Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 41 : Wira dan Dira


__ADS_3

Bugh


Satu tinju melayang begitu mulus, seorang pria yang baru saja keluar dari area dapur langsung tersungkur ke lantai disertai suara pecahan guci yang menghantam lantai. Disisi lain seorang wanita juga nampak memekik kaget saat melihat putranya tersungkur begitu mengenaskan.


Arsen berdiri dengan tangan mengepal erat. Dadanya naik turun menahan amarah yang sebenarnya sudah meledak tadi bersamaan dengan tinjunya yang melayang dan mengenai tepat di pipi Wira. Setelah mendengar pernyataan tangan Dira yang hamil, Arsen langsung pergi menuju rumah tante Jihan untuk memberi pelajaran pada Wira yang sudah mengambil mahkota Dira tanpa adanya pernikahan terlebih dahulu.


Hamil? Tanpa nikah? Jangan bercanda.


Kenzo yang tadi berusaha menahannya dengan kalimat 'Dira hamil, itu bukan urusan lo lagi' juga Arsen tinju hingga membuatnya bisa sampai di rumah ini. Menatap penuh amarah dan kekecewaan pada sosok Wira yang sudah hampir berbulan-bulan tak dia ajak bicara sama sekali.


"Lo gil..."


Bugh.


Satu bogeman lagi, Arsen layangkan, dan Wira kembali tersungkur dengan sumpah serapah yang keluar dari mulut pria itu.


Menindih Wira, Arsen mencengkram kerah baju sepupunya itu dan kembali melayangkan satu tinjunya.


"Yak!!! Lo gila Arsen!!!"


Mari anggap Arsen gila sekarang. Karena sejatinya dirinya tidak sadar jika setan sudah menguasai pikirannya dengan amarah yang membuncah. Bayangan jika Wira menyentuh Dira sebelum adanya pernikahan membuat emosi Arsen kembali naik. Sakit di dadanya terasa jauh lebih menyiksa ketimbang ditinggal Dira dihari mereka menikah. Arsen merelakan hal itu bukan untuk membiarkan Wira menyentuh wanita yang ia cintai sepenuh hati dengan hal keji seperti itu.


Bugh.


Gantian. Satu pukulan dari Wira kini mengenai Arsen.


Arsen bangkit dan langsung melayangkan kembali bogeman ke arah Wira. Rasa sakit dari tinju Wira barusan, tak lebih sakit daripada hatinya.


Pekikan dari tante Jihan yang menyuruh putra dan ponakannya berhenti saling adu tinju itu sama sekali tak membuat Arsen berhenti. Telinganya seolah tersumbat dengan emosi hingga Arsen kembali melayangkan satu tinjunya lagi pada Wira. Baku hantam itu terus saja berlangsung dan mungkin akan terus berlangsung jika tante Jihan tak membanting piring dan gelas ke lantai.


Prangggg.


"STOP SEMUANYAAAAAAAA!!!!!"


Tangan Wira yang hendak kembali dilayangkan untuk meninju Arsen tertahan di udara. Dilihat ibunya yang kini terduduk dilantai dengan air mata yang membasahi pipi. Harapan jika putranya akan kembali akur dengan Arsen, hilang sudah saat melihat keduanya malah baku hantam seperti sekarang.


Wira melepaskan cengkramannya dikerah baju Arsen lalu langsung menghampiri ibunya.


Sedangkan Arsen yang tadi nampak seperti orang kerasukan, berbaring terlentang sambil mengusap darah yang mengalir disudut bibirnya. Tangisnya pecah bersamaan dengan langkah Dira dan Kenzo yang berlari memasuki rumah Wira.


"Bangun nak. Bangun nak. Tante mau tahu alasan kamu kenapa semarah ini. Tante minta maaf sama kamu nak. Maafin tante, maafin om, maafin Wira, maafin Dira nak. Tante benar-benar minta maaf sama kamu"


Arsen menyeka air matanya mendengar sederet permohonan maaf tante Jihan yang nampak frustasi itu. Tak ingin membuat tante Jihan semakin shock dengan tahu jika Dira hamil, Arsen segera berdiri dan langsung berjalan keluar dari rumah ini. Bukan hanya tak ingin membuat tante Jihan lebih kaget lagi, namun Arsen juga tak ingin melihat perhatian Dira yang langsung berlari ke Wira saat melihat kondisi laki-laki itu sama tak baiknya dengannya.


Dunia memang terasa begitu kejam bagi orang rendahan sepertinya. Membuat Alea sakit hati, dan dunia membalas Arsen dengan rasa sakit yang jauh lebih berkali-kali lipat.


***


Menyelimuti mamah Jihan yang kini tertidur setelah menangis dan terus bertanya apa alasan hingga Arsen—anak yang dianggap paling baik di keluarga besar—tampak begitu marah.

__ADS_1


Menutup pintu kamar, Wira berjalan menuju Dira yang kini duduk di ruang tengah sambil meremas jemari-jemari yang menandakan setidak tenangnya wanita itu sekarang. Bahkan Wira yang kini duduk disampingnya sama sekali tak disadari oleh Dira.


Mengambil satu tangan Dira, Wira genggam seerat mungkin membuat sang empunya mendongak dan menyadari kehadirannya. Ada tatapan bersalah yang Wira lihat dari kedua mata cantik itu.


