Istri Kecil Arsen

Istri Kecil Arsen
S2 : End


__ADS_3

Semua penjelasan yang diberikan oleh Arsen kemarin, nyatanya mampu mengembalikan semua ingatan Alea dalam satu malam. Bagaimana pertengkaran mereka malam itu terjadi, bagaimana hubungan mereka yang semakin renggang karena mba Dira, wanita itu yang hamil, mbak Dira dan mas Wira yang memutuskan untuk menikah, email dari mbak Marinka, dan semua hal yang bunda jelaskan akan kecelakaan dimasa lalu Alea yang ternyata berawal dari kakek, perceraian mereka, Alea yang memutuskan untuk tinggal di Amerika, Saga ikut tinggal di sana dan bagaimana awal keputusan dirinya untuk menerima lamaran Saga, semuanya kembali serentak dalam satu malam dan Alea mampu mengingat semua keesokan paginya.


Dengan baju serba hitam dan bunga yang berada di pangkuannya. Ia akan mengunjungi Saga setelah 2 bulan sejak kematian laki-laki itu. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar, mata Alea bengkak begitu bangun tidur. Dengan Diwa yang bersedia untuk mengantarnya ke tempat dimana Saga dimakamkan, Alea mungkin akan kembali mengais di sana. Karena nyatanya, meski tahu Saga meninggal dalam keadaan belum sepenuhnya memenangkan hati, Perasaan Alea masih sama. Alih-alih Saga, mas Arsen masih terlalu mendominasi di sana.


"Antar gue ke rumah orang tua gue setelah jenguk Saga ya Wa"


Diwa mengangguk lemas. Seperti apa pesan Arsen saat Diwa menjemput Alea tadi, semua keputusan sudah sepupunya itu berikan pada Alea. Cukup jalan hidup yang menyedihkan bagi keduanya, Diwa berharap perjalan hidup penuh bunga akan menyapa mereka sebentar lagi.


Dan disinilah akhirnya mobil mereka berada. Alea masih duduk sambil menatap keluar jendela, mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan seseorang yang begitu baik dalam hidupnya. Karena Saga, dirinya bisa melewati 5 tahun setelah perceraian dengan baik, meski hatinya tetap berlabuh di dermaga yang sama.


"Mau gue temenin?"


Alea menggeleng. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, Alea keluar dari mobil dan berjalan menuju makam Saga yang sebelumnya sudah dijelaskan lokasinya oleh Diwa.


Sagantara Mahawira, nama itu kini terpampang jelas disebuah batu nisan tepat di depan Alea. Rasa sesak menjalar ke atas hingga membuat tangisan itu kembali datang. Rasanya begitu menyakitkan. Meski hari itu pembicaraan mereka baik-baik saja dan tak ada pertengkaran sama sekali, hanya saja Alea masih merasa bersalah karena memberikan jawaban seperti itu dihari terakhir Saga. Menyesali semuanya jelas hanya sia-sia saja, karena takdir tak ada yang tahu. Jika Alea tahu, mungkin dirinya akan menjawab pertanyaan Saga sesuai dengan yang diharapkan oleh laki-laki itu.


"Hai Ga" sapa Alea pelan. Bunga yang tadi dibawa, diletakan di dekat nisan Saga.


"Maaf aku baru datang"


Mengingat akan pesan Keke agar dirinya tak terlalu bersedih di depan makam Saga, Alea mengusap air matanya sendiri.


"Gimana kabar kamu di sana Ga? Maaf Ga, kamu pasti marah ngeliat aku sekarang ka Ga? Aku memang jahat ya Ga."


"Aku baru ingat semuanya sekarang Ga. Kita harusnya menikah dua bulan yang lalu. Kita harusnya mewujudkan bersama hal yang kita rencanain bersama."


Alea menghembuskan napasnya pelan. Menahan tangis, membuat dadanya terasa seperti ditekan.


"Kamu pasti marah sama Aku kan?. Setelah apa yang terjadi sama kamu, aku malah kembali ke mas Arsen. . Aku minta maaf Ga. Aku minta maaf karena jadi wanita yang egois buat kamu. Aku minta maaf karena sampai sekarang pun nggak ada yang berubah di sini" Alea menunjuk dadanya sendiri.


"Aku—" dan tangis itu akhirnya pecah juga.


"Aku akan nikah sama mas Arsen Ga. Aku nggak ingin mundur lagi. Aku nggak mau ngelepasin dia lagi Ga. Aku benar-benar jahat ya Ga?"

__ADS_1


Alea menghapus air matanya, sebuah senyuman tipis kini ia tunjukan ditengah-tengah sesenggukkan "Terima kasih atas segala hal yang kamu kasih 5 tahun belakangan ya Ga. Benci aku, aku akan menerimanya"


"Nggak ada yang perlu dibenci oleh putra tante Al"


Suara lembut dengan kalimat yang begitu menenangkan dari arah belakang, membuat Alea menoleh perlahan. Tangisnya semakin kencang tat kala melihat tante Ani dan om Faisal, selaku orang tua Saga berdiri tepat di belakangnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Alea berdiri perlahan kemudian langsung memeluk tante Ani erat. Wanita yang sempat akan menjadi ibu mertuanya itu tersenyum menatap nisan putranya sambil mengusap pelan punggung Alea.


"Mamah nepatin janji sama kamu ya mas" ucap Ani parau. Putranya adalah anak yang baik. Ditengah-tengah kesibukan mengurusi acara pernikahan dulu, Saga sempat berpesan jika kelak Alea memutuskan untuk pergi darinya karena ia tak berhasil meraih tempat di hati Alea, maka kedua orang tuanya harus tetap menyayangi Alea apapun yang terjadi. Baik Ani maupun Faisal, menepati janji pada putra satu-satunya itu.


