Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 16 : Misi Pencarian Dira Dimulai


__ADS_3

Hanya butuh waktu kurang lebih 2 jam bagi Alea untuk masak dan mandi. Semenjak kedatangan Wira tadi, suaminya baru keluar kamar saat adzan berkumandang, dan itu pun hanya untuk pergi ke masjid, lalu kembali masuk ke ruang kerjanya. Meski raut wajahnya tak lagi seperti tadi sore yang amat tak bersahabat, namun Alea tahu jika ada sedikit rasa kesal yang masih tertinggal di sana.


Sengaja tak mengetuk kamar untuk membiarkan emosi suaminya itu mereda. Alea memilih untuk duduk di ruang tengah sambil mengulang lagi materi yang akan Arsen ajarkan malam ini. Jangan sampai suaminya itu semakin marah karena dirinya tak bisa.


Berjalannya waktu Alea sampai tak sadar jika jam kini sudah menunjukkan pukul 9 malam. Arsen belum juga turun untuk makan. Jangankan makan, laki-laki itu bahkan tak keluar dari kamar sama sekali. Bi Ami beberapa kali menawarkan agar makanan di masukan saja dulu ke kulkas, tinggal dihangatkan jika Arsen keluar dari kamar, namun Alea menolaknya karena suaminya itu pasti akan kelaparan dan turun ke bawah dalam waktu yang dekat.


Stok kesabaran Alea yang setipis tisu, membuatnya berdiri dan berjalan menuju ruang kerja Arsen. Dirinya sudah capek-capek memasak di saat biasanya rebahan sambil nonton drakor, kini makanannya malah tak tersentuh sama sekali.


Mengetuk pintu kamar Arsen, Alea mencoba memanggil nama suaminya itu namun tak ada sahutan dari dalam.


Jangan-jangan mas Arsen malah sudah tidur?.


"Mas. Kamu tidur? Nggak makan dulu?! Udah capek-capek jadi babu buat masakin, malah nggak di makan!" omel Alea sambil kembali mengetuk pintu.


Jika sampai tak ada jawaban dari luar, sungguh Alea tak akan pernah lagi memasak untuk suaminya itu. Perihal ucapan permintaan maaf, Alea akan mengurungkan niatnya mengucapkan hal itu.


"Mas. Mas Arsen tidur ya?"


Alea menghela napasnya kesal. Benar-benar mas Arsen sudah tidur padahal dirinya nunggu laki-laki itu turun.


Meninggalkan ruang kerja Arsen, Alea kembali turun. Ngantuknya hilang karena kalah dengan rasa kesalnya ini.


"Mas Arsen udah tidur mbak?" tanya Bi Ami saat Alea sudah kembali duduk di ruang tengah.


"Udah bi. Kaya kebo. Minta tolong masukin lauk ke kulkas ya bi"


"Baik mbak. Mbak Alea juga tidur gih, pasti capek habis masak"


Alea menggelengkan kepalanya "Masih kesel sama mas Arsen bi. Mau nonton drakor dulu"


Bi Ami menganggukkan kepalanya. Jelas, jika dirinya yang menjadi Alea, susah payah masak padahal capek pulang kerja, tapi ujung-ujungnya tak disentuh sama sekali, bahkan dilihatpun tidak, dirinya akan kecewa dan marah seperti majikannya itu. Meninggalkan Alea yang kini berbaring di sofa, bi Ami langsung berjalan menuju dapur.


Di sisi lain. Alea mulai mencari film apa yang sekiranya akan membuat dirinya tertawa di i-pad yang ada ditangannya. Biarkan saja, besok akan ada perang dingin di rumah ini.


Hari kini semakin malam, jam yang sebelumnya menunjukan angka 9 kini bergeser menjadi angka 11. Tapi Alea masih kunjung juga tidak bisa tidur. Mungkin karena film yang ia lihat super lucu hingga Alea cekikikan di tengah malah, atau mungkin juga adakalanya saat menonton, Alea malah memikirkan mas Arsen yang belum makan malam. Alea tak ingin menjadi perawat dadakan besok karena mas Arsen jatuh sakit.


