
Agenda hari ini adalah mendatangi tempat-tempat wisata terdekat dari penginapan. Suasa canggung jelas terjadi diantara Alea dan Arsen. Bahkan pagi tadi, Alea langsung keluar dari kamar begitu melihat Arsen sudah bangun dan duduk di pinggiran ranjang. Tidak ingin membuat liburannya kacau dengan Gita dan Keke mengetahui hubungan mereka, banyaknya pertanyaan mengenai mbak Dira akan Alea simpan sampai mereka kembali ke rumah nanti. Alea takut, penjelasan mas Arsen malah akan membuat moodnya terjun payung dan hal itu terlihat dari tindakannya.
Melihat Saga yang menuruni anak tangga, sedangkan Gita dan Keke belum keluar dari kamar. Alea langsung menarik Saga menuju halaman belakang. Mau bagaimanapun, ia perlu menjelaskan semuanya pada laki-laki ini sekarang.
Begitu sampai di halaman belakang, Alea duduk di salah satu kursi dengan Saga yang juga ikut duduk di sampingnya. Alea menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Posisi duduknya ia ubah mengarah ke Saga yang nampak duduk diam dengan pandangan lurus ke depan. Tidak menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Gue nggak tahu sih harus jelasin ke lo dari mana. Soalnya gue sendiri juga baru bisa menerima status gue akhir-akhir ini"
Saga menolehkan kepalanya, menatap wanita yang sukses membuatnya tak bisa tidur semalaman."Sejak kapan lo nikah sama pak Arsen?"
Karena Saga sudah menoleh ke arahnya, Alea meluruskan lagi posisi duduknya sambil menatap ke arah burung kecil yang bertengger diatas ranting pohon. Bukan hanya Saga saja yang hari ini tampak kacau dengan isi kepala yang super berisik, Alea juga merasakan hal sama. Terlebih saat matanya menangkap segerombolan turis yang tengah duduk santai di penginapan sebelah mereka. Tak ada mbak Dira di sana, namun Alea malah dibuat takut jika wanita itu muncul dari balik pintu.
"Sejak kapan Al?"
Saking berisiknya kepalanya sekarang, Alea sampai lupa untuk menjawab pertanyaan Saga barusan. "Dua hari sebelum pesta di rumah lo"
Ada sebuah tawa getir yang Alea dengar dari Saga. Laki-laki itu pasti merasa konyol dengan tindakannya di pesta waktu itu. Meminta Alea menjadi pacarnya di depan suaminya langsung. Jika dipikir-dipikir hal itu memang nampak menggelikan bagi Alea, namun memalukan bagi Saga.
"Jadi, bukan Diwa pria yang lo suka? Tapi malah karena sepupu Diwa?"
Alea mengangguk. Bisa apa dirinya jika memang takdir yang sudah berkata. Dan untuk sekarang, Alea kadang merasa ingin mencabik-cabik Marinka yang kabur dan setelahnya mengucapkan terima kasih karena merelakan laki-laki seperti Arsen untuk dirinya. Tapi untuk sekarang, Alea tak yakin kata terima kasih akan keluar dari bibirnya setelah kehadiran mbak Dia yang terasa begitu mengganjal.
"Gue sama Diwa itu cuman temenan Ga" sambil mengatakannya, Alea memukul lengan Saga guna mencairkan suasana, lalu tertawa yang hanya dibalas Saga dengan lirikan mata tajamnya. Ah, orang ini, kalau urusan hati nggak pernah bisa bercanda.
"Lo suka sama pak Arsen?" tanya Saga.
Pertanyaan yang sebenarnya hanya memiliki dua jawab saja antara iya atau tidak, namun nyatanya cukup untuk membuat tawa Alea menghilang perlahan. Bahunya terangkat sebentar kemudian kembali merosot, Alea bahkan tak tahu jawaban pasti akan pertanyaan itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Saga barusan, Alea malah balik mengajukan pertanyaan "Gue boleh minta tolong sama lo Ga?"
"Tentang apa? Tentang ngerahasiain hubungan kamu sama pak Arsen?"
Alea menganggukkan kepalanya. Untuk saat ini, biarkan semua seolah berjalan seperti biasa saja. Liburan kali ini bukan hanya tentang dirinya, mas Arsen atau mbak Dira saja. Melainkan juga kebahagiaan teman-temannya. Jangan merusak suasana untuk sementara.
__ADS_1
"Ke. Lihat deh, itu bukannya yang namanya Dira ya?"
"Iya. Kok dia ada di sini? Kenal pak Arsen lagi"
Suara bisik-bisik dari arah dalam, membuat Alea langsung berdiri kemudian menepuk pundak Saga dua kali sebagai isyarat jika dia mempercayai Saga untuk menjaga rahasia. Langkah Alea kini kembali berjalan masuk ke dalam, selain tak ingin membuat kedua temannya itu curiga karena dirinya mengobrol dengan Saga hanya berdua saja, melainkan juga karena Gita menyebut nama Dira di dalam kalimatnya.
