Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
bab 43 : Sekakmat Arsen


__ADS_3

"Aku Alea mas. Alea! Bukan mbak Dira!!"


Pekikan Alea disertai tamparan keras di pipi, mampu menyadarkan Arsen dalam sekejap. Panas dan sakit yang menjalar di pipinya sepertinya tak ada apa-apanya sama sekali ketimbang sakit yang ia torehkan pada luka di hati Alea yang sudah menganga sejak kemarin. Mata merah dengan air mata yang mengalir tanpa permisi dari kedua mata cantik itu. Lagi dan lagi, dirinya membuat luka yang sama pada Alea.


Dari banyaknya hal yang bisa ia pikirkan, atau jika tidak, kepalanya harusnya menyimpan nama Alea karena objek yang ia lihat sekarang, di depan matanya adalah sang istri, entah kenapa malah nama Dira yang muncul dibayangan. Bejatnya lagi adalah karena menyebut nama Dira setelah mencium Alea sedalam itu. Setelah sentuhan mereka pertama kali selain bergandengan tangan.


Tangan Arsen yang hendak meraih tangan Alea, ditepis kasar oleh wanita itu. Alea mengusap air matanya sendiri dan lagi, tatapan yang ditunjukkan kearahnya membuat Arsen sadar sepenuhnya jika dirinya menjadi laki-laki brengsek yang bahkan tak bisa move on meski sudah memiliki Istri.


"Dek"


"Aku Alea mas. Bukan mbak Dira. Kamu mencium ku mas, mencium istri kamu yang bernama Alea!!"


Ingin sekali Arsen menarik Alea kedalam pelukannya. Hanya saja pekikan itu menjadi penutup pembicaraan mereka tatkala Alea memilih untuk langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan tangisan pecahnya.


Arsen membeku seketika. Menatap punggung itu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari balik pintu. Arsen merutuki dirinya sendiri karena telah melakukan hal itu. Bagaimana bisa dirinya malah menyebut nama Dira disaat seperti tadi?.


Tubuhnya yang sudah mulai menggigil kedinginan, membuat Arsen langsung turun dari mobil. Ia harus cepat mandi air hangat dan istirahat. Masalah Alea akan ia pikirkan nanti, tubuhnya butuh istirahat sekarang. Pikiran mengenai Dira yang hamil bahkan kini kembali berputar di kepala. Entah sejak kapan dirinya menjadi labil tak jelas seperti ini.


***


Menangisi sesuatu hal yang sudah terjadi dan akan terus terjadi hingga berubah mebayang-bayangi hidup kedepannya. Alea memilih untuk tak lagi menangis dan malah melanjutkan membaca novel yang sempat tertunda tadi.


Jujur, tadi dirinya memang sempat menangis. Namun saat mendengar langkah yang mendekati kamar, Alea mengusap air matanya dan langsung merubah posisinya menjadi telengkup dengan novel yang dibuka. Membiarkan saja mas Arsen yang masuk tanpa kata sama sekali dan langsung berjalan menuju kamar mandi.


Suara keran air yang terdengar dari arah kamar mandi, membuat Alea sedikit was-was. Mas Arsen demam, dan jika mandi air dingin malah akan membuat tubuhnya semakin menggigil. Alea menggelengkan kepalanya, untuk apa juga dia peduli, mau demam atau tidak, bukan urusannya. Berani-beraninya mas Arsen menciumnya tapi malah menyebut nama mbak Dira. Jika saja tak ketahuan, dan terjadi hal yang lebih dari itu, mas Arsen akan terus membayangkan jika yang tengah disentuhnya adalah mbak Dira.


Uhuk.uhuk.uhuk.


Suara batuk dari arah kamar mandi yang teredam dengan suara air mengalir namun masih bisa ditangkap oleh indra pendengarannya mendapat umpatan langsung dari mulut Alea.

__ADS_1


Menutup novel dengan sebal, Alea segera turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Tunjuannya adalah dapur dengan niat awal untuk membuatkan wedang jahe buat mas Arsen. Bersamaan dengan dirinya yang sampai di dapur, bi Ina keluar dari area belakang sambil menenteng 1 rantang yang sepertinya akan dibalut dengan kain bercorak bunga yang ada di atas meja makan.


"Mbak Alea mau makan?"


Alea menggeleng. Mengambil gelas lalu menuangkan 1 sendok serbuk jahe kedalamnya. Pandangannya masih tertuju pada bi Ina yang berdiri di samping meja makan. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, untuk apa bi Ina menyiapkan rantang yang sepertinya berisi makanan karena bau sedap menguar dari sana.


"Buat siapa bi?" tanya Alea akhirnya.


"Buat nyonya Amel mbak. Makanan buat yang jaga di rumah sakit"


"Jaga di rumah sakit?"


Bi Ina mengangguk menjawab pertanyaan dari menantu majikannya itu. Melihat mata istri Arsen yang sembab tampak seperti habis menangis, ingin sekali bi Ina menanyakan apa sebabnya, hanya saja urung dilakukan karena bukan haknya untuk bertanya mengenai masalah orang lain.


