Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
S2 : Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Bersamaan dengan Diwa yang datang menggunakan motor gedenya, Aska meletakan secangkir kopi lalu duduk di kursi teras. Menghabiskan kopi paginya untuk menghilangkan pening, Aska baru akan berangkat ke kantor.


Mimpi itu selalu datang saat dirinya tak lagi mampu menahan rasa rindu pada Alea, menjadikannya laki-laki brengsek sekali lagi karena merindukan calon istri laki-laki lain. 5 tahun nyatanya bukan waktu yang cukup untuk membuat Aska melupakan mantan istrinya, entah butuh berapa tahun lagi hingga perasaan itu hilang tanpa disadari.


Tapi satu yang Aska sadari setiap mimpi itu datang adalah bahwa dari lubuk hatinya, dirinya masih belum rela untuk menghapus Alea dari sana. Paginya akan selalu buruk setelah mimpi itu datang dan Aska akan selalu berakhir duduk di teras rumah dengan asap kopi yang masih mengepul.


"Masih pagi, muka sumpek amat bang"


Aska hanya mengedikkan bahunya. Entah apa yang dipikirkan adik sepupunya ini di usianya yang sudah menginjak 25 tahun. Tak ada rencana menikah, kerja tak mau terikat dengan perusahaan apapun dan lebih memilih menerima job pembuatan website dari luar, hidup Diwa terlalu bebas hingga membuat kedua orang tua sepupunya itu uring-uringan tak jelas.


Hari ini lebih baik dari kemarin, setidaknya laki-laki itu tak datang ke rumah pagi-pagi buta mengenakan jaket kulit hitam dan ransel besar yang menandakan baru pulang setelah berkelana entah kemana, melainkan mengenakan baju batik berwarna coklat muda dengan aksen batik dibagian kanan.


"Mau kemana? Tumben pagi-pagi udah pakai batik?" tanya Aska balik.


Raut wajah slengean Diwa kini berubah menjadi sayu, laki-laki itu mengambil posisi duduk di samping Aska sambil mengeluarkan secarik kertas undangan dari dalam tas.


"Baju seragam di nikahan Alea. Baru gue ambil dari tukang jahit" jawab Diwa lirih namun masih jelas terdengar oleh Aska.


Lihat? Semua itu memanglah hanya mimpi semata. Pernikahan itu tetap dilangsungkan, bahkan undangannya sudah berada di depan mata sekarang.


"Lo baik kan bang?" Diwa tahu itu adalah pertanyaan terkonyol yang ia lontarkan setelah melihat ekspresi sepupunya sekarang.


"Gue mimpi Alea nggak jadi nikah. Brengsek bener gue kan Wa?"


"Bang"


Mengambil undangan yang diletakan diatas meja. Aska bangkit sambil menjinjing tas kerjanya. Semuanya sudah berakhir. Harapannya sudah sirna. Alea baik-baik saja, maka itu lebih dari cukup meski ia masih merasakan sakit yang sama.


"Gue berangkat. Nanti kalau bunda pulang dari pasar, bilang gue udah berangkat ya Wa"


Mendapat anggukan lemah dari Diwa, Aska langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menjauhi area rumah. Coklat muda dengan aksen batik, Aska mungkin harus mencari pakaian senada untuk ia gunakan saat menghadiri acara pernikahan itu.


Seolah dunia tengah bersimpati dengannya dan tak ingin membuatnya semakin stress, jalanan pagi ini terbilang sangat lancar hingga mobil Aska bisa melaju bebas ke arah kantor. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, mobil Aska sudah terparkir di area parkir sedangkan yang empunya tengah berjalan dilobi sambil disambut oleh sapaan beberapa karyawan.

__ADS_1


Dengan sebuah senyuman yang ditarik paksa Aska menjawabi semua sapaan itu. Hatinya tengah tak baik-baik saja, mood nya berantakan hanya karena sebuah kertas undangan yang remas erat lalu ia lempar ke sofa begitu sampai di ruangan kerjanya.


Kenzo yang ada di sana hanya menghela napasnya tanpa mengatakan apapun. Sejak bercerai, sifat Aska nyaris berubah sepenuhnya. Lebih sering melamun, dan hidup dibalik senyuman palsu.


"Kenapa lagi hari ini?" tanya Kenzo. Jika memasang wajah tak bersahabat seperti itu, maka Kenzo akan menanggapinya sebagai teman. Bukan sebagai atasannya.


