
Beberapa hari kemudian
Pagi itu Sandra sangat marah mendengar kabar Mentari hamil anak Rafandra.Diapun langsung memikirkan cara untuk menyingkirkan Mentari secepatnya dari sisi Rafandra.
"Aku tidak akan membiarkan wanita sialan itu berbahagia bersama Rafandra. " geram Sandra.
Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor seseorang.
"Bagaimanapun caranya kamu harus mencelakai wanita bernama Mentari dan aku akan mengirim fotonya padamu. " ujar Sandra.
Sandra memutus sambungan teleponnya sambil menahan kekesalannya atas berita kehamilan Mentari.Dia membuang nafas kasar lalu bangkit dan menyambar ponselnya lalu ke luar dari apartemennya.
Di lain sisi
Felix kini tengah menahan amarahnya karena ulah ceroboh Vio di penthousenya.Vio hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun pada Felix.Mami Riana sedikit tidak suka dengan gadis yang dibawa puteranya tersebut.
"Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun sama orang tuamu Violetta. " ujar Mami Riana sambil berdecak kesal.
Violetta tersenyum kaku mendengar penuturan ibunya Felix tersebut namun dia tetap memaksakan senyum dihadapan wanita paruh baya tersebut.
"Maaf Tante beginilah sikap saya dan mengenai orang tua saya mereka sudah tiada jadi jangan menyalahkan orangtua saya mengenai sikap aku tadi. " ujar Vio mencoba ramah.
Mama Riana tertegun mendengar pernyataan Vio begitu juga dengan Felix.Namun gengsi dan ego mereka tidak mau meminta maaf pada Violetta atas ucapan mereka tadi.
"Kalau begitu saya permisi dan ini Black Card milik tuan Felix. " Vio meletakkan Blackcardnya di atas meja setelah itu ke luar dari mansion Felix.
Violetta segera masuk ke dalam taksi dan taksi melesat menjauh.Ucapan Felix dan ibunya terus terngiang ngiang dikepalanya.
"Dasar gadis bodoh bisanya ceroboh dan tak punya sopan santun. " maki Felix dengan sarkas.
"Dasar gadis udik tak punya sopan santun dan orang tuamu pasti malu memiliki anak sepertimu. " ujar Mommy Riana dengan tatapan sinisnya.
"Mereka boleh menghinaku tapi jangan menghina orang tuaku yang telah tiada." gumam Vio sambil menghapus air matanya.
Setelah itu Vio menatap jalanan dengan pandangan sendu.Dia berulang kali menghembuskan nafas kasar lalu turun dari taksi dan membayarnya setelah sampau di depan apartemennya.
Vio langsung masuk ke dalam apartemen dan tak lupa menguncinya dari dalam.
__ADS_1
Sementara di Penthouse Felix.
Felix merasa bersalah atas ucapannya yang telah berkata kasar pada Violetta.Daddy Evan menghembuskan nafas kasar dan menatap datar kearah istri dan puteranya.
"Hanya karena gadis itu tidak kaya kalian bisa menghina dan mengolok oloknya seperti tadi. " ujar Papi.
"Apalagi kamu Mami kamu seorang perempuan sama seperti gadis tadi apa mami enggak punya hati dengan ucapan kasar Mami barusan yang mengingatkan akan orang tuanya yang tiada. " tegur Papi Evan.
Felixpun bangkit dan bergegas ke luar dari mansion dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.Dalam perjalanan dia diliputi rasa bersalahnya pada Vio atas ucapan kasarnya.
Setibanya di Apartemen Vio, Felix langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke apartemen.
Tok tok tok.
"Vio buka pntunya aku mau minta maaf padamu. " teriak Felix.
Satu menit dua menit hingga satu jam namun Violetta tak kunjung membuka pintu apartemennya.Felix membuang nafasnya kasar melihat Vio tidak membuka pintunya.
Senja berada diperaduannya dan langit kini berganti gelap.Cklek Violetta meraih handle pintu lalu membukanya dari dalam.Diapun tertegun melihat Felix yang masih menunggunya di depan apartemennya.Felix segera turun dan bergegas menghampiri Violetta.
"Aku minta maaf Vio. " ucap Felix.
