
Kenzo tak pernah menyangka jika dirinya yang sudah menjadi sekretaris Arsen selama 5 tahun, kini dianggap sebagai supir mobil online bagi istri bosnya itu.
Seperti yang Arsen ceritakan jika dia memiliki istri yang cukup unik dan sedikit susah diaturlah, ternyata itu benar adanya. Kenzo bahkan tak sanggup berkata apapun saat mobil mereka mulai melaju meninggalkan area kampus.
Kenzo melirik ke arah spion dalam dan terkejut bukan main saat istri bosnya itu ternyata tengah menatapnya dengan tatapan sinisnya. Namun alih-alih takut, Kenzo hanya kembali menatap lurus ke depan. Tatapan sinis dari tubuh kecil istri bosnya itu, mana ada menyeramkannya sama sekali.
Kenzo berdehem sebentar guna mencairkan suasana yang ada "Pak Arsen minta saya jemput ibu Alea"
"Tanpa di jelaskan. Tiba-tiba Mas ada di kampus aku, juga, udah jelas pasti mas Arsen yang nyuruh. Pertanyaan aku kenapa mas mau aja sih disuruh-suruh?"
Ya kan gue anak buahnya. Mana mungkin gue tolak. Batin Kenzo.
"Kalau saya nolak. Nanti saya dipecat bu"
"Nyebelin"
Kenzo mengelus dadanya sendiri. Super sekali bosnya itu ternyata hingga sanggup hidup serumah dengan sosok Alea. Tak lagi bicara, Kenzo hanya diam dan melajukan mobilnya menuju persimpangan depan. Arsen menunggu mereka di sana. Penderitaan Kenzo hanya akan sampai di persimpangan jalan itu.
"Mas udah berapa lama kerja sama mas Arsen?"
"Sudah hampir 5 tahun" jawab Kenzo tanpa menoleh sama sekali. Dirasakannya Alea kini memajukan badannya membuat Kenzo harus waspada jika ada pukulan maut dibelakang kepalanya. Diwa pernah berkata jika istri bosnya ini suka sekali tiba-tiba melayangkan pukulan.
"Mas udah nikah?"
"Belum"
"Udah punya pacar?"
Kenzo menggeleng "Nggak"
__ADS_1
"Suka sama orang?"
Kenzo melirik ke kaca spion dalam. Kadar kecerewetan gadis belia itu memang bikin sakit kepala "Nggak juga. Saya sudah sibuk sama kerjaan"
"Idih. Jadi perjaka tua nanti lo"
Ucapan Alea sontak membuat Kenzo berdecak kesal. Beberapa kali Arsen meminta untuk mencari pacar, dan beberapa kali juga bosnya itu berkata jika Kenzo akan menjadi perjaka tua jika terus saja sibuk dengan pekerjaan. Padahal yang membuatnya sibuk adalah bosnya sendiri.
"Itu mobil pak Arsen bu, silahkan pindah ke mobil beliau"
Kali ini ada decakan sebal yang berasal dari Alea. Begitu mobil berhenti, tanpa kembali bicara, istri bosnya itu langsung turun dan pindah ke mobil Arsen. Sepertinya dirinya memang harus mulai berpikir untuk mencari pacar ketimbang dianggap menjadi perjaka tua lagi.
***
Alea melipat tangannya di depan dada sambil menatap sebal ke arah Arsen yang ajaibnya terlihat begitu santai. Fokus menyetir dan hanya melirik ke arahnya sesekali.
Gara-gara Arsen ada puluhan pesan masuk di group GAK yang menanyakan perihal siapa laki-laki yang menjemput Alea tadi. Dibilang supir online, jelas Gita dan Keke tak akan percaya dengannya.
Alea memutar bola matanya saat mendengar kalimat penuh nasehat Arsen barusan. Alih-alih berkata seperti tadi, seharusnya Arsen meminta maaf karena mengirimkan Kenzo untuk menjemput dirinya di kampus. Gara-gara itu Alea harus punya banyak permainan kata saat mengecek pesan nanti.
"Malam ini kita nginap di rumah bunda. Ada acara besok"
"Selain tasyakuran nikahan ada acara lain lagi?" tanya Alea. Ngambek pada Arsen karena masalah jemput seperti tadi tak akan berpengaruh sama sekali. Bisa-bisa dirinya di diamkan oleh Arsen di rumah mertuanya itu. Bisa mati gaya Alea nanti.
