
Bagaimana rasanya sebuah perasaan yang tercabik-cabik?.
Alea tengah merasakannya sekarang. Keganjalan yang sejak dulu mengganggu pikirannya kini terangkai dengan begitu mengenaskan hanya dengan sebuah foto undangan dengan nuansa berwarna biru laut itu. Biru laut, ya, warna itu juga yang sering Alea lihat dari pakaian mbak Dira saat ada di Bali kemarin. Bukan karena nuansa Bali yang memiliki keindahan laut, tapi karena itu adalah warna kesukaan Dira.
Dari banyaknya masalah dalam hidupnya yang datang, Alea biasanya menanggapinya dengan santai tanpa beban sama sekali. Mencari jalan keluarnya dengan tenang dimalam hari, lalu kembali cekak-cekikik di pagi harinya. Mungkin itu yang tadi berusaha Alea lakukan. Setelah melihat foto itu, Alea sempat tersenyum dengan raut wajah biasa saja, bahkan dirinya sempat meminta foto itu agar dikirimkan ke nomor ponselnya. Namun nyatanya, setelah 3 wanita itu keluar dari lift, kaki Alea terasa seperti berubah menjadi jelly seketika.
Bukankah seharusnya tak ada efek apapun yang ia rasakan? Sejak awal Arsen menikahinya hanya karena Alea sebagai pengganti Marinka. Sebagai seorang pengganti, seharusnya Alea tak perlu terkejut atau merasa sakit hari saat tahu semua ini. Hanya posisinya saja yang bergeser. Menjadi pengantin pengganti ke tiga di kehidupan mas Arsen.
Lalu, kenapa hatinya terasa sakit sekarang?. Terasa semakin menyakitkan tatkala ingatannya memutar semua sikap mas Arsen yang selalu menghindar begitu ditanyai mengenai mbak Dira. Mengenai mantan pacarpun Alea tahu dari mbak Dira sendiri. Dan kini kenyataannya bukan hanya sekedar pacar, hubungan mereka bahkan hampir menginjak ke jenjang yang serius.
Atau selama ini jangan-jangan mas Arsen selingkuh dibelakangnya? Lalu, bagaimana dengan mas Wira?
Saat pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi datang, Alea menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Tak jadi ke ruangan suaminya, sepertinya lebih baik dirinya pulang ke rumah sekarang. Kondisinya terlalu lemas untuk mendapati mbak Dira juga ada di sana.
***
"Ayah sudah denger semuanya dari Bunda, mas"
__ADS_1
Arsen yang tengah menyesap kopi miliknya terdiam sebentar, meletakan cangkir kopinya ke meja lalu menatap lurus ke arah ayahnya. Kedatangan sang ayah yang tiba-tiba ke kantor padahal baru pulang dari dinas keluar negeri, membuat Arsen bisa menebak alasan kedatangan ayahnya itu.
Semuanya jelas karena Alea yang mulai penasaran akan kehadiran Dira. Dan semakin penasaran lagi karena keduanya bertemu di Bali kemarin. Sikap dirinya pada Dira di Bali kemarin, sudah sebisa mungkin Arsen buat seperti biasanya, hanya saja daya tarik Dira memang begitu kuat hingga hubungan mereka kembali membaik kemarin.
Tidak. Jangan berpikir jika dirinya selingkuh dengan Dira di Bali kemarin. Arsen tak sebejad itu untuk melakukan hal itu. Hanya sebuah rasa benci pada Dira yang sebelumnya ada kini perlahan menghilang ditandai dengan dirinya yang mampu berbicara santai dengan wanita itu. Arsen tahu, Alea pasti melihat hal itu.
"Lupain Dira mas. Kamu punya Alea, hargai wanitamu itu" ucap Bagas lagi. Dirinya tak ingin putra satu-satunya ini berjalan di jalan yang salah hanya karena perasaan.
Arsen mengangguk. Hubungan dirinya dan sang Ayah cukup dekat, tak ada batasan yang membuat Arsen menyembunyikan segala hal dari Bagas "Mas udah coba yah. Tapi nggak bisa"
"Mas"
Ada sebuah senyuman tipis di wajah Bagas sekarang. Waktu itu Bagas paham betul bagaimana hancurnya Arsen saat mendapati jika Wira memiliki hubungan dengan Dira. Hubungan mereka bahkan jauh sebelum putranya itu melamar Dira. Ada sedikit kesalahpahaman dari orang tua Dira kala itu. Dimana mereka pikir salah satu anggota keluarga Yudistira yang menjalin hubungan dengan anaknya adalah Arsen, maka saat Arsen melamar Dira, mereka menerimanya dengan hati gembira. Kerja sama bisnis membuat Dira akhirnya setuju dan tak mengatakan apapun tentang Wira.
Hingga menjelang hari H pernikahan, Wira yang berada di Singapura yang saat itu berkata tak bisa menghadiri acara pernikahan sepupunya itu, malah pulang diam-diam berniat untuk memberikan kejutan pada Arsen.
Dan nyatanya bukan hanya sebuah kejutan biasa, namun kejutan amat dahsyat saat Wira tahu jika calon istri Arsen adalah Dira. Awalnya berjalan biasa saja, hingga kecelakaan Wira satu hari sebelum pernikahan Arsen dilaksanakan, semua kebohongan keduanya terbongkar. Dira berada di dalam mobil yang sama. Bedanya Wira terluka parah, sedangkan Dira hanya luka kecil karena saat kecelakaan terjadi Wira melindungi Dira dengan tubuhnya. Di saat itu, Wira dan Dira mengatakan semuanya dengan jujur
__ADS_1
Cinta memang semengerikan itu.
"Bukan untuk mengawasi Alea agar tidak cari tahu tentang Dira?" dilihat dari wajah putranya yang tampak tenang, dugaannya sepertinya memang tak salah.
"Lupakan Dira mas. Jangan temu dia lagi. Dalam kondisi seperti ini yang berhubungan dengan Dira, ingat bukan hanya diri kamu yang harus kamu pikirkan, tapi keluarga besar, dan sekarang ada menantu ayah juga yang harus kamu pikirkan"
Arsen tersenyum kecut mendengarnya. Sejak kecelakaan itu terjadi, semua pihak keluarga berharap jika dirinya saja yang mundur, membatalkan pernikahan demi keluarga besar, demi Jihan, demi Wira yang terbaring lemas diatas bangkar rumah sakit. Dirinya melepaskan wanita yang paling ia cintai demi keluarganya, namun tak ada satupun dari mereka yang bertanya bagaimana keadaanya. Dan hal yang sama kini kembali terulang.
"Demi keluarga? Oke, demi keluarga. Tapi, Mas penasaran berapa banyak Wira mendengar permintaan agar dia menyerah demi keluarga besar. Lebih banyak dari aku kah? Atau malah sama sekali nggak denger?"
"Arsen!!"
"Aku ngerti dan paham apa yang harus aku lakuin Yah. Jadi jangan diulang lagi. Aku bakal ngelupain Dira" ucap Arsen lalu berdiri.
Sambil mengepalkan telapak tangannya, Arsen kembali berjalan keluar dari kafe meninggalkan sang ayah yang masih duduk di dalam kafe.
Namun dari keduanya tak ada yang tahu, jika ada roda mobil taxi yang tengah berputar menuju rumah dengan Alea sebagai penumpang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...