Vio berbalik dan masuk ke dalam apartemen namun Felix mencekal tangannya lalu mendorongnya ke dalam dan menguncinya.Vio berdecak kesal dan berupaya merebut kuncinya namun dengan sigap Felix malah merapatkan tubuh mereka berdua.
"Kamu tuli ya sudah aku bilang jangan ganggu aku lagi tuan. " geram Violetta menahan emosinya yang hampir meledak.
Felix terkekeh melihat raut kesal di wajah Violetta.Entah kenapa dia merasa ingin selalu berada disisi Vio dan menjaga gadis itu.Tanpa ragu Felix kembali menyatukan bibir mereka dan mulai memagut rasa manis dari bibir Violetta yang membuatnya ketagihan.
"Em Felix. " Vio memukul mukul dada Felix agar menghentikannya namun Felix menulikan pendengarannya.
Merasa usahanya sia sia Vio akhirnya pasrah dan merangkul pinggang Felix kemudian membalas ciumannya.Felix tersenyum disela sela ciuman mereka dan kini dia semakin memperdalam ciumannya.
Lima menit kemudian ciuman mereka berakhir dan Vio menghirup oksigen sebanyak banyaknya.Felix terkekeh melihat Vio yang kini menatapnya tajam dan berusaha melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya kamu pulang Felix dan jangan mengangguku lagi aku mohon! Aku tidak ingin berhubungan dengan kamu apapun itu. " ujar Vio dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak mulai sekarang kita adalah teman Vio. " ucap Felix sambil tersenyum.
"Teman tidak akan mencium bibir temannya Felix. " cibir Vio.
"Ya sudah kalau begitu mulai sekarang kamu kekasihku dan tidak ada bantahan. " ujarnya dengan enteng.
Mata Vio langsung melotot mendengar pernyataan Felix.Vio memijit kepalanya dan berlalu pergi ke ruang tamu dan duduk disofa. Felix tersenyum penuh kemenangan dan kini duduk disebelah Violetta.
"Jangan menjilat ludahmu sendiri Felix atas ucapanmu waktu itu dan ucapan kasarmu
tadi. " sindir Vio dengan nada sinisnya.
Felix mengusap wajahnya kasar mengingat ucapannya dulu saat Vio menyatakan cinta pada dirinya.Vio tersenyum sinis melihat Felix yang terdiam membisu.
"Semua pria sama saja tak punya pendirian. " gumamnya pelan.
"Sebaiknya kamu pulang Felix sebelum ibumu marah lagi dan menghinaku. " usir Vio secara terang terangan.
"Maaf atas ucapan Mamiku tadi dan aku pulang dulu Vio. " pamitnya.
"Hn. " Vio bangkit dan langsung merebut kuncinya dari tangan Felix.
Felix bangkit dan langsung ke luar dari apartemen Vio.Vio mengunci pintunya dari dalam dan bergegas menuju ke kamarnya lalu beristirahat.
Di dalam kamarnya Vio berkali kali membuang nafas berat dan kini merindukan kedua orang tuanya.Rasa cintanya pada Felix sudah dia kubur dalam dalam mengingat sikap ibunya Felix terhadapnya.
"Mungkin cintaku pada Felix hanya sebatas kagum bukan cinta terhadap lawan jenisnya. " pikirnya.
"Ayah Ibu Vio rindu kalian dan maafkan Vio yang mungkin membuat kalian malu diatas sana. " tutur Violetta dengan mata berkaca kaca.
Vio terima jika orang lain menghinanya tapi jika menghina mendiang orang tuanya dia tidak akan tinggal diam.Dia tidak menyalahkan takdir atas nasibnya tapi bisakah dia menemukan kebahagiaannya tanpa dipandang sebelah mata lagi.
Apakah bagi orang kaya itu gadis miskin adalah orang yang paling hina dan tak pantas mendapatkan pasangan orang kaya hingga mereka bersikap semena mena pada yang miskin.
"Semangat Vio dan lupakan Felix karena dia tak pantas untukmu serta sebaliknya. " gumam Violetta menyemangati dirinya sendiri.
Violetta memejakan matanya supaya pikirannya kembali jernih dan berharap esok hari dia melupakan kata kata kasar dari ibunya Felix.
__ADS_1
TBC