Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 9 : Keberadaan Wanita Lain


__ADS_3

Membiarkan Alea terlelap dalam tidurnya. Arsen mengangkat ponselnya yang kini berdering. Nama Kenzo—sekretarisnya tertera di layar ponsel. Jika sudah jam segini Kenzo masih menelfonya pasti ada hal penting yang akan di sampaikan oleh laki-laki itu. Mungkin info mengenai seseorang yang Arsen minta kepada Kenzo untuk mencari tahu keberadaannya.


"Halo Ken, bagaimana?" tanya Arsen begitu mengangkat panggilan.


"Dari info yang saya cari tahu, mbak Dira masih ada di Singapore bos."


"Oke, terima kasih" Arsen berniat untuk memutus sambungan, namun suara Kenzo dari sebrang telfon kembali terdengar.


"Tapi bos. Anda..."


Tahu apa yang ada di pikiran sekretarisnya itu, Arsen langsung memotong sebelum Kenzo mengutarakan apa yang laki-laki itu pikirkan.


"Saya hanya cari tahu keberadaannya Ken. Wira ada di Indonesia, jadi saya pikir dia juga ikut pulang"


Tatapan Arsen menatap ke arah Alea yang meringkuk tak nyaman di atas sofa. Entah apa yang ia lakukan sekarang padahal sudah ada sosok wanita baru di sisinya, menjadi istri kecilnya yang membuat dirinya terkadang tersenyum karena tingkah Alea. Arsen hanya ingin mengetahui keberadaan wanita itu. Hanya untuk berjaga-jaga kemungkinan bertemu karena Wira ada di tanah air.


"Baik bos."


Arsen meletakan ponselnya di atas nakas setelah panggilan berakhir. Dira adalah alasan kenapa Arsen terpaksa menerima Alea sebagai istri yang dipilihkan bunda. Wanita itu membuat dampak cukup besar layaknya gelombang tsunami dalan hidup Arsen. Dan sekarang ketika dirinya berusaha untuk menatap kembali kehidupannya, keberadaan Wira membuat Arsen harus berjaga-jaga jika ada kemungkinan bisa berpapasan dengan wanita itu.


Lenguhan suara Alea yang merasa sempit dengan sofa yang ada menyadarkan Arsen seketika. Meletakan i-pad di nakas, Arsen berjalan mendekat ke arah istrinya itu.


Tak langsung mengangkat, Arsen jongkok terlebih dahulu dan mengamati lekat-lekat wajah istri kecilnya itu. Ada rasa bersalah karena menikah Alea yang jelas masih ingin menikmati masa-masa kuliahnya, belajar, jalan-jalan dengan teman, pacaran dan segala hal lain yang biasa dilakukan diusia segitu, Alea malah harus menikah dengannya hanya karena hutang semata.


Bukan. Sebenarnya itu hanya alasan bunda saja untuk mendapatkan calon menantu.


Tak ingin membangunkan Alea yang pasti akan menjerit kencang layaknya toa masjid jika sadar saat dirinya menggendongnya, Arsen mengangkat tubuh Alea super pelan. Jika Alea berteriak, bisa-bisa dirinya dianggap memaksa melakukan hal itu oleh semua orang yang ada di rumah ini.


Meletakan Alea dengan pelan di ranjang, Arsen ikut berbaring di sebelah Alea. Demi menghilangkan pikirannya yang sejak tadi diisi oleh sosok Dira, Arsen memeluk tubuh mungil Alea dari belakang. Besok pagi dirinya hanya perlu bangun lebih dahulu daripada istrinya ini.


***


Semenjak menikah dengan mas Arsen, baru kali ini Alea merasa tidur pulas dan bangun dalam kondisi tubuh yang segar. Menguap lebar sambil merenggangkan tubuhnya, Alea seolah baru sadar dengan apa yang terjadi. Semalam dirinya jelas tidur di atas sofa, harusnya saat bangun juga menemukan dirinya berada di sofa, bukan di tempat tidur seperti sekarang.


Mengecek seluruh pakaian yang ia kenakan masih lengkap, Alea menghela napasnya lega. Semalam mungkin mas Arsen hanya memindahkannya di kasur saja. Dirinya tidur di kasur dan mas Arsen mengalah untuk tidur di sofa. Ya. saat ini hanya itu pilihan terbaik yang bisa ia pilih untuk menjaga kewarasannya.

__ADS_1


Melihat ke sekeliling kamar, Alea tak menemukan tanda-tanda keberadaan mas Arsen. Mungkin laki-laki itu sudah bangun terlebih dahulu dan turun ke bawah. Lebih baik dirinya mandi terlebih dahulu baru menyusul ke bawah. Sumpah Alea, lo malu-maluin banget, bangun kesiangan di rumah mertua.


Selesai mandi dan berganti baju, Alea buru-buru keluar dari kamar mandi. Jangan sampai Diwa sudah bangun, karena 100% laki-laki itu pasti akan mengira yang tidak-tidak karena hadia lingerie darinya.


Ngomong-ngomong tentang baju haram itu, jika kelak dirinya memutuskan untuk pakai. Kira-kira mas Arsen bakal tergoda atau diam aja ya?.


Alea menggelengkan kepala mengenyahkan semua pikiran aneh itu. Bisa-bisanya dirinya memikir tentang hal itu. Gara-gara Diwa, otaknya benar tercemar karena hadiah laki-laki itu.


