
Pagi ini selesai sarapan, Lila berpamitan pada orang tua Dirga. Sejak tadi Dirga menatap Lila dengan sorot mata tajamnya, namun Lila tak memperdulikan si bubu. "Semuanya aku pamit pulang ya. " ujar Lila.
"Mau aku antar Cinta!
"Enggak usah aku bawa mobil. " tolak Lila dengan mentah mentah. Diapun bangkit, berjalan meninggalkan meja makan di susul Dirga.
Setelah kepergian Dirga dan Lila, Mommy mengulas senyumnya di hadapan suami dan kedua anaknya. "Sepertinya si playboy cap kudanil, memang menginginkan si ice
princess. " seru Mommy sambil tertawa.
Hahahaha
Daddy dan Elysia tertawa mendengar penuturan mommy, sedangkan Edzard hanya memasang wajah datarnya. Elysia segera menyenggol kakak kembarnya itu, Edzard menoleh dan menatap adiknya datar. "Apa!
" Ck dasar kulkas berjalan!
Edzard hanya mengangkat bahunya acuh, Elysia hanya bisa menggeleng melihat sikap kakaknya itu. Sementara Mommy dan Daddy terkekeh melihat sikap si kembar. Edzard pun bangkit, dia berlalu pergi meninggalkan meja makan, Mommy hanya menggeleng melihat kelakuan putera keduanya itu.
❣️❣️❣️
Sementara itu Lila sudah berada di mansion orang tuanya. Dia sudah berganti pakaian, kini Lila duduk di gazebo sambil menghubungi asistennya Viana. "Oh ya Vi, kantor kamu handle dulu ya soalnya aku lagi malas nih pergi ke kantor!
"Kenapa bu boss, mau pacaran sama pak Dirga
ya. " ledek Viana di ujung sana.
"Diam!
Di ujung sana terdengar kekehan Viana, hal itu membuat Lila semakin kesal. Diapun langsung mematikan sambungan teleponnya, setelah itu kembali menikmati udara segar di pagi hari. Lila menahan nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya pelan.
Bundapun datang menghampiri puteri sulungnya itu lalu duduk di sebelahnya, Lila mengulas senyumnya melihat kehadiran sang Bunda. "Apa yang tengah kamu pikirkan nak? "
"Enggak ada Bunda!
"Sayang jangan bohong sama Bunda nak, Bunda tahu kamu tengah memikirkan
sesuatu. "
__ADS_1
Lila pun mengusap wajahnya setelah itu kembali memandang Bunda sambil berkata. "Apa Lila salah Bunda, jika Lila membenci semua laki laki!
Bunda Renita pun tersenyum tipis, lalu mengenggam kedua tangan puterinya itu kemudian mengusapnya. "Salah nak, tidak semua pria memiliki sikap yang buruk sayang. " jawab Bunda dengan lembut.
Lila sangat kagum dengan sikap penyabar dan pemaaf yang di miliki bundanya. Bundanya juga merupakan wanita yang tegar dan kuat dalam menghadapi kehidupan. Dia sangat beruntung bisa di lahirkan dari rahim seorang wanita yang baik seperti Bunda Renita.
"Bunda aku sangat penasaran, bagaimana bisa Papah Felix menaklukkan hati Bunda!
Bundapun tersenyum mendengar pertanyaan Lila. Mengingat bagaimana perjuangan Papah Felix dulu membuat Bunda tertawa kecil. " Sejak awal Bunda selalu menolak Papahmu
nak, tapi Papahmu tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan cintanya pada Bunda. " jelas Bunda.
"Wah Papah memang pria yang gentleman ya Bund! puji Lila terhadap Papahnya.
"Iya sayang, jadi jangan pernah membenci laki laki karena tidak semuanya laki laki itu jahat contohnya papah Felix. "
Lila mengangguk, dia langsung memeluk tubuh sang Bunda. Dari kejauhan Papah tersenyum melihat kedua wanita kesayangannya tengah berbincang. Zivana langsung menyenggol sang papah hingga papah menoleh kearahnya. "Ada apa Ziva sayang? "
"Papah enggak gabung sama kakak dan Bunda, lalu pelukan kayak teletubies. " canda Zivana pada sang papah.
"Kamu saja sana pelukan sama Bunda dan kakak kamu. " ledek sang Papah.
"Ya sudah kita saja Pah yang ke sana. " Zivana menarik tangan papahnya, keduanya langsung menghampiri Bunda dan Lila.
Papah langsung duduk di sebelah sang Bunda, Zivana hanya bisa mencibir kelakuan papahnya sedangkan Lila hanya tertawa. "Duh papah jangan bermesraan dong, enggak kasihan apa sama dua puteri cantik papah yang cantik namun jomblo ini. " duel Zivana.