"Gue emang brengsek ya Ken"


"Baru nyadar?"


"Gue mimpi Alea nggak jadi nikah dan Saga kecelakaan terus meninggal"


Tangan Kenzo yang tengah meraih kertas undangan yang dilempar oleh Aska tadi berhenti seketika. Tubuhnya membeku mendengar sederet ucapan Aska tadi. Bukan pertama kali Aska berkata jika ia memimpikan Alea, namun baru kali ini memimpikan Alea bersamaan dengan Saga yang meninggal dunia.


"Gue emang brengsek kan Ken?"


Rasanya hukuman akan apa yang pernah Aska lakukan pada Alea masih belum berakhir meski sudah 5 tahun berlalu. Mungkin akan berakhir saat Aska menyerah dan menjadi gila. Tuhan sepertinya enggan untuk memberikan kesempatan kedua bagi dirinya.


"Meski gue merasa brengsek setelah memimpikan hal itu. Gue berharap jika mimpi itu jadi kenyataan" Aska tertawa sarkas. Tawa yang malah terdengar begitu pilu ditelinga orang lain.


Sudah susah payah dirapikan lagi undangan itu, malah berakhir kembali diremas oleh Kenzo. Aska tak membaca tanggal yang tercantum di sana. Aska hanya meremasnya tanpa memperhatikan setiap detail yang ada. Tebakan Kenzo dan Gita benar adanya, dan Diwa membuktikan semuanya tadi pagi.


Benarkah keputusan mereka bertiga benar sekarang?


Tak akan ada luka lagi yang tercipta bukan?


Mereka, baik Aska maupun Alea akan baik-baik saja bukan?.


"Bisa lo fokus sekarang? Banyak kerjaan yang harus kita bahas. Dan sebelum itu semua, lo butuh ini"


Kenzo meletakan satu kotak bekal makanan di atas meja kerja Aska. Sarapan yang memang sengaja Gita buat dua kotak untuk dirinya dan Aska.


"Sebagai sahabat berakhir" Kenzo menarik napasnya dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Hal yang ingin ia tunjukan pada Aska nanti sore sepertinya perlu dibicarakan lagi dengan istrinya. "15 menit lagi anda ada rapat dengan tim 2 web pak. Saya tunggu di ruang rapat" setelah mengatakan hal itu, Kenzo meletakan kembali undangan yang diremas Aska dimeja laki-laki itu, lalu berjalan keluar dengan keyakinan penuh jika Aska tak akan mengecek undangan itu kembali.

__ADS_1


Aska menghela napasnya kasar, diremasnya kertas undangan itu lalu ia lempar ke dalam tong sampah. Semuanya sudah berakhir, dan dia harus mulai menerima kenyataan yang ada.


Tak napsu makan, Aska memilih untuk bangkit dan keluar dari ruangan kerja. Alih-alih makan nasi, ia lebih menginginkan secangkir kopi lagi untuk menyegarkan kepalanya sekarang. Ada rapat penting yang harus dibahas, dan Aska tak ingin mengacaukannya hanya karena tak fokus.


"Pagi pak" sapaan itu terdengar begitu langkah Aska memasuki area pantry.


"Pagi Bim. Buat kopi?"


"Iya. Bapak mau sekalian?"


"Saya buat sendiri"


"Baik pak, permisi kalau begitu pak"


Aska mengangguk. Namun hanya barang sejenak saat ia mengingat jika Bima satu almamater bahkan satu jurusan dengan Alea, seharusnya Bima mengenal Alea dan Saga.


"Bim" panggil Aska menghentikan langkah Bima.


"Iya pak"


"Kamu, satu kampus sama Gita istrinya Kenzo kan ya?"


Bima mengangguk "Iya pak"


"Kenal sama Saga?"


Raut wajah Bima berubah seketika "Kenal pak. Almarhum orang yang baik"


"Almar... Apa?" dahi Aska berkerut dalam. Setelahnya tubuhnya merasa sepertu disengat listrik mendengarkan segala cerita Bima. Bahkan tanpa sadar gelas yang berada di tangan jatuh kelantai hingga menimbulkan suara pecahan yang keras.


°°°


***Wkwkw aku kok kesel sama Aska di sini ya. bisa-bisanya dia berharap begitu.

__ADS_1


ayo ramaikan komentar kalian***.


__ADS_2