Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
Bab 50 : Kisah Yang Sebenarnya


__ADS_3

Sekali lagi Bagas menggeleng tegas saat sang istri membujuk untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dulu pada putra mereka. Bagas sudah berjanji pada seseorang agar tak akan mengatakan apapun kepada Alea, atau membongkar semua cerita ini. Cuman itu yang bisa Bagas lakukan sekarang dan dirinya tak akan pernah mengingkarinya.


"Mas"


"Tidak Amel. Sekali saya bilang tidak, maka akan tetap TIDAK. Tinggal janji itu yang bisa kita tepati sekarang!!" Bagas menatap lurus ke arah istrinya sambil menggelengkan kepalanya tegas.


"Tapi semua ini bisa jadi salah paham mas"


"Perihal akan jadi salah paham atau tidak. Biarkan semuanya. Karena itu satu-satunya cara kita melindungi keluarga ini. Semuanya sudah berlalu Mel. Dan kita juga menempati janji kita bahkan hingga detik ini."


"Tapi kamu tahu kejadian itu juga menghantui ayah sampai sekarang kan mas"


Bagas mengusap wajahnya kasar. Tak pernah menyangka jika kasus lama akan kembali terangkat seperti sekarang diantara keluarganya "Kita berdamai Mel. Itu semua juga atas permintaan mereka. Kita mengembalikan rumahnya, bahkan kita juga memberikan kompensasi besar-besaran yang bisa menutupi kehidupan Alea"


Amel memejamkan matanya "Dia menantu kita mas. Anak kita satu-satunya sudah berjanji untuk menjaga Alea dihadapan Tuhan dan disaksikan oleh Malaikat langsung mas"


Tangan Bagas mencengkram erat kedua pundak istrinya "Sesuai permintaan kamu yang ingin mengawasi Alea secara dekat dengan menikahkannya dengan Arsen karena kita bisa menebak Marinka pasti akan kabur dan digantikan oleh Alea. Mungkin, hanya sampai detik ini saja kita bisa mengawasinya dari dekat. Seterusnya mari kembali mengawasinya dari jauh. Kita akan semakin matahin hatinya kalau dia tahu semua yang terjadi"


Bagas mendekap istrinya yang kini menangis sesenggukkan. Semuanya memang sudah rumit sejak awal dan kini akan semakin rumit. Menagih hutang Jordy dengan cara menikahkan putri mereka dengan Arsen adalah rencana Bagas dan Amel sejak awal. Mengetahui bagaimana sifat Marinka yang masih suka hidup bebas, Bagas sudah bisa menebak jika Marinka akan kabur, dan ternyata dugaannya benar. Hingga mereka bisa menikahkan Arsen dengan Alea sesuai dengan permintaan Amel. Jika kala itu Marinka tak kabur, Bagas bahkan berniat untuk memberikan ruangan ratusan juta pada wanita itu agar meninggalkan rumah dihari pernikahan.


"Kayanya kehilangan Alea buat mas jadi bodoh sampai nggak ngerti apa yang bunda dan ayah bicarakan"

__ADS_1


Bagas dan Amel sontak menoleh ke sumber suara. Arsen sudah berdiri diambang pintu dengan tatapan bingungnya. Dibelakangnya juga ada Diwa yang berdiri dengan ekspresi tak kalah terkejutnya "Maksudnya bagaimana yah? Kompensasi? Kompensasi untuk apa?"


Sejak awal Arsen memang merasa sedikit janggal dimana bunda dan ayah bahkan kakek langsung terpikat oleh pesona Alea hingga setuju menikahkan mereka berdua. Hanya saja Arsen tak begitu menaruh curiga karena di keluarga ini hanya memiliki satu cucu perempuan, maka dari itu mereka bisa langsung menerima Alea dengan tangan terbuka.


"Mas" Amel menepuk dada suaminya. Semuanya jelas tak bisa disembunyikan lagi. Diwa juga mendengarnya dan itu berarti semuanya harus dijelaskan sekarang juga.


"Kalau kamu mau dengerin cerita ayah. Duduk dan tutup pintu. Kamu juga Diwa"


Menurut, Arsen masuk ke dalam kamar dengan Diwa yang menutup pintu dibelakangnya. Mau bagaimanapun Diwa juga harus mendengar cerita apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya, hingga Alea sampai sekarang menghilang tanpa jejak. Gita dan Keke bahkan mondar-mandir mencari keberadaan gadis itu.


