-laki itu pasti akan ngomel panjang kali lebar melihat kodingannya yang berantakan, Alea sudah di buat malas terlebih dahulu.


"Ya janjiin hadiah dulu yang enak-enak. Gunain hadiah dari gue sebaik mungkin"


"Gila!!" umpat Alea kemudian langsung memutuskan sambungan saat terdengar tawa dari sebrang telfon. Bukannya mendapat solusi, bicara dengan Diwa membuat kepalanya malah semakin pusing.


***


Kenzo : Mbak Dira balik ke Jakarta hari ini bos.


Terhitung sudah hampir 1 jam Arsen hanya duduk di kursi kerjaannya sambil kembali membaca pesan kenzo yang dikirim 5 jam yang lalu. Ditangannya ada secarik kertas undangan yang masih terbungkus dengan rapih, tanpa sadar Arsen bahkan meremasnya kuat.


Mencoba fokus terhadap kerjaannya meski berakhir dengan sia-sia, Arsen menutup laptopnya dengan umpatan yang keluar. Terlebih saat ucapan kakek minggu lalu kembali terlintas di kepalanya. Moodnya benar-benar sangat buruk malam ini.


Dari laptop, Arsen mencoba membaca buku sambil berbaring di ranjangnya. Mencoba segala hal apapun agar pikiran mengenai Dira yang kini berkecamuk di kelapanya lenyap. Dirinya tak boleh egois, ada sosok Alea yang harus ia lindungi baik fisik maupun hatinya. Meski tak janji untuk bisa memberikan cinta, Arsen setidaknya tak seberengsek itu hingga membuat Alea terluka.


Seakan panjang umur, Arsen melirik ke arah pintu yang baru saja diketuk dan dibuka. Sosok Alea dengan laptop yang dipeluk erat berdiri diambang pintu.


Tahu jika Alea ragu antara masuk atau tidak. Arsen berpindah duduk di sofa "Masuk aja. Kenapa?"


Istrinya yang kini menggunakan baju tidur terusan berwarna biru laut itu mendekat dan mengambil posisi duduk melantai dengan laptop yang diletakan di atas meja.


"Kenapa? Laptop kamu rusak?" mau tak mau, Arsen ikut duduk melantai di samping istrinya itu.


Ada gelengan lemah dari Alea, hingga deretan koding yang nyaris semuanya berwarna merah itu menjawab pertanyaan Arsen sejak tadi.


"Dikumpulin kapan?" tanya Arsen sambil melirik sengit ke arah Alea. Sikap Alea saat ini mengingatkan teman-teman wanita kuliahnya dulu yang nyantai awal tugas, dan selalu heboh saat sudah mendekati waktu dikumpulkan.

__ADS_1


"Be..besok mas. Aku bisa ngulang kalau tugas ini nggak selesai" jawab Alea takut-takut. Jam sudah nyaris pukul dini hari, jelas siapa yang tak akan marah saat jam tidurnya diganggu seperti ini.


Arsen menghela napasnya "Terus?"


"Bantuin aku"


Arsen menggelengkan kepalanya "Tugas ini pasti dikasih tenggang waktu yang lumayan lama. Kenapa baru dikerjakan sekarang?"


"Udah dari kemarin mas. Ya kan kita kerumah bunda juga. Jadi nggak punya waktu buat ngerjain"


"Itu sudah satu minggu yang lalu Alea. Ngga usah ngeles. Memang ka—"


Cup.


Ucapan Arsen sontak berhenti saat Alea mencium pipinya tiba-tiba. Arsen menatap ke arah istrinya itu dalam "Jangan kamu kira mas bakal bantuin kamu hanya karena kamu cium mas. Jangan harap. Kerjain, mas liatin dari belakang" Arsen langsung kembali naik duduk di atas sofa.


"Nggak bisa mas. Kepala aku udah pusing dari tadi"


"Kerjain tugas kamu Alea!"


"Mas nggak mau bantuin beneran nih?"


"Mas bantuin arahin. Lagi pula kepala mas udah pusing duluan liat kodingan kamu yang berantakan itu"


Cup


Satu kecupan lagi mendarat di pipi Arsen. Tanpa minta penjelasan pun Arsen tahu jika ini pasti ajaran Diwa. Sebelum minta tolong kepadanya, Alea sudah minta tolong ke Diwa dan mungkin mendapat ide gila ini. Berusaha untuk tetap tidak menunjukkan reaksi apapun, Arsen melipat tangannya di depan dada. Pipi kanan sudah, pipi kiri sudah, jika sampai Alea mencium bibirnya, mungkin pertahanan Arsen akan runtuh sebentar lagi.


"Mas nggak mau bantu beneran?!" tanya Alea yang mulai kesal.


"Mas liatin dari sini"


Decakan kesal terdengar dari arah Alea. Wanita itu menutup kencang laptop, lalu menatap Arsen dengan tatapan sengitnya.


"Oh ya udah. Berarti mas harus persiapkan uang buat biaya aku ngulang semester berikutnya" setelah mengatakan hal itu. Sambil menghentakkan kakinya, wanita itu keluar dari kamar Arsen.

__ADS_1


Sekeluarnya Alea, Arsen menyandarkan tubuhnya di sofa. Akibat hal yang dilakukan Alea barusan, jantungnya benar-benar berdetak sangat kencang. Hanya sebuah kecupan ringan, namun mampu membuat Arsen gugup setengah mati.


__ADS_2