Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 31 : Aku Pemeran Pengganti Setelah Pemeran Pengganti


__ADS_3

Alea melirik ke kanan dan ke kiri begitu memasuki gedung perusahaan milik mas Arsen. Beberapa orang yang ada di lobi memandang ke arah mereka dengan raut wajah yang tak bisa Alea tebak sama sekali. Rasanya dirinya mendadak menjadi artis top, atau lebih buruknya menjadi narapidana yang tengah berjalan dengan kepala yang menunduk, kurang topi aja dan tangan yang ditutupi kain karena diborgol, dirinya benar-benar menjadi pusat perhatian semua orang.


Meski bukan pertama kali datang ke kantor Arsen, dan bukan pertama kali juga selalu menjadi pusat perhatian setiap kali berjalan melewati gerombolan orang, Alea dibuat gugup setengah mati. Bukan karena kecantikannya yang membuat semua mata tertuju ke arahnya sekarang, melainkan karena sosok pria yang kini tengah berjalan bersisian dengannya. Mas Arsen dengan langkah berwibawa menggenggam tangannya erat sambil terus menggandengnya, Seolah seperti hewan buas yang takut kehilangan mangsanya.


Ajaibnya lagi, Mas Arsen yang biasanya berjalan layaknya cheetah, kini malah berubah seperti kura-kura. Ingin rasanya Alea yang balik menarik tangan suaminya ini agar cepat sampai ke ruangan Arsen.


Beberapa karyawan terlihat menyapa dan membungkuk ke arah Arsen, namun dari banyaknya orang di lobi, tak ada satupun yang berani bertanya langsung mengenai siapa sosok yang digandeng sang bos. Mereka hanya saling berbisik satu sama lain, yang membuat Alea merasa risih.


"Arsen"


Panggilan dari arah kiri mereka, membuat langkah Arsen terhenti seketika. Alea bahkan hampir menabrak suaminya ini karena sejak tadi dirinya terus saja berjalan sambil menundukkan kepalanya. Malu? Tidak. Wajah suaminya ini masuk ke standar cowok yang nggak malu-maluin kalau diajak jalan bareng. Hanya saja, dirinya ternyata masih belum siap untuk dikenalkan seperti ini.


Dan seolah kehidupan memang tengah sebercanda itu padanya, saat mengangkat kepala guna melihat siapa yang memanggil nama suaminya, Alea sukses dibuat ingin tertawa meratapi nasibnya saat sosok ayah mertuanya lah yang ia lihat sekarang. Semakin lama pula dirinya menjadi pusat tontonan orang-orang.


Kira-kira apa yang mereka pikirkan sekarang? Alea dibuat penasaran sendiri akan hal itu. Kalau mereka berpikir jika dirinya adalah adik atau sepupu Arsen sih tak masalah, tapi bagaimana jika mereka berpikir kalau dirinya adalah simpanan mas Arsen? Hanya statusnya saja Arsen sudah menikah, tapi tak pernah ada yang melihat wajah istri bosnya itu.


Ada umpatan yang tertahan di mulut Alea sekarang saat mas Arsen kini malah menggandengnya mendekat ke arah Bagas. Ayah mertuanya itu tampak tersenyum cerah karena melihat pemandangan yang tak biasa pagi ini. Bagas tahu, Alea meminta agar pernikahan mereka disembunyikan terlebih dahulu hingga dirinya lulus kuliah, namun melihat menantunya itu kini malah ikut Arsen ke kantor, membuat Bagas tak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya.


Jika saja mereka bertemu diruang kerja mas Arsen, Alea mungkin akan berlari menghambur ke pelukan mertuanya itu. Percayalah memang sedekat itu Alea dengan kedua mertuanya, keluarga Arsen benar-benar menerimanya dengan tangan terbuka lebar. Hanya saja, sekarang mereka ada di lobi, banyak puluhan pasang mata yang menatap ke arah mereka, Alea tak ingin semakin menjadi bahan tontonan. Dibayar mending, lah ini gratis.


