
Maafkan othor jika telat up ya soalnya othor mau ngejar target bulanan di apk tetangga hehe
Di sini sama di sana beda cerita ya jadi jangan suudzon sama saya maacih 🤗🤗
Keesokan harinya Bianca ke luar dari kamar, diapun berpapasan dengan Rezvan yang menggendong Rio. "Pagi Rio, pagi mas
Rezvan. " sapa Bianca dengan senyuman manisnya.
"Pagi juga mommy. " jawab Rio
Mereka menuruni tangga dan bergegas menuju ke meja makan. Bianca dengan telaten menyuapi Rio, Rezvan tersenyum hangat melihat kedekatan Bianca dengan Rio.
Setelah lima belas menit, mereka selesai sarapan. Bianca mengusap kepala Rio dengan lembut sesekali mencium keningnya, lalu menatapnya lagi. "Rio sayang mommy pamit pulang dulu ya lain kali mommy ke sini lagi!
Wajah ceria Rio berubah mendung, matanya berkaca kaca menatap Bianca. " Mommy, jangan pulang disini aja temani Lio. " pinta Rio dengan wajah sedihnya.
Bianca merasa tak tega melihat Rio yang hampir menangis karenanya, Rezvanpun menghela nafas kasar lalu kembali menatap puteranya. "Rio, biarkan mommy pulang dulu 'kan masih ada Daddy di sini. " rayu Rezvan.
"Ndak au Lio engennya mommy disini aja. " ujar Rio sambil merengek.
"Rio. " ujar Rezvan sedikit menekankan panggilannya.
Rio merasa ketakutan dan memeluk Bianca langsung, Bianca langsung menatap tajam kearah Rezvan. Diapun mengelus punggung kecil Rio kemudian membawanya ke pangkuannya.
Pria paruh baya datang menghampirinya mereka, Rio meminta turun dan langsung berlari menghampiri opanya. Papi langsung menggendong cucu tampannya itu. "Ada apa Rio kenapa kamu nangis? "
"Daddy jahat opa. " adunya sambil menangis.
Papi melirik kearah Rezvan lalu membawa cucunya ke ruang tamu di susul Rezvan dan juga Bianca. Kini mereka duduk saling berhadapan satu sama lain. "Rezvan, jelaskan pada Papi ada apa kenapa Rio menangis. "
Rezvanpun menjelaskan tentang siapa Bianca dan alasan Rio menangis. Papi Bayu menghela nafas pelan, dia menggeleng kecil kemudian mengusap kepala cucunya. Pria paruh baya itu beralih memandang Bianca dengan senyuman hangatnya. "Maaf ya nak Bianca, Rio merepotkan kamu karena mungkin saja dia merindukan ibunya. "
"Enggak papa kok Om, lagian nanti aku kabari keluargaku jika aku akan menginap lagi demi Rio. "
__ADS_1
"Iya nak terimakasih!
"Rio jangan nangis lagi cucu opa yang tampan, lebih baik main sama opa ya. " Riopun mengangguk, Papipun membawa pergi Rio dari sana. Bianca langsung menatap tajam kearah Rezvan sambil berkata. "Mas harusnya minta maaf sama Rio, enggak seharusnya tadi Mas Rezvan membentak Rio. " geram Bianca.
"Iya nanti aku minta maaf sama Rio, lalu bagaimana dengan keluargamu Bi? " Rezvan memandang lekat gadis yang ada di hadapannya.
"Entar aku menghubungi mereka. "
Bianca menghubungi Lila dan melakukan video call.
"Ya Bi ada apa? "
"Kak kayaknya aku nginap lagi deh di tempat temen. " Bianca mengatakan semuanya pada sang kakak mengenai Rezvan dan Rio. Di dalam video Lila nampak tersenyum miring menatap adiknya.
"Cie uhuk, adik ipar aku duren rupanya hehe. " goda Lila.
Semburat merah menghiasi kedua pipi Bianca, dia merengut kesal karena Lila menggodanya. Sedangkan Rezvan diam diam tengah menyunggingkan senyumnya mendengar obrolan Bianca dan kakaknya. "Kita ketemuan yuk Kak sambil ngobrol ngobrol di Cafe
gimana. " ajak Bianca.