"Siapa yang sakit bi?" Alea berjalan mendekat ke arah bi Ina dengan secangkir wedang jahe yang sudah ada ditangan. Mas Arsen pasti belum keluar dari kamar mandi, maka Alea akan mengobrol sebentar dengan bi Ina sebelum kembali ke kamar. Ada juga yang sakit lebih dari mas Arsen di rumah ini?, bahkan lebih parah hingga masuk ke rumah sakit?


Tadi memang ada beberapa panggilan dan pesan dari bunda yang tak diangkat ataupun dibaca oleh nya. Mungkin isi dari pesan itu ngasih tahu jika tante Jihan dirawat di rumah sakit.


"Tadi ada pesan dari bunda bi. Cuman belum Alea baca. Sakit apa bi?"


"Kayanya darah tingginya kambuh mbak. Katanya pingsan di rumah beberapa jam setelah mas Arsen dateng, terus langsung dibawa ke rumah sakit. Ini saya mau kesana, mbak Alea mau ikut juga?"


"Nanti aku ke sana sama mas Arsen aja ya bi. Bibi duluan aja, nggak apa-apa"


"Baik mbak. Ada lauk di kulkas mbak. Kalau mau makan tinggal di hangatkan aja ya mbak. Saya permisi mau nganter ini"


Begitu bi Ina berjalan menjauh menuju pintu depan. Langkah Alea mulai menapaki anak tangga menuju kamarnya. Tak ada lagi suara keran air yang terdengar, mungkin mas Arsen sudah selesai mandi. Membuka pintu kamar, Alea menghela napasnya saat menemukan seseorang meringkuk dibawah selimut tebal. Tanpa bertanya 'pun, angin juga tahu jika yang meringkuk kedinginan dibawah selimut adalah sosok laki-laki yang masih belum move on dengan mantannya. Sebenarnya, sebesar apa cinta mas Arsen sama mbak Dira hingga membuat laki-laki itu langsung demam dan menggigil karena sebuah masalah yang bersangkutan dengan wanita itu yang bahkan tak Alea ketahui sama sekali.


Meletakan cangkir di nakas, Alea menyibak sedikit selimut dan menemukan mas Arsen bertelanjang dada, tak mengatakan apapun, Alea merapatkan kembali selimut itu lalu langsung mengambil satu kaos dari lemari.

__ADS_1


"Pakai baju dulu, aku bantu" singkat. Meski khawatir dengan kondisi mas Arsen sekarang, sakit hati Alea tentang kejadian tadi masih sangat terasa. Jika ia jahat, mungkin sudah ia tinggal pergi mas Arsen sekarang.


"Dek"


"Diem aja. Nggak usah banyak ngomong" sentaknya lagi. Setelah mas Arsen menggunakan kaosnya, Alea mengambil cangkir berisi wedang jahe kemudian memberikannya pada Arsen.


"Minum dulu" sambil membiarkan Arsen minum, Alea mengukur suhu badan laki-laki itu. Jika panasnya tak turun hingga nanti malam, Alea akan membawa Arsen ke rumah sakit.


"Maaf" ucap Arsen.


"Aku nggak butuh maaf kamu mas. Aku butuh penjelasan. Tapi nggak sekarang, badan dan isi kepala kamu lagi sama nggak baiknya. Jadi istirahat saja"


Mengambil gelas yang isinya sudah kandas dari tangan Arsen, Alea berdiri setelah memastikan jika sang suami kembali merebahkan tubuhnya. Langkah Alea yang sudah hampir sampai di pintu, kembali berhenti lalu membalikan badan menghadap ke arah sang suami.


"Kata bi Ina tante Jihan dirawat di rumah sakit. Darah tinggi. Dan itu kayanya ada sangkut pautnya sama kamu dan mas Wira" sejujurnya ini bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan informasi yang ia ingin bagi dengan Arsen. Setidaknya jika tahu tante Jihan masuk ke rumah sakit setelah kedatangannya, suaminya itu akan berusaha cepat sembuh agar bisa menjenguk ke rumah sakit.


Alea berniat untuk melanjutkan langkahnya, tapi kembali terhenti saat terdengar suara lirih dari Arsen.


"Dira hamil, ayahnya Wira. Dan aku minta maaf kalau informasi ini mungkin akan menyakiti kamu"


Membelakangi Arsen, Alea tersenyum kecut "Ya. Memang sakit mas. Ternyata mbak Dira hamil sama mas Wira, Pantes kamu sampai segila itu malam ini. Dan kamu nggak rela dengan hal itu, sampai cium istri sendiri tapi yang dibayangi wanita lain" sindir Alea kemudian kembali melanjutkan langkahnya Keluar dari kamar.


Sekakmat untuk Arsen.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo. ramaikan bab ini teman-teman dengan komentar.


kali aja ada yang sukur-sukurin ke Arsen. kena juga dia.

__ADS_1


__ADS_2