Papah Felix tertawa keras mendengar omelan Zivana. Keluarga mereka sangat ramai kala mendengar ocehan Zivana yang konyol dan segala kehebohannya. "Bukankah kamu sudah pacaran sama Edzard Zi, " ledek papah lagi.
"Ayolah Pah, si kulkas itu sudah jadi incaran sahabat warnaku Jingga yang galak. " cerocos Zivana.
Dr drt sering ponsel Lila berbunyi, diapun langsung membaca pesan yang masuk setelah itu menatap orang tuanya. "Bunda, Papah, Zi aku pergi ya si Bubu datang menjemputku. " ujarnya dengan malas malasan.
"Iya kak pergilah, semangat kencannya oke. " pekik Ziva dengan heboh.
Lila pun mendengus pelan, diapun bangkit dan pergi dari sana. Setelah kepergian kakaknya, Ziva kembali menatap orang tuanya. "Pah, kok papah dan paman Rafandra sama sama punya anak tiga sih kalian tidak berlomba 'kan dulu Pah, " cetusnya.
"Ya enggak 'lah sayang. " sahut Bunda.
__ADS_1
"Dasar bocah nakal. " cibir Papah. Zivana langsung nyengir di hadapan Bunda dan Papahnya. Bunda tersenyum tipis, dia sangat bahagia dengan suami dan ketiga anak anaknya.
"Pah, Ziva kayaknya enggak mau nikah deh soalnya habis nikah pasti ikut suami dan jauh dari Bunda dan Papah. "
Bunda langsung mengusap kepala Puteri keduanya itu sambil berkata. "Memangnya kamu sudah siap untuk nikah sayang!
"Ya belum 'lah Bun, lha calonnya aja belum punya kok mau nikah. " balasnya.
Bundapun tersenyum geli mendengarnya begitu juga dengan Papah. Mereka bertiga pun membalas hal hal yang lucu di sana.
🍁🍁
"Bubu, sebenarnya kita mau ke mana? " Lila memulai obrolan diantara mereka. Dirga hanya menanggapinya dengan senyuman kemudian berkata. "Aku mau ngajak kamu kencan Ci. "
"Eh tapi bukannya kamu mau bertemu dengan Sabrina. " seru Lila.
"Entar jam 09.00 aku akan ke sana, sekarang kita jalan jalan dulu sekaligus kencan. " Lilapun menanggapinya dengan decihan, diapun sebenarnya sangat malas harus kemana mana tapi Dirga malah memaksanya.
Sesaat kemudian, mereka akhirnya sampai di tempat yang ditujukan oleh Dirga. Keduanya pun turun dari mobil, Lila tertegun melihat tempat masa kecilnya bersama Dirga dulu. Dirga mengenggam tangan Lila, Lila menatapnya sejenak kemudian bergegas menuju ke taman.
Dulu mereka sangat suka bermain di taman bersama orang tua mereka dulu. Lila dengan cepat melepaskan tangan Dirga dari tangannya, setelah itu duduk di kursi begitu juga dengan Dirga. "Sebenarnya apa maksudmu membawaku ke mari Dirga! cecarnya penuh penekanan.
" Enggak ada, hanya ingin mengenang masa kecil kita iLa. " jawabnya tersenyum tipis.
"Dulu kamu sangat pemalu dan juga baik hati. " ujar Dirga sambil melirik Lila.
"Dulu dulu sekarang sekarang, Lila yang dulu sudah tidak ada karena satu hal dan kini lahirlah aku Lila yang baru, " jawab Lila dengan raut datarnya.
Dirga menghembuskan nafas berat dia membawa Lila ke pelukannya. Lila mencoba memberontak namun Dirga mengabaikan hingga Lilapun menyerah.
Lila menyentuh dada Dirga dengan tangannya, lalu Dirga mengenggam nya dengan sangat erat. "Kamu dengar 'kan degup jantungku yang berdebar kencang, artinya memang aku sangat nyaman berada di sisimu Lila. "
Lila hanya diam tak menanggapinya, diapun membiarkan tangannya di genggam Dirga. Sesekali Dirga mencium kening Lila dengan lembut, lalu menatapnya kembali. Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. "Izinkan aku berjuang untuk mendapatkanmu Lila, jangan pernah menolak kehadiranku Ciciku. "
"Bagaimana dengan Sabrina! entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja, Dirga mengulas senyumnya kemudian menciumnya sekilas. " Biar aku yang akan urus dia Ci. "
bersambung
__ADS_1