
Semenjak menikah dengan Arsenio Yudhistira baru kali ini Alea merasa seperti tengah mengemis sesuatu pada orang lain. Satu hari sebelum ujian semesteran dimulai, Gita dan Keke memang sering mengajaknya untuk jalan-jalan, sekedar refreshing sebelum pertempuran dengan soal-soal ujian menyapa mereka besok pagi.
Tak jauh-jauh, biasanya mereka paling pergi ke mall untuk menonton atau berbelanja. Dan itu jelas membutuhkan uang lebih. Maka dari itu sejak pagi Alea meminta izin pada Arsen sekaligus minta uang cash karena tak mungkin dirinya tiba-tiba mengeluarkan kartu kredit di depan kedua sahabatnya itu. Gita dan Keke tahu orang tua Alea telah meninggal dunia, dan Alea hanya membawa ATM atau uang cash saat pergi kemanapun.
Dengan satu kantong bekal makanan yang dijinjing, Alea masuk ke kantor suaminya dengan topi dan masker. Tadi pagi saat meminta izin, Arsen malah menjanjikan akan mengizinkan jika Alea menyiapkan bekal makan siang yang diantar langsung boleh istrinya. Dengan catatan makan itu masih hangat sehingga Alea harus menyiapkannya dadakan tak bisa dimasak sejak pagi.
"Ada yang bisa dibantu mbak?" seorang wanita yang berdiri di depan meja resepsionis menyapanya ramah.
Alea menunjukkan jinjingan yang ada ditangannya "Ada makanan yang dipesan atas nama Arsenio Yudhistira" benar. Lebih baik Alea pura-pura menjadi kurir pengantar makanan daripada mengatakan jika dirinya istri Arsen.
"Baik mbak. Bisa diletakan di sini. Nanti pegawai kami yang akan memberikannya kepada pak Arsen"
Alea menggelengkan kepalanya. Bisa gagal dapat izin kalau nggak diantara kan langsung "Maaf mbak. Apa tidak bisa jika saya yang langsung naik ke atas. Ada catatan di aplikasi dengan keterangan jika harus diantarkan secara langsung"
"Pak Arsen, beliau sedang rapat mbak. Jadi bisa ditinggal di sini saja"
"Nggak bisa mbak. Saya bisa dapat bintang jelek kalau nggak sesuai pesanan. Biar saya yang antar ke ruangan beliau"
Alea menelan ludahnya gugup saat mendapat tatapan sebal dari mbak resepsionis di depannya ini. Mungkin dari banyaknya kurir pengantar makanan, hanya dirinya saja yang ngotot untuk mengantarkan langsung ke atas. Terlihat aneh memang, tapi demi izin dan uang, Alea tak peduli hal itu.
"Mohon maaf ya mbak. Bisa tinggalkan di sini makanannya"
"Nggak bisa mbak" Alea menggeleng tegas.
"Tinggalkan di sini mbak"
"Nggak bisa mbak"
"Udah dibayar kan mbak. Jadi tinggalkan saja di sini, nanti kami antar ke pak Arsen"
Alea memeluk erat kotak makan "Nggak bisa mbak. Nanti keburu dingin"
"Saya antar kan langsung kalau begitu. Jadi tinggalkan di sini saja" jawab mbak resepsionis tak mau kalah.
"Ada apa ini?"
Suara bariton khas laki-laki membuat Alea menoleh ke arah kanan. Kenzo berdiri di sampingnya dengan dahi berkerut sebelum akhirnya matanya membulat setelah menyadari akan kedatangannya. Alea buru-buru menggeleng kecil mengisyaratkan kepasa Kenzo agar tak membongkar penyamarannya. Namun seolah memang hari ini kesialan datang menimpanya, sekretarian suaminya ini sepertinya menafsirkan gelengan kepala tadi dengan hal lain. Entah apa itu.
"Bu Alea ngapain disini?"
Ingin sekali Alea mengumpat sekarang. Namun mengingat ini perusahaan suaminya, Alea menarik senyumnya paksa.
__ADS_1
"Pak Kenzo kenal sama mbak ini?" tanya mbak resepsionis yang tampak bingung melihat Kenzo mengenal sosok di depannya.
"Kenal. Ini istrinya pak Arsen"
Seakan ada sabaran petir yang menyambar tubuh Alea. Geraman tertahan itu rasanya ingin meledak sekarang. Terlebih saat melihat ekspresi mbak resepsionis yang kini membungkuk beberapa kali guna meminta maaf pada Alea.
"Anterin aku ke ruangan mas Arsen, Mas" tak ingin menjadi bahan tontonan orang yang mungkin penasaran ingin melihat wajah istri bos mereka, Alea buru-buru menarik Kenzo masuk ke dalam lift. Beberapa karyawan memang tahu jika Arsen sudah menikah, tapi tak ada yang pernah melihat seperti apa wujud istri bosnya itu.
Sampai di lantai 11, Alea keluar dari lift mengekor Kenzo yang kini berjalan di depannya dengan ekspresi tak ada sedikitpun rasa bersalah. Seolah apa yang dia katakan barusan bukan kesalahan. Ya memang sih bukan kesalahan, hanya saja seharusnya Kenzo tak mengatakan demikian karena tahu Alea berusaha untuk menyembunyikan statusnya sebagai istri Arsenio Yudhistira.
"Waalaikumsalam"
Sindiran suaminya itu terdengar begitu Alea masuk ke ruangan suaminya, sedangkan Kenzo langsung undur diri untuk makan siang di luar.