"Ayo turun. Yang la—"


Berjingkat kaget, Alea melemparkan handuk basah yang ada di tangannya ke sumber Suara, mengenai tepat ke wajah Arsen yang berdiri di samping kasur. Jelas-jelas saat dirinya masuk kamar mandi tadi, kamarnya kosong, dan Alea juga sudah mengunci pintu kamar. Lalu dari mana mas Arsen masuk?.


"Allahuakbar! Alea!!" geram Arsen, sambil melemparkan handuk Alea ke sofa.


Alea memegangi dada sendiri. Saking kagetnya, jantungnya masih berdetak sangat kencang. Salah sendiri, mas Arsen tiba-tiba nongol kaya setan. "Nggagetin tau nggak mas!!" sewot Alea balik. Alea, dosa bentak-bentak suami.


"Kok mas bisa masuk? Kan aku kunci kamarnya. Atau... Mas dari tadi di balkon?" tanya Alea. Kedatangan Arsen masih menjadi misteri baginya. Jiwa penakutnya meronta-ronta seketika. Terlebih setelah menikah dan pindah rumah, kamar suaminya ini tak ada yang menempati.


"Kaget juga nggak usah pakai lempar handuk ke muka suami Alea" tegur Arsen.


Alea berdecak kesal "Iya udah maaf. Mas dari tadi di balkon?" mengambil handuk yang Arsen lempar ke sofa tadi, Alea mengambil posisi duduk di depan cermin untuk mengeringkan rambutnya.


Wajah super tampan yang terlihat dari pantulan cermin di depannya ini, ingin sekali Alea pelototin karena geram mendengar jawaban suaminya itu. Memang benar sih dirinya suka bangun siang, tapi tak usah diperjelas juga dengan kalimat barusan.


"Kamu make up. Biar saya yang keringin rambut kamu"


Tak sempat menolak karena Arsen langsung mengambil paksa hairdryer ditangan, Alea pasrah saja dan menuruti ucapan suaminya itu. Jangan berpikir jika ada hal romantis setelahnya. Yang ada Alea terus mengeluh saat Arsen menarik rambutnya.


"Maaf nggak sengaja" ucap Arsen.


"Serius nih nggak sengaja? Atau mau balas dendam sama aku gara-gara mas tidur di sofa?" tanya Alea sewot.


"Jangan sok tau. Nggak baik juga suudzon sama orang"


Biarkan saja, suatu saat nanti Alea akan balas dendam menarik rambut suaminya itu.

__ADS_1


***


Melihat cowok tampan sekaligus ramah seperti Wira, jelas membuat jiwa ingin mengajak ngobrol milik Alea meronta-ronta, barangkali dengan mengajak Dira mereka bisa berteman setelah ini. Jadi jika ada acara keluarga dari pihak Arsen seperti ini, Alea tak akan merasa canggung dan mengekor kemanapun suaminya itu pergi. Tidak ada Diwa yang di ajak ngobrol, Wira pun tak apa-apa.


Setelah sarapan tadi yang diadakan di ruang tengah dengan cara lesehan di lantai, Alea membantu Amel dan beberapa wanita di keluarga ini merapihkan kembali ruang tengah. Setelah itu Alea langsung mendekati Wira yang tengah duduk di halaman luar bersama Diwa dan adik perempuan laki-laki itu yang Alea tahu bernama Gea. Diwa jelas meliriknya dengan senyuman licik yang tak Alea pedulikan sama sekali.


"Mas Wira seumuran sama mas Arsen ya?" tanya Alea begitu duduk di samping Wira.


"Inget udah punya suami. Nggak usah ganjen sama cowok lain" bukan Wira yang menjawab, melainkan Diwa yang menjawabnya.


"Berisik. Gue lagi cari sekutu di rumah ini biar bisa diajak ngobrol." balas Alea sewot.


"Lah kan ada gue"


Tak segan-segan, Alea memukul dahi Diwa dengan telapak tangannya "Biar otak lo balik waras. Bisa ikut ngeres otak gue kalau ngobrol sama lo doang seharian"


Gea mengacungkan jempolnya setuju dengan ucapan Alea, sedangkan Wira hanya tertawa melihatnya.


"Mas Wira seumuran sama mas Arsen ya?" tanya Alea lagi.


Wira menganggukkan kepalanya "Iya. Kamu juga ternyata seumuran juga ya sama Diwa?"


Alea tersenyum "Iya mas. Ngomong-ngomong nih, mas Wira udah punya pacar?"


Alea melirik sewot ke arah Diwa yang menendang kakinya.


"Inget woy udah punya suami" seru Diwa.


"Bukan buat gue gila. Buat Gita" ucap Alea.


Lagi dan lagi satu senyuman terbit di wajah Wira saat melihat Diwa dan Alea kembali bertengkar. "Belum sih, cuman sudah ada orang lain di sini" jawabnya sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Pasti mbak Dira ya mas" Gea yang sejak tadi hanya menyimak kini ikut angkat bicara.


Alea menganggukkan kepalanya lemas. Seorang yang tampan seperti mas Wira jelas tidak mungkin menjomblo. Mungkin Alea harus mencari kandidat lain untuk dikenalkan pada Gita selain sekretaris suaminya itu.

__ADS_1


Di sisi lain, Arsen yang sejak tadi berada di dalam mobil menyimak pembicaraan mereka. Mengepalkan tangannya tiba-tiba, ekspresi Wira saat menyebut nama Dira membuat emosi Arsen menanjak seketika.


Menekan klakson mobil, Arsen memberi kode kepada Alea agar segera masuk ke mobil dan menemaninya belanja bahan yang kurang untuk pesta malam nanti. Rasanya menyebalkan melihat Alea mulai dekat dengan Wira.


__ADS_2