"Anak tante Jani pulang dari Singapura."
"Anaknya tante Jani... Mas Wira maksudnya?"
Alea kaget saat Arsen tiba-tiba menoleh dengan raut wajah tak suka sekaligus penasaran. Mungkin penasaran dari mana Alea tahu nama Wira.
__ADS_1
Sebelum ditanya dengan ekspresi seperti itu, Alea menjelaskannya terlebih dahulu "Waktu kita nikah, tante Jani nyebut nama mas Wira. Katanya semoga setelah kita nikah, hubungan kamu sama mas Wira jadi lebih baik."
"Allahu Akbar" teriak Alea saat Arsen tiba-tiba mengerem mendadak. Jika tak menggunakan sabuk pengaman sudah dapat dipastikan dirinya pasti akan tersungkur ke depan.
"Maaf, lampu merah. Kamu nggak kenapa-kenapa kan?"
Buset dah ni orang. Gue hampir nyium depan ini. Lirikan maut Alea tunjukan pada Arsen yang barusan mengucapkan kata maaf.
"Maaf" kata Arsen lagi.
Tubuh Alea membeku seketika saat merasakan kepalanya di elus pelan. Arsen, suami kulkasnya baru saja mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala Alea. Tanpa tahu jika hal itu sukses membuat Alea menjadi patung dengan isi otak yang kosong. Baru di elus kepalanya saja sudah blank, bagaimana jika Arsen melakukan hal yang lainnya?.
Mengerjakan matanya beberapa kali hingga sadar sepenuhnya, Alea langsung mengalihkan pandanganya menatap ke luar jendelanya begitu mobil kembali melaju membelah jalanan ibu kota. Degup jantungnya sudah tak karuan. Alea mungkin bisa pingsan jika nekat tetap menatap ke arah suaminya itu.
Disisi lain bukan hanya Alea saja yang merasa canggung seketika. Arsen juga diliputi rasa gugup dan canggung saat menarik tangannya setelah mengusap puncak kepala Alea. Entah apa yang membuatnya tangannya bisa bergerak mengelus puncak kepala Alea, hal itu hanya sebuah sikap refleks karena takut Alea kenapa-kenapa setelah dirinya mengerem dadakan. Salah sendiri bisa-bisanya Alea menyebut Wira dengan sebutan 'mas' padahal belum pernah bertemu sebelumnya.
"Selain Penyambutannya Wira, bunda juga ingin ngenalin kamu ke anggota keluarga mas yang nggak dateng waktu akad" ucap Arsen memecah susana canggung diantara mereka.
Diliriknya Alea yang hanya menganggukkan kepala tanpa berkomentar apapun. Setelahnya mungkin tak akan ada pembicaraan selama menuju rumah bunda.
***
Alea menatap sebuah rumah, mewah berlantai tiga di depannya. Halamannya yang cukup luas sepertinya bisa untuk bermain bola. Beberapa pilar menjulang tinggi di depannya. Setelah menikah, memang baru kali ini Alea mengunjungi kediaman mertuanya ini.
Seharusnya tak perlu terkejut, keluarga seadidaya Yudhistira pasti memiliki rumah super mewah karena kekayaan yang dimiliki keluarga itu.
Alea langsung memegang erat ujung jas yang Arsen kenakan. Untuk sesaat, suaminya itu sempat meliriknya sebentar sebelum akhirnya melepaskan tangan Alea yang memegang ujung jas miliknya lalu menggenggamnya erat.
"Saya berasa kaya bapak-bapak yang bawa anak kalau kamu pegang ujung jas"
__ADS_1
Sumpah demi apapun, Alea ingin marah namun juga ngakak mendengar ucapan Arsen barusan. Baru kali ini mereka berjalan bersisian dengan tangan yang saling bertaut. Meski dingin, adakalanya Arsen sangat perhatian.
Alea menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh itu terlintas tiba-tiba. Bisa-bisanya dirinya berpikir seperti itu hanya karena Arsen menggenggam tangannya sekarang. Sungguh amat memalukan dan rendah dirimu Al.