
.eits jangan lupa baca bab sebelumnya dulu ya. dan yuk ramaikan komentar kalian untuk Arsen dan Alea. marah-marah sama Arsen berjamaah yuk ðŸ¤
...----------------...
Sore kini mulai menyingsing. Alea terbangun saat suara ketukan pintu disertai dengan namanya yang dipanggil oleh mas Arsen dari arah luar terdengar. Alea melirik jam yang menggantung di dinding, pukul 17.00 dan sepertinya bunda menepati janji untuk tidak mengatakan segala hal pada mas Arsen.
Membuka pintu, Alea langsung membalikan badannya dan duduk di sofa.
"Kok kamu pergi nggak ngomong dulu sama mas sih Al? Cuman kirim pesan doang. Mas cariin kamu loh. Jadi Gita udah balik ke Jakarta? Cepet banget"
Alea tak menjawab sederet pertanyaan Arsen yang kini berada di ruang baju.
"Emang Gita asli mana?" tanya Arsen lagi. Mengambil baju ganti dan handuk, Arsen berjalan menuju kamar mandi. Tapi baru sampai tangannya menyentuh gagang pintu, Arsen merasa sedikit aneh karena tak ada satupun dari pertanyaannya yang dijawab. Menoleh ke arah Alea, Arsen terkejut saat mendapati ekspresi dan mata sembab Alea sekarang.
"Kamu habis nangis, dek?" Arsen berjalan mendekati Alea.
__ADS_1
Menampik tangan Arsen yang hendak terulur mengusap puncak kepala, Alea berjalan menuju ranjang dan mengambil ponsel miliknya yang masih menunjukkan foto undangan itu lalu memberikannya pada mas Arsen.
"Kamu bisa jelasin ini apa mas?"
Saat melihat apa yabg ditunjukkan oleh Alea, mata Arsen membelalak seketika.
"Kamu bisa menjelaskan hal ini mas?!!" tanya Alea lagi.
Sudah ketahuan, Arsen tak bisa menghindar lagi. "Kami pernah tunangan Al"
Ada sebuah tawa getir dari Alea sekarang, mbak Dira sebagai mantan pacar mas Arsen saja sudah membuat Alea pusing karena kedekatan mereka, dan kini mereka pernah tunangan?. "Tunangan?, mbak Dira wanita yang di sukai mas Wira, mas"
Bukan sebuah tawa getir seperti tadi, Alea kini tertawa keras dengan air mata yang kembali menetes. Dalam situasi dan keadaan yang hampir membuat hubungan mereka retak pun, mas Arsen malah memilih kalimat yang terasa begitu menohok baginya, membuktikan jika masih ada sosok Dira didalam hati laki-laki itu.
"Jadi, selain aku dinikahi untuk membayar hutang paman ku, aku juga dijadiin sebagai pengantin pengganti?"
__ADS_1
"Dek"
"Terus, kenapa nggak dari awal aja bilang kalau mbak Dira mantan tunangan kamu mas? Kenapa terus menghindar kalau aku tanya?"
Arsen mengusap wajahnya sendiri kasar. Ini semua memang kesalahannya karena tak jujur dari awal, maka dari itu dirinya harus menjadi pihak yang sabar untuk menanggapi emosi Alea. Gadis yang masih berumur 19 tahun, jelas emosinya begitu meluap-luap. Tak seperti Dira yang jauh lebih tenang saat marah, meski ternyata menikung dari belakang.
"Semua itu sudah berlalu Al. Untuk apa diceritakan. Yang sekarang ada di hadapan mas itu kamu, yang jadi istri mas itu sekarang kamu, jadi untuk apa mas mengungkit masa lalu?"
Alea mengusap air matanya lalu mendongak menatap langit-langit kamar sebentar, sebelum akhirnya kembali menatap ke arah suaminya. Kenyataan yang paling menyakitkan adalah ucapan mas Arsen tak sesuai dengan perilaku laki-laki itu selama ini. Mana ada orang yang ingin fokus pada pasangannya sekarang tapi selalu marah setiap ada orang yang membahas mbak Dira?.
"Aku dan Dira hampir menikah Al. Kami mengenal saat mas ingin membangun rumah ini, dia arsiteknya. Mas nggak nembak untuk pacaran, tapi mas langsung melamar ke orang tuanya. Lamaran mas diterima karena ayah Dira mengira anggota keluarga Yudistira yang berpacaran dengan putrinya adalah mas. Makannya lamaran mas diterima. Kedua pihak keluarga juga melakukan kerja sama bisnis, karena hal itu Dira juga setuju untuk nikah sama mas tanpa mengatakan jika dia berpacaran dengan Wira. Dan semua itu terjadi, acara pernikahan di batalkan Al"
Memang ini yang Alea harapan sejak kemarin, penjelasan langsung dari mas Arsen akan apa yang terjadi dulu. Seharusnya dirinya merasa lega sekarang, tapi entah kenapa rasa sakit di hatinya kini malah tambah semakin besar. Apalagi jika kesimpulan yang ia ambil dari potong-potongan ingatan akan perilaku mas Arsen yang menyangkut dengan Dira, kesimpulan Alea adalah jika suaminya itu kini masih memiliki perasaan dengan mbak Dira.
"Aku capek mas. Aku ngantuk. Aku mau tidur. Kamu keluar aja, jangan ganggu aku" ucap Alea, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur sambil memunggungi mas Arsen yang masih berdiri ditempatnya.
__ADS_1
Biasanya jika dirinya marah seperti ini, mas Arsen akan memeluknya dari belakang tanpa aba-aba sama sekali, membuat Alea tenang dan akhirnya tertidur di dalam pelukan suaminya.
Namun, suara langkah yang malah terdengar semakin menjauh diakhiri dengan suara pintu yang ditutup membuat tangis Alea semakin pecah.