"Assalamualaikum" jawab Alea kesal.
Arsen tampak tersenyum mendengar jawaban kesal Alea. Laki-laki itu kini ikut bergabung dengannya duduk di sofa tengah ruangan ini. Ruangan super besar, bahkan lebih besar dari kelas yang ada di kampusnya.
"Seingin itu kamu jalan-jalan sama teman mu ya, sampai rela bawain bekel buat mas"
Alea mendengus kesal mendengarnya. Duitnya yang nggak ada, makanya Alea rela untuk datang ke sini disiang bolong seperti ini.
"Aku boleh pergi kan?" tanya Alea.
Dek? Panggilan itu dimulai lagi. Akhir-akhir ini Arsen sering memanggilnya dengan sebutan 'dek' dan sepertinya suaminya itu tak berniat untuk merubah panggilan sama sekali.
"Kalau aku pakai kartu kredit mas. Temen aku pasti bakal curiga. Makannya aku minta uang Cash sama mas." tangan Alea bergerak mulai membuka satu persatu kotak makan yang ia bawa, tak lupa juga memberikan sendok kepada Arsen yang kini mulai mencomot bergedel dengan tangan langsung.
"Masakan kamu enak juga ternyata yah."
"Enaklah. Apalagi kalau baru matang langsung di makan. Jadi nggak perlu dihangatin lagi" sindir Alea pada sikap Arsen semalam.
Yang disindir masih santai mengunyah bergedel berpura-pura seolah tak mendengar apapun. Alea yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napasnya kesal.
Untung cinta aku mas sama kamu, Eh?. Batin Alea.
Buru-buru Alea menggelengkan kepalanya. Hal itu dilihat oleh Arsen.
"Kenapa?" tanya Arsen bingung.
"Nggak apa-apa. Udah mas makan aja, biar wadahnya aku bawa pulang sekalian" jawab Alea.
__ADS_1
***
Dari banyaknya genre film yang ada, film horor adalah film yang paling Alea hindari seumur hidup. Alasannya sudah jelas, jiwa penakut Alea tak akan membuatnya bisa tidur di malam hari. Gambaran setan itu akan muncul setiap kali Alea memejamkan matanya.
Tapi seakan tengah kerasukan jiwa lain, Alea menyetujui saat diajak untuk menonton film horor oleh Gita dan Keke tadi. Sepanjang film Alea tak bisa menjauhkan tangannya dari wajah, suara-suara seram dan dentuman musik masih tetap terdengar dan sukses untuk membuat Alea merinding selama film di putar. Besok-besok tak akan ada lagi acara Alea menyetujui ajakan ke dua sahabatnya ini untuk menonton film horor.
Efeknya seperti sekarang. Sudah hampir 30 menit tiduran di kasur semenjak dirinya pulang ke rumah, Alea masih belum juga bisa memejamkan matanya.
Makan malam sudah, belajar untuk ujian besok sudah, menonton drama korea sudah. Biasanya Alea akan tertidur langsung saat tubuhnya merasa lelah. Namun setiap kali memejamkan matanya, gambar hantu yang ia lihat di film muncul seketika.
Merinding seketika. Alea buru-buru mengambil bantal dan selimut lalu masuk ke ruang kerja suaminya. Arsen yang tengah duduk di sofa dengan buku ditangan menatap heran istrinya yang kini langsung mengambil posisi rebahan di sofa. Kepalanya ada di dekat Arsen, sedangkan kakinya di luruskan di sisi lainnya.
"Kenapa tidur di sini dek?" tanya Arsen bingung.
"Nggak bisa tidur di kamar. Takut"
Arsen melirik ke arah istrinya "Kamu habis nonton film horor tadi?"
"Iya" jawab Alea dengan mata yang terpejam.
"Lagian udah tahu takut bantu, malah nonton begituan"
"Makannya mas jangan pergi kemana-mana. Aku mau tidur di sini malam ini"
Meletakan buku dan melepaskan kaca mata, tanpa izin Arsen langsung mengangkat tubuh kecil Alea untuk dipindahkan ke kasur. Tak peduli dengan Pekikan kaget Alea dengan mata yang langsung melotot.
"Jangan tidur di sofa. Nggak nyaman" ucap Arsen lembut setelah merebahkan Alea di kasur.
Alih-alih bisa tidur, jantung Alea malah berdetak kencang karena digendong Arsen barusan. Ini mah malah nggak bisa tidur kalau begitu. Batin Alea.
Dan semakin akan sulit tidur saja, saat Alea merasakan ranjang yang bergerak dan menemukan Arsen tidur di belakangnya, saling memunggungi satu sama lain.
Oke. itu cuman mas Arsen. lo udah nikah, jadi wajar aja kalau lo tidur sekasur sama suami lo.
mencoba untuk kembali tidur dengan memejamkan matanya paksa. Mata itu kembali terbuka saat sebuah tangan tiba-tiba menyelinap dibawah lengannya. punggungnya menghangat perlahan dan Alea tahu apa yang tengah mas Arsen lakukan padanya.
"Aku nggak bakal ngelakuin hal lain. cuman peluk aja. Jadi ayo tidur"
Alih-alih tidur, ia bisa terkena serangan jantung kalau seperti ini. Meski perlahan tapi pasti Alea merasa aneh dengan dirinya sendiri yang malah merasa nyaman dan kantuk itu datang.
°°°
__ADS_1
Mohon dukungannya teman-teman. kasih ulasan dan bintang amat sangat berterimakasih**.