
"Untuk undangan sudah jadi mas?"
Arsen mengangguk. Orang dari percetakan datang kemarin sambil membawa undangan pernikahan mereka. Dicetak secepat kilat, dibagikan juga secepat kilat karena Arsen menggerakkan semua anak buahnya untuk membagikan undangan itu. Pernikahan sesungguhnya akan mereka alami untuk kedua kalinya, meski kesan yang dirasakan sekarang jauh lebih menggebu-gebu mengingat kali ini mereka menikah karena cinta.
"Sudah bun. Sudah selesai semua. Tinggal besok mas sama Alea mau ke butik buat cari gaun yang Alea ingin pakai. Kalau pesan jelas waktunya nggak cukup" jawab Arsen. Mereka kini tengah duduk diruang makan menyantap makan malam yang telah disajikan oleh bi Ami. Hanya ada bunda, ayah, kakek dan mereka berdua, sedangkan Diwa langsung pergi begitu matahari tenggelam sepenuhnya. Entah kemana tujuan laki-laki itu, yang jelas kotak tadi ikut serta dibawa kembali.
"Kamu nggak apa-apa nak pakai gaun dari butik? Nggak mau pesan dulu biar sesuai dengan design keinginan kamu?"
Mengikuti bunda, Arsen ikut menoleh melihat ekspresi Alea yang duduk di sampingnya. Sebenarnya Arsen juga sempat menawarkan Alea untuk akad terlebih dahulu saja dan baru melakukan resepsi bulan depan saat gaun yang dipesan jadi, tapi Alea menolaknya. Keinginan Alea sejak kecil adalah pernikahan dimana akad dan resepsi dilaksanakan dihari yang sama.
"Nggak apa-apa bun. Alea bisa pilih model gaun yang memang sudah tersedia di butik. Pasti salah satunya ada yang Alea suka"
Amel masih memasang khawatirnya "Serius nggak apa-apa? Bunda tahu hal yang paling diingkan wanita saat menikah itu pakai gaun yang disukai, yang buat kita cantik dan orang pangling"
"Alea pakai apa aja juga cantik bun. Pakai daster kaya bi Ami juga bakal tetap cantik, dan nggak ngurangi rasa cinta mas buat Alea" jelas bukan Alea yang menjawab melainkan Arsen yang sontak membuat ayah yang tengah mengunyah makanan tersedak tiba-tiba. Sudah amat terbukti kalau Arsen emang darah dagingnya.
Alea menendang kaki Arsen. Malu melihat bunda yang kini tertawa sedangkan ayah yang baru selesai minum tampak bertepuk tangan. Mulai sekarang sepertinya Alea harus melatih jiwanya agar tak selalu salah tingkah saat Arsen menggodanya.
"Ngeliat anak Amel yang udah terang-terangan godain istrinya dan menantu yang salah tingkah itu bikin hati kita adem ya pah. Papah juga dulu pasti begitu ngeliat Amel sama Mas Bagas ya"
Kakek yang juga duduk di sana hanya diam sambil menatap lekat ke arah Amel "Amel siapa?"
Berbeda dengan Alea yang masih beradabtasi dengan kondisi kakek. Baik Amel, Arsen dan Bagas tampak biasa saja. Amel bahkan tersenyum sambil mengarahkan tangan kakek untuk mengelus puncak kepala Amel.
"Ini Amel. Menantu ayah yang paling cantik. Dan ini mas Bagas, anak ayah. Yang lagi bucin sama istrinya namanya Arsen cucu ayah, dan disebelahnya Alea, anggota keluarga kita yang baru" jelas Amel. Kakek mengamati satu persatu wajah orang yang berada disampingnya.
"Dan aku Ami Kek. Asisten yang paling dicintai di keluarga ini" tambah bi Ami yang muncul dari arah dapur sambil membawa semangkuk buah strawberi.
Semuanya tertawa mendengar ucapan Bi Ami. Tak terkecuali dengan Alea yang tersenyum dan merasa bahagia menjadi bagian di keluarga ini.
__ADS_1
***
Penyesalan itu memang selalu datang terakhir. Karena jika pertama maka itu pendaftaran bukan penyesalan.
Melihat bagaiman Alea muncul dari balik tirei mengenakan gaun putih dengan sebuah mahkota kecil yang tersemat diatas kepala, membuat rahang Arsen nyaris jatuh karena selalu menganga saking terpanah oleh kecantikan calon istrinya.
