
"Nyebut nama Dira padahal aku yang lagi kamu cium kan mas?" kalimat itu keluar dari mulut Alea.
Tak terlalu lama dari itu, kepalanya berdenyut nyeri saat mendapat anggukan lemas Arsen sebagai sebuah jawaban yang nyatanya cukup menyayat hati. Ajaibnya ingatan akan malam itu terlintas jelas begitu saja di kepala Alea sekarang. Ia ingat, malam itu hujan turun begitu deras, Arsen menciumnya didalam mobil dan berakhir dengan tamparan Alea yang melayang saat Arsen malah memanggil Dira.
"Dek. Kamu nggak apa-apa?"
Alea yang menunduk menggeleng pelan, tangannya menahan lengan Arsen yang hendak untuk mengangkat tubuhnya. Sejak awal Alea sudah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu kepalanya akan terasa pening saat kepingan-kepingan ingatan itu kembali. Dan Alea tak ingin terlihat lemah, semua akan kembali normal seperti biasa.
"Dek"
Dari nada suara Arsen, Alea tahu calon suaminya ini khawatir. Lalu sebuah senyuman Alea tunjukan guna mengurangi ekspresi guratan di wajah laki-laki ini.
"Aku baik-baik aja mas" ucap Alea pelan. "Aku boleh minta tolong sama kamu mas?"
Arsen yang sebelumnya sudah berdiri, kini kembali jongkok didepan Alea dan menggenggam tangan wanita itu erat. Anggukan kecil ditunjukan kepada Alea.
"Rasanya sakit mas. Sakit di kepala dan sakit juga di hati. Jadi kita pelan-pelan aja ya mas. Mulai semuanya dengan pelan-pelan" Alea mengusap jejak air mata di pipi laki-lakinya.
Arsen kembali mengangguk, mendekatkan tangan Alea ke bibir, lalu menciumnya dalam. "Kita pelan-pelan saja. Maafin mas ya dek"
Alea mengangguk. Melingkarkan tangannya di leher Arsen lalu memeluk erat calon suaminya itu. Sedikit demi sedikit ingatannya datang perlahan di barengi dengan pengakuan Arsen. Alea takut jika saat ingatannya benar-benar kembali emosinya akan membuatnya kehilangan laki-laki ini.
Dulu, ada mbak Dira yang menghalangi pintu di hati Arsen. Tapi, sekarang pintu itu terbuka begitu lebar untuknya, biarkan sebentar saja ia merasakan damainya menjadi penghuni di sana. Dicintai dan dipuja oleh laki-laki yang begitu ia damba.
"Maaf mas, mbak"
Karena terkejut, Alea buru-buru melepaskan pelukan mereka dan refleks mendorong dada Arsen hingga laki-laki itu terjengkang dan mendarat sangat tak mulus di atas rerumputan. Suara aduh nya bahkan membuat bi Ami langsung mendekat dan membantu Arsen untuk berdiri. Alea yang menjadi tersangka utamanya mengatupkan tangannya di depan dada sambil memasang wajah bersalah.
Meski bi Ami sudah berkerja di sini sejak lama, tapi dulu Alea tak pernah berpelukan dengan mas Arsen di depan bi Ami. Maka dari itu, ditambah posisinya yang sudah bercerai, Alea malu ketahuan memeluk erat Arsen tadi.
"Maaf mas. Serius, nggak sengaja. Itu refleks"
"Mendaratnya benar-benar nggak mulus" Arsen menunjukkan celananya yang kini tampak begitu basah. Jatuh di rerumputan basah setelah hujan sama sekali tak pernah dibayangkan terjadi saat ia menggunakan celana warna putih.
__ADS_1
"Ya. Hitung-hitung ngerasain lagi zaman anak-anak main becek-becekkan" lanjut Arsen.
Alea menarik-narik pelan lengan baju Arsen. Jika saja tak ada bi Ami di sini, mungkin Alea sudah melingkarkan tangannya dilengan laki-laki itu "Kamu marah ya mas? Nggak sengaja. Aku kaget tadi"
"Marah?" Arsen menggelengkan kepalanya.
Nyali Alea menciut melihat ekspresi Arsen sekarang. Lalu sedikit lega saat sebuah senyuman tampan terukir di sana.
