
**maaf kalau ada typo ya, karena belum di edit lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Arsen yang hendak menyantap potongan steak mengurungkan niatnya saat melihat Alea begitu lahap makan. Di dorongnya piring miliknya ke arah istrinya itu hingga Alea mendongakkan kepala dengan dahi berkerut.
"Buat aku?" tanyanya.
Arsen menganggukkan kepala. Baru kali ini ia melihat Alea makan begitu lahap, seolah menunjukkan seberapa laparnya wanita itu sekarang. "Laper banget?"
"Banget" jawab Alea disela-sela kunyahannya.
"Kenapa nggak pesan online aja tadi? Atau nggak masak bahan-bahan apa aja yang ada di kulkas. Kan kamu suka masak" Arsen mengambil gelas Alea lalu kembali mengisinya dengan air mineral. Tanpa ditanya pun sebenarnya Arsen tahu jika Alea lebih memilih kelaparan ketimbang harus ke dapur seorang diri.
"Takut. Nanti kalau aku kesurupan gimana? Nggak ada orang. Nggak ada yang ngeruqiyah aku"
Arsen tertawa geli, namun hanya bertahan beberapa detik saja saat mata melotot Alea tertuju kearahnya. Gara-gara ditinggal tadi, Alea sempat jatuh karena jari kelingkingnya tersangkut di kaki kursi makan, alhasil Arsen menerima dengan pasrah omelan dan pukulan dari istrinya tadi. Emosinya sedang meluap-luap, maka dari itu jangan ada yang berani mencari gara-gara dengan Alea.
"Setakut itu kamu sama hantu Al?"
"Iya lah. Apalagi bi Ina waktu kesurupan melotot ke aku"
Saat ingin kembali tertawa, Arsen langsung menahan tawanya dengan bibir yang dikatup kan rapat-rapat. Masalah melotot ke Alea saat kerasukan tidak masuk ke dalam rencana Arsen, namun sepertinya bi Ina yang memang hobi berakting itu tengah mengasah skill nya dengan baik. Maafin suami kamu ini ya Al.
"Mungkin, kamu yang satu-satunya kandidat yang mudah buat dimasukin"
"Mas!!"
Tak bisa menahan lagi, Tawa Arsen pecah seketika. Disisi lain, karena saking kesalnya pada suaminya ini yang kini malah menertawakannya, mengesampingkan sopan santun sebentar, Alea menjejalkan potong daging ke mulut Arsen kesal.
__ADS_1
"Uhuk uhuk"
Suara batuk Arsen yang tersedak sukses membuat Alea dibuat panik sendiri. Buru-buru ia memberikan minum kepada suaminya itu. Salah sendiri, suka sekali menakut-nakutin istrinya.
Saat melihat Arsen kembali biasa, Alea melanjutkan makannya dengan wajah super jutek yang ia miliki. Sungguh, Alea tak akan berani tidur sendiri malam ini.
"Apa agenda kamu selama sisa liburan ini?" tanya Arsen.
"Nggak ada!"
"Kalau gitu, ikut mas ke kantor aja besok"
Karma memang kadang datang dengan cepat, Alea tersedak dan terbatuk mendengar ucapan Arsen barusan. Bisa-bisanya dari banyaknya agenda yang bisa ia lakukan asalkan ada dana dari kantong mas Arsen, suaminya ini malah mengajaknya untuk ikut ke kantor. Alih-alih liburan Alea pasti akan dibuat kerja rodi di perusahaan suaminya itu. Ya, mesti ngoding nggak jago-jago amat, Alea masih bisa ditempatkan dibagian administrasi atau lainnya.
"Nggak mau" tolak Alea.
"Oh ya udah. Berarti di rumah aja sendirian. Serem. Bi Ina sama bi Ami baru balik lusa"
"Mereka pasti nggak nyaman kalau istirahat di tempat kerja Al. Malah mas niatnya pengin ngeliburin mereka 1 minggu ke depan. Toh mas juga niatnya mau ngajak kamu ikut mas ke kantor, makan bisa diluar. Jadi, gimana? Masih mau sendirian di rumah?"