"Tumben pagi-pagi ayah di sini"


Tak menjawab pertanyaan putranya, Bagas malah menghadap ke arah menantunya dan memeluk Alea sebentar "Papah niatnya mau ke rumah kamu Al, mau ngajak kamu jalan-jalan, takut bosen. Eh malah ketemu di sini"


Alea mengambil tangan Bagas dan menciumnya. Menunjuk Arsen dengan lirikan mata "Ada yang maksa minta ditemenin ke kantoran pah"


Bagas langsung menoleh kearah putranya yang kini berdiri dengan dahi yang berkerut. Hanya sebuah senyuman yang muncul di wajah Bagas sekarang, setidaknya setelah menikah dengan Alea, raut wajah putranya itu kini terlihat lebih beragam, tak datar seperti sebelum menikah.


"Lagi manja berarti Al" bisik Bagas pada Alea. Menantunya itu kini tertawa, sedangkan Arsen tampak memutar bola matanya jengah. Baik ayah atau bunda, jika sudah berada di samping Alea, dunia seakan terbalik dan membuatnya yang malah terkesan menjadi menantu alih-alih anak kandung.

__ADS_1


"Ayah tumben ke kantor pagi-pagi. Kenapa?" tanya Arsen.


Alea melirik sinis ke arah Arsen, tawanya sirna seketika saat nada dingin suaminya itu terdengar, seperti tak rela sekali melihat istrinya tertawa bahagia hari ini di atas penderitaannya.


"Ada yang mau ayah bicarakan sama kamu. Al, ayah boleh pinjem suami manja kamu sebentar?" kebalikan dengan Arsen, Bagas malah gencar sekali menggoda putra satu-satunya ini. Melihat ekspresi kesal Arsen adalah hal yang membuat Bagas merasa jika pilihan untuk menikahkannya dengan Alea bukanlah hal yang salah.


"Silahkan yah. Dikarungin, terus bawa pulang juga nggak apa-apa" jawab Alea.


Arsen menoleh seketika ke arah istrinya "Serius? Saya boleh dikarungin terus di bawa pulang? Emang berani nanti malam tidur sendiri di rumah? Ah, kayanya kangen dipeluk sama setan kamu ya Al"


Tak menoleh ke arah Arsen karena tahu pasti suaminya itu memasang wajah bak seorang pahlawan, Alea tersenyum ke arah ayah mertuanya "Boleh di pinjem yah. Cuman jangan dikarungin ya yah, kirim aja ke ruangan pak CEO yang ada di lantai 8 yah, Alea tunggu di sana" mencium tangan mertuanya lalu beralih ke tangan mas Arsen, Alea langsung melenggang pergi ke lift meninggalkan ayahnya yang tertawa terbahak-bahak, sedangkan mas Arsen berdiri dengan senyuman super tipis yang ajaibnya bagaikan sebuah gula bagi Alea pagi ini.


Masuk ke dalam lift, Alea melambaikan tangannya ke arah mertua dan suaminya itu. Masih ada sebuah senyuman yang tercetak jelas di wajah Alea, seolah lupa dengan lingkungan sekitar. Namun begitu pintu lift tertutup, pantulan orang-orang yang ada di dalam lift yang jelas terlihat curi pandang ke arahnya membuat Alea tersadar seketika.


Dari pantulan pintu lift, Alea bisa melihat dengan jelas bagaimana orang-orang yang berada di belakangnya mulai berbisik satu persatu. Meski tak secara terang-terangan karena mereka akan tersenyum ramah saat pandangan mereka bertemu di pantulan pintu, namun Alea yakin pemeran utama dalam pembicaraan mereka adalah dirinya.


Dan benar saja, begitu pintu terbuka di lantai 6, tiga orang wanita masuk kedalam lift dan mulai membicarakan gosip yang beredar.