Mematikan i-pad nya, Alea mencoba memejamkan matanya. Ada bi Ami yang juga kamarnya berada di lantai 1, maka dari itu Alea sepertinya berani untuk tidur di ruang tengah malam ini.


Belum juga matanya tertutup rapat, Alea kembali terjaga saat terdengar suara-suara kucing dari halaman luar. Jiwa penakutnya ini selalu saja meronta-ronta di saat seperti ini.


Berusaha untuk mengenyampingkan rasa takutnya. Alea kembali mencoba menutup mata, namun lagi-lagi matanya terbuka saat kembali mendengar suara dari luar. Kali ini suara wadah minum kucing yang sepertinya tak sengaja kesenggol oleh sang empu. Suara prang dimalam hari memang sangat mampu untuk membuat bulu-bulu halus dileher dan di tangan meremang seketika.


"Kalau takut, jangan nekat tidur di sini Al"

__ADS_1


Suara itu membuat Alea berjingkat seketika. Batalan sofa yang ia peluk, langsung di lempar ke sembarang arah dengan mata tertutup. Telinga Alea masih bisa mendengar suara bantal yang seolah di tangkap oleh manusia, dan benar saja saat membuka mata, Alea menemukan mas Arsen berdiri di anak tangga terakhir dengan bantalan sofa yang ada di tangan.


"Mas ngagetin aja sih! Udah tahu aku penakut" omel Alea.


"Makanya dari pada besok kamu yang  jadi hantu karena muka menyeramkan dengan lingkaran mata. Lebih baik tidur di atas. Mas nanti nyusul ke atas"


Alih-alih naik ke kamar atas, Alea malah mengekor suaminya yang berjalan menuju dapur. Melihat tujuan Arsen adalah kulkas, membuat Alea tersenyum geli. Lapar juga ini orang akhirnya.


"Mas duduk aja. Biar aku yang panasin" tawar Alea.


"Tumben" meski mulutnya berkata demikian, Arsen mengambil posisi duduk di kursi makan meninggalkan Alea yang tengah menatapnya horor.


Menjadi istri Arsen, benar-benar harus bisa menjaga kewarasan. Saat marah, sikap dewasa laki-laki itu lenyap seketika.


Menahan emosinya dengan helaan napas panjang. Alea mulai memanaskan semua makanan yang ia masak tadi. Tak sia-sia juga akhirnya usahanya untuk membuat semua makanan ini meski sudah lelah seharian di kantor.


Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, Alea sudah meletakan semua lauk pauk lengkap dengan satu piring berisi nasi di depan Arsen.


"Kamu nggak makan?"


Tangan Alea menunjuk ke arah jam "Jam berapa ini? Berat badanku bisa naik kalau makan jam segini"


"Oh"


Mari tepuk tangan untuk sikap menyebalkan Arsen malam ini. Biasanya dirinya yang menyebalkan tapi sepertinya malam ini giliran suaminya itu balas dendam. Setelah mengatakan 'oh', Arsen langsung fokus ke makanannya tanpa mengatakan apapun.


"Ada apa hubungan antara kamu dan ams Wira mas?"


Alea pikir setelah menanyakan hal itu, dirinya akan melihat ekspresi Arsen yang terkejut. Atau tidak seperti di drama-drama yang membuat suaminya membeku seketika. Tapi ternyata tidak, seakan mas Arsen sudah bisa menebak akan mendapatkan pertanyaan ini dari dirinya.


"Tidak bisa dibilang baik, tapi juga tidak bisa dibilang buruk"


Dahi Alea berkerut bingung. Sudah malam, jangan buat otaknya yang sudah lelah ini bekerja menerjemahkan ucapan suaminya barusan.