"Marah? Nggak. Kayanya mas nggak bisa marah lagi sama perempuan secantik ini"
Sisa-sia rasa malu karena ketahuan bia Ami saat memeluk Arsen kini bertambah berkali lipat hingga Alea yakin pipinya pasti sudah merah sekarang. Satu cubitan ia layangkan di lengan Arsen. "Ada bi Ami mas ih. Malu"
"Kenapa malu? Lagi pula nanti kedepannya bi Ami juga harus biasa dengerin aku gombalin kamu. Nggak apa-apa kan ya bi?"
Bi Ami yang sejak tadi sudah mesam mesem melihat interaksi majikannya itu, menganggukkan kepalanya setuju. Melihat hal seperti ini jelas lebih baik dari pada melihat hubungan Arsen dan Alea dulu.
Alea yang merasakan pipinya panas berusaha mengalihkan pembicaraan "Tadi bibi panggil kita ada apa bi?"
"Itu mbak. Ada bapak sama ibu di depan. Ada kakek juga." jawab bi Ami.
"Baik mas"
Sepeninggal bi Ami, Arsen yang masih dalam mode jahil, mencolek hidung Alea lalu mendekat dan membisikan sesuatu yang sontak membuat Alea memejamkan matanya karena geli mendengar ucapan Arsen.
"Calon istriku yang cantik"
**
Berbeda dari ingatan akan kondisi kakek yang terakhir ia lihat. Alea hanya bisa mematung kaget melihat seorang laki-laki renta yang kini duduk di atas kursi roda dengan pandangan kosong. Mengamati seisi ruangan lalu menoleh ke arah Amel dengan kebingungan yang menambah kerutan didahinya.
"Rumah siapa?" tanyanya pelan.
"Rumah Arsen. Cucu ayah" ibu mertuanya tampak berjongkok disamping laki-laki itu.
__ADS_1
Alea terdiam cukup lama di posisinya. Yang Alea ingat, kondisi kakek saat itu dalam kondisi sehat. Setiap kali bertemu dengan Alea, kakek akan selalu merentangkan tangannya dan memeluknya erat. Tapi kini benar-benar berbeda. Kakek tampak linglung dan tak mengenali apa yang ada di sekitarnya.
"Habis check up bun?" Arsen jongkok di depan kakek yang kini memiringkan kepalanya dengan mata menyipit. Seolah tengah berusaha mengingat sesuatu.
"Tampan. Siapa namanya?" tanya kakek.
Detik itu pula Alea melebarkan matanya terkejut. Bagas yang melihat itu, mendekati menantunya dan menepuk pelan puncak kepala Alea "3 tahun terkahir kakek didiagnosa kenal alzheimer Al. Dia nggak ingat siapapun. Jadi sering-sering memperkenalkan diri ya?"
"Sama wajah ayah juga nggak ingat?" tanya Alea.
"Iya. Semua orang nggak ada yang kakek ingat."
Tatapan Alea kini tertuju ke arah Arsen yang tampak tersenyum, sambil membuka ponsel yang mengalungi dileher kakek.
"Arsen kek. Cucu kakek" Arsen mensejajarkan foto yang ada di ponsel dengan wajahnya.
Kepala kakek menggeleng sebagai jawaban.
"Nggak perlu berusaha untuk diingat ya kek. Pokoknya Arsen cucu kakek. Dan wanita cantik itu"
Alea berjalan mendekat saat Arsen menunjuk ke arahnya. Ikut berjongkok di depan kakek.
"Ini istri mas kek. Cantik kan? Namanya Alea"
Alea menahan air matanya agar tak keluar saat sebuah senyuman kakek tunjukkan kepadanya. Tangan keriput itu bergerak mengusap puncak kepala Alea.
"Cantik. Cantik sekali. Alea. Namanya juga cantik"
Saat telapak tangan Arsen mengusap punggungnya pelan, ingin rasanya Alea menangis saat itu juga. Namun ia tahan sebisa mungkin saat bunda melarangnya menangis dengan gelengan kepala pelan.
"Kita mau nikah 2 hari lagi. Minta restunya ya Kek"
Bukannya menjawab pertanyaan Arsen. Kakek masih menatap Alea sendu. Tangannya mengusap pipi Alea lembut.
__ADS_1
"Cantik. Semoga bahagia selalu ya Al"
Alea mengangguk pelan. Mengambil tangan kakek lalu mencium punggung tangan kakek. Tanpa ingat, bahwa tangan itu yang mengawali kejadian bertahun-tahun lalu.