Alea terdiam sejenak. Gita dan Keke, mereka berdua pulang ke kampung masing-masing. Sebelum menikah biasanya Alea akan ikut mereka. Tapi sekarang, hal itu juga jelas tidak mungkin, Mas Arsen pasti tak akan mengizinkannya. Terlebih jika tiba-tiba bunda dan ayah datang tapi dirinya malah tak berada di rumah, Alea pasti akan terlihat menelantarkan anak mereka berdua.
"Setuju ikut besok atau nggak?" tanya mas Arsen lagi.
Tak ada jalan keluar. Daripada di rumah sendirian, sepertinya ikut mas Arsen bukanlah masalah berat, Alea hanya tinggal perlu menyeret Diwa ikut bersama mereka juga.
"Ikut" jawab Alea akhirnya.
"Oke"
__ADS_1
Alea langsung mendongak begitu melihat mas Arsen tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Mas, mau kemana?"
"Mau ke atas, istirahat, ngantuk"
"Oke" Alea ikut berdiri dari kursi. Sudah dibilang kan? Dirinya tak ingin ditinggal. Jadi kemanapun mas Arsen pergi, Alea akan mengekor kaya anak ayam. Bahkan Alea bersedia untuk tidur satu kamar lagi dengan suaminya ini.
Ajaibnya, seolah tak keberatan dengan dirinya yang terus mengekor, mas Arsen tak terlihat terganggu sama sekali, malah laki-laki itu menggenggam tangannya dan menggandengnya naik ke atas, menuju ruang kerja laki-laki itu dimana beberapa hari yang Lalu menjadi tempat Alea untuk tidur juga selagi ada bunda.
Biasanya mas Arsen akan bertanya dengan dahi berkerut setiap kali Alea masuk ke ruang kerja laki-laki itu dengan bantal dan guling. Namun kali ini mas Arsen malah yang membawakan bantal dan guling lalu ditaruh di kasur.
"Mas nggak tidur?" tanya Alea saat melihat Arsen yang alih-alih merebahkan badannya ke kasur kini malah berjalan menuju meja kerja laki-laki itu.
"Mau tidur juga. Cuman ada yang harus dicek sebentar. Kamu tidur aja duluan"
Alea menganggukkan kepalanya. Tak menunggu suaminya untuk suit siapa yang akan tidur di sofa dan siapa yang akan tidur di kasur. Alea langsung merebahkan badannya di kasur. Orang, kalau sudah terlanjut gila kerja, yang ada dipikirannya pasti kerjaan adalah nomor satu.
Tak lama sebenarnya. Hanya sekitar 10 menit. Alea merasakan sisi kasur dibelakangnya sedikit bergerak. Mas Arsen mungkin sudah angkat tangan dengan kerjaannya dan memilih untuk istirahat.
Alea yang sejak tadi berusaha untuk memejamkan matanya, namun tak bisa. Bergeser bolak-balik badan mencari posisi yang enak. Bayangan akan bi Ina yang melotot terus saja terbayang di kepala. Parahnya, hantu di film horor yang ia lihat 2 minggu lalu, kini tak mau kalah ikut terlintas di kepala.
Hadap ke kiri tak nyaman, Alea berubah menjadi hadap ke kanan. Masih juga tak nyaman, Alea ubah menjadi telengkup, namun hanya sebentar karena ingat Keke pernah berkata jika setan tidur dengan posisi seperti itu juga. Alea langsung ubah menjadi berbaring dengan mata menatap langit-langit kamar.
"Tidur Al. Jangan geser-geser mulu!!"
Alea berdecak kesal mendengar ucapan suaminya. Udah tahu istrinya nggak bisa tidur, dipeluk kek, diapa kek, malah di omelin.
"Mau mas peluk?"tanya mas Arsen.
Alea terkejut bukan main. Sepertinya selain dingin, Arsen juga bisa membaca pikiran orang lain.
__ADS_1
Begitu Arsen membalikan badan, suaminya itu langsung menarik tubuh Alea dan memeluknya erat.
Malam ini mereka akan tidur dengan memeluk satu sama lain.