"Alea putri pak Ridwan" mulai Bagas. Ingatannya kembali belasan tahun yang lalu. Dimana sebuah kecelakaan malam itu membuat ayahnya dirawat di rumah sakit hampir setahun lamanya. Setengah tahun untuk pengobatan luka, dan setengah tahunnya lagi untuk pengobatan mentalnya.


Malam itu cuaca bisa dibilang cukup mendung. Jalan tol yang biasanya padat dengan kendaraan juga terlihat lebih renggang bahkan nyaris hanya satu atau dua mobil yang melintas.


"Tak ada yang bisa menebak takdir mas. Saat bertengkar hebat sama Wira di mobil, mereka malah menabrak mobil didepan mereka. Kakek yang membawa mobil dengan kecepatan kencang membuat mobil keluarga Alea terdorong dan berputar berkali-kali"


Arsen merasa dunianya kembali hancur. Benar-benar hancur tanpa sisa sama sekali. Hingga harapan untuk kembali menggenggam Alea perlahan hilang karena rasa bersalah. Keluarganya yang membuat Alea kehilangan orang tua.


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa nggak ada berita atau artikel sama sekali tentang malam itu kan mas?" Bagas meneruskan, menatap lurus ke arah Arsen yang mengepalkan tangan kuat. Sedangkan ponakannya mengerjapkan matanya berulang kali seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan sang paman.


"Karena semua berita yang menyangkut paut hal itu langsung ayah take down di hari itu juga agar tak tercium media. Dan itu berhasil" Bagas tak tahu ini adalah suatu yang patut ia banggakan atau tidak. Hanya saja dengan melakukan hal itu keluarganya bisa selamat dan jutaan karyawan yang bekerja di perusahaan juga tak kena imbas nya, karena jika sampai tercium media, sudah dipastikan saham akan turun drastis dan membuat kerugian yang amat besar bagi perusahaan. Terlebih dengan hal itu juga Bagas bisa menepati keinginan Ridwan yang menginginkan putrinya hidup layak. Mungkin dulu itu hanyalah rahasia dirinya saja dan Ridwan. Namun sepertinya kali ini ada dua pihak lagi yang perlu tahu tentang hal itu.

__ADS_1


"Apa itu pantas dibanggakan ketika keluarga kita membunuh dua nyawa?" tanya Arsen. Ingin sekali ia membentak sekarang, namun keadaan rumah tak mengizinkannya untuk melakukan hal itu.


"Kamu harus ingat mas. Kita tak melakukan apapun, kita tak membunuh siapapun"


Arsen menatap punggung Diwa yang kini berjalan keluar dari kamar sambil sesekali menggelengkan kepala mencoba untuk tak percaya. Ucapan ayahnya memang sangat tak masuk akal, terus membela diri jika mereka tak melakukan hal itu.


Arsen menatap ke arah bundanya yang kini tengah duduk di sofa dengan tangan yang membekap mulut agar suara tangisannya tak terdengar hingga luar.


Bagi Arsen, sang ayah seolah masih berusaha menutupi sesuatu, maka Arsen akan bertanya pada sang bunda. Berdiri dari duduk, Arsen kemudian berlutut di depan bundanya. Menggenggam tangan bunda yang membuat wanita yang paling ia cintai itu mengangkat wajahnya.


"Mas baru sadar kalau mas sayang sama Alea bun. Mas sudah melukai dia dengan nggak jujur tentang Dira, jadi mas nggak mau melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Apapun konsekuensi yang akan mas terima. Mas siap asal Alea kembali ke mas"


Tangis Amel semakin menjadi. Semuanya memang harus dijelaskan sekarang juga. Mengusap air matanya, Amel mencoba untuk kuat dan tak peduli dengan tatapan sang suami.


"Pak Ridwan sempat sadar saat dibawa ke rumah sakit mas. 2 hari setelahnya dia sadar dan dihari itu juga kami buat perjanjian. Bukan, bukan perjanjian. Lebih tepatnya mendengarkan permintaan pak Ridwan kala itu. Dia meminta kami untuk menjaga Alea, imbalannya mereka tak akan membawa kasus ini sampai hukum"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


***nulis bab ini ternyata hampir 2000 kata, jadi aku buat dua bab aja ya..


yang mau double up, Yuk spam komen double up. 🔥🔥🔥🔥🔥

__ADS_1


kalau nggak ada, ya tunggu besok ya


__ADS_2