
Zivana merasa dirinya di kurung dalam sangkar emas milik Christian. Meski istana milik pria itu tampak megah namun justru tak membuatnya nyaman mengingat status pria itu. Apalagi selama tinggal di istana, dirinya harus menghadapi tekanan dari keluarga Christian sendiri.
"Mommy, Ziva kangen sama mommy. " gumamnya lirih.
tok
tok
"Nona, ini saya Meylin. "
"Masuklah Mey. " gumam Zivana. Terdengar suara bunyi pintu terbuka, seorang gadis berseragam pelayan datang membawakannya sebuah gaun cantik yanh berkilauan.
"Mari nona Ziva saya bantu Anda bersiap, tamu kerajaan akan segera tiba sebentar
Lagi. " ucap Meylin formal. Zivana menghela nafas kasar, turun dari ranjang dan patuh pada ucapan Meylin.
Zivana menuruni anak tangga dengan hati hati, langkahnya tampak anggun dan tak tergesa gesa seperti biasanya. Gadis itu telah di ajarkan manner bagaimana sikap dari seorang wanita yang akan menjadi istri seorang putra mahkota, pewaris kerajaan Dimitry. Pusat perhatian kini tertuju padanya, sedangkan Christian tersenyum hangat menyambut kedatangan calon istrinya itu. Sesungguhnya ini bukan keinginannya, dia ingin sekali pergi dan menghilang dari kehidupan Christian.
"Pilihanmu begitu tepat Pangeran. " timpal salah satu anggota kerajaan.
"Tentu saja, calon istriku adalah wanita yang sempurna di mataku, aku begitu mencintainya. " ungkapnya sambil memandangi wajah Zivana lekat. Zivana hanya menanggapinya dengan senyuman tipisnya. sepasang mata menatap tajam kearah Zivana tanpa gadis itu sadari, setelah itu berlalu pergi dari sana.
Zivana bersama Chris menyapa para tamu lainnya, gadis itu hanya bisa mengeluh dalam hati. Cemoohan dan sindiran menjadi hal lumrah baginya, banyak wanita yang meragukan dirinya sebagai calon istri dari Christian.
"Kau lelah Queen? " tanya Chris lembut sambil menggenggam tangannya. Zivana mengangguk, ingin sekali dirinya menepis tangan Chris namun dia urungkan. Dengan sangat terpaksa dia harus bertahan untuk sementara berada di sisi Christian. Berkali kali terdengar suara helaan nafas dari bibir Zivana, gadis itu benar benar tak nyaman akan keberadaannya saat ini bersama Chris.
Zivana POV
Entah sebuah kesialan atau apa, bagaimana bisa aku terjebak di istana megah ini namun bagai sangkar emas bagi dirinya. Aku harus melakukan sesuatu agar bisa kabur dari istana ini tapi bagaimana caranya. Sepertinya untuk sekarang aku harus menahan amarahku, jika tidak mungkin saja para pengawal menangkapku nantinya.
__ADS_1
"Chris aku lelah, bisakah aku istirahat sebentar. " bisik Zivana di telinga pria di dekatnya saat ini.
"Hm baiklah. " Chris meminta para tamu menikmati pestanya, pria itu membawa calon istrinya ke sudut ruangan dan membiarkannya duduk. Zivana bernafas lega, gadis itu memjit kakinya yang terasa pegal.
Chris ikut duduk di sebelahnya, pria itu meraih tangan Ziva setelah gadis itu selesai memijit kakinya. Diapun menoleh, menunggu Chris yang sepertinya ingin bicara sesuatu padanya. "Ada apa Chris, katakan saja jika kau ingin bicara? "
"Aku ingin mempercepat pernikahan kita Queen, kau memang belum mencintaiku tapi untuk kali ini ikuti keputusanku!
Zivanya membulatkan mata, keputusan Chris begitu mengejutkan baginya. Bagaimana bisa pria itu memutuskan tanpa berbicara dengan dirinya sebelumnya. Gadis itu berusaha mengontrol dirinya agar tak kelepasan bicara berkata kasar pada Christian.
"Tapi ada syaratnya!
"Syarat? " Chris mengerutkan kening, menatap dalam calon istrinya itu. Zivanya mengepalkan tangannya, dia berharap keputusannya ini memanglah tepat baginya.
"Aku mau menikah denganmu asal aku di izinkan menemui keluargaku bagaimana? " tanya Zivanya dengan raut cemasnya. Christian terdiam, pria itu memikirkan Syarat yang di berikan Zivanya padanya.
"Aku setuju. " jawab Christian dengan sungguh sungguh. Zivanya mengangguk lega, keduanya akan membuat kesepakatan dalam pernikahan mereka nantinya. Gadis itu hanya diam saat tangannya di genggam Chris, mereka kembali berdiri dan melangkah menemui para tamu lainnya.
"Awas saja kau Chris, aku akan menghancurkan kamu dan merebut semua yang menjadi milikmu. " batin pria itu dengan tangan terkepal kuat. Pria itu menampilkan senyum palsunya, mendekati sepasang kekasih tersebut.
"Pangeran Chris, bolehkah saya berdansa dengan Nona Zivanya yang cantik jelita ini. " ucap Ammar dengan senyuman palsunya. Ziva dan Chris menoleh kearahnya, raut wajah Chris tampak datar kearah sepupunya itu.
