
Liburan ke Bali bagi Alea nyatanya hanya sebuah pengakuan tak direncanakan suaminya guna membuat teka-teki di kepala Alea tersusun satu persatu. 1 minggu di Bali hanya membuat Alea merasa lelah karena berpura-pura tetap tersenyum meski rasanya ingin menempeleng kepala Arsen atau jika tidak Dira.
Sandiwaranya sudah berakhir sekarang tatkala mobil Saga yang membawa Gita dan Keke kembali ke rumah masing-masing mulai menjauhi area bandara Soekarno Hatta. Alea ditinggal sendiri dengan alasan Diwa yang akan mengantarkannya pulang, padahal nyatanya setelah Saga pergi, Diwa juga langsung melenggang pergi meninggalkan dirinya dan Arsen di lobi bandara. Kata Diwa, dia tak ingin masuk ke masalah rumah tangga orang lain. Padahal laki-laki itu juga turut adil menyembunyikan identitas Dira yang sebenarnya.
Percayalah, sampai sekarang pun Alea hanya tahu Dira pernah berpacaran dengan suaminya dulu. Sudah, hanya sebatas itu saja.
"Mau makan dulu dek?"
"Nggak" jawab Alea ketus. Emosinya masih suka timbul jika mengingat lagi interaksi Dira dan suaminya itu saat di Bali yang semakin hari malah terlihat semakin akrab.
"Kalau begitu. Pulang sama Kenzo ya Al. Saya harus ke kantor sebentar"
"Terserah!!" jawab Alea ketus lagi.
Begitu mobil sekretaris Kenzo berhenti di depannya, Alea langsung masuk ke dalam mobil tanpa basa-basi sedikitpun pada Arsen.
"Antar Alea pulang dulu ya Ken. Saya langsung ke kantor naik taxi. Pastikan dia pulang ke rumah"
Alea memutar bola matanya saat mendengar pesan Arsen kepada Kenzo. Alih-alih khawatir karena rasa cinta, suaminya itu sepertinya hanya menjalankan perannya sebagai pelindung. Atau mungkin, hanya ingin memastikan saja jika dirinya langsung pulang ke rumah laki-laki itu.
Setelah Kenzo masuk, mobil mulai melaju menjauhi area bandara. Cosplay jadi wartawan di mulai, jika bukan dari Arsen ataupun Diwa, Alea masih memiliki Mas Kenzo dan bi Ami sebagai narasumber.
Disisi lain, begitu mobil sekretarisnya melaju, Arsen langsung menghubungi bi Ami guna jaga-jaga jika Alea menanyakan mengenai Dira kepada wanita itu. Kenzo sudah ia briefing kemarin, Arsen hanya tinggal menyampaikan rencana yang telah ia susun kepada bi Mi.
"Assalamualaikum mas Arsen?" ucap bi Ami dari seberang telfon.
"Waalaikumsalam, bi saya mau minta tolong. Saya akan menjelaskannya, bibi dengar baik-baik ya. Jadi—" Arsen menjelaskan semua rencananya pada bi Ami sekarang. Begitu jelas hingga akhir dan mendapat jawaban ketersetujuan dari sebrang sana. Arsen berjanji pada dirinya sendiri untuk menceritakan Semuanya pada Alea, hanya saja Tidak untuk sekarang, tidak dalam waktu dekat ini. Hatinya masih belum mantap akan semua hal itu. Masih banyak yang perlu ia pikirkan, masih banyak yang harus dipersiapkan untuk menerima konsekwensi dari semua hal yang telah ia lakukan. Terlebih, kabar mengenai Marinka juga belum ada titik terangnya.
__ADS_1
***
"Mbak Dira mantannya mas Arsen, ya mas?" Alea langsung pindah duduk di kursi depan saat Kenzo berpura-pura tak mendengarnya.
Melihat istri bosnya ini yang melewatinya begitu saja dari kursi belakang menjadi kursi depan, membuat Kenzo mengerjapkan matanya tak percaya. Istri bosnya ini tak ada anggun-anggunnya sama sekali. Nyaris bar-bar dengan Kaki yang kini menyilang dan tangan yang berada di depan dada.
"Bener kan mas? Dia mantannya mas Arsen. Terus apa hubungannya sama mas Wira?" tanya Alea lagi. Tak peduli dengan ekspresi Kenzo yang kini tampak memelas penuh akan harapan agar dirinya tak terus bertanya tentang Dira.
Rasanya mungkin seperti berada di dua jurang sekaligus. Menjawab jujur akan ditegur oleh Arsen, namun jika bohong akan ditempeleng oleh istri dari bosnya ini.