Arsen yang biasanya mengaku pintar karena mampu mendirikan perusahaan IT sendiri di usia muda, kini menyadari seberapa bodoh dirinya sebenarnya. Menyia-nyiakan wanita secantik dan selembut Alea hanya untuk memberi makan egonya sendiri. Arsen bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan kepadanya sekali lagi untuk bisa berbagi rasa kasih sayang dengan Alea.
"Aku lebih suka yang ini. Karena buat akad jadi lebih baik yang panjang dan atasnya tertutup" ucap Alea.
"Aku suka semuanya. Kamu cantik" jujur Arsen. Tak peduli sama sekali jika ada dua orang penjaga butik yang berada di dekat tirai.
"Mas ih"
"Aku jujur loh Al. Bener kan ya mbak? Semuanya cantik dipakai istri saya"
Dua pelayan itu mengulum senyumnya lalu mengangguk semangat bersamaan. Lagi pula Arsen yakin jika bukan hanya dirinya saja laki-lali yang secara terang-terangan memuji kecantikan calon istrinya. Ini butik gaun pengantin. Jelas pasti banyak cowok bucin calon istri yang datang ke sini.
"Aku pengin gaun ini. Cuman harganya mahal" bisik Alea.
"Ingat dek. Suami kamu bukan orang miskin. Beli 100 unit sepeda yang kamu kasih ke Diwa, mas juga sanggup" jawab Arsen yang mengundang gelak tawa Alea.
"Mbak. Istri saya mau yang ini. Tolong bungkus yang cantik ya" tatapan Arsen kini beralih ke Alea "Sudah pilih gaun untuk pesta nya?"
Alea mengangguk.
"Mas sudah siap menerima dan terpesona sama kecantikan kamu" setelah menerima satu cubitan dari Alea, Arsen kembali duduk di sofa panjang. Membiarkan tirei itu tertutup dengan Alea yang berada di dalam.
Sambil menunggu Alea berganti baju. Arsen mengirimkan beberapa foto Alea yang ia ambil barusan dan mengirimnya kepada bunda. Seperti dugaannya, bunda juga menyukai semua gaun yang dikenakan Alea, dan sangat setuju saat Arsen mengirim gambar terakhir dimana Alea mengenakan gaun yang menjadi pilihan Alea untuk dipakai di akad nanti.
__ADS_1
Dari room chat bunda, Arsen kini beralih ke room chat Kenzo. Dulu, saat fitting gaun pengantin Gita, Kenzo dengan sombongnya membanggakan kecantikan sang istri yang mengenakan gaun pengantin, bahkan dengan sengaja memanas-manasi nya dengan berkata akan menjadi suami baik hati yang hanya menjatuhkan hatinya pada istrinya seorang, bukan pada wanita lain yang bahkan tak membalas perasaan sedikitpun.
Arsen : Gue juga mau pamer. Cantik banget istri gue. Liat cantik begini pengin gue kunciin aja di dalam rumah bareng gue. Nggak usah keluar-keluar.
^^^Kenzo : Ini mode sahabat kan? Anda waras?^^^
Arsen nyaris tertawa kencang membaca balasan Kenzo.
Arsen : Waras lah. Kalau nggak waras nggak mungkin gue jadi bos lo. Nggak mungkin juga ngasih hadiah rumah buat pernikahan lo.
...Kenzo : Idih, sombong. Nggak ikhlas nih?...
Tak lagi menahan, Arsen benar-benar tertawa kencang.
"Kenapa mas?" tanya Alea penasaran dari balik tirai yang masih tertutup.
"Eh, nggak dek. Ini mas lagi chat sama Kenzo"
"Oh"
Arsen : Ikhlas bro. Udah dipikir nih, mau kado lahiran apa?.
^^^Kenzo : 5% saham perusahaan yang lo punya juga gue menerima dengan ikhlas.^^^
Arsen : Ok. Tapi sebagai gantinya. Gue juga minta saham 5% punya lo sebagai hadiah pernikahan gue.
Tawa Arsen kembali muncul saat Kenzo yang biasanya cepat memberi balasan kini tak kunjung membalas. Entah sedang berpikir untuk setuju, atau sedang berpikir apa yang aneh dipembahasan mereka sekarang.
Kenzo : Anjir. Emang nggak waras bos gue. Gila.
__ADS_1
Bersamaan dengan tawa Arsen yang kembali pecah, tirai itu terbuka dan membuat Arsen spontan berhenti tertawa.