"Aku nggak boleh tahu?" tanya Alea.


"Boleh, tapi tidak dengan sekarang ya dek"


Dek?


Dek?


Dek?

__ADS_1


Tunggu, tunggu. Telinganya nggak salah dengerkan mas Arsen manggil dirinya dek?.


"Mas capek. Habis ini kita tidur ya. Mas pengin makan tanpa ditanya-tanya"


Lagi, bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Alea menganggukkan kepalanya menurut. Sungguh lemah sekali jiwa mu ini Alea. Dipanggil 'dek' udah langsung luluh.


***


Diwa. Diwa adalah satu-satunya orang yang bisa ia tanyai mengenai hubungan buruk mas Arsen dan mas Wira. Semalam mas Arsen benar-benar makan dalam diam. Dia bahkan tidur di kamar dan memeluk Alea hingga pagi menjelang.


Maka dari itu, Alea hanya punya Diwa  satu-satunya orang yang bisa dia tanya sekarang.


Setelah sampai kelas, Alea langsung mengambil posisi duduk di samping Diwa. Yang di dekati menatap bingung ke arah Alea. Gita dan Keke yang duduk di barisan depan pun tampak bingung saat Alea melewati mereka begitu saja dan langsung duduk di samping Diwa.


"Ada apa nih? Ko gue merinding ya?" tanya Diwa sambil mengusap leher belakangnya. Didekati Alea tanpa ada angin terlebih dahulu, membuat bulu-bulu halus di sekitar leher meremang seketika.


"Hubungan ipar lo sama mas Wira, pasti ada hubungannya dengan mbak Dira kan?" tebak Alea sambil berbisik.


Semalam Alea berusaha untuk merangkai setiap ingatan di kepalanya. Dan ucapan kakek yang berkata kehilangan Dira membuat Alea berpikir jika memang ada hubungannya dengan wanita itu.


"Jadi siapa mbak Dira?" bisik Alea lagi.


"Lo tuh ngomong apa sih Al. Gue nggak ngerti" jawab Diwa.


"Jangan ngehindar. Gue nggak dapat jawab dari ipar lo. Jadi jawab gue sekarang. Iya kan? Ada hubungannya sama mbak Dira"


Diwa menghela napasnya "Lo tanya aja sama su—ipar gue" koreksi Diwa cepat. "Mbak Dira itu mantannya mas Wira Al. Dan sekarang mereka berteman. Jadi jangan cari tahu hal yang lebih jauh lagi"


"Oke." Alea menganggukkan kepalanya. Lalu langsung berdiri dan pindah posisi duduk di antara Gita dan Keke. Bukan Alea namanya jika dilarang akan langsung menurut. Sekali dilarang, malah akan menambah tanda tanya besar di kepala Alea sekarang.


"Akhir-akhir ini lo kayanya deket banget sama Diwa. Lo ada sesuatu sama Diwa ya?" tebak Gita tanpa memikirkan perasaan Keke sama sekali.


Alea menggelengkan kepalanya cepat saat mendapat tatapan sedih dari Keke. "Nggak. Suer. Gue ada urusan sama dia. Dan sekarang gue ada urusan sama kalian berdua"


Gita dan Keke saling pandang dengan ekspresi bingung.


"Gue mau minta tolong kalian buat cari tahu seseorang. Namanya Dira, gue nggak tahu nama lengkapnya siapa. Yang jelas Diwa kenal sama mbak satu itu. Alasannya gue kasih tahu sekarang."


"Lo beneran ada sesuatu sama Diwa Al. Kalau ada gue nggak masalah kok" ucap Keke.


"Alih-alih lo mikir gue ada sesuatu sama Diwa. Lebih baik lo mikir ada sesuatu antara Diwa dan Dira" jawab Alea.


Setelah menikah dengan Arsen, banyak sekali kebohongan yang ia lakukan akhir-akhir ini. Nambah dosa aja terus.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2