Bianca menyimpan ponselnya dalam saku, diapun bangkit dan pergi menemui Rio. Setelah berpamitan pada bocah tampan itu, dia mendekati Rezvan. " Mas aku mau ketemuan sama kakakku Lila. "
"Boleh aku ikut? "
Bianca mengangguk, Rezvan bangkit dan keduanya bergegas ke luar dari penthouse miliknya. Rezvan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke Cafe.
Skip Di Cafe
Bianca turun dari mobil dan hendak berjalan namun tiba tiba kakinya terpeleset, namun dengan sigap Rezvan memeluk pinggang rampingnya. "Hati hati Bi, kamu ceroboh banget sih, " ledek Rezvan.
"Terimakasih ya Mas!
Mereka berdua masuk ke dalam cafe, tangan Rezvan masih berada di pinggang Bianca. Keduanya langsung bergegas menuju ke tempat Lila, kemudian duduk di kursi masing masing. Lila tersenyum lebar melihat kedatangan sang adik, dia menoleh dan memperhatikan Rezvan.
__ADS_1
" Oh ya kak ini Mas Rezvan, ayahnya Rio? "
"Hai aku Delilah, kakaknya Bianca. " sapa Lila dengan senyuman manisnya.
Rezvan menanggapinya dengan senyuman tipis, Lila kembali menatap adiknya Bianca sambil menggodanya. Bianca menggeleng, dia memanggil pelayan dan memesan makanan.
Pelayan datang dan mulai mencatat pesanan mereka, setelah itu pergi. Lila menekuk wajahnya, dia sangat merindukan si buaya buntung aka Dirga, calon suaminya. Bianca yang menyandarinyapun langsung tersenyum jahil. "Ehem kayaknya ada yang kangen nih sama si playboy. " ledek Bianca.
"Iya kamu benar, kalau ada Dirga mansion pasti rame. " balas Lila.
"Sabar kak, besok kalian sudah menikah dan soal Sabrina kakak tenang saja oke! Lila mengangguk, memperhatikan pelayan yang datang dan menyajikan makanan mereka setelah itu menyingkir.
Rezvan tertegun, terlihat penasaran dengan nama Sabrina yang di sebut oleh Bianca namun dia memilih diam. Merekapun makan bersama sambil mengobrol kecil. Selesai makan Lila langsung pamit pulang setelah mendapat chat dari sang bunda.
" Eh tunggu kak, biar mas Rezvan yang antar kakak gimana. "
"Enggak usah lagian aku bawa mobil Bi, aku pulang ya. " Lila bangkit dan ke luar dari Cafe. Setelah kepergian Lila, Bianca kembali menyesap vanilla lattenya dengan pelan.
Rezvan meninggalkan selembar uang di meja, lalu mereka keuar dari Cafe. Keduanya masuk ke mobil, Rezvan tancap gas, melajukan mobilnya kencang.
✨✨
Lilapun menuju ke penthouse milik Dirga, di sana dia sudah di tunggu sang kekasih. Dia segera ke luar dari mobil dan berlari menghampiri Dirga dan grep mereka saling berpelukan.
"Yank kalau ketahuan Bunda dan Papah pasti kamu akan di marahi. " ujar Lila memeluk tubuh calon suaminya. Dirga melepaskan pelukannya, menatap wanitanya dengan lembut. "Kita langsung berikan saja cucu buat mereka. " jawab Dirga asal.
Dirga membopong tubuh Lila, lalu dia langsung membawanya ke dalam penthouse. Keduanya saling berciuman, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Siang itu mereka kembali mengulang kegiatan panas seperti tempo hari. Suara desahan dan rintihan terus bersahutan dalam kamar. Hingga dua jam kemudian Dirga baru mengakhirinya, dia menjatuhkan dirinya ke samping. Lila menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua, dia usap dahi calon suaminya yang penuh keringat. "Aku kangen banget sama kamu Cici, jika orang tua kita marah biar aku yang menghadapi mereka. " Dirga merangkul tubuh Lila ke dalam pelukannya.
Lila kembali memagut bibir Dirga dan di sambut pria tampan itu, setelah itu mengakhirinya. Dia menelusupkan wajahnya dalam dada bidang sang kekasih. Dirga meraih tangan Lila, berkali kali mengecupnya sekilas beralih pada perut rata wanitanya. "Semoga kamu segera hadir dalam perut mommy kamu sayang. " gumamnya.
Lila mengulas senyumnya, hatinya kian menghangat mendengar bisikan Dirga, dia juga menginginkan hal yang sama yaitu mengandung buah cinta mereka.
__ADS_1
bersambung