"Bertanyalah pada calon ratuku, apa dia bersedia berdansa dengan kamu Ammar? " tanya Chris dengan tenang. Ammar menoleh dan menatap lekat wajah Ziva dengan pandangan memujanya.
"Maaf tuan Ammar, tubuh saya sangat lelah dan saya ingin segera beristirahat. " tolak Zivanya dengan halus. Menerima penolakan membuat Ammar semua tenaga menahan amarahnya, pria itu langsung pergi setelah pamit pada Zivanya.
Zivanya menghela nafas pelan, jujur dia tak nyaman setiap kali berhadapan dengan Ammar. Larut malam pada puncaknya Chris merencanakan pernikahan dirinya dengan Zivana yang di percepat. Setelah pesta usai Zivana langsung pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Chris. Gadis itu mengganti pakaiannya dengan dress berbahan satin yang begitu indah.
Dia langsung membuka pintu balkonnya, Ziva menikmati udara malam. Zivanya begitu merindukan kedua orang tuanya, dia tak menginginkan semua kemewahan ini. Dia hanya ingin berkumpul bersama keluarga besarnya.
Grep sepasang lengan melingkari perutnya yang ramping. Zivana hanya diam tak berkata apapun, gadis itu menyentuh tangan Chris yang ada di perutnya. Chris membalik tubuh calon istrinya, pria itu merengkuhnya erat. "Chris kenapa kamu ke sini, kalau ketahuan bagaimana? "
__ADS_1
"Tidak akan ada yang berani menegurku Queen, kamu jangan khawatir. " jawab Chris santai. Chris tersenyum tipis, menangkap secuil kekhawatiran di manik biru wanitanya.
"Kau tenanglah Queen, semuanya pasti berjalan lancar nantinya dan aku harap setelah kamu resmi menjadi istriku nanti kamu harap kuat dan tegar melalui berbagai rintangan nantinya. " gumam Chris panjang lebar.
"Maksud kamu apa? "
"Akan banyak tekanan nanti dari berbagai pihak nantinya, aku harap kamu kuat menghadapinya nanti. " pungkas Christian. Tubuh Ziva langsung tegang mendengar penjelasan Christian.
"Rileks, aku percaya kamu bisa menghadapi semuanya nanti Queen dan selama itu terjadi kau harus tetap di sisiku. " tegas Christian. Zivanya langsung memeluk tubuh calon istrinya, Chris tentu saja mendekapnya erat.
Pria itu melepaskan pelukannya, mengangkat tubuh sang kekasih lalu membawanya ke dalam. Setelah merebahkan Ziva, pria itu menutup pintu balkon, dan kembali pada wanita pujaannya. Chris melepaskan pakaian mereka hingga sama sama polos. Zivana memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat tubuh kekar Chris.
"Lihat aku Queen, ini tidak akan sakit seperti yang pertama. " bisik Chris pelan. Ziva menoleh, pandangan mereka bertemu dan bibir merekapun saling memagut satu sama lain. Chris mulai menyatukan tubuh mereka, Ziva mendedahkan namanya membuat Chris semakin terbakar gairahnya.
Dan malam itu menjadi malam yang panjang untuk Chris dan Zivana. Zivana begitu menikmati sentuhan panas Chris di sekujur tubuhnya. Hingga menjelang esok kegiatan panas itu baru terhenti terhenti. Segera saja Chris menyingkir dari atas tubuh sang kekasih, menarik selimut guna menutupi tubuh mereka berdua.
Zivana mengatur nafasnya yang tersengal, dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Chris. Dia akui jika Chris begitu gagah dan stamina pria itu begitu kuat menurutnya. "Sayang dengar, aku serius ingin menjadikan kamu ratuku dan ingat jangan pernah berpikiran apapun selain berusaha mencintaiku
Queen. " gumam Chris.
Zivana menatap dalam wajah Chris, dia berusaha mencari kebohongan dari manik kelam calon suaminya namun tak ketemu. Dia menghela nafas panjang, setelah memikirkan semuanya sepertinya dia perlu percaya pada Chris. "Baiklah aku percaya sama kamu, kita berjuang sama sama Chris. " jawab Zivana dengan penuh keyakinan.
Chris tersenyum senang mendengarnya, pria itu menciumi wajah calon istrinya dan berakhir memagut mesra bibir manis wanitanya. Zivana mengangkat tangannya, membelai wajah tampan calon suaminya ini dengan lembut. "Chris kenapa kamu memilih aku, padahal banyak wanita yang jauh lebih baik dariku? "
"Karena kamu berbeda Queen, kamu sama sekali tak tertarik pada pesona aku makanya aku menyukaimu!
"Sebaiknya kita istirahat sekarang. " Zivana mengangguk, Chris mengecup keningnya lalu ikut memejamkan kedua matanya. Tak lama dua insan itu telah terbang ke alam mimpi.
Di sisi lain Ammar tengah mabuk mabukan di dalam kamarnya, pria itu begitu marah akan penolakan Zivana padanya. Hal itu membuat keinginannya semakin besar untuk merebut Zivana dari tangan Christian. Dia tak boleh kalah dari sepupu sialannya itu, Ammar tak akan membiarkan Chris hidup tenang dengan tahta dan wanita.
Prang
__ADS_1
Ammar langsung melempar botol wine ke sembarang arah, dia begitu marah dan kesal. Tak lama seringai pria itu terbit, entah apa yang di rencanakan pria itu. "Well, ini baru awal permainan, so lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya kelak dialah yang akan tertawa lebih dulu!