Lambaian tangan Gita yang menyuruhnya mendekat menyapanya begitu Alea melewati pintu belakang, baik Gita dan Keke tengah berdiri di ruang tengah dengan pandangan yang tertuju lurus kearah pintu depan. Sosok Dira tengah berdiri dibalik tubuh Arsen yang menghadap wanita itu, berdiri diambang pintu pagar dengan obrolan yang kini terlihat begitu asik dari ekspresi mbak Dira yang tersenyum lebar.
"Itu Dira yang lo cari tahu kan Al? Jangan-jangan dia kesini mau nyari Diwa lagi" ucap Gita.
"Alih-alih cari Diwa, kayanya malah keliatan deket banget sama pak Arsen nggak sih?" ucap Keke.
Alea hanya menganggukkan kepalanya sambil mengamati keduanya yang masih tampak asik berbicara di depan sana. Jelas-jelas mas Arsen minta maaf semalam, namun nyatanya sepertinya hal itu hanya sebatas di mulut saja.
Saat Dira melihat mereka dan ajaibnya tangan wanita itu melambai tanpa dosa sama sekali. Mau tak mau, Alea tersenyum lebar sambil balik melambaikan tangannya. Bukan hanya Alea saja yang merasa canggung, Gita dan Keke pun melambaikan tangannya dengan rasa canggung yang sama.
Melihat Dia yang melambaikan tangannya, sontak membuat suaminya itu juga membalikkan badan. Alea tak menemukan ekspresi terkejut sedikitpun dari wajah Arsen sekarang. Selain seorang CEO, sepertinya Arsen bisa menjadi aktor yang handal.
"Hai. Dira"
Alea menjabat tangan Dira yang terulur ke arahnya.
"Aku Alea mbak. Ini teman aku, Gita sama Keke"
Saat Keke dan Gita menjabat tangan mbak Dira, Alea masih mempertahankan senyumnya tanpa melirik ke arah Arsen sama sekali.
"Temen kampusnya Diwa ya? Denger dari mas Arsen, katanya lagi liburan sama teman-temannya Diwa."
Entah harus lega atau marah, dari sikap mbak Dira, sepertinya mas Arsen juga tak memberitahu wanita itu jika salah satu teman Diwa adalah istrinya. Aku. Alea.
"Iya mbak. Lumayan, dapat gratisan buat liburan habis ujian" jawab Alea.
Berbanding terbalik dengan ekspresi Arsen yang kini tampak heran dengan sikap Alea, Dira malah tertawa mendengar ucapan Alea barusan.
__ADS_1
"Emang ya. Orang seasik Diwa pasti punya teman yang asik juga."
"Mbak. Ini coklat ada minyak babinya nggak mbak?" celetuk Gita. Entah sejak kapan, Gita sudah duduk di sofa dengan coklat yang disebar di atas meja.
Dira berjalan mendekati Gita lalu duduk di samping wanita itu. Tak memperdulikan mas Arsen yang berdiri sambil bersandar di daun pintu dengan tatapan yang tertuju kearahnya, Alea ikut mendekati Gita dan mengambil posisi duduk di depan Dira.
"Nggak ada. Mbak udah cari coklat yang halal untuk kalian" jawab Dira.
Gita mengelus dadanya sendiri "Alhamdulillah, jangan sampai makan makanan haram, nanti sholatnya nggak diterima"
"Ya mendingan lah, meski sholat lo bolong-bolong, setidaknya masih punya keinginan buat ngehindari begituan" celetuk Alea.
"Ya lebih baik lagi kalau sholatnya nggak bolong-bolong" mas Arsen yang sejak tadi diam hanya mengamati, kini ikut menimpali pembicaraan mereka. Setelah itu berjalan masuk meninggalkan area ruang tamu.
Keke mengacungkan jarinya ke arah Arsen pergi, sedangkan Dira bertepuk tangan sambil menganggukkan kepalanya. Hal itu jelas masuk ke dalam pengamatan Alea sekarang.
"Dari dulu sampai sekarang, kamu nggak ada yang berubah ya mas. Taat dalam beragama" ucap mbak Dira.
"Ngomong-ngomong nih ya mbak, kok mbak kenal sama pak Arsen?"
Alea ikut menunggu jawaban mbak Dira dari pertanyaan Keke barusan. Percayalah, dirinya juga penasaran akan hal itu.
"Saya dulu cukup dekat sama mas Arsen, kalau bahasa sekarang mungkin mantan?"
Sedikit demi sedikit, benang merah mulai terangkai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pembongkaran dikit demi sedikit.
seneng rame kolom komentar di bab kemarin 🥰.
ayok tinggalkan komentar kalian lagi di bab ini ya..
__ADS_1