"Tante sempat cari keberadaan kamu, tapi saat lihat laki-laki itu ada di sana ditambah kamu yang hilang ingatan. Tante memutuskan untuk menepati janji tante sama Saga. Dia nggak akan marah Al, berbahagialah dengan seseorang yang memang ada di hati kamu. Tapi, maaf. Jika kamu mengudang kami, tante maupun om nggak akan datang. Ini pertemuan kita yang terakhir kali ya Al. Karena tante sejujurnya masih sakit hati karena kehilangan Saga"


Alea tak menjawab, tangisnya semakin pecah mendengar sederet ucapan ibu Saga.


"Tante dan om mau ketemu sama Saga. Kamu boleh ke sini kapanpun, tapi sekarang, bisa kita gantian Al? Kamu pulang dulu, nanti tante akan beri jadwal kapan dan jam berapa tante mengunjungi Saga kedepannya. Agar kita nggak pernah ketemu lagi"


Diwa yang nyatanya memutuskan untuk ikut masuk saat melihat kehadiran kedua orang tua Saga, menarik Alea pelan untuk keluar dari area pemakaman. Tidak ada orang tua yang sedih ditinggal anak kandungnya, ditambah lagi tahu fakta bahwa calon istri putranya malah menaruh hati pada laki-laki lain.


Tak ikut masuk ke dalam mobil, Diwa berdiri di luar membiarkan Alea menangis di dalam mobil. Cerita tentang Alea dan Arsen memang sepertinya hanya dipenuhi oleh kesedihan.


Bangunan rumah 2 lantai itu kini berada tepat didepannya. Alea menatap sekelilingnya, semuanya tampak indah dna terawat meski lebih dari 5 tahun tak dihuni sama sekali. Om Jordy yang merawat rumah ini? Tentu saja tidak. Alea tahu, satu-satunya orang yang akan membuat rumah ini terawat adalah Arsen.


Kebun-kebun tampak indah dengan beberapa bunga anyelir yang mulai tumbuh dan berbunga, semua ini mengingatkan Alea saat usianya 4 tahun dimana dirinya selalu membantu bunda untuk berkebun dihari libur. Bersamaan dengan air matanya yang kembali keluar, senyuman kecil itu terbit dibibirnya.


Terima kasih Saga, dan maaf.


"Kamu sudah sampai"


Mata Alea menoleh ke arah kiri. Arsen keluar dari dalam rumah dengan celemek yang menggantung di lehernya. Kepala Alea sontak langsung menoleh ke arah Diwa yang malah menunjukkan cengiran lebarnya.


"Itu orang nyuruh gue laporan bawa lo kemana aja" ucap Diwa.


Untuk waktu yang lama tatapan Alea dan Arsen saling menatap satu sama lain. Banyak hal yang berkecamuk di kepala Alea sekarang, ia akan manjadi orang jahat untuk Saga jika kembali ada Arsen, namun ia tak sanggup untuk melanjutkan hidup jika harus menjauh dari laki-laki itu. Ia akan menjadi anak yang kurang ajar dengan menikahi putra dari keluarga yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, namun Alea tak yakin ia tak akan mengakhiri hidup jika melepas Arsen selamanya.


"Saga nggak marah sama lo kalau mau balik lagi sama bang Arsen Al, karena sejak awal dia juga sadar sudah kalah telak sama sepupu Gue. Buat keputusan sekarang ya Al. Gue cabut dulu"

__ADS_1


Begitu mobil Diwa menjauhi rumah, Alea berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sama sekali ke arah Arsen.


"Dek. Mas masak masakan kesukaan kamu. Kita makan yuk. Ya meski rasanya nggak seenak masakan bi Ami. Tapi lumayan lah. Bisa masuk ke perut. Kamu pasti dar—"


"Gimana caranya agar kita nggak batal nikah mas? Gimana caranya agar aku cuman punya satu pilihan yaitu nikah sama kamu" potong Alea sambil berbalik badan tiba-tiba.


"Dek?"


"Hamil diluar nikah mungkin mas? Ayok kita lakukan agar ayah dan bunda setuju diatas sana. Agar bunda dan ayah sama Saga nggak marah diatas sana"


"Al"


"Ayok kita lakukan mas. Aku nggak sanggup kalau harus milih kehilangan kamu selamanya"


"Alea"


Tangan Alea kini mencengkram erta baju Arsen "Ayok mas. Bunda dan ayah pasti akan izinin kita nikah. Ayok buat aku hamil anak kamu mas"


Arsen tak menjawab, laki-laki itu langsung menarik Alea ke dalam dekapannya "Aku akan melakukannya tanpa kamu minta setelah kita nikah lagi Al. Kalau besok kamu menolak untuk akad ulang, aku akan paksa kamu, kita akan nikah besok dan aku akan buat kamu mengandung anak kita jadi nggak akan ada alasan kamu buat jauh dari mas. Mas janji itu"


Jika saja Arsen dan mendekapnya erat, Alea mungkin sudah jatuh kelantai dengan tangis yang kembali pecah. Alea balik memeluk erat Arsen hingga suara tangisnya teredam di dada laki-laki itu.


"Aku cinta sama kamu dek. Aku sayang sama aku. Aku akan buat orang tua kamu setuju dengan pernikahan ini karena melihat kamu bahagia setelah menikah sama aku."


"Janji dan tepati janji kamu mas"


"Aku janji" Arsen melerai pelukan mereka dan mencium kening Alea dalam. "Kita menikah dan akan bahagia selamanya. Itu janji mas buat kamu didepan foto kedua orang tua kamu"


Alea mengangguk dan kembali memeluk Arsen erat.


...****************...


End

__ADS_1


__ADS_2