"Bukannya kata lo tunangan pak Arsen ada dilantai 8? Kenapa Angel heboh katanya liat pak Arsen dateng sambil gandeng cewek muda?"


"Gue, gue tadi sempat turun ke bawah. Dan ceweknya beda woy. Mel, cowok lo pas dateng ke tunangan pak Arsen yang privasi itu, salah liat kali"


Alea mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura berselancar di media sosial. Tunangan? Tunangan yang mana yang mereka maksud?. Alea menikah dengan mas Arsen tanpa ada acara pertunangan sama sekali. Langsung akad karena dirinya hanyalah pengganti Marinka.


"Ya kali pacar gue bohong! Sumpah, gue diliatin foto pas pak Arsen tunangan. Dan ceweknya yang sekarang ada di atas. Bukan yang digandeng pak Arsen tadi"


"Serius? Berita heboh kalau kaya gini nih."


Alea menajamkan telinganya saat salah satu dari mereka memelankan suaranya. Jemari jemarinya yang mulai dingin membuat Alea diserang gugup seketika.

__ADS_1


"Pacar gue punya temen yang nyetakin undangan nikahan pak Arsen. Bahkan ada foto pak Arsen sama mbak-mbak yang di atas. Mau lihat?"


"Mau. Mau. Mau."


Tak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Alea langsung membalikan badannya dan menatap mereka semua. Ketiganya terkejut bukan main saat Alea tiba-tiba menghadap ke arah mereka.


"Saya boleh lihat undangannya juga mbak?" tanya Alea dengan nada suara lemah. Kehadiran Dira yang kemarin tiba-tiba datang ke kehidupan mereka saja sudah cukup membuat Alea memiliki tanda tanya besar. Lalu apa lagi sekarang? Pertunangan? Bahkan undangan pernikahan?.


"Sa.. Saya lupa mbak, sudah di hapus foto undangannya" ucap salah satu wanita dengan terbata. Hanya dengan melihat ekspresi Alea saja, wanita itu pasti bisa langsung menebak jika ada yang tak beres sekarang.


"Saya nggak bakal ngasih tahu ke mas Arsen kalau saya dapat undangan itu dari mbak. Jadi saya mohon untuk liat undangannya"


Ketiga wanita itu saling ribut satu sama lain. Saat pintu lift terbuka di lantai 8, Alea menekan angka 15—lantai paling atas—gedung ini. Ia harus mendapat jawabannya sekarang.


Perlahan satu pasti, wanita yang memiliki foto undangan yang di maksud, menyerahkan ponselnya pada Alea.


Seolah dunia Alea dijungkir balikkan seketika. Layar pada benda pipih yang sudah Alea perbesar itu kini menunjukan nama lengkap Arsen dan Dira yang berdampingan. Seharusnya tak perlu seterkejut itu karena nyatanya dirinya juga sebagai pengantin pengganti Marinka. Hanya saja kebohongan Arsen yang membuat dunia Alea terasa berputar seketika, terlebih saat melihat tanggal pernikahan yang tertera. Jaraknya hanya berbeda 1 minggu dari tanggal pernikahan mereka.


Sekali lagi, sepertinya semua orang di keluarga itu memang tengah mempermainkannya. Alea dijadikan pemeran pengganti ke tiga di acara sebuh pesta pernikahan yang hampir gagal. Pemain utamanya adalah Dira, pemeran pengganti pertama adalah Marinka, dan pemeran pengganti terakhir yang akhirnya dinikahi adalah dirinya.


Lalu, sandiwara apa yang harus Alea lakukan sekarang dihadapan mereka semua?.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


***Oke. ya kemarin berharap Arsen ketahuan mana? Cung?


ketahuan juga di bab ini. Ramaikan kolom komentar dengan sorakan gembira yokkk..


hehe bantu promosiin cerita ini ke teman-teman dan kerabat kalian ya.

__ADS_1


__ADS_2