"Jawab mas. Jangan diam aja. Atau tak tempeleng kepala mas"
Kenzo menghela napasnya kesal, ia melirik sengit ke arah Alea sebentar sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke jalan "Begini-begini saya jauh lebih tua dari kamu. Yang sopan dikit"
Alea mendengus kesal. Kalimatnya amat persis dengan kalimat mas Arsen jika dirinya bersikap tak sopan pada laki-laki itu.
"Kalau ibu pengin tahu lebih jauh lagi, mending ibu nanya langsung ke pak Arsen. Jangan ke saya" lanjut Kenzo.
"Ayolah mas. Mas Kenzo masih jomblo kan ya? Aku punya temen yang masih jomblo juga mas. Namanya Gita, cuman tingkahnya 11-12 sama kaya aku" ucap Alea. Merayu sekretarisnya suaminya itu guna membicarakan mengenai Dira. Masalah Gita, tenang aja, bocah itu pasti akan mangut-mangut setuju jika disodorkan pria spek mas Kenzo ini.
"Saya tidak tahu apapun bu. Ibu bisa tanya langsung ke pak Arsen"
Alea menghembuskan napasnya kesal. Setia sekali mas Kenzo sama mas Arsen. "Saya punya satu temen lagi, namanya Keke, sedikit lebih alim dan nggak urak-urakan kaya aku. Aku kenalin ke mas, mau?"
"Mau ibu kenalkan semua temen kampus ibu ke saya, saya juga tetep nggak tahu bu. Lagi pula, saya nggak suka sama bocil. Susah diatur"
"Mas nyindir saya ini?" tanya Alea sewot. Jika se-setia ini sama bosnya, sudah pasti tak ada rahasia diantara keduanya, mungkin mas Arsen juga curhat serepot apa Alea di rumah.
__ADS_1
Kenzo tak menjawab apapun, hanya diam dan kembali fokus menyetir. Alea yang sudah terlanjur kesal dan merasa sia-sia mengeluarkan tenaganya memilih untuk memejamkan matanya. Ada suara helaan napas lega Kenzo yang terdengar saat Alea mulai tertidur.
Memang semerepotkan itu istri bosnya ini.
***
samar-samar jeritan orang yang terdengar begitu mengerikan membuat tidur Alea sedikit terusik. Dengan mata yang terbuka perlahan, Alea mengamati lingkungan sekitar dan menyadari jika mereka sudah sampai di depan rumah. Bukan mereka, lebih tepatnya hanya Alea karena Kenzo tampak lari masuk ke dalam rumah dengan pintu mobil yang bahkan dibiarkan terbuka.
Suara jeritan itu kembali masuk ke indra pendengaran Alea, jeritan-jeritan mengerikan layaknya suara setan yang ada di film horor yang Alea tonton dengan kedua sahabatnya 3 minggu yang lalu.
Menengok ke kanan dan ke kiri, tidak Ada orang, ditambah sore ini langit juga begitu mendung dengan tiupan angin yang lumayan kencang, Alea buru-buru melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil lalu lari masuk kedalam rumah. Jiwa penakutnya bahkan lebih terasa mencengkam hingga Alea tak peduli sama sekali dengan kedua pintu mobil depan yang masih terbuka.
Mata Alea membulat seketika tatkala melihat kondisi yang ada di ruang tengah sekarang. Bi Ina, asisten ke dua di rumah ini tampak berteriak-teriak tak jelas seperti orang yang kerasukan, pak Ahmad—tukang kebun— dan mas Kenzo memegangi masing-masing kedua tangan Bi Ina, sedangkan pak Rudi—supir pribadi mas Arsen tengah membisikan sesuatu pada telinga bi Ina, semacam doa untuk mengusir setan yang merasuki tubuh bi Ina.
Saat pandangan bi Ina menatap ke arahnya sambil melotot, Alea sontak mundur beberapa langkah, bulu kuduk disekitar leher dan tangannya meremang seketika. Kenapa dari banyaknya orang disini, bi Ini harus melotot ke arahnya?. Menyadari jika bi Ami berdiri disebelahnya, Alea langsung bersembunyi dibelakang tubuh wanita itu.
"Bi Ina kerasukan mbak, pas lagi bersih-bersih." ucap bi Ina.
"Kok bisa? Bersih-bersih dimana bi?" tanya Alea. Dirinya sukses dibuat ketakutan karena bi Ina masih menatap horor ke arahnya.
"Di kamarnya mas Arsen mbak?"
"Yak?!!" Alea melotot seketika. Kalau begitu, tidur dimana dirinya malam ini?.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
up menemani malam minggu kalian..
__ADS_1
yuk siapa yang mau malam minggu sama pak Arsen? 🤭
nggak ada yang mau ini. terlanjur gregetan.