"Kamu baik-baik aja kan Ra? Kenapa ke sini? Biar aku yang datang ke apartemen kamu. Kamu capek kalau ke sini" Wira mengusap punggung tangan Dira lembut, berusaha menenangkan calon istrinya ini. Niatnya Wira akan membawa Dira ke ke keluarga akhir pekan, tapi nyatanya sepertinya semua hal itu akan berantakan sekarang. Namun, Wira berjanji akan bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka lakukan dulu. Saat keduanya sama-sama emosi dihari H pernikahan Dira dan Arsen. Ya, mereka selalu bertemu saat di Singapura.


"Mamah nggak apa-apa mas?" tanya Dira.


Wira mengangguk, ia menarik Dira dan mendekapnya erat. Ada banyak rintangan yang akan mereka lalu kedepannya untuk mencapai kata sah sebagai suami istri.


"Maaf kalau buat kamu dipukul sama mas Arsen"


Wira mengangguk, ia melerai pelukan mereka kemudian menghapus jejak air mata di pipi Dira. "Kamu cerita sama Arsen tentang kondisi kamu?"


Dira mengangguk.


"Tentang anak kita juga?"


Dira kembali mengangguk "Iya. Aku nggak mau nanti pas anak kita lahir, dia ngeliat ayahnya nggak akur dengan om nya sendiri. Dira nggak mau hal itu terjadi mas"


Wira mengangguk paham. Jadi ini alasan kenapa Arsen nampak seperti orang kerasukan tadi siang. Semuanya jelas karena perasaan sepupunya pada Dira masih belum hilang semua. Dan semakin sakit hati saat tahu jika Wira tidak sengaja merebut mahkota wanita yang dicintainya sebelum pernikahan. Jika dirinya menjadi Arsen, Wira mungkin juga akan melakukan hal yang sama.


Mengusap perut yang masih tampak rata milik Dira, Wira tersenyum lembut pada wanitanya " Aku akan tanggung jawab Ra. Kita akan menikah, dia akan lahir dengan kondisi kita sudah menikah dan aku berjanji anak kita akan lahir dengan posisi ayahnya sudah berbaikan dengan omnya."


Dira mengangguk. Kembali menangis, ia memeluk Wira erat. Tanpa tahu jika Jihan yang mereka kira tengah tidur itu kini berdiri di depan pintu kamar dan mendengar semua yang mereka bicarakan.


Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Jihan berjalan pelan menuju ruang tengah. Kemunculan Dira secara tiba-tiba saja sudah membuat Jihan sangat terkejut, dan sekarang.... Anak? Anak siapa?.


"Mah"


"Tante nggak ngerti apa yang kalian bicarakan tadi. Anak? Anak siapa nak Dira?"


"Mah" Jihan langsung menepis tang sang putra yang hendak menyentuh lengannya.


"Apa alasan kamu balik lagi ke sini nak? Apa alasan kenapa Arsen semarah itu sama Wira tadi? Anak? Kamu punya anak nak?" tanya Jihan dengan nada yang masih lembut. Mau bagaimanapun bukan hanya Dira yang salah, putranya pun ikut ambil adil dengan semua permasalahan yang ada.


"Tante"


"Jawab tante nak cantik. Kamu hamil? Sama siapa nak?"


"Tante" Dira mulai menangis dibuatnya.


"Jawab tante Dira!!!"


"Anak aku dan Mas Wira tan"


Tepat setelah pengakuan itu terdengar, tubuh Jihan ambruk seketika. Semuanya gelap dan berakhir dengan Jihan yang tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Entah sudah berapa kali dering telfon di ponselnya terus berbunyi. Bukan tak mendengar, namun Alea memilih untuk pura-pura tak mendengarkannya dan membiarkan ponselnya terus saja berdering.


Gita yang berada dikamar yang sama, mendengus sebal karena merasa berisik. Berisik oleh suara kran kamar mandi, dan juga berisik karena dering ponsel Alea yang terus saja berbunyi, sedangkan yang punya malah asik membaca novel sambil sesekali cekakak-cekikik tak jelas.


"Al berisik banget sumpah. Dijawab apa" omel Gita.


Bertubi-tubi pesan dari Arsen dan bunda Amel kini masuk kedalam ponsel Alea.


Arsen :


Dek, mas jemput kamu ya.


Mas hancur dek.


Mas nggak sanggup kalau di rumah sendiri.


Mas butuh kamu.


Mas butuh kamu buat nenangin kepala mas yang berisik ini.


Mas jemput ya dek.


Mas ada di depan rumah Keke.


Dek, jawab mas dek.


Angkat telfon mas dek.


Mas bisa gila kalau terus seperti ini.


Bunda Amel (Mertua baik):


Nak. Arsen sama kamu tidak?


Bunda minta maaf, tapi bunda bener-bener berharap Arsen ada sama kamu.


Nak tante Jihan masuk rumah sakit.


Tadi Arsen habis mukulin Wira nak.


Al, tolong telfon Arsen. Dia nggak ngangkat telfon bunda.


Bunda khawatir Al.


Tolong jawab telfon bunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan komentar untuk bab ini ya.

__ADS_1


dan boleh dong kasih bintang untuk cerita ini.


makasih semua..


__ADS_2